Tuesday, 24 January 2017

Yuusha Party no Kawaii Ko ga Ita no de, Kokuhaku Shite Chapter 6 part 2 Bahasa Indonesia


Translator: Joey
Editor: Ise-kun

Chapter 6 part 2: Aku Berusaha Untuk Kencan Ganda

Hero-kun melambai pada Cecilia dan datang menuju kami.
Ya ampun, bisa-bisanya pertanda buruk itu berakhirnya kesini... dan kau tersenyum terlalu banyak bung...
Beri perhatian pada teman gadis Mage-mu, dia terlihat marah.

“Oh, Cecilia! HEEEY CECILI- Mmph?”

Hero-kun berteriak memanggil namanya lalu gadis Mage itu menutup mulutnya.

“Hey, Yuuga, apa kamu bodoh? Aku harap kamu tidak lupa bagaimana terkenalnya kita sekarang.”

Dia membisiknya, mengingatkannya.
Aku dengan mudah menebak apa yang dia beri tahu.

“Dia mungkin seorang Cleric, tapi saat dia menyamar jangan meneriakan namanya, Yuuga! Semua orang disekitar kita akan tau! Gunakan kepalamu sesekali.”

Dia benar-benar memarahinya.
Tapi dia sepenuhnya benar.
Hero-kun tetap diam, dan menganggukan kepalanya dengan sungguh-sungguh.

“Aku mengerti, maaf Mikana, Cecilia.”

Hero-kun meminta maaf dengan suara yang kecil.
Dia sadar bahwa dia salah.
Namun, itu akan menjadi dimengerti setelah dia mengambil beberapa detik untuk memikirkan tentang itu.

“ Ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan disini Cecilia? Ini sudah lama jadi aku dan Mikana memutuskan untuk mengambil libur. Kalau kamu mau, bagaimana kalau kita pergi sama-sama?”

Hello, apa kau tidak melihatku berdiri disini?
ini tidak seperti aku membaur dengan background.

“Maaf, meskipun aku mengambil hari libur juga, aku sudah disini sama teman baikku.”

“Teman baik?”

Setelah Hero-kun merespon pernyataan Cecilia, akhirnya dia sadar akan kehadiranku.
Dia punya ekspresi yang aneh di wajahnya saat dia melihatku.
Aku rasa dia punya masalah dengan beberapa pria yang bersama pujaan hatinya.

“ Ahh...kau begitu, ajak dia juga.”

Apa-apaan, aku Cuma jadi pelengkap aja? Tanpa menunggu jawaban dari Cecilia, Hero-kun menarik lengannya dan membawanya ke toko perhiasan.
Mungkin dia menjadi terlalu percaya diri, tapi Cecilia tidak terlihat senang sama sekali.
Aku dan gadis Mage tertinggal di belakang, dan dia mengambil waktu untuk menyuarakan keluhannya.

“Sialan, ini seharusnya hanya kencan Aku dan Yuuga!”

Gadis Mage, kayaknya namanya Mikana ya?
Aku merasakan sama seperti dia.
“Aku akhirnya bisa memaksanya berlibur dengan hanya kita berdua... cuacanya bagus jadi aku mengajaknya untuk pergi belanja sepeti yang sudah biasa kita lakukan...”

‘Seperti yang sudah biasa kita lakukan’ aku bertanya-tanya apakah dia teman masa kecilnya Hero-kun?
Haaa... Aku hanya bisa menghela napas.
Aku juga kesal karena kencan pertamaku dibajak.

“ ...Hey, kau suka Cleric itu kan? Kalian pergi bersama-sama, mungkin lagi kencan?”


Aku tiba-tiba ditanya sebuah pertanyaan yang sulit.
Bagaimana sebaiknya aku menjawab... ?

“Hmm, aku tau jawabannya bahkan tanpa bertanya, Berikan yang terbaik. Jika kau melakukan itu, mungkin Yuuga akhirnya akan menyerah padanya...”

Dia seperti mendukungku.
Aku kira dia sepenuhnya lacur, tapi mungkin dia benar-benar setia dengan Hero-kun?
Pendapatku tentang dirinya sedikit berubah...

“ Tapi dengan muka membosankanmu. Aku tidak berharap banyak...”

Kutarik pernyataan sebelumnya. Dia mungkin bukan lacur, tapi kepribadiannya mengerikan.
Namun, aku mungkin menilai dia sedikit lebih baik, jadi aku mungkin bisa memanggil dengan namanya dalam monolog internalku.
(TLN : mungkin ini artinya si Youki nggak make panggilan “ Mage bitch/lacur” lagi, tapi make namanya “ Mikana.”)

“Apa yang kau lamunkan? berapa lama kau akan membiarkan mereka berdua pergi sendiri? Aku akan menyusul mereka.”

Mikana memasuki toko, dengan kasar meninggalkan aku di belakang.
Tapi dia benar.
Dia mungkin tidak memiliki kesempatan dengan Cecilia, tapi itu bukan berarti aku harus membiarkan mereka bersenang-senang satu sama lain.

Aku mengikuti Mikana ke dalam toko.

Ada banyak pasangan disini.
Aku yakin banyak lelaki yang membeli hadiah buat ceweknya.


Lagi mencari-cari dia, aku akhirnya melihat Cecilia.
Dia bersama Hero-kun, dan Mikana berjalan mendekatinya.

“Oh, Youki-san, aku minta maaf, aku tidak bermaksud buat meninggalkanmu di belakang...”

Aku tau Cecilia tidak salah, jadi dia tidak perlu meminta maaf.
Ini semua salah Hero-kun karena membawanya dengan paksa.
Tentu saja aku tidak mengucapkan ini dengan keras.

“Tidak apa, aku tidak keberatan, bagaimanapun, kelihatannya ada macem-macem perhiasan disini.”

Di dalam toko berbagai jenis perhiasan; cincin, gelang, kalung, bros, dan anting-anting, semua mulai dari yang murah sampai yang mahal.

“Karena sudah disini, mari ambil sesuatu. Pilih mana yang perlu kita beli?”

Hero-kun bereaksi pada apa yang aku katakan.

“Kedengarannya bagus. Mikana, Cecilia, aku akan mengambilkan kalian sesuatu.”

Hero-kun memberi mereka senyuman cowok cantik.
Apa ini kompetisi atau semacamnya?
Mengatakan kalau dia akan mengambilkan sesuatu untuk mereka. Itu adalah kalimat untuk menyatakan perang!
Walau aku hanya membeli sesuatu untuk Cecilia.

“Kalau begitu aku akan ambil sesuatu juga.”

Dan begitulah, dua orang pria mulai berunding diantara semua perhiasan.
Mikana terlihat sangat senang saat Hero-kun membelikan sesuatu untuknya.
Cecilia tersenyum dengan terpaksa, mungkin karena Hero-kun memulai pertarungan ini.

“... Nah sekarang, enaknya yang mana ya?”

Di dua kehidupanku aku tidak pernah memilih hadiah untuk seorang gadis, kecuali untuk ibuku.
... Yang mana yang aku ambil?
Aku berkeliling disekitar toko sampai sesuatu menarik perhatianku.

“... Ah, ini terlihat bagus.”

Apa yang aku temukan adalah kalung yang cukup murah.
Itu mungkin bukan yang termahal di toko, tapi pembuatannya sangat padat, dan itu tidak terlihat begitu murah.
Sebuah pilihan yang bagus jika harus kukatakan.

“Cecilia, bagaimana dengan ini?”

Cecilia mecobanya.
Terlihat cukup bagus padanya.
Dia terlihat menyukai itu juga.
Dan saat kami mendapatkan hal baik ...

“Cecilia, cobain ini.”

Hero-kun menyempil diantara kita.
Baca suasananya dong, padahal suasananya baru saja lagi baik!

Hero-kun membawa sesuatu yang terlihat mahal, jepit rambut yang dihiasi banyak hiasan.
Tapi semua hiasannya berkumpul bersama dalam sebuah kekacauan yang ekstrim.
Heyy bruh... jangan cuman asal ambil yang penting mahal. Orang akan ragu sama selera berpakaianmu.
Bahkan wajah Cecilia dan Mikana terlihat gelisah.
Tak ada gadis yang menyukai itu.

“Ini, cobalah.”

Hero-kun tidak peka kalau mereka gelisah.
Bermaksud untuk memakaikannya, Hero-kun melepas topi Straw Cecilia... tunggu, kau bodoh!!
Semua orang selain Hero-kun tertegun.
Kalau kau lakukan itu, maka ...

“Hey, bukankah itu Cecilia-sama?”

“Astaga, bukankah itu Hero-kun di sampingnya.”

“ Mikana-sama juga ada.”

Identitas mereka terungkap, toko pun menjadi kacau.
Walaupun aku bersama mereka, aku terdorong ke belakang oleh kebanyakan orang, dan berikutnya Cuma jadi orang yang melebur dalam rombongan fans.

“Yuuga, kamu bodoh!”
“Cecilia, dimana kamu?”

“Youki-san, kemana kamu pergi?”
“Berhenti dorong-dorongan, kalian mengganggu bisnis toko, semuanya keluar!”

Aku menyuruh semua orang keluar jadi mereka bisa melarikan diri dari toko, tapi kekacauan tidak terkontrol.
Lagi dan lagi orang-orang berkerumun menyerang ketiga pahlawan dengan pertanyaan.

“Hero-sama, siapa favoritmu?”
“Bagaimana mengenai pertunanganmu dengan tuan putri?”
“Cecilia-sama, anda menolak semua lamaran pernikahan, apa anda menyimpannya untuk Hero-sama.”
“Mikana-sama, apa rencana anda?”
“Huh? Bukannya disini ada satu orang lagi ...?”

Ketiganya dibanjiri dengan pertanyaan saat aku dihancurkan oleh massa.


Setelah 6 jam, kami berempat kelelahan.
Setelah keributan mereda kami bersantai di taman terdekat.

“... Cecilia, Mikana, oh dan kau juga, apa kalian ingin pergi untuk makan malam?”

“Nggak mau.”
“Nggak.”
“Aku dengan sopan menolak.”

Pada saat itu hati kami bertiga menjadi satu.
Bukankah orang ini, yang pertama menyulut keributan. Dan sekarang apa coba yang dia katakan?
Hero-kun seharusnya sama capeknya dengan kita.
Aku tidak ingin ada masalah lagi hari ini, terima kasih banyak.

“Ahahaha...benar...”
Kau sebaiknya memikirkan apa yang telah kau lakukan.
Hari libur yang telah aku nantikan berakhir dengan berantakan.
Kami mengambil hari libur untuk beristirahat, tapi sebaliknya kita melelahkan diri kita sendiri.

“Mari kita sudahi hari ini...”

Semuanya setuju denganku.
Akhirnya, kencan pertamaku sepenuhnya gagal.
Hero-kun ... er, Yuuga.
Aku akan mengingat ini... dendamku tidak akan terlupakan dalam waktu dekat.

Hari selanjutnya aku dipanggil oleh Celia-san... Aku bertanya-tanya apa aku akan dimarahi.

Previous ChapterDaftar Isi – Next Chapter
loading...