Saturday, 14 January 2017

Wagamama Onna ni Tensei Shita yo Chapter 5 Bahasa Indonesia


Translator: KIV

Chapter 5: Mari Membuat Kue

Proses masak-memasak biasanya dilakukan di kediaman utama,
Berhubung kepala chef bekerja di dapur utama, hanya masakan sederhana yang dapat dibuat di dapur lainnya.

Tapi sebenarnya tidak begitu banyak perbedaan dari dapur utama, terutama terkait bahan baku, bumbu, peralatan masak, dsb.

“Berta, apa kita punya kentang?”

Saat aku bertanya, Berta mengalihkan pandangannya ke arah beberapa koki bimbingan yang berada di sana.

“Ah, anu, akan saya bawakan.”
Salah seorang dari mereka berlari dengan panik ke arah gudang.

“Si-silahkan.”

Dia kembali dengan memberikan segunung kentang dalam keranjang.

“Terima kasih.”

Saat aku berterima kasih dengan riang, dua orang pelayan yang bekerja di dapur dan dua orang bimbingan tadi terdiam membeku.
Mou, reaksinya begini lagi.
“Mana pisau dapur?”

“Eh!? Tapi, itu…”

Tubuh pemudia di hadapanku mulai bergemetar saat mata kami berpapasan.

Kamu tidak akan kutusuk, kok. (TLN: tehee (ڡ))
Hm, aku tahu kalau wanita yang histeris sebaiknya dijauhkan dari benda tajam, tapi tidak perlu sampai setakut itu kan?

“Nyonya, bagaimana kalau anda serahkan proses memasak pada Kurt dan Damien yang ada di sebelah sana? Nyonya hanya perlu memerintah mereka.”

…memangnya kalau begitu aku masih bisa disebut memasak?
Tapi, sepertinya itu hanya itu cara yang dapat membuat mereka semua menjadi tenang.

Rrr, memangnya aku ini pembunuh atau apa!?
Haa… tapi mau bagaimana lagi.

“Kalau begitu, bisa kuserahkan pada kalian?”
“Ba-Baik.”

Kedua pemuda yang dituju langsung berdiri tegang.

Baiklah, aku, si Amalie yang kejam ini akan menjadi instruktur yang galak!!
Ah, ngomong-ngomong, kedua pemuda tadi begitu tegang hingga aku khawatir apakah mereka bisa menggunakan pisau dengan benar.

“Bisakah kalian potong kentangnya dengan hati-hati? Tidak perlu buru-buru supaya tidak terluka.”

Mereka kemudian memotong kentang-kentang itu dengan perlahan seperti yang diperintahkan.
Walau ukuran kentangnya cukup kecil, tapi meretia tidak bersinar.

“Potong lebih kecil lagi.”

Dengan perkataanku, mereka melakukan seperti yang diperintahkan.

Setelah dipotong kecil-kecil, akhirnya kentang-kentang itu bersinar.
Mou, kalau jadi begini harusnya bisa lebih cepat kalau langsung diparut dari awal.

Baiklah, selanjutnya…
Saat melihat sekeliling, kulihat ada kain dan ember air yang bersinar.
Ah iya, kentangnya harus dibungkus dengan kain, direndam dalam air, lalu diperas untuk mendapatkan sari patinya.

“Apa kalian punya kain bersih?”
“Ah, ya, kami masih menyimpan kain untuk pembungkus daging.”
“Baiklah, bisakah kalian masukkan kentangnya ke dalam air dan gosok semuanya?”

Saat para anak bimbingan itu menggosok kentang, airnya perlahan mulai mengeruh.

“Apa yang kami lakukan selanjutnya?”

“Diamkan saja sebentar.”

Tak lama setelah para pemuda itu menyingkir dari wadah air, isi wadahnya mulai bersinar.

Sekarang saatnya menggunakan kain!

…Ya, kita tidak bisa mulai memasak tanpa pati kentang.
Selain itu, membuat Baumkuchen itu tantangan yang lumayan rumit.

Kalau dari tampilannya… aku yakin lapisan kuenya harus dipanggang tanpa gosong.
Mungkin bentuknya tidak perlu bundar, aku bisa saja merombak bentuknya.

Tapi, hmm~ bagaimana ya?

!! Ah iya, aku kan punya uang!
Walau kedengaran menyebalkan, tapi akan kukatakan sekali lagi.
Aku punya uang!! (TLN: FUAHAHAHA)

Karena itu, ayo nanti buat ulang Baumkuchen seperti yang pernah kulihat di TV.
Kalau sudah begini, sekalian saja aku buat peralatan memasak untuk kue.

“Berta, aku ingin memesan oven khusus, apa yang harus kulakukan?”
“…saya akan meminta perusahaan Becker menemui anda.”

Berta segera menjawab permintaanku yang merepotkan.

Perusahaan Becker adalah perusahaan terbesar di ibukota kerajaan Morgenrot.
Perusahaan itu menjual berbagai macam produk layaknya sebuah department store.

Oh, setelah dipikir-pikir, Sepertinya tidak mungkin aku bisa menyelesaikan baumkuchen untuk hari ini.
Kalau begitu, apa ada menu lain yang bisa kubuat sekarang?

Kalau yang bahannya serupa, ada kue “itu”.
Hehe, Wirbel pasti akan senang!

Aku membuka kertas yang berisi bahan-bahan untuk membuat kue.
Oh, bersinar~

“Bisa tolong bawakan tepung, telur, gula, susu, mentega, dan krim segar kepadaku?”
“Ba-baik!”

Kurt dan Damien dengan segera meletakkan semua bahannya di hadapanku.

“Selanjutnya…”

Saat aku mengulurkan tangan, Berta kembali muncul.

“Nyonya…”

Eh, tidak apa-apa, kan!?
Aku tidak akan jadi berbahaya (bagi sekitarku) saat memegang pisau!

Aku dan Berta saling bertatapan untuk beberapa saat.

“Kurt, lelehkan mentega dan kocok krimnya. Damien, pecahkan telur dan campur dengan semua bahan selain krim lalu masak tipis di atas nampan.”

Tatapan hening Berta-san pada akhirnya membuatku takluk.
Padahal belum lama ini dia begitu takut padaku…
Apa aku harusnya bahagia karena dia jadi terbiasa denganku?

Kurt dan Damien adalah koki yang baik walaupun hanya belajar dengan mengamati.
Mereka menyelesaikan semuanya sesuai perintahku.

Sip, sekarang tinggal menunggu kuenya dingin sebelum mengoleskan krim.
Dengan ini, Mille Crepe selesai~

“Masukkan ke dalam kulkas dan dinginkan beberapa saat.”
“Baik…”

Mata Kurt, Damien, dan kedua pelayan terpaku pada Mille Crepe.

“Selain bagianku dan Wirbel, sisanya boleh untuk kalian.”
“Benarkah!?”

Suara yang paling bersemangat justru terlontar dari arah sampingku.

Berta… ternyata kamu suka makanan manis, ya?

Dia yang biasanya berekspresi datar, kini memasang eskpresi dengan mata yang berbinar-binar.

“Ya, silahkan makan dan berikan pendapat kalian.”
“BAIK!”
Semuanya memberikan jawaban serentak.

Kalau begini, aku yakin Wirbel akan memperlihatkan senyumannya yang menawan.

loading...