Monday, 2 January 2017

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 6 Part 1.5 Bahasa Indonesia


Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 4 Chapter 6 Part 1.5/2: Seiiki e no Dōchū (Sepanjang Jalan Menuju Sanctuary)

"Jadi Puck masih belum menunjukan wajahnya ya?" (Subaru)

"Iya belum. Aku udah memanggilnya, dan aku masih merasakan keberadaannya di dalam kristal tapi... Ini pertama kalinya dia menghilang selama ini, jadi aku sedikit khawatir." (Emilia)

Di gerobak naga yang menderap dengan lembut, duduk bersama, hanya suara Subaru dan Emilia yang menggema di dalam gerobak.

Di bawah Divine Protection dari "Wind Evasion", suara angin dan semua kebisingan di luar hampir sepenuhnya terpotong dari gerobak naga. Bahkan sembari berlari dengan kecepatan tinggi, suara keributan yang dihasilkan hampir sepenuhnya tidak ada, sehingga hal tersebut serasa seperti mimpi.

Mungkin ini sama seperti perasaan nyaman yang mungkin dirasakan ketika naik di kursi premium kereta peluru Shinkansen, tapi Subaru tidak pernah sekalipun mendapatkan kesempatan untuk duduk di kursi itu, dan bahkan juga untuk kursi umumnya.

Bagaimanapun, di interior gerobak naga yang tenang, suara yang sedang mereka bicarakan dapat terdengar dengan sangat jelas. Dan, topik yang mereka bicarakan-pun beralih ke arah sesuatu yang telah menggagu mereka selama beberapa hari ini — — yaitu, menghilangnya keberadaan yang selalu berada di sisinya Emilia, kucing dengan sosok ayah yang selalu menghalangi Subaru yang ingin mendekati Emilia... Puck.

"Kalau dipikir-pikir lagi, dia masih belum keliatan dari sebelum kita kembali ke Mansion... Terakhir kali aku melihatnya itu saat..." (Subaru)

"Kalau aku sih pas di Ibukota, ketika kita sedang berada di Mansionnya Crusch-sama. Aku ira semuanya sudah sangat normal, tapi aku nggak bisa bertemu dengannya lagi setelah pagi itu. Bahkan ketika aku memanggilnya, dia sama sekali nggak muncul... Aku jadi khawatir kalau aku udah membuatnya marah atau semacamnya." (Emilia)

Melihat ke bawah, Emilia memainkan ujung rambutnya, mencoba untuk tidak menunjukan wajahnya e Subaru. Beberapa hari ini, rambut peraknya selalu di kepang.

Melihat Subaru menatap ke arahnya, seolah-olah mengerti maksud dari tatapannya itu, Emilia mengangguk [Iya].

"Kontrak terakhir yang aku buat sama Puck saat terakhir kali aku melihatnya adalah 'Tetaplah kepang rambut-mu'. Sehabis itu, aku nggak dikasih tau ngapain-ngapainnya, jadi aku tetap mengepangnya." (Emilia)

"Gaya rambut-mu adalah kontrak-mu sama Puck? Yang bener? Itu benar-benar ringan... ya kan? Meskipun ada yang bilang kalau rambut adalah nyawa seorang wanita, jadi itu seakan kontraknya Puck adalah memegang kehidupan..." (Subaru)

"Aku rasa itu benar-benar harga yang sangaaaat murah untuk dibayar. Aku nggak tau ini sampai aku keluar dari hutan, tapi bisa dapet kontrak dengan roh seperti Puck, persyaratan seperti ini terlalu ringan. Roswaal juga sangat terkejut. Kenyataanya, kelihatannya dirimu perlu mempunyai jumlah Mana yang besar ataupun persyaratan-persyaratan rumit lainnya." (Emilia) 

Melihat Emilia mengendurkan sudut bibirnya ketika mengatakan itu, Subaru mengangguk seakan memikirkan sesuatu. Tapi kemudian, dia dengan cepat mengangkat dagunya untuk menghilangkan senyum sayu Emilia.

"Yah, untuk membatasi waktunya Emilia-tan yang walau hanya sedikit, bagi-ku, aku akan bilang kalau itu adalah harga yang sangat mahal." (Subaru)

"Kata-kata seperti itu, kalau kamu mengetakannya se-enteng itu, jadi nggak akan dalem. Kalau itu adalah sesuatu yang penting maka akan lebih baik untuk tetap seperti itu sampai waktunya tiba, menurut-ku." (Emilia)

Emilia menyuarakan keberatannya melihat bagaimana Subaru selalu dapat cara untuk menggodanya. Di lain sisi, Subaru sedikit mengangkat kedua tangannya dan menggelengkan kepalanya.

"Kata-kata rahasia yang mau aku katakan ke Emilia-tan disimpan secara terpisah. Yang ini adalah untuk kehidupan sehari-hari, satu dari banyak hal yang mudah untuk dikatakan ke Emilia-tan." (Subaru)

"Serius deh, Subaru, kamu emang punya lidah perak ya... Oh tidak, mungkin wajah-ku sedang memerah saat ini, jangan lihat!" (Emilia)
(TL Note: Lidah perak=pandai berkata-kata)

Melihat Emilia yang tiba-tiba menutup wajahnya dengan telapak tangannya, Subaru tertawa, memastikan dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Dan, mencoba untuk membawa perbincangannya kembali ke topik, dia melanjutkan dengan "Yaah..."

"Karena Puck nggak ada, ada beberapa masalah serius dalam aspek pertarungan dalam perjalanan ini. Kita tidak bisa bergantung pada Otto untuk bertarung, dan aku juga tentunya nggak bisa juga. Dan, Emilia-tan juga nggak begitu kuat kalau tanpa Puck, kan?" (Subaru)

"Oh, kamu berkata hal yang seperti itu ya. Tapi asal kamu tau, aku masih bisa menggunakan sihir ketika Puck nggak ada disini. Bukan cuman Puck, aku juga punya kontrak dengan roh-roh mikro. Aku nggak punya masalah berkomunikasi dengan mereka, jadi aku bisa bertarung. Aku akan melindungi-mu tidak peduli apa yang terjadi." (Emilia)

"Oh tidak, jantannya... Itu berarti aku ini payah banget 'ya... Kata-kata itu, aku pasti akan mengatakan itu ke Emilia-tan suatu hari nanti, tunggu aja." (Subaru)

"Aku akan menunggunya tanpa ada ekspetasi apapun." (Emilia)

Seakan membuktikan kata-kata Emilia, datang mendekat, dan berkumpul di jari-jemarinya Emilia, roh-roh mikro-pun bermunculan, melayang-layang dan bersinar. Meskipun mereka terlihat seperti demi-roh-nya Julius, tapi keberadaan mereka nampak lebih lemah jika dibandingkan — — dan meskipun kekuatan mereka sangat jauh jika dibandingkan dengan Puck, setidaknya, mereka tidak muncul hanya untuk menjadi makhluk yang tidak berdaya.

Satu-satunya gadis di dalam rombongan, dan dialah orang yang Subaru suka... membuatnya bergantung pada perlindungannya Emilia akan jadi sangat memalukan...

"Begitulah, ketergantungannku kepada orang lain nggak begitu banyak berubah dari pertempuran melawan Paus Putih. Aku benar-benar bergantung pada Rem saat itu, dan bahkan sebelumnya juga... bentar, nggak pernahkah ada saat dimana aku mengerjakan semuanya sendiri!? (Subaru)

Tentu saja, itu adalah cerita dari sudut pandangannya, dan itu juga mungkin kurang dihargainya.

Tapi bagaimanapun, karena tidak ada orang yang memiliki cukup informasi untuk menemukan kesalahan dalam kesimpulan ini, reaksi mengerikan Subaru saat menyadari semua ini-pun lewat begitu saja.

"Yah, Sanctuary ya? Sebenarnya, tempat seperti apa Sanctuary itu..." (Subaru)

Setelah sedikit menginstropeksi diri, Subaru menatap pemandangan di luar melalu jendela kecil, menggumamkan itu disela-sela napasnya.

Saat ini, bagi Subaru. Sanctuary adalah tempat yang sama sekali tidak dia ketahui. Namanya sendiri tidak terdengar kesan sangat berbahaya, tapi peringatan Frederica saat dia membicarakan tentang Sanctuary benar-benar membekas dalam pikirannya. Salah satu dari perkataannya,

"'Berhati-hatilah terhadap Garfiel', ya" (Subaru)

"Kamu masih belum bertemu dengannya 'kan, Subaru? Aku juga cuman pernah mendengar namanya, dan Frederica nggak ngasih tau aku lebih detailnya juga." (Emilia)

Seolah mengikuti Subaru yang bergumam, alis bersihnya Emilia-pun menyempit. Kejadian yang muncul di pikirannya, mungkin juga sama dengan yang ada di Subaru.

Kejadian saat Frederica memberikan peringatan untuk berhati-hati terhadap pria yang bernama Garfiel tapi menolak untuk menjelaskannya lebih detail.

Bahkan ketika Subaru menyuarakan ketidakpuasannya terhadap informasi yang sangat sedikit yang diberikan kepadanya, Frederica tetap dengan keras kepala menolaknya, berkata 'Itu karena Sumpah-ku', dan tidak akan mengatakan apapun. Emilia dan Subaru, tidak tahu apa yang harus dilakukan, tidak mendorongnya lebih jauh.

"Aku memang bener-bener harus memaksanya untuk menjelaskan lebih jauh... Dikasih tau kalau Garfiel itu berbahaya, dia cuman ngasih tau namanya doang, ini sudah kelewatan." (Subaru)

"Apa boleh buat, itu adalah sebuah Sumpah. 'Kesepakatan adalah Suci dan tidak dapat diganggu gugat, jangan pernah melanggarnya. Kontrak dan Sumpah dan Pakta, meskipun itu semua beratnya berbeda, semuanya haruslah setara'." (Emilia)

Mengayunkan jarinya yang terangkat, Emilia mengatakan hal itu kepada Subaru seakan mengajarinya.

Kontrak dan Sumpah dan Pakta, seperti sebuah permainan kata-kata yang mengalir di telinganya, dan sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di pikirannya Subaru, dia membiarkannya keluar dari mulutnya,

"Jadi, diantara Emilia-tan dan Puck adalah Kontrak. Diantara Frederica dan Roswaal adalah Sumpah dari kewajiban moral. Dan kemudian, kesepakatan antara sang Naga dan Kerajaan adalah sebuah Pakta... apa aku benar? Atau ada sesuatu yang salah?" (Subaru)

"Hal itu tidak dibedakan sebegitu jelasnya, tapi dari yang aku pahami, Kontrak adalah antar individu, Sumpah dibuat ketika satu kelompok berumpah pada kelompok lainnya, dan Pakta adalah kesepakatan yang melampaui batas-batas individu, dan bahkan melampaui waktu... Setidaknya itulah yang aku pelajari." (Emilia)

"Begitu ya. Memang cocok dengan pengertiannya..." (Subaru)

Mengangguk terhadap penjelasannya Emilia, Subaru kemudian menggaruk secara kasar kepalanya, dan melanjutkan dengan "Tapi tetap saja".

"Itu juga adalah kata-kata yang indah, aku pikir... Kesepakatan adalah Suci dan tidak dapat diganggu gugat, kan?" (Subaru)

"Perjanjian... Janji adalah hal yang penting. Tentu saja, Sumpah, dan bahkan Kontrak tidak memaksa untuk melindungi mereka. Sama sekali bukan seperti itu, tapi tetap saja, kami menjaga janji tersebut. Kami berkerja keras untuk menjaganya, kan? Meskipun tidak ada yang melihatnya, ataupun menyadarinya, Janji harus dijaga. Ntah itu orang lain ataupun diriku sendiri, kami akan melakukan yang terbaik untuk menjaganya." (Emilia)

Menempatkan kedua tangannya di dadanya, Emilia mengunci pandangannya kepada Subaru, yang menanyakan pertanyaan tersebut dengan entengnya. Nada suaranya lembut, dan tidak ada tanda-tanda menyalahkan Subaru... Tapi hati Subaru terasa begitu sakit karenanya.

loading...