Tuesday, 10 January 2017

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 7 Part 1 Bahasa Indonesia


Translator: Kirz
Proofreader: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume  4 Chapter 7 Part 1/2: Jikken-ba (Daerah Pengujian)

Disaat si Brandal itu menghentakkan kakinya ke tanah, Subaru merasakan sebuah ilusi seakan-akan dunia telah dimiringkan.

Tentu saja, secara logika, hal itu tidak mungkin dapat terjadi. Bahkan manusia paling besar didunia sekalipun tidak mungkin bisa menggemparkan pondasi(permukaan tanah) dari dunia ini hanya dengan hentakan sebuah kaki, dan tentunya berat dari bumi ini tidak dapat digoncangkan dengan mudah.

Maka dari itu, 'dimiringkannya dunia ini' hanyalah ilusinya Subaru.

Apa yang sesungguhnya terjadi adalah, Garfiel menghentakkan kakinya ke bawah, gelombang dahsyat menghempas di tanah, dan seperti sedang menggelar sebuah 'tatami', Gerobak Naga itu terlempar ke udara disaat gelombang dashyat-nya menghempas.
(TLN: Tatami (畳) adalah semacam tikar yang berasal dari Jepang yang dibuat secara tradisional)

"Mustahil―― Uwah!?" (Subaru)

Layaknya sebuah papan jungkat-jungkit, lemparan ke atasnya begitu tinggi, dan lalu, seakan-akan sedang mengambang, Gerobak Naga itu melayang di udara. Bersama dengan para naga darat, Patrasche dan Furufu, sehingga kurang lebih 1 ton total berat-nya mereka semua, mereka semua telah terlempar melayang di udara. Di dalam gerobak, Subaru hanya mendekap Emilia dalam pelukannya.

Dan, setelah itu, Gerobak Naga itu terbanting ke tanah, dampak guncangannya tersebar ke setiap sisi gerobak, di dalam maupun di luar, menimbulkan suara gemeretak dan berderit. Gerobak Naga ini adalah Gerobak Naga yang berkualitas tinggi. Kemewahannya tidak cuma terletak dari penampilan glamornya, tapi juga kualitasnya yang dibuktikan dari segi kenyamanan serta daya tahannya, dan saat ini telah dibuktikan dengan baik, dengan kenyataan kalau kali ini gerobak itu mampu mencegah kerusakan fatal setelah menghantam tanah. Tapi tetap saja, Gerobak Naga yang dalam posisi hampir ingin terguling(posisi miring), tidak mungkin bisa dipakai untuk langsung kabur.

Dengan kata lain, selagi 'Kabur' tidak bisa dijadikan pilihan lagi, maka satu-satunya pilihan yang tersisa yaitu bertahan dan bertarung.

"Sial, Apaan itu――" (Subaru)

Menggelengkan kepalanya, yang sedang keluar dari jendela yang terhubung ke kursi pengemudi, Subaru memegang dahinya yang sakit. Ia telah menghantam kepalanya disaat gerobak itu terhantam ke tanah, tapi untungnya, hanya rasa sakit, tidak ada luka maupun pendarahan. Lalu secara tiba-tiba dia mengingat sesuatu, menengok ke bawah, dan melihat, Emilia terbaring dalam pangkuannya, dengan tidak ada satupun luka.

Rasa lega pun muncul dalam diri Subaru, tetapi perasaan ini segera tergantikan oleh rasa gelisah karena teringat kalau pelaku yang melakukan semua ini masih berada di luar sana.
Dengan cepat mengangkat pandangannya, terlihatlah pemandangan yang mengerikan dari——

"Patrasche——!!" (Subaru)

Berteriak, menunjukkan taringnya, Naga darat hitam yang cepat itu melompat menerjang si kurus itu.

Memanfaatkan kesempatan dimana tali penghubung antara dirinya dengan Gerobak naga telah mengendur, Patrasche menggeliat, mencoba melepaskan tali yang mengendur di tubuhnya dan dengan cepat menerjang penyerang itu, melakukan serangan balik.

Dengan taring runcing-nya, yang tajam seperti pisau, serta kekuatan dari rahangnya yang mampu membelah daging manusia serta menghancurkan tulang. Cepat seperti angin, Ia menerjang menuju lehernya Garfiel, ingin merobeknya tanpa banyak berbicara lagi.

"Keputusan yang menarik. Naga darat yang baik..... ehh kagak, Lu itu gadis yang baik, 'tau. Orang-orang bilang, 'Remuk-nya suatu tulang itu juga merupakan pertanda dari cinta'" (Garfiel)

"————!"

Berada dalam rahangnya yang tertutup, ujung dari lengan tangan-nya yang menjulur ke depan berada di dalam rahangnya, yang 'seharusnya' sudah tercabik-cabik.

Garfiel telah mengulurkan tangan kanannya melawan gigitan-nya Patrasche. Dan naga darat itu, membidik tepat ke sasarannya, mengunyah hingga merobek ujung lengannya, dan kemudian menjatuhkan diri di atas targetnya..  setidaknya, begitulah seharusnya yang terjadi.

Namun kenyataannya, Patrasche terdiam kaku di tempat. Tidak hanya badannya, tapi rahangnya yang mengapit lengan tangan-nya di dalam, juga benar-benar berhenti bergerak.

Apa kemampuan khusus telah digunakan, ataukah ini disebabkan oleh sihir?

Pertanyaan ini pun muncul dipikiran Subaru, tapi dengan segera, tindakannya Garfiel menjawab pertanyaannya. Mengeraskan otot yang berada di lengan tangan-nya yang dijulurkan, ototnya itu benar-benar mengalahkan rahang-nya Patrasche, membuka rahangnya lebih lebar dan lebar.

"Sip bagus. Gerakan lu yang cepat, dan pantang menyerah, sangat memuaskan. Sip lulus lu!" (Garfiel)

Naga darat hitam yang cepat itu merendahkan tubuhnya ke bawah, masih dalam posisi mengapit lengan, Ia menggeliat. Kekuatan dari rahangnya tertahan oleh pergelangan tangan kanan pria itu, Ia(Patrasche) mengibaskan ekornya ke atas untuk membuat Pria itu terpental. Subaru pernah terkena pukulan dari ekornya sekali, tapi, melihat gerakannya Patrasche kali ini, sangat jelas kalau dirinya begitu menahan diri pada saat itu.

Dengan sungguh-sungguh memusatkan seluruh kekuatan dari tubuhnya pada pukulannya, Ia mengarahkan seluruh rasa kebenciannya pada tubuh yang benar-benar terlihat memiliki celah untuk diserang itu. Namun pada akhirnya, serangan ini dihentikan begitu saja oleh tangan kirinya Garfiel.

Suara retakan pun terdengar, dan setelah perbuatan mengagetkan itu dilakukannya, selanjutnya yang dilakukannya yaitu menggenggam ujung dari ekornya. Tangan kanannya berada di dalam rahangnya, tangan kirinya menggenggam ekornya, Garfiel pun tersenyum, menunjukkan taring nya yang terlihat seperti binatang.

"Nggak sakit kok. Tidur yang nyenyak yah" (Garfiel)

Mengayunkan kedua tangannya dengan lebar, seperti sedang bercanda, gerakan melingkarnya membuat tubuh besarnya Patrasche melayang di udara. Lalu, secara tiba-tiba dilempar kesamping dengan sangat pelan, kedua mata Patrasche terlihat kebingungan ketika Ia di lempar dengan begitu lembut ke tanah.

Tubuh besarnya hampir tidak terguncang sama sekali ketika didaratkan, Patrasche pun terdiam menerima kekalahannya. Melihat kejadian ini, tenggorokan Subaru yang kering pun mengeluhkan ketidakpercayaan,

"Pa-Patrasche dilempar olehnya?" (Subaru)

"Sungguh makhluk yang penurut. Melempar lu dengan pelan, seharusnya lu nggak kesakitan itu. Yok dah beresin semua ini sebelum lu bangun!" (Garfiel)

Mengabaikan terkejutnya Subaru, Garfiel menaikkan pandangannya dan melompat ke kursi pengemudi. Otto yang saat ini terbaring di atas kursi kemudi yang miring, dengan penampilannya yang sudah acak-acakan, mencoba untuk berdiri ketika penyerang itu melompat.

"Kuuuh~..... meskipun gitu, jangan remehkan aku! Aku ini pedangang yang berkelana 'tau! Aku benar-benar sudah siap kalau tiba-tiba diriku dirampok preman di tengah-tengah perjalanan berdagangku. Sini maju! Kapi kalau kau nggak mau menjadi korban dari 'Jurus-Pengusir-Preman-Ala-Keluarga-Suwen' ku, kusarankan kau untuk menyerah sekarang.... Haiiyahhh!" (Otto)

"Diam lu, penghayal. Apa yang bisa lu lakuin emang dengan diri lu yang lemah gitu, ngelawan gue? Dah mending tidur aja dah lu" (Garfiel)

Tepat setelah dirinya menunjukkan sikap bertarungnya, yang penuh dengan semangat, Otto seketika ambruk disaat Garfiel, secara tiba-tiba datang kepadanya, memberikan sentilan pada dahinya.

Dengan sentilan ——Atau lebih tepatnya, serangan sentilan jari-tengah berjarak dekat, dengan serangan yang terdengar amat luar biasa itu, mementalkan tubuh Otto yang kurus dari kursi pengemudi. Sambil memegangi dahinya yang terlihat seperti telah mengalami penderitaan yang mendalam, Ia terdiam tidak sadarkan diri. Terlepas dari apakah Ia sudah mati ataukah masih hidup, yang pasti Ia tidak lagi menjadi halangan bagi Garfiel. 

"Sekarang, kelihatannya lu doang yang tersisa" (Garfiel)

Menghembuskan nafas di lubang hidungnya, brandalan itu mulai menunjukkan tatapan tajam yang kelihatan ingin membelah seseorang menjadi dua, sambil menggerutu.

Berdiri di kursi pengemudi, jarak antara dirinya dengan Subaru hanya sekitar empat langkah ——tapi mengingat bagaimana Ia secara tiba-tiba mendekatkan jarak antara dirinya dengan Otto tadi, itu artinya sekarang ini mungkin tidak ada jarak lagi antara mereka berdua.

Menenangkan dirinya sendiri, Subaru memutar otak (berfikir keras) tapi tetap saja tidak ada satupun rencana yang terpikirkan untuk memecahkan masalah ini. Satu-satunya orang yang mungkin dapat mengalahkan orang ini, Emilia, masih tidak sadarkan diri setelah dirinya rubuh secara tidak jelas tadi. Tapi bagaimanapun juga, Ia(Subaru) harus melindunginya.

"Aku......" (Subaru)

"'Puterinnya kaya tadi ya' atau 'badanku masih biru-biru ini', Gua nggak mau denger semua itu――!" (Garfiel)
(TLN: Dari tadi sesungguhnya, Garfiel sedang menguji mereka semua, sesuai judul chapter ini :v, uji tentang apa? Baca aja trus sampe bawah :v)

Dengan suara hentakan kaki yang begitu pelan, hanya dengan kedipan mata, badan pendeknya Garfiel secara tiba-tiba berada di depan wajah Subaru. Dan dibagian atas, terlihat lengan-nya dengan kelima jarinya telah terbuka, sangat mudah terbayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya ketika jari-jari itu berayun ke bawah, merobek tubuhnya yang terdiam kaku.

Dan dalam menghadapi bayangan itu dimana nantinya tubuhnya akan dirobek-robek, hanya satu hal yang terpikirkan oleh Subaru, yang dapat dilakukannya: Berusaha agar serangan itu tidak melukai Emilia, sehingga Ia bisa membuat Emilia tetap aman dalam pelukannya.

"————!"

——Beberapa detik telah terlewati, atau mungkin lebih lama.

Kedua matanya tertutup rapat, melindungi Emilia dengan seluruh tubuhnya, dirinya yang awalnya menunggu datangnya kejutan, sekarang menjadi gelisah mengalami rasa ketidakpastian(ragu-ragu). Lalu, dengan ragu-ragu membuka kedua matanya, terlihatlah telapak tangan dengan kelima jarinya, diam tak bergerak, di depan wajahnya. Di belakang telapak tangan itu, terlihat tatapan kedua mata si Brandal yang kebingungan.

Tetap menatap si Subaru, yang tidak dapat berbuat apa-apa selain menahan nafasnya, Ia(Garfiel) pun memutar kepalanya sendiri ke kanan dan ke kiri, mengeluarkan bunyi gemeretak dari persendian tulang lehernya.

"Bukannya nyerang balik tapi lu malah memprioritaskan ngelindungin tuh cewe, apa-apaan tuh. Toh juga setelah lu mati, dia yang akan jadi sasaran selanjutnya. Bukannya keputusan lu itu nggak bagus ya?" (Garfiel)

Diserang oleh kritikan yang benar-benar tidak ingin didengarnya, Subaru, yang sedang mencari alasan, tetap terdiam tidak menjawabnya. Keheningan itu membuat dirinya semakin kesal, Garfiel pun melambaikan telapak tangan-nya yang berjari-tajam itu.

"Toh jugaan lu udah terlambat. Entah lu mau bertindak atau diam doang, harapan buat lu udah nggak ada lagi. Yah bagaimanapun juga lu itu orang yang nggak berguna" (Garfiel)

"Ka-Kau itu..." (Subaru)

"Ah?" (Garfiel)

Mengomentari tindakannya, Garfiel mengeluarkan penilaiannya tanpa ampun. Dan ketika Subaru mencoba menggerakan tenggorokannya yang kaku, mencoba untuk bertanya, Garfiel pun menggerakkan kepalanya ke atas dengan kesal, lalu bergerak mendekati wajahnya Subaru.

"Gua mau denger, keluarin dong suaramu. Ayolah" (Garfiel)

"Kau itu Garfiel.... kan? Kau kenal dengan Roswaal dan Frederica?" (Subaru)

"——Frederica?" (Garfiel)

Memastikan ucapannya Subaru, untuk pertama kalinya, ekspresi kebenciannya hilang dari wajahnya. Nampak terkejut, seperti binatang karnivora yang kehilangan mangsanya, dan kemudian seketika, Ia terlihat imut dan jinak, akan tetapi, Ia langsung menutupinya lagi dengan menunjukkan ekspresi seriusnya,

"Kenapa bisa lu tau nama itu..... Eh, bentar-bentar. Wanita yang sedang Lu peluk itu, apa dia itu si rambut putih.... Setengah-Witch?" (Garfiel)

"Dia itu Setengah-Elf. Jangan pernah sekali-sekali kau menyebut nama itu di depan dirinya" (Subaru)
(TLN: Half-Witch (半魔) = Setengah-Penyihir, subaru marah karna nama itu terkesan menghina baginya :v)

" ——Hoaah. Apainiapainiapaini, Lu tiba-tiba jadi semangat nih sekarang" (Garfiel)

Melirik ke bawah ke arah Emilia, Subaru secara tiba-tiba meledak mendengar panggilan yang menghina itu. Ketakutannya beberapa saat yang lalu menghilang dari wajahnya, yang kali ini benar-benar terlihat marah, dan Garfiel, mengetahui hal ini, menggeretakkan seluruh taringnya, dengan penuh semangat.

"Kalau gitu berarti, bukankah Ia Emilia-sama yang digosipkan itu? 'Setengah-Witch' yang sekarang menunjukkan dirinya disini itu, pasti memiliki keterlibatan dengan Roswaal" (Garfiel) 

"Brengsek....!" (Subaru)

Tidak memedulikan ucapan Subaru yang sebelumnya, Garfiel mengucapkan 'Setengah-Witch' lagi dengan diperjelas. Mendengar ini, Subaru bangun, tapi langsung dengan cepat dihentikan oleh tangannya Garfiel.

"'Orang tolol yang mengigit besi cuma akan mendapatkan rasa sakit' kan. Lu nggak ada peluang untuk bisa lawan gua. Lu liat kan tingkat perbedaan kekuatan kita? ――Gua nggak mau menyakiti lu, 'tau?" (Garfiel)

Mengepalkan tangan sambil mengulurkannya, Ia menggeretakkan persendian tulang kepalan tangannya sebagai peringatan. Perbedaan kekuatan antara mereka berdua sudah sangat jelas, tanpa perlu mengetahui tujuannya, lebih baik jangan membuat situasi ini lebih parah dengan melawannya. Menekan kemarahannya dan menunggu kesempatan lain untuk membalas dendam, justru itulah tindakan yang paling benar.

Oleh karena itu,

"...Terserah dah" (Subaru)

"Ah?" (Garfiel)

"Aku nggak mau merasa sakit. Dan kurasa kau akan sangat mudah mengalahkanku. Tapi. ――Aku nggak bisa diem aja ketika kau terus mengatakan hal yang akan membuat gadis ini tersakiti" (Subaru)

Dengan pelan membaringkan Emilia di kursi penumpang, dan dengan pelan menyentuh rambut di dahinya, Subaru pun berdiri menatap Garfiel dalam jarak yang sangat dekat hingga dahi mereka hampir ingin bersentuhan. Begitu dekatnya hembusan nafas mereka, begitu dekatnya jarak antara mereka berdua.

"Buang jauh-jauh nama itu dari mulutmu... dan jangan pernah mengucapkannya lagi" (Subaru)

"......Lu pingin gua nurut sama apa yang lu bilang? Tapi lu nggak tau apa yang lu perluin buat gua, ya kan? Wajah lu, perut lu, tulang kering lu, lu mau itu semua hancur, hah?" (Garfiel)

"Coba aja kalau bisa. Tapi jangan kira kalau aku bakalan diem aja, Kalau kau memukul wajahku, aku akan mengigitmu, kalau kau menyerang perutku aku akan menangkapmu, kalau kau menyerang tulang keringku, aku akan meludahimu, gigimu kubalas dengan gigiku" (Subaru)

Menanggapi intimidasi dengan intimidasi juga, Subaru terbawa oleh hasrat yang membakar dadanya. Di depan dirinya, diam-diam aura kebencian terpancarkan oleh Garfiel dan memancarkan perasaan yang mengerikan dari seluruh tubuhnya. Sebenarnya, Subaru bisa saja di pentalkannya dalam hitungan detik jika Garfiel mau. Melihat serangan dan pertahanannya sejauh ini, semua ini sudah sangat jelas.

Dari sekian orang kuat yang pernah Subaru temui di Dunia lain ini sampai sekarang, Garfiel mungkin saja bisa langsung menjadi salah satu diantara orang-orang itu. Mungkin tidak sampai menjangkau kekuatannya Reinhard, Namun setidaknya Ia bisa, menyaingi Wilhelm ataupun Julius.

Jadi meskipun ucapan Subaru sedikit tinggi, kemungkinan dirinya dapat membalas tidak ada.

Tapi tetap saja, Subaru dan Garfiel saling menatap satu sama lain.

Walaupun tau kalau Ia bakalan kalah, Ia menolak untuk mundur... karena alasan yang menjadikan Ia tidak bisa mundur adalah orang yang tepat berada dibelakangnya...

"――Hihahaha" (Garfiel)

"――Hah?" (Subaru)

...Itu adalah suara yang terdengar tidak pada tempatnya.
Di tengah-tengah ketegangan, Garfiel tertawa terbahak-bahak, memecah ketegangan diantara mereka. Subaru pun mengeluh kebingungan, dan Garfiel meresponnya dengan tindakannya,

"Hiyahahaha! Lu jago mainin kata-kata ya. Lu berhasil, 'tau!" (Garfiel)

"Apaa... Auuww! Oi, Tu-Tunggu, Auww, hentikan sakit oi!" (Subaru)

Memecah ketegangan dengan tawanya, Garfiel pun dengan semangat memukul-mukul pundak Subaru. Tapi bahkan tanpa ada sedikitpun muncul aura mengerikan atau niatan untuk menyerang darinya, dan bahkan meskipun Ia sudah menahan diri, tetap saja gerakan itu, yang memperlihatkan kesan persahabatan, terasa amat sakit bagi Subaru.

(TLN: Kira-kira berhasil sama lulus tadi, apa yg dimaksud sama Garfiel? Ujian apa yang sedang dilakukan Garfiel? Dan apa yg membuat Emilia pingsan?, Akan diceritakan di part 2, Terus pantengin isekai novel yah! :v)

loading...