Wednesday, 18 January 2017

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 5 Bahasa Indonesia


Translator: reisen
Proofreader: Ise-kun

Chapter 5: Alasan Dibalik Pemanggilan

“Maaf aku terlambat datang!”

Kata Calcedonia meminta maaf ketika masuk ke ruang tamu dimana Giuseppe dan Tatsumi menunggu. Ia berhenti dan langsung pertama kali menundukkan kepalanya minta maaf.

“Apa yang membuatmu lama? Menantu sampai capek menunggumu.” Tawa Giuseppe pelan, sambil mencaci cucunya.

“Ah! Ti-tidak, karena percakapan dengan Giuseppe juga sangat menarik, dan aku tidak capek menunggu atau semacamnya…”

“Be-benarkah? Phew, syukurlah.”

Menaruh tangannya di dada besarnya, Calcedonia mengeluarkan nafas lega.

Melihat percakapan antara kedua anak muda, Giuseppe tertawa ramah, dan berkata pada cucunya untuk duduk di sebelahnya.

“Oke, karena Calsey sudah di sini, mari kita jelaskan dari awal.”

Mendengar itu, Tatsumi duduk menyimak.

Ia tidak lagi ragu kalau ia berada di dunia lain, dan pertanyaan besarnya adalah mengapa ia dipanggil ke sini.

‘Ini tidak ada hubungannya dengan pahlawan yang disuruh menyelamatkan dunia dari raja kegelapan, kan?’ Sambil berpikir seperti itu di dalam hati, ia menunggu penjelasan Giuseppe.

“Pertama-tama, selamat datang di kerajaan Largofiely, menantu. Aku dan cucuku, Calsey, kami benar-benar sangat gembira bisa memilikimu di sini.”

“Ah, emm, terima kasih…?”

Tatsumi bingung untuk menjawab apa, jadi ia hanya berterima kasih. Melihat Tatsumi malu-malu menjawab lucu, Giuseppe dan Calcedonia tertawa kecil bersama.

“Dan juga…kami minta maaf, menantu, karena tiba-tiba membawamu ke dunia ini. Sekali lagi, kami sangat minta maaf.”

Bergantian, Giuseppe dan Calcedonia sangat menundukkan kepalanya meminta maaf yang sebesar-besarnya.

“Um… itu, tolong angkat kepala kalian, tidak apa-apa, beneran!”

“TIdak!... kami… maksudku aku memanggil Master sendiri tanpa memikirkan keadaanmu. Aku mengambil kehidupanmu tanpa bertanya pendapatmu terlebih dahulu, Master.”

Calcedonia tetap menundukkan kepalanya, dan Tatsumi melihatnya dengan muka terkejut.

Dari yang ia katakan, walaupun ia dapat memanggilnya ke sini, mungkin tidak ada cara untuk kembali ke dunia lamanya.

Itu sebabnya Calcedonia sampai berkata ‘memaksa mengambil kehidupannya’.

“Begitu. Tapi untuk sekarang, tolong naikkan kepalamu, dan katakan padaku… katakan untuk apa kamu membawaku ke sini. Alasan kamu memanggilku ke dunia ini.”

Ia memanggil Tatsumi ke dunia ini. Padahal sudah tahu merasa bersalah kalau ia tidak dapat mengembalikan Tatsumi ke dunianya, tapi ia tetap saja memanggilnya. Dan Tatsumi ingin tahu alasannya.



Setelah Tatsumi mengatakan itu, mereka berdua akhirnya mengangkat kepala mereka.

Lalu, menghadap mereka berdua, Tatsumi dengan tenang menatap mereka.

Untuk sebentar, keheningan menyelimuti ruang tamu. Lalu tiba-tiba, suara nyaring berbunyi dari luar jendela.

Suara itu adalah bunyi lonceng di suatu tempat dalam kuil Savaiv pertanda memberitahukan waktu. Jika ia mendengar baik-baik ia juga mendengar bunyi lonceng dari kejauhan. Mungkin, kuil lain juga melakukan hal yang sama.

3 kali lonceng berbunyi, dan ketika berhenti, Calcedonia mulai berbicara layaknya lonceng adalah pertanda mulainya percakapan.

“A….lasan… membawamu kemari, Master…. Alasan utama…. Karena aku ingin melihatmu sekali lagi, Master bagaimana pun caranya.”

Wajahnya memerah seperti warna bunga sakura, Calcedonia meletakkan tangannya pada pipinya dan mengatakan alasannya malu-malu.

“Huh…? Cuman itu…?”

Tanpa sadar, Tatsumi kaget sampai tidak dapat berekspresi.

Yaa, siapa saja akan menunjukkan ekspresi yang sama ketika diberi tahu kalau alasan dipanggilnya dia ke dunia lain adalah orang yang memanggilnya ‘ingin bertemu dengannya lagi’.

Di waktu yang sama, Tatsumi sedikit lega karena alasannya bukan ‘jadilah pahlawan dan basmi raja kegelapan!’

“Iya… terus...”

Calcedonia melihat Tatsumi dengan mata gembira. Ekspresinya lalu menjadi serius dan melanjutkan.

“Aku… khawatir… sangat sangat khawatir. Aku khawatir, dan tidak dapat menghilangkan kegelisahan ini. Hari itu dimana aku mati di pangkuanmu, ekspresi di wajahmu, seperti telah putus asa dengan apapun yang ada di dunia ini. Master terlihat sangat tersakiti, aku tidak dapat melupakannya sedikit pun. Master… aku tidak dapat untuk tidak berpikir… Master mungkin akan mengambil nyawanya sendiri… aku khawatir… dan menyesal.”

Di perkataan Calcedonia, badan Tatsumi menjadi kaget tidak dapat bergerak.

Ia teringat saat-saat Chiiko mati di tangannya. Dan ketika Chiiko akhirnya menginggal, ia merasa seperti dunia di sekitarnya telah runtuh.

Seperti yang Chiiko katakan, setelah Chiiko tiada Tatsumi menjadi benar-benar sendirian. Tanpa adanya keluarga yang ia pedulikan, Tatsumi beberapa kali mencoba bunuh diri.

Ada saat dimana ketika ia menekan pisau cutter ke pergelangan tangan. Tapi akhirnya ia tidak dapat melanjutkan, karena ia tidak punya nyali.

“Khawatir dengan keadaan Master sendirian, aku berkomitmen untuk belajar ritual pemanggilan sejak aku memiliki ingatan kehidupan sebelumnya. Untungnya kakek menemukanku di salah satu kuil Savaiv dan membawaku kemari. Di kuil terdapat bahan-bahan sihir jadi membuatku tidak terlalu kesusahan.”

“Huh? Kamu dibawa ke sini?”

“Iya. Karena alasan tertentu, aku mengadopsinya di waktu muda.”

Giuseppe mengadopsi Calcedonia. Ikatan mereka seharusnya anak dan ayah angkat, tapi menjadi cucu dan kakek karena perbedaan umur yang sangat jauh.

Menoleh ke kakeknya dengan senyum terima kasih, Calcedonia menghadap Tatsumi kembali dan lanjut meneruskan.

“Pertama aku berencana pindah ke dunia Master. Tapi di mana pun aku mencari aku tidak dapat menemukan tulisan-tulisan atau pun bahan-bahan dari sihir, ritual, atau upacara tentang itu. Tapi yang kutemukan adalah…”

“…bukan sesuatu yang membawamu pindah ke dunia lain, tetapi untuk membawa seseorang ke sini…?

Setuju dengan pertanyaan Tatsumi, Calcedonia menganggukkan kepalanya.

Ia tidak hanya mencari di arsip kuil saja.

Bahkan, dengan bantuan kakeknya sebagai pendeta tertinggi ajaran Savaiv, ia mencari segala sumber yang ia ketahui termasuk ke arsip-arsip rumah bangsawan. Namun, ia hanya dapat menemukan informasi ritual upacara untuk memanggil Tatsumi ke dunia ini.

“…Tapi, ini adalah keinginan terbesarku. Jadi saat itu aku memutuskan melakukan upacara untuk membawa master kemari. Karena aku adalah sumber pelaku yang membuat keputusasaan master terhadap apapun, aku sudah siap untuk dibenci, untuk sangat dibenci oleh master. Biarpun begitu, aku masih ingin bertemu master sekali lagi…”

Dan ia khawatir terhadap master, kata Calcedonia pelan.



“Katakan, menantu.”

Dengan itu, penjelasan Calcedonia telah selesai. Tapi keheningan masih menyelimuti mereka berdua.

Untuk menghilangkan suasana selesai percakapan tersebut, kali ini giliran Giuseppe yang mengarah ke Tatsumi.

“Bolehkah aku bertanya padamu?”

“Ah, iya, jika aku dapat menjawab.”

“Kamu terlihat tenang-tenang saja, nak. Harus kukatakan kalau kamu tidak terlihat bingung atau kaget setelah mendengar semua ini.”

“Y-Ya?”

Kata Tatsumi, dengan wajah bingung. Dan di saat itu ia merasakan tatapan kakek itu dipenuhi dengan ketajaman dan kemuliaan, daripada tatapan seperti ramah biasanya.

“Menurutku, kalau seseorang tiba-tiba dibawa ke dunia yang sangat berbeda, pasti nanti akan mengalami suatu kesulitan atau kekacauan, benar? Tetapi, engkau, di lain sisi, tidak terlihat seperti itu. Engkau memang sedikit bingung dengan semua ini, tetapi tidak terlihat kacau atau sejenisnya. Kebalikannya… engkau anehnya terlihat tenang dan teorganisasi tentang ini.”

“Itu, emm…”

Wajahnya menjadi merah, mata Tatsumi sedikit ke sana kemari. Lalu berhenti ke Calcedonia sebelum melanjutkan ke Giuseppe.

“Ketika… datang ke dunia ini, lalu melihat gadis cantik…. Dan tiba-tiba dipeluk olehnya… maksudnya… waktu itu…”

Pandangan Tatsumi kembali bertemu Calcedonia.

“…Dia… karena dia sangat mengingatkanku pada Chiiko… meskipun tentang reinkarnasi masih susah untuk dipercaya… kelakuannya sangat mirip sekali dengan kelakuan Chiiko. Kalau seandainya benar dia adalah Chiiko yang dilahirkan kembali, daripada membenci dirinya, aku seharusnya berterima kasih. Sejujurnya, aku senang dapat bertemu dengannya kembali… walaupun penampilannya berubah…”


“Ma-master…!”

Calcedonia adalah Chiiko yang dilahirkan kembali, adalah sesuatu yang Tatsumi hampir percayai. Aura keberadaan Calcedonia sangat mirip dengan Chiiko. Dan ia tahu beberapa hal yang hanya Chiiko tahu. Yang terpenting dari semua itu, ia sangat mengingatkannya pada Chiiko.

Tatsumi duduk tak bergerak sambil memandang lurus ke Calcedonia. Dan Calcedonia yang dipandangi menjadi termakan emosi ketika air mata beningnya jatuh dari mata ruby itu.

Giuseppe melihat mereka berdua saling pandang memandang dengan perasaan syukur, dan merasa lega, dan mengeluarkan tawa besar cerianya.

“Menantu, aku rasa aku tahu pikiranmu. Tapi, apakah kamu mempunyai sesuatu yang masih nyangkut di dunia lamamu?”

“mm-mmm, aku tidak ada penyesalan dari dunia lamaku.”

Semua yang membuat ia hidup di dunia lamanya- keluarga tercinta dan teman dekatnya, dan yang terpenting dari semua itu adalah kesayangannya Chiiko- semua telah tiada.

Jadi untuk menjawab pertanyaan Giuseppe, Tatsumi mengangguk dengan penuh resolusi.



Dari luar ruang tamu, seseorang mengetuk pintu.

Merespon, Giuseppe bertanya, dan suara seorang wanita muda dapat terdengar.

“Yang mulia, aku minta maaf karena mengganggu percakapanmu dengan tamu. Tapi apakah nona Calcedonia di sini?”

“Iya, aku di sini tapi.”

“Sebentar lagi waktunya anda untuk berkhotbah. Para jemaah telah berkumpul di aula* sekarang.”
(TL Note: Bukan aula, lebih tepatnya ruangan keagamaan yang dipakai ketika kegiatan khotbah di gereja atau sejenisnya.)

“Ah, kalau kupikir-pikir lonceng tadi berbunyi 3 kali ya? Aku mengerti, aku akan datang segera.”

Calcedonia menjawab wanita di seberang pintu.

Lalu Calcedonia berdiri dan menunduk ke Giuseppe dan Tatsumi.

“Baiklah, kakek, Master. Karena kewajibanku, aku segera pergi sekarang.”

“Ya, untuk melakukan kegiatan keagamaan juga penting. Aku harap kamu tidak malas.”

“Baiklah Chiiko… bukan kurasa sekarang bukan Chiiko… err.”

“TIdak apa-apa, Chiiko saja, master. Kuharap master selalu memakai nama itu saat memanggilku.”

Sekali lagi, Chiiko menunduk dan meninggalkan ruang tamu dengan pelan.

Sambil pergi, pipinya memerah yang kakeknya tahu, tapi seperti biasanya ia hanya tersenyum kecil dan tidak berkata apa-apa.

Dan Calcedonia meninggalkan ruang tamu, diikuti oleh pendeta wanita selama perjalanan ke aula untuk memberikah khotbah.

Di perjalanan,

“U-um nona Calcedonia…?”

“Iya, a-ada apa?”

Dengan ekspresi ceria dan senyum yang indah, Calcedonia menghadap belakang sambil berputar.

“Hari ini, umm… Maaf kalau kurang sopan tapi… apakah ada sesuatu yang baik terjadi?”

Pendeta wanita itu bingung.

Biasanya Calcedonia memperlihatkan ekspresi seperti tertahan, tapi sekarang wajah cantiknya mengalami perubahan yang tidak wajar. Sekarang ia selalu tersenyum, dan menjawab orang lain dengan perkataan akrab.

Ia biasanya menganggap siapa saja sama, dengan senyum dingin di wajahnya. Bahkan saat melakukan khotbah, ia memiliki kelakuan dingin dan sangat tidak ramah ketika mengajarkan ajaran Tuhan.

Dan Calcedonia yang dingin itu seperti pedang tanpa sarung menjadi subjek aspirasi bagi banyak para pengikut. Tapi Calcedonia hari ini berbeda.

Ia tidak biasa merasa senang. Dan dari cara berkatanya, hampir seperti meloncat-loncat.

Calcedonia dan pendeta wanita itu, walaupun tidak terlalu dekat, memiliki ikatan sejenis pertemanan, dimana mereka berbicara sebentar satu sama lain.

Melihat Calcedonia, bahkan dari pendeta wanita itu mudah sekali ditebak jika ia riang dan gembira. Atau lebih tepatnya, ia terlalu ber-euphoria.

Karenanya ia menanyakan pertanyaan tersebut.

Namun sekarang, Calcedonia yang biasanya dingin dan tidak ramah, seperti gadis yang sedang jatuh cinta, menunjukkan ekspresi malu dan menjawab pendeta wanita itu. Ini adalah sesuatu yang tidak mungkin dan tidak terpikirkan bagi orang yang mengenalnya.

Matanya seperti menunjukkan air mata gembira tapi terdapat sedikit panas di dalamnya, dan pipinya berwarna pink. Ia meletakkan telapak tangannya di pipinya seperti menyembunyikannya. Tapi pandangannya seperti berada di tempat jauh.

“Karena… dia menerimaku. Da-dan juga dia… mengatakan… aku cantik…”

Calcedonia menggeliat kesenangan, dengan aura-aura pink di sekitarnya.

Melihat Calcedonia seperti ini, pendeta wanita itu kaget dan berpikir.

-Ah tidak! Kalau nona Calcedonia berbicara di depan para jemaah dalam keadaan seperti ini. Akan menimbulkan kekacauan. Karena… ekspektasi para pengikut akan hancur berkeping-keping.

loading...