Monday, 9 January 2017

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 2 Bahasa Indonesia


Translator: reisen
Proofreader: Ise-kun

Chapter 2: Panggilan

Malam berikutnya, Tatsumi kembali melihat mimpi yang sama.

Setelah bangun dan sekali lagi memandangi langit-langit ruangannya, Tatsumi kembali mengingat mimpi itu.

Anehnya seperti mimpi yang realistik, yup, saking realistiknya sampai ia dapat mengingat secara detail. Dan entah mengapa mimpi itu semakin nyata tiap harinya.

Di ruang mirip bawah tanah yang agak suram, si holy maiden masih melakukan doanya dengan sungguh-sungguh seperti biasa.

Namun di mimpi ini, Tatsumi melihatnya berdoa sangat mati-matian.

Di atas kulit putih salju yang suci terdapat butir-butir keringat, tidak lama mulai bercucuran ke wajahnya, sampai jatuh ke lantai batu seperti bunyi tetesan air.

Tatsumi bahkan sampai bisa sedetail itu mengingatnya.

“… kenapa… kenapa aku selalu melihat mimpi ini…” gumam Tatsumi sambil melihat langit-langit.

Selalu mengalami mimpi yang sama sesering ini, pasti ada alasannya.

Ini seperti pola yang biasanya itu, pola seperti ada yang memanggilnya, Tatsumi menduga – ini yang disebut pra summon.

Tapi tidak seperti light novel atau komik, kejadian yang tidak logis tidak akan pernah terjadi.

Bahkan, Tatsumi tidak ada alasan untuk dipanggil, Tatsumi tidak ada kelebihan apapun, ia hanya laku-laki normal 16 tahun.

Memang, banyak buku LN, yang seorang putri dari dunia lain memanggil pahlawannya untuk menyelamatkan dunia, cerita ini sudah umum, tapi kalau Tatsumi sendiri yang merasakannya, sepertinya bukan hal yang masuk akal.

Bahkan lebih baik,

Tatsumi sendiri tahu ia tidak bisa terus-terusan sedih seperti ini. Ia harusnya melangkah ke depan dan melanjutkan hidupnya.

Sambil berpikir seperti itu, Tatsumi dengan malas bangun dari tempat tidurnya.

Karena ia sudah berhenti sekolah, Tatsumi berpikir kalau lebih baik keluar dan mencari pekerjaan sambilan. Sambil memikirkan hal itu, ia mencuci muka dan berganti pakaian.

Ia berpikir seharusnya membeli majalah atau sejenisnya di supermarket untuk melihat-lihat lowongan pekerjaan.

Tapi ketika ia sedang memikirkan rencana itu, dari pojok mata Tatsumi melihat kandang Chiiko yang telah tidak ada penghuninya lagi. Dan di saat itu, perasaan sedih dan patah hati atas meninggalnya Chiiko kembali muncul.

Kenangan-kenangan indah Tatsumi bersama Chiiko mulai bermunculan di ingatannya.

Dan kembali ia sadar, Chiiko tidak ada lagi di dunia.

Dan ketika ini terjadi, Tatsumi menjadi tidak berdaya. Kesedihan kehilangan Chiiko kembali menyelimuti, dan sekarang tidak ada lagi yang ia dapat lakukan.

Semenjak Chiiko meninggal, ia tidak selera makan. Yang ia makan sehari-hari adalah persediaan makanan instant yang ia beli sebelumnya di supermarket.

Jadi hari ini juga, tanpa melakukan apa-apa, Tatsumi menghabiskan waktunya bersembunyi di kamar apartemen tanpa melakukan sesuatu.

Ia melihat foto-foto keluarganya dan Chiiko yang ia pasang sebagai layar depan HP. Tanpa sadar, Tatsumi sambil melihat foto-foto, ia mengambil gitar yang ada di sisi tempat tidur lalu memainkannya.

Gitar akustik yang menjadi salah satu peninggalan ayahnya. Ketika Tatsumi masih kecil, Tatsumi sering dimainkan gitar oleh ayahnya lalu diberikan Tatsumi sebagai hadiah.
(TL Note: Gitar akustik = jenis gitar yang biasa dipakai untuk music-musik genre country, terbuat dari kayu dan memiliki 6 senar (beberapa 7 senar). Kualitas kayu dan senar mempengaruhi siara yang dikeluarkan. Gitar ini adalah jenis alat music tidak terhubung speaker, tidak seperti contohnya saja bass.)

Di masa mudanya, ayah Tatsumi membentuk sebuah band, dan dengan sungguh-sungguh ingin menjadi pemain gitar professional. Dan pada akhirnya, ia membuang mimpi itu. Tapi kata-kata ‘aku dulu mainnya bagus’ adalah kesukaanya.

Ia juga mengajarkan Tatsumi cara-cara memegang juga sampai memainkan lagu sedikit. Tapi ayahnya tidak memiliki bakat menjadi pemain professional.

Ia mulai memetik gitarnya tanpa pikiran.

“…Kalau kuingat-ingat, kan biasanya Chiiko yang ikut menyanyi dengan siulannya waktu aku main gitar…” Teringat akan hal ini, perasaan Tatsumi menjadi berat kembali.

Dulu, ketika Chiiko masih hidup, kalau waktunya Tatsumi bermain gitar, ia selalu mengiringi dan bernyanyi bersama dengan siulannya.

Sambil mengenang masa-masa itu, Tatsumi mulai bermain gitarnya dengan tenang.

Tiba-tiba, di saat itu, cahaya terang muncul dari sekitar tempat tidurnya. Tapi di atas tempat tidurnya hanya ada bantal dan selimut, dan tidak mungkin ada sumber cahaya kuat seperti ini.

Meskipun begitu, terdapat fenomena cahaya misterius dari kasurnya.

Masih tidak tahu sebabnya apa, tapi Tatsumi tetap harus menyipitkan matanya dari sinar yang terang ini. Dan memang seharusnya, ia tidak punya pilihan selain itu dari kejadian tiba-tiba ini.

Selagi Tatsumi menyipitkan mata, cahayanya terus bersinar ke berbagai arah, dan mulai berwarna perak. Tapi ia tidak merasakan adanya panas dari cahaya tersebut. Bukannya panas, sensasi cahaya yang entah darimana sumbernya memberikan perasaan sinar kesucian yang lembut.

Dan ketika seluruh ruangan menjadi warna perak, Tatsumi melihat sesuatu di bawahnya.

Terdapat seperti pola geometris yang tersusun, dengan tulisan dan simbol aneh yang mengelilingi pola tersebut.

Pola cahaya yang lebih terang dari cahaya di sekitarnya, dengan pengetahuan Tatsumi yang sedikit, menduga bahwa itu mirip lingkaran sihir.

Tapi ketika itu, cahaya yang begitu terang menelannya, dan berbeda dengan sekelilingnya yg terang, pikiran Tatsumi menjadi gelap.



Tatsumi perlahan membuka matanya yang tertutup.

Sekelilingnya masih terlihat sangat redup. Apa ini masih pagi sekali, mungkin sebelum fajar? Tatsumi mengira-ngira.

Ia mencoba melihat keluar lewat jendela yang ada di ujung atas tempat tidurnya. Tapi bukannya jendela, terdapat tembok batu yang kokoh dan tertata. Juga, ada hiasan tempat lilin mahal yang ditaruh di tembok tersebut dan terdapat lilin di atasnya.

“Tunggu, apa? Sejak kapan aku punya dinding batu dan gantungan lilin di sini?”

Masih pusing sehabis tidur, Tatsumi mulai berpikir.

Setelah kehilangan keluarganya, ia pindah ke apartemen kecil dengan 2 kamar tidur dan 1 dapur kecil bersama Chiiko. Walaupun hanya bersama Chiiko – dan hitungannya ia sendirian, hal ini sudah lebih dari cukup buatnya. Ia sudah cukup bahagia di sana.

Tapi di ruangan ini, seharusnya tidak ada dinding batu. Tidak, bahkan tidak sebatas ruangan Tatsumi saja, hanya sedikit rumah di Jepang yang menggunakan dinding batu.

Kalau ruangan ini bukan ruangan Tatsumi, lalu dimana ini? Sambil berpikir seperti itu, Tatsumi bangun dan melihat sekeliling.

Memeriksa sekitar tempat tidurnya, ia menemukan bahwa tidak hanya tembok yang terbuat dari batu, melainkan juga semuanya termasuk lantai dan langit-langit ruangan.

Dari sini, ia mulai bertanya-tanya dimana ia pernah melihat ruang ini sebelumnya, ia pernah melihat ini baru-baru ini, bukan?

Bahkan, ia lumayan sering melihat ini.

Menggaruk-garuk belakang kepalanya, Tatsumi mulai melihat-lihat kembali sekeliling ruangan.

Tiba-tiba sesuatu masuk ke pandangannya.

Berlutut di lantai dengan mata terbuka, seorang perempuan dengan fokus sedang melihat Tatsumi.

Ia berambut panjang perak platinum, dengan mata warna ruby yang indah, dan di atas kepalanya terdapat antena rambut yang berdiri. Atau disebut ahoge.
(TL Note: Ahoge = antena rambut di atas kepala, biasa ada di anime-anime bagi yang sering nonton (contoh rambut antenna di kepala Saber dari Fate Stay/Night))

Perempuan itu melihat Tatsumi dengan pandangan yang sangat kaget dan tidak percaya. Dengan dipandanginya secara fokus sekali, Tatsumi secara tidak sadar memandang balik ke perempuan tersebut.

Lalu, ia sadar.

Ia kenal perempuan ini.

“…si Holy Maiden… di mimpiku..?”

Ya. Seperti di mimpi yang ia lihat tiap malam, di depan Tatsumi terdapat perempuan yang mirip sekali dengan Holy Maiden yang selalu berdoa dengan sangat khusuk di mimpinya.

Mengambil waktu sejenak untuk mengingat-ingat, ia sadar kalau ruangan yang ia tempati juga mirip dengan ruangan di mimpinya. Tepatnya, sama dengan ruang bawah tanah dari mimpinya.

Jadi apa gadis ini juga Holy Maiden yang sama dari mimpinya?

Ketika ia melihatnya…. Badannya tiba-tiba seperti di serang benturan keras.

Tatsumi yang tadinya duduk, terjatuh terlentang karena tidak dapat menahan benturan tiba-tiba.

‘Hah! Apa!?’ Ia sedikit panik, tapi kemudian ia melihat helaian rambut pirang platinum menutupi mukanya.

Bau harum memenuhi hidungnya, dan ia sadar kalau Tatsumi telah dipeluk tiba-tiba.

Baru di saat ini Tatsumi sadar ia sedang dipeluk oleh gadis yang mirip Holy Maiden itu.



Gadis itu tiba-tiba menyambar Tatsumi dan memberinya pelukan.

Ia memeluk lekat Tatsumi dengan tangan langsingnya sejenak, lalu melepas sedikit dan menatap wajah Tatsumi.

Mata merah gadis itu dan mata hitam Tatsumi – mereka saling menatap dengan sangat dekat.

Air mata yang berkilau memenuhi mata merah rubynya. Walaupun begitu, ia tersenyum bahagia ke Tatsumi.

“Akhirnya… akhirnya aku bisa bertemu… aku… aku bisa bertemu kembali.. denganmu… sudah berapa tahun… aku menunggu… Master.”


“Apa? Haa? Maksudnya… eh? Ma-master? Apa kita pernah bertemu?”

“Ah iya… oh… benar-benar dirimu… penampilan itu… suara itu… dan bau itu… tidak salah lagi… aku tidak akan pernah lupa… tidak sekalipun.”

Apa yang ia rasakan waktu itu, adalah perasaan tetesan air mata yang jatuh ke pipinya dari mata mutiaranya.

Merasakan air mata di pipi Tatsumi, ia sadar bagaimana keadaan sekarang dan posisi mereka lalu mulai memerah.

Ia berdua sedang berpelukan di atas tempat tidur.

Karena tambahan berat badannya, mereka berdua jatuh ke tempat tidur dan ia merasakan sensasi lembut dari badan gadis tersebut.

Tapi ia tidak berat sama sekali. Tingginya hampir sama dengan Tatsumi, tapi sepertinya ia tidak lebih berat dari Tatsumi.

Tapi seperti yang sudah diduga, sesuatu yang ia perhatikan pertama adalah dua gunung kembar empuk besar yang terdorong ke badannya. Dan ya, ‘sesuatu itu’ yang menjadi simbol seorang wanita.

Setiap ia bergerak, dadanya yang empuk menggelitik Tatsumi.

Sekarang ia mulai mengetahui beberapa detail yang ia tidak lihat di mimpi, seperti pakaiannya. Pakaiannya hanya sehelai kain tipis, yang menutupi badannya dengan longgar.

Awalnya hanya gelap jadi ia tidak melihatnya dengan detail, tapi sekarang jarak mereka yang sangat dekat, Tatsumi dapat melihat kulitnya sedikit dari baju yang transparan tersebut.

Tanpa sadar Tatsumi tertarik ke belahan dadanya, dan fokus pandangannya kemudian dipenuhi oleh pemandangan baru ini. Meskipun ia tidak melihat buah pink cherry lunak, yang berada di atas buah dadanya, Tatsumi dapat mengetahui kalau kekuatan daya penghancur dadanya pasti sangat tinggi. Dalam skala 100, setidaknya ia bernilai 85 atau bahkan 90.

Mengapa ia kepikiran seperti ini mungkin karena Tatsumi adalah seorang remaja sehat, dan remaja sehat adalah makhluk yang menyedihkan. Tentu dalam kenyataan, Tatsumi, yang berpikiran seperti itu di situasi ini adalah bentuk pelarian dari realitas.

Melihat ke bawah, gadis itu mulai tertawa pelan. Tapi apakah ia tahu arah pandangan Tatsumi atau tidak, adalah masalah lain.

“…bisa bertemu kembali denganmu lagi seperti ini… aku sangat bahagia… Master!”

“Tunggu, apa? Aku apa? Apa, dimana… apa? Ma-mastermu? Aku? Kamu berbicara tentangku?”

“Yap, apa kamu bukan masterku?” ia berkata sambil tersenyum dan tertawa terbahak-bahak.

Seperti yang ia tanya ke gadis ini sebelumnya, sepertinya ia pernah bertemu Tatsumi di masa lalu.

Tapi Tatsumi hanya tercengang. Ia tidak ingat pernah bertemu gadis ini sebelumnya.

Bahkan Tatsumi sendiri tidak punya kenalan dari orang asing. Ia juga tidak bicara banyak di jalanan sebelumnya, sekali atau mungkin dua kali, ketika mereka bertanya arah atau sejenisnya.

Dan terlebih lagi si mata ruby rambut platinum cantik ini? Dengan sosok yang seperti itu, Tatsumi tidak akan pernah lupa kalau pernah bertemu dengannya.

Seolah-olah membaca pikirannya, ia lanjut berbicara.

“Master mungkin tidak ingat aku, karena aku berbeda wujud dengan aku yang master ketahui dulu.”

“Apa? Apa maksudnya? Kamu berbeda dengan kamu yang aku tahu?”

Tanpa sadar setelah melihat pandangan kosong Tatsumi, ia tertawa cekikikan. Ia melepas pelukannya dan duduk diatasnya seakan membenahi posisi duduknya.

“Maaf perkenalan yang lambat. Namaku Calcedonia Chrysopase. Aku adalah pendeta Doctrine atau Saviav dari kerajaan Largofiely.”

Ia lalu berkata, dan menahan posisi seiza, membungkuk pelan.
(TL Note: Seiza = Posisi duduk seiza dari Jepang, duduk berlutut dengan tangan diatas paha. Biasa digunakan ketika sebelum melakukan kegiatan bela diri.)

“Huh…? Emm… namaku Yamagata Tatsumi.”

“Yep, aku tahu.”

Si gadis yang memperkenalkan dirinya sebagai Calcedonia tersenyum. Melihat senyumnya, dapat dibilang hampir semua laki-laki di dunia yang melihatnya akan terpikat. Itu adalah senyum dengan kualitas tinggi untuk dilihat.

Tapi dengan senyuman yang diarahkan ke Tatsumi, ia hanya menjadi semakin bingung.

Tentu karena ia tahu namanya, tetapi juga karena ia berbicara suatu kata yang sangat aneh.

Di saat ini ide-ide Tatsumi mulai terbentuk di pikirannya. Tapi sebelum ide tersebut keluar, Calcedonia lanjut berbicara.

“Master, kamu mungkin tidak mengenal aku yang sekarang, tapi aku tahu dirimu… tidak, aku ingat dirimu lebih dari siapapun di dunia ini…”

Ia mulai memandang Tatsumi dengan tatapan tulus. Di tatap seperti ini Tatsumi merasa ada perasaan Déjà vu.

Dulu, ia pernah dipandangi seperti ini. Dan itu juga sama dari jarak sedekat ini.

Misalnya, dari atas tangannya, atau dari pundaknya, atau terkadang duduk di lututnya.

Untuk beberapa alasan, tatapannya sangat mirip dengan tatapan keluarga tercintanya…

“…Chiiko…”

Tanpa sadar, nama itu keluar dari mulutnya. Dan saat gadis itu mendengarnya, Calcedonia membentuk senyuman terindah dan tercantik yang pernah ia miliki.

Siapapun dapat melihat bahwa dibalik senyuman indah itu terdapat suatu kebahagiaan yang besar, tanpa ada sedikitpun keraguan dan rasa jahat.

“Ya…! Iya, benar! Aku… aku Chiiko! Master… aku adalah peliharaanmu! Peliharaanmu Chiiko!!”

loading...