Saturday, 7 January 2017

Ore no Pet wa Seijo-sama Chapter 1 Bahasa Indonesia


Translator: reisen
Proofreader: Ise-kun

Chapter 1: Mimpi

Ah, mimpi itu lagi.

Dia, Yamagata Tatsumi, sadar bahwa ia berada dalam mimpi.

Apakah mimpi yang dimana kau dapat berpikir “ini pasti mimpi” namanya lucid dream? Sambil memikirkan hal itu, Tatsumi selalu melihat mimpi yang sama seolah-olah mimpinya tidak ada hubungannya dengannya.

Lokasinya berada di suatu ruang bawah tanah. Tempatnya tidak terlalu besar, kira-kira sebesar ruang kelas, dan di ruang gelap itu, ada seorang perempuan yang sedang berlutut, sambil berdoa dengan sungguh-sungguh.

Sekeliling ruangan semua terbuat dari batu. Dari bagian tembok sampai lantai dan atap. Penampilan tersebut mungkin membuat Tatsumi berpikir bahwa ia berada di ruang bawah tanah.

Satu-satunya sumber cahaya adalah beberapa lilin yang bergoyang pelan.

Perempuan tersebut sepertinya berumur sekitar hampir 20 tahun. Bagi Tatsumi yang baru saja masuk SMA, walau mengulang, dia terlihat seumuran atau sedikit lebih tua dari Tatsumi.

Rambut lurusnya yang panjang melewati pinggangnya.

Rambutnya memantulkan cahaya merah lilin dan mengilaukan emas vermillion, tapi warna sebenarnya mungkin pirang, atau tepatnya, lebih keputih-putihan, yang disebut pirang platinum.

Warna matanya tidak terlihat karena ia berkonsentrasi berdoa sambil menutup matanya.

Rasnya seperti berasal dari daerah barat. Tetapi, sedikit berbeda dengan orang Amerika atau orang Inggris yang Tatsumi tahu. Yaa, Tatsumi juga tidak terlalu mengerti tentang itu, tapi tidak dapat dipungkiri bahwa gadis tersebut sangat cantik.

Hidung dan dagu yang lancip. Bagian-bagian tubuh lain juga sangat indah dan berkembang, sangat disayangkan matanya tertutup ketika ia melakukan doa.

Dilihat lebih dekat, bibirnya yang berbentuk daun indah bergerak sedikit tetapi terus menerus. Dia seperti menyebut suatu mantra atau doa ritual dengan bahasa yang Tatsumi tidak mengerti.

Gadis Perawan Suci (Holy Maiden)

Tiba-tiba, ungkapan tersebut muncul di pikiran Tatsumi.

Alasan ia memikirkan ungkapan tersebut karena gadis yang sedang berdoa dalam mimpinya ini lebih mirip pendeta ketimbang yang disebut-sebut penyihir.

Holy maiden itu selalu melakukan doa yang tidak pernah selesai dalam mimpinya.

Tatsumi terbangun.

Ia dengan pikiran setengah sadar melihat langit langit ruangan yang sudah tidak asing lagi.

Sejak kapan ini mulainya? Sejak kapan ia mulai memiliki mimpi ini?

Tatsumi berpikir sejenak, sambil mengingat holy maiden yang ia lihat di mimpinya.

Apa sudah setahun ia memiliki mimpi ini? Awalnya, hanya satu bulan sekali. Tetapi, dengan mengalami mimpi yang terus berulang, ia merasakan keganjalan.

Dan jarak antar mimpi semakin sedikit.

Sebulan sekali menjadi dua dan menjadi tiga, lalu tidak lama kemudian menjadi seminggu sekali, diikuti tiga hari sekali. Dan sekarang ia melihat mimpi holy maiden hampir setiap hari.

Apa ini sudah 10 hari ia melihat holy maiden tersebut setiap hari?

“10 hari yang lalu.” Perkataan itu membuatnya sadar sesuatu.

“…10 hari yang lalu..? Itu.. hari aku… kehilangan Chiiko…”

Chiiko, itu adalah nama keluarga terakhir kesayangan dia.

Sudah setahun setengah semenjak Tatsumi kehilangan orang tuanya dan adik perempuannya di sebuah kecelakaan.

Hari itu dimana mereka semua pergi ke suatu tempat pemandian umum dengan maksud merayakan masuknya dia ke SMA favorit. Mobilnya, yang dikemudikan si ayah, tertabrak truk karena supir truk yang tertidur.

Tentu, Tatsumi juga berada di dalam mobil. Tapi walaupun ia dengan ajaibnya selamat, seluruh keluarga tewas di tempat.

Gambaran depan truk mobil terlihat dalam kaca depan. Tatsumi tidak begitu ingat kejadian setelah itu. Karena ia tidak sadar selama beberapa hari setelah kecelakaan tersebut.

Tatsumi yang terluka parah meliputi retak tulang di beberapa tempat dan dipaksa dirawat di rumah sakit selama lebih dari dua bulan bahkan setelah ia sadar kembali.

Dan, di dua bulan tersebut, hidupnya berubah total.

Tatsumi kehilangan kedua orang tua dan adiknya seketika.

Tatsumi mendengar kabar bahwa tetangganya yang mengurus pemakaman mereka setelah keluar dari rumah sakit. Rupanya, uang yang digunakan untuk pemakaman nanti dibayar dari asuransi keluarganya.

Untungnya, sisa asuransi masih dapat bertahan sampai ia menjadi dewasa. Pengacara yang menjelaskan secara detail, tapi karena situasinya seperti ini, Tatsumi tidak dapat mengingat banyak.

Pengelolaan asuransi menjadi tanggung jawab bibinya yang berasal dari ayah, satu-satunya keluarga yang tersisa.

Walaupun demikian, Tatsumi, yang masih baru masuk SMA dan belum cukup umur, tidak mungkin mengelola sisa asuransi tersebut.

Bibinya sekitar umur 30an, belum menikah, seingat Tatsumi kalau tidak salah.

Karena bibinya tinggal jauh dari Tatsumi dan keluarganya, paling ia hanya dapat disebut kenalan. Bahkan, ketika pemakaman orang tuanya, ia tidak datang karena sibuk.

Tambahnya, ia jelas-jelas menolak untuk mengurus Tatsumi.

“Aku bisa menjadi walimu, tapi selain itu kita tidak mengganggu hubungan satu sama lain, mau? Atau kamu mau ke panti asuhan atau sejenisnya?”

Diberi tahu seperti itu oleh bibinya, Tatsumi hanya dapat mengangguk.

Bibinya menjadi wali Tatsumi hanya secara formal di kertas saja. Dan hidup Tatsumi yang sendirian pun dimulai.

Masalah uang harian dan tagihan sekolahnya, hanya secukupnya saja yang di transfer ke akun Tatsumi. Setidaknya ini, bibinya menjalankan dengan baik, atau memang karena kontraknya seperti ini?

Mungkin saja, bibinya mengambil bagian dari asuransi yang seharusnya di transfer malah masuk ke kantong dia.

Tatsumi tentu sempat berpikir demikian, tapi tidak mengecek, atau pun juga tertarik.

Ia bisa saja menuduh bibinya tidak melakukan yang seharusnya.

Tapi hal itu membuat bibinya terdiskualifikasi menjadi wali, dan ia akan dimasukkan ke panti asuhan atau lembaga lainnya, kalau mau memilih, lebih baik ia hidup sendiri seperti ini.

Tatsumi meninggalkan satu-satunya rumah yang ditempati keluarganya dan pindah ke apartemen yang dekat dengan sekolah.

Rumah yang ditinggalinya serasa besar sekali untuk dihuni, dan biaya pemeliharaan rutin seperti pajak sangat berat. Terlebih lagi, tinggal sendiri di rumah yang penuh kenangan keluarganya merupakan hal yang berat bagi Tatsumi.

Tatsumi berhasil masuk tes ke sekolah pilihannya, tetapi sulit sekali untuk kehidupan sekolahnya berjalan baik.

Tatsumi menghabiskan bulan-bulan awal yang seharusnya menjadi awal hidup baru di rumah sakit.

Bahkan setelah selesai dirawat, rehabilitasi yang berat menunggunya. Pada saat selesai semua rehabilitas dan keluar dari rumah sakit kemudian kembali ke kehidupan harian, semester awal telah selesai dan sekolah memasuki liburan musim panas.

Tatsumi tidak masuk selama satu semester kelas 10 sama sekali. Dan kenyataanya memang, dari awal semester dua, ia merupakan makhluk terasing.

Tatsumi tiba-tiba masuk di semester dua. Teman kelasnya sepertinya telah diberi tahu kejadian buruk yang menimpa sebelumnya dan semuanya bersikap seolah-olah ia penyakit tumor ketika berinteraksi dengannya.

Tidak ada bully atau hal-hal buruk sejenisnya, tapi entah bagaimana keadaan itu tidak enak bagi Tatsumi, sehingga ia lebih sering sendirian di rumah.

Karena tidak hadirnya selama satu semester, Tatsumi tidak dapat mengejar ketertinggalan dari teman kelasnya.

Jadi nilainya semakin lama semakin turun, dan dengan cepat ia menjadi penghuni rangking bawah yang tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolahnya.

Walaupun seperti itu, alasan mengapa Tatsumi terus melanjutkan kehidupan sekolahnya karena keluarganya waktu itu sangat bahagia ketika ia berhasil melewati tes masuk.

Tatsumi terus melanjutkan sekolah untuk memenuhi harapan orang tuanya.

Tapi nilainya yang tidak terlalu bagus, tidak ada extrakulikuler yang ia dapat sukai, dan ia juga tidak memiliki teman yang dapat dibilang dekat.

Tidak lama, ia hanya melanjutkan sekolah karena kebiasaan saja.

Tapi walaupun hanya kebiasaan ia tetap ingin melihat masa depan, hal ini karena Chiiko, keluarga terakhir yang ia punya.

Chiiko tidak ikut liburan keluarga waktu itu dan menjaga rumah. Jadi ia tidak meninggal seperti yang lain.

Chiiko selalu dengan setia menunggu kedatangannya di apartemen.

Tatsumi menjalani hidupnya hanya berpikiran untuk menjaga Chiiko.

Akan tetapi,

Bahkan Chiiko kesayangannya pun, hari perpisahan pun tiba.

Sudah lama sekali sepertinya ia awal bertemu dengan Chiiko. Sebagai hadiah ulang tahun untuk Tatsumi kecil, orang tuanya memperkenalkan Chiiko satu sama lain.

Setelah itu, ia berdua hampir tidak pernah berpisah.

Ketika Chiiko tidak bisa makan sendiri, ia yang mengurusi makanannya.

Ketika ia sudah tumbuh besar, mereka berdua makan es krim bersama di musim panas. Di musim dingin, mereka berpelukan satu sama lain di bawah kotatsu*.
(TL Note: Meja pendek dengan selimut di sisinya dan penghangat dibawahnya jadi menjaga kakimu hangat.)

Waktu musim semi, mereka berjalan-jalan bersama di luar, dan ketika musim gugur, mereka menikmati berbagai panen musiman bersama-sama.

Ketika Chiiko sakit, ia langsung membawanya ke rumah sakit, dan ketika Tatsumi sakit, Chiiko selalu melihatnya dengan pandangan khawatir.

Chiiko adalah belahan jiwanya, tetapi perpisahan tidak dapat dihindari dari umurnya.

Sudah 10 hari yang lalu semenjak Chiiko kehilangan umur karena sudah waktunya.

Chiiko menghembuskan nafas terakhirnya di tangan Tatsumi bagaikan ia sedang tertidur, Tatsumi masih ingat sensasinya saat itu sekarang.

Perasaan mengerikan ketika badan Chiiko yang halus dan hangat yang semakin lama semakin dingin.

Ia menangis dan menangis, dan terus menangis. Saat dini hari, Tatsumi membawa Chiiko yang telah benar-benar dingin ke sekitar tepi sungai dan menguburkannya di sana.

Ia membuat kuburan kecil dan, walaupun bunga liar, memberikan bunga-bunga didepan makamnya.

Merapatkan kedua tangannya di depan makam, Tatsumi berdoa untuk kebahagiaan di dunia selanjutnya.

Tatsumi berdoa dan terus berdoa untuknya, hingga waktu yang cukup lama.

Ia ingin terus berdoa selama-lamanya tapi sayangnya tidak bisa.

Sekolah SMA memulai musim semi kedua. Tidak, ini yang pertama kalinya buat Tatsumi.

Dengan nilainya yang jelek dan telah absent satu semester penuh, sudah diputuskan Tatsumi bakal mengulang tahun ini. Jadi ketika tahun baru sekolah dimulai, ia tidak sekalipun masuk sekolah.

Walau sebagian alasan adalah karena sudah pasti mengulang, ia ingin bersama Chiiko yang semakin melemah karena umur.

Tanpa pernah masuk sekolah bahkan jarang keluar dari kamarnya, Tatsumi menjaga Chiiko.

Dan Chiiko yang telah hidup sampai batas umur normal, Tatsumi membulatkan keputusannya. Ia memutuskan untuk putus sekolah.

Tanpa ada teman dekat, dan telah kehilangan Chiiko, ia tidak memiliki hubungan dengan sekolah lagi.

Setelah kembali ke apartemen-nya, ia berganti pakaian seragam yang telah lama tidak terpakai dan berangkat ke sekolah.

Ia langsung menuju ruang staff ketimbang ke kelas dan diam-diam menaruh surat keluar (drop out) ke meja wali kelasnya.

Guru wali kelasnya sepertinya juga sudah menduga hal ini, dan walau mereka mencoba untuk melarang Tatsumi berhenti, tidak ada kata-kata persuasif yang bisa menyemangatinya, dan seperti itulah Tatsumi menutup cerita di sekolah SMA-nya.

Setelah kejadian itu, ia mulai melihat mimpi holy maiden setiap malam.

Terus berlanjut kesedihan setelah kehilangan Chiiko, Tatsumi menutup dirinya di ruang apartemen.

Di siang hari, Tatsumi tidak melakukan apa-apa dan terus memandang kandang Chiiko. Dan di malam hari, ia langsung bersembunyi di tempat tidurnya dan memulai mimpi holy maiden.

Ia mengulang gaya hidup yang sama selama 10 hari.

Sesuatu yang Tatsumi butuhkan sekarang adalah harapan dan alasan untuk hidup.

Tatsumi bangun dari kasur dan mengambil handphone di samping kasurnya, memulai melihat beberapa foto Chiiko dan memandanginya satu per satu.

“Chiiko…aku...Apa yang harus kulakukan…? Sendiri… tanpamu, aku…”

Ini pertanyaan yang Ia ulang berkali-kali selama 10 hari.

Tatsumi memandang wajah polos Chiiko di layar ponselnya.

Mata bulat.

Badan lembut yang ditutupi bulu abu-abu keperakkan.

Tapi kepalanya putih salju yang indah.

Wajah putih cockatiel.
(TL Note: Burung cockatiel, untuk jelasnya google.)

Keluarga kesayangan terakhir yang hidup bersama sejak ia masih kecil.

loading...