Saturday, 14 January 2017

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 13 Bahasa Indonesia


Translator: KIV & Ise-kun
Editor: Ise-kun

Volume 2 Chapter 3

Part 1

-----Tembok perbatasan, Stage area. Markas Operasi [Kebangkitan Naga].

Izayoi dan kelompoknya di bawa ke markas [Salamandra], tiba di markas besar yang bertanggung jawab dalam mengurus festival [Kebangkitan Naga]. Untuk sampai ke markas besar, diperlukan untuk pergi ke istana dan game venue yang secara langsung terhubung bersama-sama, sembari melewati jejak batu tersebut.

Sebagaimana auditorium yang diatur bersamaan dengan kerangka game venue yang terlihat melingkar, menjadikan tempat itu seperti dikelilingi. Auditorium tersebut saat ini sedang meng-host game yang tercantum dalam selebarannya Shiroyasha, dan sebuah duel untuk menentukan kontestan yang akan maju ke final sedang diselenggarakan.

"Ojouuuuu!!! Sekarang kesempatannya! Pergi ke belakang lawan dan tendang lawannya!"

Mengikuti Leticia yang pergi ke wilayah Utara, kucing belacu itu saat ini sedang berteriak, melakukan tugasnya sebagai pembantu. Pertarungan di panggung sedang diadakan antara Kasukabe Yo [No Name] dan bagian dari komunitas [Rock Eater], Stonewall Giant.

"Dengan ini... Pemenangnya akan diputuskan...!" (Yo)

Kasukabe terbang ke belakang Stonewall Giant dengan memanipulasi angin puyuh yang dia dapat dari griffon sebagai Gift dan menendang otak belakangnya. Terlebih lagi, sambil memberikan tendangan, Kasukabe merubah berat tubuhnya menjadi seberat [Gajah], menyesuaikan dengan energi kinetik dan membanting raksasa itu ke tanah. Para penonton meledak menjadi sorak-sorai yang memekakkan telinga setelah Stonewall Giant itu dijatuhkan ke tanah.

"Ojou ~ ~ ~ ~ ~ ~ ~! Tadi itu mengagumkan ~ ~ ~ ~ ~ ~! Ojou ~ ~ ~ ~!

Kucing belacu itu menyoraki Kasukabe yang heroik dengan keras. Bagi orang lain, kucing belacu itu terdengar seperti dia terus-menerus mengeong, tapi Kasukabe mengerti apa yang dia katakan. Kasukabe mengarahkan pandangannya untuk melihat ke arah kucing belacu, mengangkat tangannya, dia tersenyum.

Setelah Shiroyasha, yang sedang duduk di atas istana, menepukan tangannya dua kali, sorak-sorai penonton langsung mereda. Berdiri di balkon istana, Shiroyasha tertawa hangat, menghadapi Kasukabe dan para penonton, dia mulai berbicara:

"Pemenang dalam pertandingan ini adalah Kasukabe Yo [No Name]. Oleh karena itu, partisipan berikutnya yang akan berpartisipasi di final akan diumumkan dalam waktu singkat. Final akan dijadwalkan besok, mengenai aturan untuk game besok... Un, akanku percayakan aturannya kepada [Host] lain, yang merupakan tamu kehormatan festival ini, untuk menjelaskannya kepada kalian semua." (Shiroyasha)

Shiroyasha membalikkan tubuhnya, membiarkan orang yang duduk di pusat balkon istana muncul. Dari balkon dapat terlihat seluruh stage-nya, seseorang dapat terlihat mengenakan pakaian berlapis warna-warni cerah dengan rambut merah terangnya yang terikat ke belakang kepalanya.

Dia adalah naga berdarah murni----- Raja Naga Xinghai, [Tuan Lantai] yang baru saja diangkat.

Pemimpin muda komunitas [Salamandra] adalah Sandora, yang sedang berdiri dari singgasananya.

Shiroyasha menunjukan senyum lembutnya, mendesak lembut Sandora yang mengenakan pakaian ostentasi bersamaan dengan ekspresi gugupnya.

"Haha, aku mengerti kau gugup, tapi kau harus tetap menjaga senyummu di depan semuanya. Seorang tuan lantai bertugas untuk mensupport perasaan komunitas. Terlebih lagi, kalau ekspresimu terus kaku gitu, kostumnya juga akan kehilangan elegansinya. Penting lho untuk menunjukan sikap determinasi sekarang ini." (Shiroyasha)

"I... Iya!"

Sandora mengambil napas dalam-dalam, dengan suara yang jelas nan merdu yang dipenuhi dengan determinasi, dia menyapa para penonton.

"Halo semuanya, aku adalah master wilayah Utara seperti yang diperkenalkan sebelumnya, Sandora Dortlake. Festival [Kebangkitan Naga] ini yang bekerjama sama dengan wilayah Timur, telah berhasil melalui pertengahan acara. Kali ini tidak ada apapun yang khusus yang layak untuk disebutkan, itulah kenapa aku akan menggunakan kesempatan ini untuk berterima kasih kepada komunitas-komunitas wilayah Utara dan Timur atas bantuannya di festival ini. Berkenan dengan game besok, setiap orang harus mengacu pada surat undangan yang ada di samping tangan kalian." (Sandora)

Satu demi satu, para penonton mengambil surat undangannya.

Tinta pada suratnya dibagi dalam garis lurus dan curva, yang kemudian mulai membangun sebuah tulisan.

Judul Gift Game: "Duel of the Creators"

- Komunitas-komunitas yang terlibat di final

Pemimpin game: "Salamandra"
Partisipan: "Will o' Wisp", "RattenFanger", "No Name"

- Aturan di final:

Kompetisi menggunakan gift yang dibuat oleh masing-masing komunitas. Agar giftnya dapat menggunakan kekuatan penuhnya, pembantu diperkenankan. Hanya partisipan yang terdaftar yang dijinkan ke dalam game. Menggunakan format bergilir, komunitas yang menang paling banyak akan menjadi pemenang. Pemenang dapat menantang pemimpin game untuk duel.

- Mengenai gift yang diberikan:

Partisipan dapat meminta Naga Api [Tuan Lantai] untuk gift yang mereka inginkan.

Sumpah: Sesuai dengan ketentuan di atas, kedua komunitas menyatakan untuk mengadakan Gift Game ini atas bendera dan kejayaan mereka.

                              [Stempel]                                                       [Stempel]
                         [Thousand Eyes]                                              [Salamandra]


Setelah itu, festivalpun berakhir.

Matahari mulai terbenam, menciptakan bayangan pada tembok perbatasan yang secara perlahan membungkus seluruh kota. Setelah itu, sinar rembulan menyinari tembok merah kota, dengan hanya lampu besar sebagai tanda jalan yang cahayanya berkedip-kedip. Roh jahat dan iblis Rakshasa yang bersemayan di kota ini yang dimana kotanya berubah menjadi malam, mulai bangun.

Part 2

“Sepertinya kalian berdua telah membuat keributan, ya?” [Shiroyasha?]

“Ya begitulah. Aku hanya memanaskan suasana festival seperti permintaanmu.” [Izayoi]

“Jangan bangga! Dasar anak nakal!” [Kuro Usagi]

“Plak!” Kuro Usagi menggunakan kipas kertasnya untuk memukul kepala Izayoi. Di belakangnya, Jin disibukkan dengan rasa pusing yang tengah menghantuinya.

Setelah mereka berdua tertangkap, mereka dibawa ke sebuah ruang pertemuan di markas operasi.

Shiroyasha berusaha terlihat serius sambil menahan hasratnya untuk tertawa. Berhubung Sandora ada di ruangan yang sama, Shiroyasha jadi tidak bisa terlihat tidak pantas.

Ada seorang pria berpakaian militer yang terlihat seperti penjaga Sandora. Dia maju dengan atmosfer berwibawa, lalu menatap izayoi yang ada di bawahnya dengan tatapan tajam.

“Heh! Walau hanya [No Name], tapi berani sekali membuat keributan di perayaan kami! Kau akan dihukum atas perbuatanmu itu!” [Mandora]

“Cukup, Mandora. Biarkan pemimpinmu, Sandora, yang memutuskannya.” [Shiroyasha]

Shiroyasha mengingatkan pria yang bernama Mandora tersebut.

Sandora lalu berdiri dari singgasana megahnya di ruangan tersebut dan berkata pada Kuro Usagi dan Izayoi:

“[Bangsawan Little Garden] dan rekan-rekannya. Aku senang kalian turut berpartisipasi dalam [Perayaan Kebangkitan Naga] ini. Mengenai bangunan yang telah kalian berdua hancurkan, Shiroyasha telah menyetujui untuk membantu perbaikan. Untungya dalam kejadian ini tidak ada korban jiwa yang timbul. Oleh karena itu, kuputuskan untuk tidak membahas kasus ini lebih lanjut.” [Sandora]

Mandora berdecak marah, membuat Izayoi kelepasan:

“Oh? Baik sekali kalian.” [Izayoi]

“Ya, akulah yang meminta kalian datang membantu dengan datang ke sini, fakta tidak ada korban terluka saja sudah seperti anugerah. Oleh karena itu, kalian hanya perlu membayar biaya perjalanan dan perbaikan sebagai jaminan.” [Sandora]

Kuro Usagi menyentuh dadanya, menghela nafas lega sementara Izayoi mengangkat perlahan kedua bahunya.

“…Oh, mumpung ini kesempatan yang bagus, mari lanjutkan pembicaraan tadi pagi.” [Izayoi/Jin?]


Menganggukkan kepalanya, Shiroyasha dan Sandora membubarkan semua orang dalam ruangan selain Mandora. Selain mereka bertiga, yang tersisa adalah Izayoi, Kuro Usagi, dan Jin.

Setelah semua orang telah meninggalkan ruangan, Sandora segera mengubah tampang dan nada seriusnya dan berlari menuju Jin. Sandora lalu memperlihatkan senyumannya yang lucu dan menyegarkan.

“Jin! Lama tidak bertemu! Aku benar-benar khawatir saat mendengar komunitasmu diserang!” [Sandora]

“Terima kasih, aku senang bisa melihatmu bersemangat seperti ini.” [Jin]

Jin membalas sambil tersenyum dan itu membuat Sandora tersipu malu.

“Hehe, tentu saja. Setelah kudengar ada Demon Lord yang menyerang komunitasmu, aku pengen banget mampir tapi karena otou-san yang tiba-tiba sakit terus juga upacaya pengangkatan ini, aku jadi nggak punya waktu deh.” [Sandora]

“Itu sayang sekali. Tapi… tidak kusangka Sandora-san benar-benar akan menjadi Tuan Lantai…” [Jin]

“Bocah [No Name], beraninya kau memanggil namanya tanpa rasa hormat!!”[Mandora]

Ketika Jin dan Sandora tengah melakukan reuni, Mandora tiba-tiba menyela, menarik pedang dari pinggangnya lalu mengayunkannya ke arah Jin.

Namun, sebelum pedang itu berhasil menyentuh leher Jin, Izayoi menggunakan ujung sepatu untuk menahan pedang tersebut.

Pedang itu lalu ditendang balik Izayoi ke pemiliknya. Walaupun senyuman tak terlepas dari wajahnya, tapi mata Izayoi dengan memancarkan rasa permusuhan dengan sangat jelas.

Tatapannya yang begitu tajam terkesan mampu memotong apapun yang dia lihat.

“…Oi! Bahkan walau ini hanya pertukaran salam biasa, tapi ini sudah kelewatan. Kalian bahkan sama sekali tidak berniat menahan diri, kan?” [Shiroyasha]

“Bagaimana bisa?! Sandora adalah pemimpin di wilayah Utara! Perbuatan kalian yang kasar dan serampangan dapat merusak reputasi [Salamandra]! Padahal kami sudah berbaik hati mengundang kalian datang ke perayaan ini dan menutup mata atas tindakan kalian. Dasar [No Name] tidak tahu malu!” [Mandora]

Izayoi dan Mandora saling menatap satu sama lain dan Sandora berupaya menghentikan mereka.

“Ma-Mandora-niisama! Mereka dulu rekan [Salamandra]! Tidak sopan memperlakukan mereka seperti ini padahal kita yang dulu memutuskan hubungan dengan mereka secara sepihak.” [Sandora]

“Siapa yang peduli, reputasi kita lebih penting dari itu! Aku mungkin sudah pernah bilang ini, tapi kita dipandang sebelah mata oleh komunitas lain karena sikapmu yang lembek itu…” [Mandora]

“Cukup. Mundurlah, Mandora.” [Shiroyasha]

Shiroyasa menggunakan nada menekan untuk membuat Mandora diam.

Tapi, tak hanya Mandora menolak diam, dia juga balas menatap ke arah Shiroyasha.

“Kejadian ini bukan urusan [Thousand Eyes]! Bahkan orang penting sepertimu pasti juga punya pantangan! Kurasa [si buas dari selatan, si peri dari utara, dan si pecundang dari timur] benar-benar ucapan yang tepat. Berdasarkan rumor ‘itu’, kejadian ini pasti rencana kalian, orang-orang wilayah timur yang cemburu pada wilayah utara, kan?” [Mandora]

“Mandora-niisama! Tenangkan dirimu!” [Sandora]

Sandora yang sudah tidak tahan, mendiamkan Mandora yang telah bicara terlalu banyak.

Para [No Name] yang tidak memahami apa yang terjadi hanya bisa memiringkan kepala mereka sambil melihat satu sama lain.

“Oi, rumor apa yang kalian bicarakan. Apa ada hubungannya dengan alasan kalian meminta bantuan kami?” [Izayoi]

Mengatakan “ya”, Shiroyasha mengeluarkan sepucuk surat setelah memastikan siapa saja yang tengah berada di ruangan.

“Alasan kenapa aku meminta bantuan kalian ada di surat ini… kalian bisa memeriksanya sendiri.” [Shiroyasha]

Dengan tatapan terkejut, Izayoi mengambil surat tersebut dan mulai membaca apa yang tertulis di dalamnya.

“….” [Izayoi]

Memastikan apa yang tertulis di sana, senyuman menjengkelkan yang biasa singgah di wajah Izayoi seketika menghilang.

Tindakan Izayoi yang tidak biasanya membuat Kuro Usagi terkejut. Dia lalu melompat ke belakang izayoi.

“Izayoi-san…? Apa yang tertulis di sana?” [Kuro Usagi]

“Lihatlah sendiri.” [Izayoi]

Berbicara dengan nada datar yang tidak biasanya, Izayoi menyalurkan surat di tangannya kepada Kuro Usagi.

Dalam surat itu tertulis:

‘Akan ada [Demon Lord] yang menyerang saat [Perayaan Kebangkitan Naga.]’

“…Eh?” [Kuro Usagi]

Kuro Usagi sempat terdiam sebelum akhirnya bersuara. Jin menjadi orang selanjutnya yang membaca dan dia pun bereaksi sama layaknya Kuro Usagi.

Hanya Izayoi yang masih bisa tetap tenang setelah membacanya. Tanpa ekspresi, dia berkata pada Shiroyasha:

“Jujur saja aku terkejut. Kupikir isinya tentang orang-orang yang akan bertarung untuk mendapat hak menjadi Tuan Lantai.” [Izayoi]

“Apa!?” [Mandora]

Mandora menyalak marah, namun dia dhentikan oleh Sandora. Mengacuhkan reaksi keduanya, Shiroyasha lalu berbicara:

“Aku tidak akan minta maaf, ok? Kalian sendiri yang menerima permintaanku dengan senang hati tanpa menanyakan kondisinya lebih lanjut.” [Shiroyasha]

“Kau memang benar… jadi, apa yang harus kami lakukan? Kalau kau ingin aku mengalahkan Demon Lord yang dimaksud, dengan senang hati akan kulakukan! Tapi aku masih penasaran dengan isi surat tadi.” [Izayoi]

“Baiklah, kalau begitu biar kujelaskan terlebih dulu.” [Shiroyasha]

Shiroyasha mengintip ke arah Sandora, meminta izin untuk membiarkan dirinya membocorkan informasi rahasia.

Setelah Sandora menganggukkan kepalanya, Shiroyasha memasang tampang serius dan mulai menjelaskan:

“Pertama, soal surat ini. Surat ini berasal dari ramalan salah seorang anggota utama [Thousand Eyes].” [Shiroyasha]

“Ramalan?” [Izayoi?]

“Yup. Asal tahu saja, [Thousand Eyes] memiliki banyak pemilik gift yang bisa menggunakan [Magic Eyes]. Lalu di antara mereka semua, ada juga pemilik gift yang bisa [memprediksi masa depan]. Seseorang dari [Demon of Laplace] yang melihat ramalan tersebut kemudian memberikannya sebagai hadiah untuk perayaan ini. Bentuk hadiah tersebut adalah sebuah ramalan mengenai [serangan Demon Lord].” [Shiroyasha]

“Begitukah. Berarti gift-nya memang bisa meramal masa depan. Tapi, apa kita bisa yakin dengan akurasi ramalan itu?” [Izayoi]

“Akurasinya mungkin seperti melemparkan sesuatu ke atas dan benda tersebut lalu jatuh ke bawah.” [Shiroyasha]

Analogi yang diberikan Shiryoasha membuat Izayoi memasang ekspresi bingung.

“…Apa yang seperti itu bisa disebut ramalan? Tentu saja kalau melempar sesuatu nantinya akan jatuh ke bawah, kan?” [Izayoi]

“Tapi itu memang ramalan. Alasannya, dia bisa melihat dengan jelas [siapa yang melempar], [bagaimana bendanya dilempar], [kenapa benda itu dilempar], dan faktor-faktor lain. Tentu saja dia juga bisa meramalkan [di mana benda itu akan jatuh], kan? Tipe ramalan yang dimilikinya kurang lebih seperti itu.” [Shiroyasha]

Hah? Izayoi menaikkan nada suaranya, menandakan dirinya mulai muak. Kuro Usagi dan yang lain hanya bisa terdiam dengan perkataan barusan, terutama Mandora yang begitu terkejut hingga membuat mulutnya menganga. Sebuah reaksi yang sebenarnya cukup wajar.

Mandora, dengan wajahnya yang memerah, berteriak:

“Ya-Yang benar saja! Walau kau punya banyak informasi seperti itu, tapi kenapa kau hanya bilang bahwa kami akan diserang?! Itu pasti salah satu strategimu untuk memancing kami, kan? Cukup. Pergi dan kembalilah ke sarangmu!!” [Mandora]

“Nii… Niisama….! Apa yang baru dikatakan oleh Shiroyasha-sama itu adalah suatu rahasia…!” [Sandora]

Sandora masih mencoba menenangkan Mandora yang marah.

Menutupi wajahnya dengan kipas, Shiroyasha mengacuhkan sikap Mandora dan hanya melihatnya dari kejauhan.

Setelah Izayoi mencerna informasi yang dia terima, dia memastikan semuanya sebelum bertanya pada Shiroyasha:

“Berarti, kita sudah tahu siapa biang kerok dari masalah ini… tapi karena suatu sebab, kita tidak boleh membeberkan namanya ke publik?”[Izayoi]

“Ya…” [Shiroyasha]

Shiroyasha hanya membalas dengan kata yang ambigu.

Mendengar jawaban itu, Izayoi lalu mengubah perkataannya saat bertanya kembali dengan lantang:

“Terkait masalah ini, ada pihak yang merencanakan si [Demon Lord] untuk muncul… dan pihak yang bersangkutan itu [tidak boleh muncul ke hadapan publik], kan?” [Izayoi]

Jin mengeluarkan suara “ah” kemudian melihat ke arah Sandora.

Sebelum datang ke wilayah utara, dia mengingat diskusi mereka bersama Shiroyasha…

‘Ada komunitas tertentu yang tidak suka ada orang yang begitu muda namun memiliki kekuatan besar’

Kalau yang bersangkutan [ragu atas tindakannya dan tidak boleh muncul ke hadapan publik] berarti…

“Berarti… ada kemungkinan bahwa ada Tuan Lantai lain yang berkolaborasi dengan [Demon Lord] untuk menyerang [Perayaan Kebangkitan Naga], kan?” [Jin]

Apa yang dikatakan Jin menggema dalam ruangan pertemuan itu, sebuah kalimat tabu yang tidak dapat dibayangkan akan terlontar.

[Tuan Lantai] seharusnya adalah pelindung kedamaian, bukan bertindak sebaliknya.

Shiroyasha menghela nafas sambil menggelengkan kepalanya.

“Itu masih belum jelas. Hal ini datang langsung dari atasanku dan utusannya harus menyimpan rahasianya rapat-rapat. Karena itu aku belum begitu yakin… tapi tidak dapat dipungkiri bahwa para pemimpin wilayah utara tidak bekerjasama dalam upacara Sandora, karena kerjasama diserahkan kepada pemimpin wilayah timur sepertiku. Kalau ada pemimpin utara yang memiliki hubungan misterius dengan [serangan Demon Lord]… ini akan jadi hal mengkhawatirkan.” [Shiroyasha]

Gumaman Shiroyasha membuat Kuro Usagi dan Jin terdiam seribu bahasa.

Izayoi memiringkan kepalanya, membuat dia terlihat tidak memahami apa yang barusan dikatakan.

“Memangnya yang seperti ini kejadian langka?” [Izayoi]

“Eh?” [semua orang]

“A… Apa yang kamu katakan, yang seperti ini adalah situasi terburuk! Tuan Lantai seharusnya melindungi komunitas dari serangan Demon Lord! Itu berarti posisi mereka harusnya adalah ada di pihak yang berlawanan dengan Demon Lord!” [Kuro Usagi?]

“Apapun itu, tapi para pemimpin harusnya juga punya otak, kan? Percaya mereka tidak akan melakukan rencana licik hanya karena bertanggungjawab menjaga ketentraman, bukankah itu pikiran yang sangat naif?” [Izayoi]

Wajah izayoi memperlihatkan ekspresi menghina dan apatis. Di dunia asalnya, orang yang dipercayakan mengubah hukum dan berbelok dari pandangan awal politiknya untuk melakukan konspirasi merupakan hal yang lazim terjadi. Izayoi datang di era yang membuat siapapun akan kecewa. Menyadari ini, Shiroyasha dengan tenang menutup mata dan menggelengkan kepalanya.

“Hmm… memang masuk akal. Tapi kalau benar, sebagai seorang penjaga kedamaian, aku pasti akan menemukan orang itu dan menghukumnya.” [Shiroyasha]

“Tapi musuh yang disebutkan dalam ramalan adalah [Demon Lord], karena itu kuharap kalian semua bisa mebantu memecahkan [Gift Game] dari dilakukan oleh si Demon Lord.” [Sandora]

Mendengar ucapan dari Sandora, semua orang yang ada di sana mengangguk setuju.

Mengatasi ramalan mengenai serangan [Demon Lord] ini akan menjadi pekerjaan pertama yang didapatkan [No Name].

Setelah memahami situasi saat ini, Jin lalu memasang wajah serius dan mengumumkan dengan lantang:

“Aku mengerti, dalam menghadapi [Serangan Demon Lord] ini, [No Name] akan berusaha penuh memberikan bantuan kepada komunitas kalian.” [Jin]

“Ya, dan sebelumnya aku minta maaf, karena kalian yang harusnya menjadi penonton malah harus mengikuti pertarungan tanpa tahu identitas musuh. Tapi dalam situasi ini mau bagaimana lagi… kuharap kalian paham kalau kejadian ini tidak akan berakhir hanya dengan kekalahan si [Demon Lord]. Menyembunyikan kebenaran untuk saat ini hanyalah upaya sementara demi melindungi keadamaian di Little Garden. Aku bersumpah atas nama dua dewi [Thousand Eyes] bahwa aku akan menghukum tersangka dengan berat bila suatu saat nanti aku menangkapnya.” [Shiroyasha]

“[Salamandra] juga bersumpah… Jin, semoga beruntung, aku akan menunggu.” [Sandora]

“A… aku mengerti.” [Jin]

Jin dengan gugup menganggukkan kepalanya. Shiroyasha pun melepas ekspresi seriusnya dan tertawa.

“Tidak perlu gugup! Serahkan saja urusan Demon Lord kepada Tuan Lantai terkuat, Shiroyasha ini! Kalian hanya perlu menyiapkan tempat dan menghilangkan kekhawatiran kalian!” [Shiroyasha]

Shiroyasha membuka kipas bergambar dua dewi lalu tertawa lepas.

Walau Jin merasa memahami keadaannya, Izayoi masih memicingkan mata dan terlihat ada rasa ketidakpuasan dari sorot matanya itu.

Menyadari ekspresi Izayoi, Shiroyasha menutup mulutnya dengan kipas dan tertawa pahit.

“Apa ada sesuatu yang membuat tidak bahagia? Bocah.” [Shiroyasha]

“Nggak. Lagipula ini kesempatan bagus untuk melihat seberapa kuat mahluk yang disebut [Demon Lord] itu. Aku akan berterima kasih kalau kau bisa menjadikanku sebagai bagian dari panitia penyambutan… Oh, tapi kalau tiba-tiba kau mendengar berita [seseorang mengalahkan Demon Lord di suatu tempat], tidak akan jadi masalah bagimu, kan?” [Izayoi]

Menghadapi izayoi yang tersenyum menantang, Shiroyasha hanya tersenyum lirih dan membalas:

“Baiklah, kalau ada kesempatan, aku akan mengizinkanmu memberikan si Demon Lord waktu lebih untuk mencuri start.”

Dengan itu, kesepakatan antar keduanya sudah dapat dipastikan.

Setelah semua itu, mereka semua menetap di ruang pertemuan dan menyusun rencana untuk menghadapi Demon Lord saat di saat kemunculannya nanti.

Menanggapi sikap Izayoi yang terlalu percaya diri, Mandora mencoba menyingkirkan anggota [No Name] dari Gift Game yang akan mereka hadapi, tapi usahanya dihentikan paksa oleh Shiroyhasa dan Sandora. Karena itu, Mandora akhirnya hanya bisa menerima bantuan dari Izayoi dan anggota-anggota [No Name] dengan setengah hati.

Part 3

Di saat yang sama ketika Izayoi dan yang lain tengah diberitahukan mengenai sebuah rahasia, Leticia sedang mencari keberadaan Asuka di berbagai tempat.

“Asuka… dimana kamu sebenarnya…?”

Senja telah berlalu dan kini kegelapan malam telah menyelimuti.

Kandil dan lilin besar menerangi kota, memancarkan berbagai macam sinar benderang membuat suasana layaknya sebuah pesta megah. Para iblis yang hanya muncul di malam hari pun mulai bermunculan.

Tak peduli seberapa gemerlap cahaya yang bersinar, situasi yang dihadapinya tak akan berubah.

Leticia memperlihatkan ekspresi panik selagi dirinya menembus udara kota.

“Sial, ini gara-gara keteledoranku! Bahkan walau Asuka sekalipun, sendirian di wilayah utara pada saat seperti ini tetaplah kondisi yang berbahaya!”

Di wilayah utara, akan ada banyak iblis Rakshasa bermunculan ketika malam telah tiba.

Walaupun tidak semua hantu dan iblis di sekitar dinding perbatasan adalah pemakan manusia, namun penculikan untuk menjual tubuh seseorang adalah hal yang sering terjadi. DItambah lagi, anggota [No Name] tidak bisa membuktikan identitas mereka kepada para penculik, oleh karena itu mereka diharuskan selalu waspada terhadap upaya penculikan. Leticia terbang ke berbagai tempat yang sebelumnya disinggahi oleh Asuka.

‘Asuka mungkin sudah pindah ke tempat lain… Oh iya, mana tempat yang kira-kira memilki pertunjukan menarik?’

Pikiran itu tadi terbesit dalam kepalanya. Berdasarkan ide tersebut, Asuka mungkin telah berjalan kaki menuju dinding perbatasan yang memiliki banyak pertunjukkan.

Mencapai goa yang menghubungkan dinding pembatas, Leticia dengan tenang menutup sayapnya.

“Dia mungkin ada di sini…!” [Leticia]

“…Wa….WHAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!” [???]

Teriakan yang menusuk telinga terdengar dari dalam goa. Leticia yang saat itu tengah berpikir seketika membeku.

Dia lalu melihat kerumunan orang yang lari berhamburan keluar dari dalam gua.

Leticia bertanya pada seorang pria bertelinga anjing yang dia tangkap saat tengah melarikan diri.

“Apa yang terjadi di dalam? Cepat jawab!” [Leticia]

“Ada… ada bayangan! Ada bayangan bermata merah menyala di dalam sana…!” [Pria]

“Bayangan, katamu?” [Leticia]

“Benar… Ah, bayangan itu mengejar seorang wanita berambut panjang yang mebawa peri kecil.” [Pria]

“Brak” Leticia menggunakan tenaganya untuk mendorong pria bertubuh anjing itu.
(TLN: what an arsehole she is…)

Berpikir bahwa orang yang membawa peri itu kemungkinan adalah Asuka, pikiran Leticia langsung dipenuhi ketegangan.

Dan lagi-lagi, sesuatu yang mengejutkan terjadi.

“…? Suara apa ini…?” [Leticia]

Setelah teriakan panik dari kerumunan tadi menghilang, kini muncul lantunan melodi. Mendengar itu, Leticia dengan tidak senang menutup kedua telinganya.

Ada hal aneh terjadi dalam gua yang ada di hadapannya. Ketika sekumpulan kandil mulai bergoyang karena alunan melodi yang muncul, Leticia merentangkan sayap dan terbang masuk ke dalam gua.

Tak lama, dia mendengar suara Asuka.

“---masuk! Jangan sampai jatuh!!” [Asuka]

“Asuka? Apa yang---!?” [Leticia]

Ucapan Leticia terpotong karena tersentak.

Dalam aula pertunjukan itu, dia melihat para penduduk mencoba kabur dari lubang dan juga Asuka yang berlari dari ribuan hewan jahat sembari melawan dengan berani dan melindungi seorang peri bertopi runcing.

loading...