Sunday, 29 January 2017

Katahane no Riku Chapter 7 Bahasa Indonesia


Translator: Exicore
Proofreader: Ise-kun

Regular chapter adalah tiap 2 minggu di hari minggu
Kuota chapter bonus: 0 ($0/$1)
*Note: Chapter bonus adalah chapter yang rilis di luar jadwal
Untuk meningkatkan kuota: klik dan tunggu 5 detik kemudian klik "skip ad" http://viid.me/qfs0NX
Kuota chapter akan diupdate tiap rilis chapter baru

Chapter 7: Assault

Panah-panah mendekat.

Bukan hanya satu atau dua panah.

Tiba-tiba saja, anak panah yang sangat banyak jumlahnya hingga mustahil dihitung datang mendekat seperti hujan.

Para Iblis yang awalnya bergerak, kini berhenti, mereka yang membawa tameng, mengangkat tameng mereka. Untungnya, meski jumlah panah sangatlah banyak, mereka tidak lebih kuat dari ranting. Panah lemah seperti itu, tidak mungkin bisa menembus tameng besi milik para Iblis. Suara besi yang saling beradu terus terdengar. Tapi, para Iblis yang terlambat menaikkan tameng mereka, mati karena panah yang datang. Tanpa mampu melindungi diri mereka sendiri, mereka akan terkena panah di bagian lengan dan tenggorokan mereka.

Riku, yang tidak membawa tameng, hanya bisa melindungi dirinya sendiri menggunakan Halberd yang ia bawa. Tapi, meski begitu, tidak mungkin ia bisa menangkis semua panah itu. Sebuah anak panah menggores pipinya, ia merasakan rasa sakit yang sama seperti rasa sakit saat tangan seseorang tergores kertas. Dengan punggung tangannya, ia mengusap pipinya.

“Iblis bodoh! Begitu bodohnya hingga bisa tertipu karena informasi palsu!”

Dari pepohonan, suara tawa bisa terdengar.

Melihat ke arah suara itu, di atas sebuah batang pohon, ada sebuah bayangan yang tertutup mantel hitam. Bersama dengannya, terdapat kira-kira seratus orang. Bayangan itu memiliki mantel yang memiliki sebuah lambang ular. Saat Riku melihat lambang itu, ia menghela nafasnya.

“Itu adalah lambang keluarga Spiritualist Bernaal.”

Sama seperti keluarga Barusak, mereka adalah salah satu keluarga Spiritualist yang bekerja langsung di bawah sang Raja.

Sebagai sesama keluarga spiritualist, mereka akan bersatu dan melakukan perang sesuai ritual. Dia terkadang mendengar bahwa mereka adalah keluarga yang, hanya untuk menjaga kedamaian kerajaan, akan melawan para Iblis. Setidaknya, itulah semua yang diajarkan padanya, bahwa mereka bukanlah keluarga yang akan melakukan serangan diam-diam saat malam.

Mengesampingkan Riku, yang mana terdiam dan memegang dengan erat Halberd-nya. Situasi terus berubah.

“Sial! Jadi itu jebakan?!”

“Memikirkan bahwa mereka mampu menyembunyikan bau mereka meski begitu dekat dengan kita… Sial. Semuanya, serang!”

Para Iblis tidak mungkin tinggal diam saat mereka ditembaki oleh panah.

Para Iblis yang memiliki kekuatan fisik yang bagus, secara bersamaan, maju dan menabrak pepohonan.

Saat para Iblis yang memakai baju pelindung yang luar biasa kuatnya dan juga yang terlihat seperti beruang menabrak pepohonan, tanah bergetar. Beberapa Spiritualist kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh ke tanah. Tapi sebenarnya, ada beberapa Spiritualist yang juga sengaja turun. Setiap dari mereka memiliki pedang Spiritualist di tangan mereka, mengayunkannya ke arah Iblis yang datang mendekat. Para Iblis yang ada di bawah pepohonan, seperti buah yang terpotong, terbelah menjadi dua.

“Tch, semuanya serang!! Meski itu berarti mati, bunuh mereka!”

“Itu adalah kalimatku. Demi Kerajaan, bunuh mereka semua!!”

Teknik pemusnahan Iblis yang sudah ia pelajari dan teknik Iblis yang juga sudah ia pelajari; kini saling berhadapan.

Tapi situasi pertempuran saat ini memperlihatkan bahwa Spiritualist sedang diuntungkan. Dalam jumlah, mereka sama. Tapi para Spiritualist ahli dalam memusnahkan Iblis. Tidak peduli seberapa tangguh tubuh mereka, para Iblis tidak mungkin selamat dari pedang yang disuntikkan kekuatan pemusnahan. Lagipula, bahkan mereka yang terkuat sekali pun, bisa dengan mudah dipotong. Setiap kali seorang Spiritualist mati, lima atau enam Iblis telah kehilangan kepalanya.

“Sial. Lawan hingga nafas terakhir kalian!!”

Iblis yang mengomandoi pasukan berhenti berbicara.

Seorang Spiritualist yang membawa tombak, menusukkan tombaknya ke seorang Iblis dari belakang. Tanpa adanya perlawanan, ia mati begitu saja. Meski setiap Iblis sangat kuat hingga bisa dibandingkan dengan sebuah pasukan, di depan para Spiritualist, mereka bukanlah apa-apa.

“Matilah! Para Iblis tidak berhak tinggal di dunia ini.”

Dengan suara yang keras, sang Spiritualist mengatakan hal tersebut.

Ya, selama ratusan tahun… Inilah alasan mengapa para Iblis tidak dianggap sebagai musuh oleh Umat Manusia.

Dan bahkan saat ini juga, bahkan sebelum pertarungan dimulai, pemenangnya sudah ditentukan.

… Atau setidaknya, begitulah semuanya seharusnya berjalan.

“Terlalu cepat. Para Iblis terlalu cepat mati…”

Dengan suara yang tidak cocok untuk perang, Riku mengatakan hal tersebut.

Dan mengikuti perkataan itu, suara teriakan yang datang dari Spiritualist menggema ke sekitar.

Karena suara yang tiba-tiba, para Spiritualist berhenti bergerak. Dan para Iblis yang awalnya bertarung dalam pertarungan bertahan yang tidak seimbang, karena rasa terkejut pula, berhenti bergerak. Dan kemudian, saat para Spiritualist itu berhenti bergerak, begitu pula adanya nasib baik mereka yang telah berhenti ada.

“Kalian juga, bukankah lebih baik mati?”

Riku mengayunkan Halberd-nya.

Besi yang telah diasah hingga tajam itu mengarah kepada seorang Spiritualist. Memotong tubuhnya dan menerbangkannya, tubuh itu terjatuh sembari menunjukkan organ dalamnya. Tapi, sebelum terjatuh ke tanah, seorang Spiritualist lain yang melihat temannya itu, telah mati karena kehilangan kepala. Darah segar tersebar ke sekitar. Beberapa dari mereka menempel ke wajah salah seorang Spiritualist yang mungkin merupakan kapten mereka. Orang itu segera menggerakkan tangannya untuk menyentuh pipinya di jarinya, sekarang ada darah yang menempel. Saat itulah ia sadar. Pertama ia memasang ekspresi terkejut, tapi kemudian mulai berubah. Emosi yang ditunjukkan adalah amarah. Spiritualist itu, dengan mata yang ingin membunuh, menatap Riku yang basah oleh darah.

“Iblis jalang terkutuk.”

Sembari meninggikan suaranya, ia menyiapkan pedangnya.

Riku, dengan wajah tanpa ekspresi, memutar Halberd-nya. Dengan mata yang dingin, ia melihat ke arah si Spiritualist. Kemudian, pelan-pelan ia berjalan mendekatinya. Dari sikapnya, ia terlihat seakan tidak bersiap untuk bertarung. Dia hanya memutar Halberd di tangan kanannya dengan malas. Melihat cara Riku bersikap, urat nadi muncul di kepala si Spiritualist karena amarah.

“Kau hanya bisa bersikap sombong sekarang. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!”

Spiritualist itu mengangkat tinggi pedangnya.

Riku mengangkat kepalanya mengikuti gerakan pedang itu, seakan mengatakan bahwa melakukan hal itu tidaklah berguna. Bahkan saat pedang itu pembunuh Iblis yang kuat itu diayunkan ke bawah, ia terlihat tidak ingin menghindar. Ia memilih untuk menangkap pedang itu, menggunakan tangannya yang ia majukan ke depan. Pedang itu, bersama dengan suara angin yang dipotong, jatuh ke tangan Riku. Akibat dari pedang itu mengarah ke tangannya membuatnya mengenyeritkan alisnya sedikit.

Tapi, hanya itu. Hal itu seharusnya menjadi serangan yang kuat, tapi Riku tidak terluka. Sampai saat ini, pedang itu mampu dengan mudah menebas para Iblis, tapi tangan Riku, tidaklah terluka sama sekali.

Spiritualist itu terkejut. Sembari berteriak, ia menyuntikkan kekuatan pemusnahan Iblis ke pedang itu. Tapi, Riku tetap tidak terluka. Tidak peduli seberapa banyak tenaga yang ia gunakan.

“Ke-kenapa!?”

“Meskipun ada kekuatan pemusnahan Iblis di dalamnya, dalam keadaan normal, ini hanyalah senjata biasa yang tumpul dan tak akan bisa melukaiku.”

Spiritualist itu terkejut.

Bukan lagi amarah, melainkan rasa terkejut dan rasa takut yang tidak diketahui mulai mendominasi perasaannya. Seluruh tubuhnya, dibasahi oleh keringat. Dia takut kepada Riku kecil lebih dari apa pun.

Di sisi lain, Riku menunjukkan ekspresi yang berlawanan dari si Spiritualist. Ia memasang senyum samar yang senang dan kesepian. Tapi, di matanya terdapat kegilaan. Melihat ke arah Spiritualist yang terkejut, Riku berbicara dengan nada tak peduli kepadanya.

“Meski kau bisa memotong Iblis, kau tidak bisa memotongku.”

Memegang pedang si Spiritualist dengan tangan kirinya dan memegang Halberd di tangan kanannya, dengan ekspresi yang tenang…

“Selamat tinggal, Spiritualist Bernaal.”

Dan si Spiritualist, yang tak mampu melawan, terbelah menjadi dua secara vertikal.

Warna merah tua yang serupa dengan rambutnya mewarnai kulit Riku. Tanpa menujukkan rasa peduli, ia mengalihkan perhatiannya ke Spiritualist yang tersisa.

“Selamat siang, para Spiritualist Bernaal. Apakah kalian sudah siap memberikan kepala kalian?”

Sembari memegang Halberd yang ditutupi darah di tangannya, dia berjalan melewati spiritualist yang sekarang sudah terbelah dua.

Sama seperti Othello. Papan yang didominasi oleh warna putih, dengan sebuah batu hitam, situasi telah berhasil dibalikkan.

Bersama dengan Halberd merahnya yang terus bergerak, kepala-kepala dengan ekspresi takut beterbangan. Bagi para Spiritualist, pemandangan itu seperti Neraka. Meski begitu, masih ada beberapa Spiritualist yang setidaknya masih bisa berpkir. Seorang Spiritualist, dengan tangan yang bergetar hingga membuat pedangnya ikut bergetar, berteriak dengan seluruh nafasnya.

“I-ia hanya seorang diri! Kalau kita bisa membunuhnya, kita bisa menang!!”

“Jika kau bisa membunuhnya? Maaf, tapi kau sedikit salah.”

Tangan bergetar Spiritualist itu terpotong dan jatuh ke tanah. Saat ia melihat tangannya di tanah, kewarasannya yang tersisa telah menghilang. Mengeluarkan teriakan yang tidak bisa dimengerti, ia mundur. Karena kepanikannya sendiri, ia terjatuh ke belakang. Meski begitu, ia berusaha keras untuk lari. Dia berusaha keras melarikan diri sembari tertutupi darah yang ada di tanah.

Tapi, sesaat sebelum ia lari, sebuah tombak tajam menusuk melewati dadanya.

“Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkan bocah itu mendapatkan semua pujian, iya kan?”

Vrusto adalah orang yang menusuk Spiritualist itu.

Seperti signal, seluruh Iblis yang masih hidup menyerang Spiritualist yang tersisa. Diantara mereka, tidak ada lagi yang berniat untuk bertarung. Di mata Riku, para Spiritualist yang telah kehilangan semangat bertarungnya bukanlah ancaman bagi Iblis yang melihat kesempatan untuk menang.

“Masih belum cukup.”

Riku melihat dari jauh, melihat para Iblis yang mulai mengerumuni para Spiritualist.

Tanpa mengalihkan pandangannya dari hal yang terajdi dan bahkan tanpa berkedip; ia memegang Halberd-nya di tangannya sembari melihat ke arah hal tersebut.

“Baik, siapa saja, cepat katakan kepada Kapten Leivein mengenai jebakan ini!”

“Atur ulang barisan, mundur!”

Saat Spiritualist terakhir berhenti bergerak, Iblis yang tersisa mulai menjalani perintah yang diberikan.

Di antara lautan darah, semua Iblis bahagia dengan kemenangan mereka dan berbicara kepada satu sama lain mengenai perjuangan mereka. Di antara mereka, salah satu Iblis meninggalkan kumpulan Iblis itu. Seakan ia mengingat sesuatu, ia berjalan menghampiri Riku. Tidak mungkin menebak ekspresi yang ada di wajah Iblis itu… ekspresi di wajah Vrusto.

Dari wajah serigala berbulunya, dia terlihat marah, tapi di saat yang bersamaan, dia terlihat seperti tertawa. Karena ia tidak tahu dengan jelas maksud ekspresi itu, Riku memberi hormat sambil tetap memegang Halberd-nya.

Dalam diam, Vrusto melihat Riku selama beberapa saat. Dan kemudian mengangkat tangan berkuku tajamnya…

“Kau melakukan hal yang bagus!”

Dan dengan seluruh tenaganya, memukul bagian belakang Riku.

Karena kekuatan dalam pukulan itu, Riku tersentak. Karena serangan yang sangat tiba-tiba, Riku ingin protes, tapi sebelum dia bisa menyatakan protesnya, Vrusto berbicara terlebih dahulu.

“Kau, aku pikir kau akan mati dalam pertempuran pertama karena kau hanyalah seorang anak kecil. Ini mungkin adalah bukti bahwa caraku melatihmu adalah cara yang efektif.”

Karena alasan yang aneh itu, Vrusto terlihat sangat puas.

Mungkin itu karena ia merasa bangga terhadap kemampuannya sebagai seorang pelatih atau semacamnya.

Riku tidak begitu mengerti, tapi dia mulai berpikir kalau hal ini akan menjadi masalah. Dia tidak begitu tertarik mengenai alasan mengapa Vrusto merasa senang. Sembari mengusap punggungnya yang sakit, dia melihat ke arah Vrusto.

“Tapi, kau sudah benar-benar tertutupi oleh darah, huh. Saat kau kembali, kau harus membersihkan seluruh darah yang menutupi baju pelindungmu itu. Lagipula, kau juga seorang wanita, kurang lebih.”

Setelah mengatakan itu, Vrusto berbalik.

Dia kembali ke kumpulan Iblis yang selamat. Pada akhirnya, dia tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja terjadi saat tanda tanya muncul di atas kepalanya. Untuk saat ini, dia berpikir untuk menghilangkan darah yang menutupi Halberd-nya dengan sapu tangan. Karena itu, dia mengeluarkan sapu tangan yang ada di kantungnya. Tapi bahkan sapu tangan yang seharusnya putih bersih itu, tertutupi oleh darah.

“Hei, bocah. Omong-omong, aku ingin bertanya.”

Saat ia sedang membersihkan Halberd-nya dengan sapu tangan yang tertutupi oleh darah, Vrusto kembali kepadanya.

“Kau berasal dari salah satu keluarga Spiritualist seperti mereka, iya kan? Apakah tidak masalah kau membunuh mereka tanpa rasa ragu seperti itu?”

“Apakah ada masalah tentang itu?”

Riku memiringkan kepalanya.

Setiap kali ia menggerakkan sapu tangan itu, noda darah akan perlahan memudar dari mata Halberd miliknya. Dia tidak bisa menghilangkan bagian dari organ dalam dan juga sebagian besar darah yang menempel. Tapi, bila dia melakukan hal itu lebih jauh lagi, dia akan membuat Halberd-nya bertambah kotor. Saat ia melipat kembali sapu tangan itu, ia berucap.

“Mereka adalah musuh, benar kan? Jika iya, maka mereka adalah orang yang harus dibunuh, iya kan?”

“Tapi, beberapa minggu yang lalu, kau adalah sekutu mereka, benar kan?”

“Sekutu?”

Mendengar perkataan Vrusto, ujung mulut Riku terangkat.

Dengan rambut merah yang berkibar di terpa angin, dan mulut yang membentuk senyuman.

“Mereka adalah orang yang tidak menerimaku. Mereka bukanlah sekutuku. Lagipula…”

Jauh dalam mata Riku, sinar biru yang terang bisa dilihat.

Sejak hari pertama kelahirannya, ini adalah pertama kalinya ada seseorang yang berharap kepadanya.

Leivein telah menerima kekuatan Riku. Dan baginya, yang tidak punya tempat untuk pulang, dia juga telah memberinya tempat tinggal.

Orang pertama yang menerimanya adalah Leivein. Dia juga adalah orang pertama yang menganggapnya penting. Karena itulah ia akan mengayunkan Halberd-nya demi orang itu.

Demi Batalion Naga Iblis yang telah ia berikan kepadanya…


“Semua kulakukan karena inilah tempat ku seharusnya berada.”

Previous ChapterDaftar Isi – Chapter Next
loading...