Sunday, 1 January 2017

Katahane no Riku Chapter 5 Bahasa Indonesia


Translator: Exicore
Proofreader: Ise-kun

Chapter 5: Pedang yang Ditajamkan dan Pedang yang Terbuang

Mengikuti Vrusto, Riku mencapai sebuah goa.

Melewati kain yang dipasang di depan pintu masuk, mereka masuk ke dalam. Tempat itu sedikit gelap. Dan juga dingin. Saat Riku mulai menggosok lengannya sendiri, Vrusto mendengus.

“Apakah sedingin itu hingga kau tidak tahan?”

“Pemimpin lima orang prajurit, Vrusto, apakah kau tidak kedinginan?”

“Tidak. Itu karena aku ditutupi oleh bulu… Hei, kemari.”

Dengan tangannya, Vrusto menarik Riku dengan kasar.

Saat ia semakin dekat, dia menyadari ada banyak senjata di kedua sisinya. Karena cukup gelap, ia kurang yakin, tapi mulai dari pedang, tombak, kapak, dan bahkan senjata yang terlihat seperti panah di susun dengan rapi. Sepertinya goa itu merupakan gudang senjata.

“Apapun yang ada di dalam sini tidak masalah. Pilihlah yang kau pikir bisa kau gunakan dengan baik.”

“Uhh… Tapi disini gelap dan aku tidak bisa melihat dengan baik.”

“Apakah kau ingin api? Bodoh, bagaimana kalau api itu malah menyulut bubuk mesiu? Yah, kebanyakan Iblis bisa melihat dalam gelap, jadi kegelapan seperti ini bukanlah masalah.”

Saat mendengar jawaban Vrusto, Riku tidak bisa melakukan apapun.

Seperti yang ia duga, Iblis dan Manusia berbeda. Tapi bila memang begitu, mengapa Leivein memutuskan untuk memasukkan Riku ke dalam batalion? Lain kali, dia akan mencoba mempertanyakan hal itu. Saat Riku memikirkan hal itu, matanya melihat sebuah senjata.

“Senjata apapun boleh, iya kan?”

“Tentu saja… Tapi, apakah kau pernah menyentuh senjata?”

“Kurang lebih.”

Mulai dari usia yang sangat muda, hanya agar ia bisa melawan Iblis, dia telah berlatih menggunakan berbagai jenis senjata.

Dia telah berlatih menggunakan berbagai jenis senjata, tapi ia tidak bisa memasukkan kekuatan spiritual ke dalam snejata itu. Saat ia mulai mengingat latihannya, dia menjadi semakin penyendiri. Ayahnya tidak ada disana lagi untuk melatihnya. Karena sekarang ia adalah anggota tentara Iblis, mustahil baginya untuk kembali ke rumah keluarga Barusak. Bertemu dengan ayahnya, atau adik lelakinya, atau mungkin kakak perempuannya yang sedikit sombong, adalah hal yang mustahil. Entah itu hanya perasaannya atau bukan tapi pandangannya mulai kabur.

“Hei, pilihlah sesuatu dan berhenti buang-buang waktu.”

“…Baik.”

Riku menggosok matanya dengan lengan bajunya. Dan kemudian, dia mulai memilih senjata.

Memikirkan kembali senjata apa yang paling mudah ia kuasai saat latihan, dia mencoba menyentuh banyak senjata pedang besar. Tapi karena dia berlatih berkali-kali dengan pedang yang sama, dia tidak bisa menemukan hal yang ia inginkan. Mengembalikan pedang itu kembali, dia melihat ke atas. Di atas sana, di sudut, ia melihat sebuah tombak. Bila dilihat secara sekilas, seseorang mungkin akan berpikir bahwa itu adalah tombak. Tapi, tepat di ujung tombak itu, ada sebuah kapak tajam dengan bentuk pedang dan kait di kedua sisi yang lain. Tepat saat Riku melihat hal itu,

“Halberd!”

Dia secara spontan berteriak.

Hanya dengan melihat senjata itu, dia berpikir bahwa itu keren, tapi itu tentu saja karena senjata itu bukan hanya bisa memotong, tapi juga bisa menusuk, dan berbagai hal lain, dan oleh karena itulah ia bisa bertarung menggunakan berbagai macam cara dengan senjata yang sama.Tapi karena fleksibilitasnya itulah senjata itu juga perlu kemampuan yang tinggi untuk dikuasai. Sebenarnya, diantara para spiritualist yang ada di keluarga Barusak, sangat sedikit orang yang bisa menggunakan Halberd.

Sejak dulu, Riku menyukai Halberd. Dia akan selalu bermain dengan Halberd untuk latihan yang terbuat dari kayu, dia selalu membayangkan dirinya menjadi seorang spiritualist, dan dia akan menggunakan Halberd untuk melawan para Iblis.

Mimpi untuk menggunakan Halberd mungkin pada akhirnya akan menjadi kenyataan.

“Aku memilih yang ini.”

Riku kemudian mengambil Halberd itu.

Benda berat itu sekarang berada dalam genggamannya. Berkali-kali lipat lebih berat daripada Halberd untuk latihan yang ada di rumah. Tapi, anehnya, ia merasa bahwa itu pas. Lagipula, bila hanya seberat itu, dia pasti akan segera terbiasa. Dengan pengetahuan dasar mengenai cara menggunakan tobak, ia mencoba untuk memutar Halberd itu. Saat ia melakukannya, suara udara yang terpotong bisa didengar. Riku merasa kalau semuanya sudah sempurna.

“Apa? Kau akan memilih yang itu?”

Vrusto meninggikan volume suaranya.

“Jangan pilih yang ini. Terlalu sulit untukmu.”

“aku akan mempelajarinya.”

“Kau tidak akan bisa menggunakannya hanya dengan usaha semata. Untuk pemula, kau seharusnya menggunakan pedang atau mungkin tombak.”

“Aku akan belajar.”

“Ini bukanlah sesuatu yang bisa kau gunakan hanya dengan belajar. Untuk pemula kau seharusnya memakai pedang atau tombak.”

“Terima kasih. Tapi, tidak perlu. Saat aku masih tinggal di rumah, aku sering berlatih menggunakan Halberd. Lagipula, kau menyruh untuk memilih yang mana saja, iya kan?”

“Yah, kau memang terlihat cocok dengan itu… Baiklah, ganti pakaianmu. Setelah itu, segeralah pergi ke tempat yang ada di peta. Kita akan latihan.”

Sembari menghela napas, Vrusto melemparkan sesuatu semacam paket kepada Riku.

Saat ia menangkap paket itu dengan kait Halberdnya, tanpa berkata apapun; Vrusto pergi meninggalkan tempat itu.

Membuka paket itu, ia melihat pakaian dan sesuatu semcam peta. Mengambil pakaian tersebut, dia menyadari bahwa itu merupakan baju militer yang mirip dengan apa yang Vrusot kenakan. Karena kegelapan, ia tidak bisa melihat warna pakaian itu, tapi, jika itu sama seperti yang Vrusot kenakan; maka warnanya pasti hijau tua. Ia kemudian mengganti pakaiannya, saat ia memasukkan lengannya ke lengan baju tersebut, ia menyadari bahwa lengan itu sedikit terlalu panjang untuknya. Tapi, tidaklah begitu panjang hingga ia harus menggulung lengannya. Selesai mengganti pakainnya, ia menaruh Halberd itu ke pundaknya.

“Sudah selesai.”

Menggunakan peta yang diberikan Vrusto, ia meninggalkan tempat perlengkapan menuju ke tempat yang dimaksud.

Dalam perjalanan, ia akan terus dipandangi oleh orang-orang, tapi saat ia meliht ke arah mereka yang memandangnya, mereka akan berhenti melihatnya. Yang ada di sekelilingnya adalah Iblis yang sedang berlatih pedang. Sembari memikirkan betapa anehnya hal itu, ia mencapai tempat yang ia tuju.

Di tengah tempat itu ada sesuatu yang mirip dengan arena, Vrusto menggunakan sesuatu semacam pedang kayu. Sebelum Riku bisa berkata apapun, hidung Vrusto bergerak. Dan kemudian, dia berbalik melihat ke arahnya, menunjukkan ujung pedangnya ke arah Riku. Dengan segera, Riku mempersiapkan Halberd-nya. Vrusto tertawa dengan hidungnya saat ia melihat tindakan bertahan Riku.

“Kemarilah, bocah. Kita akan segera memulai latihan.”

Vrusto melemparkan sebuah senjata dari kayu ke arahnya. Ujungnya, adalah kapak dengan bagian pengait yang mana merupakan bagian dari Halberd yang dibuat dari kayu. Riku memasang ekspresi tidak senang.

“Ini adalah Halberd latihan?”

“Lebih baik seperti itu. Ini kan hanya latihan. Lihat? Aku juga akan menggunakan senjata dari kayu melawanmu.”

Vrusto tersenyum menantang.

Riku menjatuhkan Halberd-nya ke tanah dan mempersiapkan dirinya dengan Halberd latihan itu. Jika itu memang hanya Halberd latihan, maka ia sudah pernah menggunakannya berkali-kali. Karena itulah ia pikir semuanya akan baik-baik saja. Telah memutuskan targetnya, ia mendekat ke Vrusto dan mengincar lehernya.

Tapi, Vrusto hanya tersenyum dan menangkis serangan Halberd itu dengan mudah. Meski pun cara Vrusto menagkis tidaklah keras, tapi arah gerak Halberd itu berubah. Kemudian, tanpa ampun ia menyerang Riku, yang mana berusaha mengembalikan arah gerak senjatanya, tepat di lengan kanannya.

“Sakit!”

Karena rasa terkejut dan sakit yang ia rasakan, Riku melepaskan Halberd miliknya.

Tapi, meski begitu Vrusto tidak berhenti menyerang. Mengincar perut Riku yang sekarang tidak bersenjata, ia menendangnya dengan sekuat tenaga. Saat terkena pukulan itu, Riku kehilangan separuh pasokan oksigen di paru-parunya. Tidak lama, ia merasakan kekuatan yang luar biasa di punggungnya. Dia telah terlempar ke dinding.

Perut dan punggungnya sakit, begitu pula lengannya. Memang tidak sesakit hal yang ia rasakan di Perikka, tapi tetap saja hal itu cukup sakit dan membuatnya merasa ia akan segera menangis.

“Berhenti membuang waktu. Berdiri dan majulah!”

Vrusto sekali lagi menggunakan ujung senjatanya untuk menunjuk Riku.

Riku berusaha berdiri dengna lemahnya. Dia telah berlatih terus menerus sebelumnya, tapi meski begitu tangan dan kakinya seakan tidaklah cukup kuat. Saat ia masih berlatih di rumah keluarga Barusak, dia bisa dipastikan tidak bisa menggunakan spiritual art, tapi meski begitu kemampuan fisiknya sangat luar biasa. Tapi, meski begitu bahkan tidak ada satu pun serangannya yang mengenai Vrusto. Vrusto melihat Riku dengan tampang frustasi.

“Dibandingkan dengan bocah manusia biasa, kau memang hebat. Tapi…,”

Tepat setelah ia mengambil Halberd latihannya, pedang latihan Vrusto sudah mendekat ke arahnya.

Riku panik. Menempatkan kekuatannya pada Halberd itu, dia entah bagaimana berhasil menangkis. Tapi, tepat setelah itu, ia merasakan serangan kuat di perutnya meski pun ia telah menangkis pedang itu. Karena rasa sakit, Riku membungkuk sembari memegang perutnya. Dan akhirnya…

“Mengapa…?”

Pertanyaan itu keluar dari mulutnya.

Saat ia menggerakkan matanya, ia melihat Vrusto dengan lutut kanan yang dinaikkan. Pada akhirnya, ia menyadari bahwa rasa sakit itu berasal dari serangan menggunakan lutut itu. Tapi, meski begitu, Riku tidak mengerti. Tendangan yang sebelumnya dan penggunaan lutut yang tadi… Terjadi saat mereka berlatih menggunakan senjata. Dia bertanya-tanya mengapa hal seperti itu terjadi.

Seakan membaca pikirannya, Vrusto tertawa seakan ia merendahkannya.

“Kau bertanya-tanya mengapa aku menggunakan tendangan dan semacamnya, iya kan? Dasar bodoh. Teknik yang kau gunakan sedari tadi hanyalah serangan menggunakan senjata. Mulai dari sekarang, kau akan menuju medan perang. Di sana, kau tidak membutuhkan teknikmu itu. Ingat itu!”

Vrusto mengayunkan pedang latihannya dengan pelan.

Meski pun ia berlutut sekarang, pedang itu mendekat dengan cepat. Berputar di tanah, ia menghindari serangan itu. Mengambil senjatanya sendiri ia sekali lagi mencoba untuk bertahan menghadapi serangan itu entah bagaimana. Dia mengerutkan dahi karena beban yang harus ditanggung kakinya. Karena semua tenaga itu, dia mulai bisa mendengar suara tulang patah dari lengannya. Sembari menggemeretakkan gigi-giginya, dia entah bagaimana mampu bertahan. Saat ia berhasil, Brusto bersiul, puas akan hal yang Riku lakukan.

“Hou, kau bertahan. Kalau begitu, bagaimana dengan ini?”

Tepat di sudut matanya, da melihat Vrusto menggerakkan kaki kirinya.

Kemudian, Riku segera melompat ke belakang. Itu karena ia tidak ingin ditendang di perut lagi. Tapi, kaki kanan Vrusto, yang bahkan tidak diarahkan kepadanya, ada di tanah tempat ia akan mendarat. Vrusto, yang mana mencodongkan badannya ke depan, sekarang mengincar kaki Riku. Saat Riku mendarat, dia terkena serangan dan kehilangan keseimbangan.

“Waah!”

Kehilangan keseimbangannya, Riku terjatuh dengan cara yang sedikit tidak biasa.

Bunyi mengerikan keluar dari tulang belakangnya dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Pandangannya pelan-pelan memudar. Seluruh tubuh Riku terasa sakit hingga ia tidak mampu menahannya. Jika itu adalah Riku yang dulu, maka ia mungkin sudah berteriak dan menangis. Tapi dia tahu sekarang, jika hanya sebatas ini, ia tidak boleh melakukan hal itu.

Sebelum Vrusto menghinanya, Riku dengan lemahnya berusaha bangkit. Sementara ia memaksa kakinya untuk menjaga dirinya agar tetap berdiri, dia mempersiapkan Halberd-nya, penuh dengan semangat bertarung. Sementara merendahkan tubuhnya, dia menentukan bagian yang akan ia incar.

“Hee, kau masih bisa berdiri? Aku penasaran sampai seberapa jauh kau mampu melakukan hal ini.”

Rasa sakitnya, yang mana terus ia tahan, membuat seluruh tubuhnya melemah. Sembari memegang Halberd-nya dengan erat, ia terjatuh ke tanah.

Menendang riku, yang mana terbaring di tanah, Vrusto berucap:

“Dengarkan aku, jangan pernah kehilangan kesabaranmu. Kau hanya perlu memikirkan cara membunuh lawan!”

“…”

Riku, dengan mata separuh terbuka; memperhatikan pergerakan Vrusto. Karena bosan, Vrusto memukul-mukulkan pedang latihannya ke pundak. Dia pasti berpikir Riku tidak akan bisa bangkit lagi untuk sementara waktu. Dia dengan tampang tidak tertarik; melihat ke langit.

Kemudian, mulut Riku membentuk senyum.

Kau hanya perlu memikirkan cara untuk membunuh musuhmu. Semua yang ia pelajari hingga saat ini adalah cara untuk menyuntikan kekuatan spiritual ke dalam senjata dan cara menggunakan senjata itu. Cara formal dalam menggunakan senjata merupakan satu-satunya cara yang ia tahu sebelumnya. Jika ia lebih tua, mungkin, dia akan mempelajari cara yang lebih praktis, tapi dia diusir sebelum itu.

Vrusto berusaha menghilangkan rasa bosannya dengan cara bersiul.

Mengincar kaki Vrusto, dia memegang erat Halberd miliknya, dan menusukkan senjata itu ke arahnya, yang mana sekarang bermalas-malasan. Terkejut karena serangan tiba-tiba dari bawah, Vrusto tanpa sadar berteriak. Menggunakan kesempatan ini, Riku berdiri dari posisinya dengan cara seakan ia melompat.

“Rasakan ini!”

Mengincar bagian privat yang tidak dijaga, Riku mengayunkan tinjunya dan menyerang tempat itu.

Vrusto, yang mana terkena serangan langsung, memiliki ekspresi kesakitan terpampang di wajahnya. Pasti hal itu sangat sakit, pikir Riku. Dengan mata yang membulat, wajah Vrusto yang penuh bulu penuh dengan kesakitan. Dia mencodongkan tubuhnya ke depan seakan memegang bagian privatnya. Menurunkan senjatanya, Riku merasa seakan ia telah melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. Tapi, dia tidak melakukan apapun. Vrusto berkata bahwa ia hanya perlu memikirkan cara untuk membunuh musuhnya. Vrusto juga menggunakan hal lain selain senjatanya.

Karena itu Riku berpikir ia tidak melakukan kesalahan apapun.

Tapi, mendengarkan rintihan Vrusto, dia mulai meragukan bahwa apa yang ia lakukan itu benar.

“Uhh… apakah kau baik-baik saja?”

“Jika aku memang terlihat baik-baik saja bagimu, maka kau sudah pasti buta.”

Melihat mata Vrusto, seseorang bisa dengan mudah melihat air mata yang berkilauan.

Riku mengalihkan pandangannya dari Vrusto. Dia mulai berpikir untuk lari dari situasi aneh ini. Tapi, tiba-tiba saja, ia melihat sebuah serangan datang dari sudut penglihatannya. Meskipun Riku telah menurunkan senjatanya, dia bisa menangkis serangan itu.

“Tch, kau menghindarinya.”

Yang menyerangnya tidak lain adalah Vrusto, yang mana beberapa saat yang lalu berbaring di tanah dengan tampang kesakitan.

Riku terkejut.

“Apakah kau baik-baik saja?”

“Dasar bodoh. Tidak mungkin aku baik-baik saja! Rasanya sangat sakit hingga aku mau menangis!! Tapi jika kau tidak bisa menangani hal seperti itu, kau pasti akan langsung mati di perang yang sesungguhnya!!”

Pedang Vrusto diarahkan ke lehernya.

Menghalangi serangan itu dengan kait senjatanya, Riku berusaha menendang perut Vrusto. Tapi dengan segera kakinya ditangkap dan ia dilempar.

“Jangan hanya menendang!! Kau juga harus memikirkan gerakanmu yang selanjutnya!”

Teriakan marah dari Vrusto menggema keseluruh sudut tempat latihan itu.

Mulai dari saat itu, entah sudah berapa lama waktu terlewati. Semua yang terjadi kebanyakan hanya senjata yang diayunkan dan Riku yang diserang, ditendang dan dilempar. Tapi, meski begitu, dengan determinasi, dia terus bangkit. Hal ini, terjadi berulang kali.

“Sudah cukup untuk hari ini.”

Saat Vrusto mengatakan hal itu, matahari sudah terbenam.

Langit di barat samar-samar berwarna merah dan bintang pertama sudah bisa dlihat di posisinya. Riku yang kehabisan tenaga, duduk.

“Besok, kita akan melanjutkan latihan ini. Hei, sekarang, pergilah mandi. Setelah itu, makan malam.”

Kemudian; Vrusto melemparkan handuk kepada Riku.

Handuk putih itu mendarat di kepala Riku. Handuk itu sudah usang karena digunakan berkali-kali, tapi meski begitu; handuk itu tampak bersih. Riku melihat dengan lemah ke arah Vrusto.

“Hmmm? Ada apa, bocah? Aku sudah mengatakan ini, tapi, satu-satunya alasan aku mengurusmu adalah karena Kapten Leivein mennyuruhku untuk melakukan hal itu. Bila tidak, aku tidak mungkin melakukannya. Kau seharusnya berterima kasih kepada Kapten.”

Setelah mengatakan itu, Vrusto meninggalkan tempat itu dan segera pergi ke tempat lain.

Di tempat latihan, hanya Riku yang tersisa. Menggunanan Halberd kayunya untuk berdiri, dia mengambil handuk itu.

Kemudian, berjalan menuju kamar mandi, tapi kemudian berhenti begitu saja.

“Ah… Aku lupa bertanya dimana kamar mandinya…”

Dengan kata-kata yang tidak didengar oleh siapapun juga, sosoknya menghilang dalam kegelapan.

———————————

Beberapa jam kemudian, di hari yang sama, sebuah bayangan kecil berlari melewati jalanan Ibukota Kerajaan.

Meski malam itu keadaan sangatlah gelap, orang itu menggunakan tudung untuk menutupi wajahnya. Bayangan itu berlari dengan cepat melewati gang-gang sempit. Di tangan kecil bayangan itu, sebuah surat telah remukkan hingga menjadi bola.

Nama orang itu adalah Kurumi. Dibalik tudungnya, telinga tupai panjang disembunyikan; hal itu hanya akan dimiliki oleh Iblis. Dia adalah gadis yang diperintahkan untuk menyusup masuk ke dalam bar Ibukota. Karena tempat itu akan dipenuhi oleh prajurit yang bekerja di Kastil terdekat dan para spiritualist, itu adalah tempat yang sempurna untuk mengumpulkan informasi untuk Pasukan Raja Iblis. Sembari melakukan pekerjaan sederhana, gadis itu, akan mengumpulkan informasi setiap malamnya, sama seperti malam ini, dengan segala usahanya; ia berhasil mendapatkan informasi penting bagi Pasukan Raja Iblis.

“Akhirnya… Akhirnya aku berhasil mendapatkan sesuatu. Dengan ini, aku bisa mengucapkan selamat tinggal kepada tempat berbau alkohol itu! Aku akan segera kembali ke Ibukota Iblis dan tinggal di rumah yang tidak punya lubang yang membuat angin dingin masuk!”

“Sayangnya, kau hanya bisa pergi sejauh ini.”

Tapi, tiba-tiba saja ada orang yang menghalangi jalan Kurumi.

Tersadar akan hal itu, berbeda dari perasaannya yang sebelumnya, ia merasakan perasaan takut. Dan kemudian, Kurumi melihat ke arah gadis yang muncul di depan matanya. Gadis yang berdiri di depannya itu punya penampilan yang tidak cocok dengan gang berbau alkohol tempatnya berdiri.

Orang itu adalah pelayan berdada besar dengan sapu di tangannya yang mana memiliki dada yang terlalu besar hingga orang-orang akan mempertanyakan keaslian dadanya. Bahkan Kurumi, yang tidak punya ketertarikan terhadap pakaian tahu bahwa pelayan itu menggunakan pakaian pelayan yang berkualitas tinggi.

“Apa?”

“Mengenai informasi yang kau dapat, aku ingin membicarakan sesuatu denganmu mengenai hal itu.”

Pelayan berdada besar itu langkah demi langkah mempersempit jarak diantara mereka. Sementara memegang surat itu erat-erat, Kurumi mulai melangkah mundur. Informasi itu adalah; sesuatu yang harus dia laporkan apapun konsekuensinya. Kepala kecilnya mulai memikirkan cara untuk lari.

“Tunggu Mary, biarkan aku berbicara kepadanya sendiri.”

Dari belakang pelayang berada besar, sebuah suara yang memiliki kesan bahwa orang yang mengeluarkan suara tersebut cerdas bisa terdengar.

Menyadari kehadiran orang lain, Kurumi secara tidak sadar meningkatkan kewaspadaannya. Dia mempersiapkan dirinya sendiri untuk menggunakan pisau tersembunyi yang ada di pergelangan bajunya. Dalam situasi terburuk dia akan berusaha menggunakan kekerasan untuk membuka jalan. Di keningnya; setetes keringat muncul.

“T-tapi! Meski itu Anda, musuh kita adalah Iblis. Hal itu mungkin berbahaya bagi Anda, Tuan Muda.”

“Tidak masalah, Mary. Karena dia adalah Iblis yang baik hati.”

Mengatakan hal itu, orang yang ada di belakang pelayan beradada besar itu pun menampakkan wujudnya.

Orang itu adalah anak yang menggunakan pakaian yang sangat mahal dan penampilan yang elegan. Saat ia melihat hal itu, Kurumi berhenti bingung. Ia yakin bahwa orang itu akan lebih tua darinya, tapi dia sebenarnya hanya seorang anak yang bahkan lebih muda darinya. Tangannya sangatlah kecil hingga ia bahkan tidak mampu memegang sebuah pedang. Dia mulai merasa bodoh karena meningkatkan kewaspadaannya tadi.

“Baik hati? Siapa yang kau maksud baik hati?”

“Siapa lagi? Aku sedang berbicara tentangmu. Karena dengan kekuatanmu, kau bisa langsung menerobos melewati kami. Tapi, meski begitu; kau menunggu dan mau mendengarkan kami. Meski kau bisa langsung menyerang kami, kau masih ingin mengakhirinya dengan cara yang aman. Kau… Kau sebenarnya tidak ingin menyakiti siapapun.”

“Ap-? Ti- Tidak mungkin!”

Karena omong kosong anak itu, pipinya memerah.

Tidak diragukan lagi, dia marah. Disebut orang seperti itu membuat Kurumi merasa sangat malu hingga ia sendiri tidak sanggup berdiri. Untuk membantah perkataan anak itu, ia mengeluarkan pisaunya.

“Aku tidaklah baik hati!! Terutama kepada kalian, manusia!!”

Dia berencana untuk melewati mereka berdua secara paksa dan membawa informasi itu segera.

Mengincar pelayan dan anak itu, dia bergerak maju. Tapi…

“Ehh?”

Tepat setelah ia memikirkan mengenai hal itu, tangannya dipegang oleh anak itu. Karena hal yang tiba-tiba itu, Kurumi terkejut. Dia tidak menyadari pergerakan dari anak itu. Itu berarti anak itu bergerak lebih cepat darinya. Kurumi tidak tahu apa yang terjadi. Tepat di samping telinga Kurumi, anak itu berbisik.

Hingga titik dimana orang tak akan percaya bahwa suara itu adalah suara anak-anak, suara yang keluar adalah suara yang sangatlah ramah dan memliki daya tarik.

“Kau menutup matamu, kau tahu? Saat kau mengarahkan pisau itu ke arah kami.”

“Hal seperti itu…”

Diberitahu hal yang ia sendiri tidak sadari, Kurumi terdiam. Bahkan terlepasnya pisau itu dari tangannya tidak lagi ia sadari.

“Aku tahu dirimu yang sebenarnya. Bila kau memang tidak mau melukai siapapun, maka kau pasti mau menghentikan perang ini… Jika aku… Tidak, jika kau dan aku bekerja sama, kita bisa menghentikan perang ini. Karena itulah aku ingin meminta sesuatu darimu.”

Saat suara pisau itu jatuh ke tanah terdengar. Sesuatu di dalam diri Kurumi telah berubah.

Dia sendiri tidak menyadarinya, tapi nafsu membunuh yang ada di matanya tidak ada lagi. Warna merah di pipinya tidak lagi disebabkan oleh amarah.

“Aku mengerti… Tapi… Aku harus melaporkan informasi ini.”

“Ya, aku tahu. Jadi, dari informasi itu, aku hanya ingin kau menyingkirkan satu kata.”

Di dekat telinga Kurumi, anak itu membisikkan sesuatu. Dilihat dari sudut pandang yang lain, hal itu terlihat seperti pasangan yang membisikkan kata-kata cinta. Seseorang akan bertanya-tanya apa yang pelayan itu pikirkan saat melihat hal ini. Dengan wajah memerah, pelayang berdada besar itu membersihkan tenggorokannya, menginterupsi momen tersebut.

‘Tuan Muda, anda terlalu menggodanya.”

“Ah, maaf Mary.”

Seperti ombak yang kembali ke laut setelah mengarah ke pinggir pantai, anak itu menjauh dari Kurumi.

Karena kehangatan yang menghilang, Kurumi memasang ekspresi sedikit kesepian.

“Aku mengerti… Aku akan melakukan persis seperti yang kau katakan. Tapi… Sebelum aku pergi, beritahu aku satu hal. Siapa namamu?”

Kurumi melihat ke arah anak itu yang mana sekarang digendong oleh pelayan berdada besar itu.

Dengan senyum yang sebanding dengan seorang Malaikat, anak itu menjawab dengan suara lembut.

“Aku adalah Rook Barusak. Senang bertemu denganmu, Kurumi-chan.”

Dibawa oleh pelayan itu, ia dibawa pergi dari tempat itu. Sembari memikirkan kembali apa yang Rook katakan, dia juga pergi meninggalkan tempat itu. Tapi sekarang, tenaga yang ia gunakan untuk memegang surat itu tidak sebanyak yang ia gunakan sebelumnya.

“Cepat… Aku harus segera melaporkan hal ini.”

Tapi gumamannya itu bukanlah tentang masalah Pasukan Raja Iblis.

Dan di gang gelap yang telah ditinggalkan itu, pisau yang dilupakan itu bercahaya.

loading...