Monday, 16 January 2017

Evil God Average Chapter 9 Bahasa Indonesia


Translator: KIV
Editor: CTian

Chapter 9: Pembelian Pertama

Mantan petualang, Anri-chan si Dungeon Master hadir.

Aku tertidur saat berendam sehingga aku kira bakalan kena flu.
Tapi ternyata aku sehat-sehat aja.
Ini karena kutukannya aktif saat aku tertidur sehingga aku jadi berendam dengan memakai tantou dan jubah.
Karena tidak dilepas aku jadi basah kuyup begini…

Yah, kalau aku keluar nanti juga kering sendiri, tapi karena basahnya sampai ke pakaian dalamku, rasanya jadi menjijikkan.
Apa ini berarti aku tidak bisa berendam lebih dari 30 menit?
Melepaskan diri dari lamunan, aku mengeluarkan makanan dari item box.
Setelah sarapan, aku lalu teleport ke pintu masuk dungeon..

Meninggalkan dungeon, aku berjalan menuju kota.
Memutuskan akan menjadi dungeon master, permasalahan “papan” sudah hilang. (TLN: dari istilah pangan sandang papan, googling kalau belum tahu)
Karena kutukannya membuatku tidak bisa mengganti pakaian, aku hanya bisa pasrah mengingat tidak ada gunanya memikirkan masalah “sandang”.
Walau kemarin aku sudah membeli banyak makanan dan juga membuat kebun dalam rumah, cadangan makananku akan terus menipis karena masih cukup lama hingga panen tiba.
Bahkan walau panen pun, akan susah untuk hidup hanya dengan hasil panen karena aku bukan vegetarian.
Itu berarti aku harus sesekali berbelanja di kota... tapi ada satu masalah: aku tidak tahu seberapa lama aku bisa pulang-pergi seperti ini.
Karena kejadian di gereja dan guild, sekelompok orang mungkin mulai mencurigaiku.
Lalu begitu masalah dungeon yang berubah menyebar, tidak aneh kalau nanti ada yang menghubungkan semuanya kepadaku.
Karena itu, mungkin lebih baik kalau mengasumsikan akan sulit bagiku untuk datang dan pergi dengan bebas dalam waktu dekat.
Kalau aku tidak bisa keluar-masuk kota, berarti aku butuh seseorang untuk mewakiliku, tapi sayangnya aku tidak punya siapapun yang bisa dimintai pertolongan.
Jangan mengatai aku kesepian!! Soalnya aku sudah sadar diri kok.
Bahkan walau menyewa seseorang, tidak ada yang bisa kupercayai untuk diserahkan tugas, jadi hanya ada satu hal yang terpikirkan.

Menunjukkan kartu tanda pengenal dan masuk ke kota, aku menuju ke arah penjual budak.


Aku mengetahui dunia ini memiliki sistem perbudakan ketika aku sampai di kota.
Awalnya kukira perbudakan itu ilegal dan dilakukan diam-diam, tapi ternyata dilakukan di toko yang cukup dekat dengan jalan utama.
Rasa syokku saat mengetahui hal itu masih terasa segar di pikiran.
Berdasarkan informasi yang ku dapatkan dari percakapan orang-orang, dan juga tebakanku sendiri, budak di dunia ini dibagi menjadi 4 golongan: orang-orang yang dijadikan budak sebagai hukuman, budak kriminal; orang-orang dari Negara yang kalah dan dijadikan tahanan perang, budak perang; orang-orang yang diperbudak sebagai jaminan utang, budak utang; dan orang-orang yang dilahirkan dari dua orang tua budak, terlahir budak.
Ada beberapa alasan kenapa mereka membagi asal budak, tapi mereka semua tetap saja tidak dianggap sebagai manusia dan diperjual belikan dengan uang.

Para budak dipaksa untuk mematuhi dengan mutlak perintah majikannya melalui kontrak.
Di dunia ini, “kepatuhan mutlak” bukanlah aturan, melainkan sebuah paksaan untuk mematuhi majikannya melalui sihir.
Bakan walau diperintahkan “bunuh diri”, tidak peduli seberapa keras pikirannya menolak, tubuh mereka akan bergerak sendiri untuk bunuh diri.
Budak diperlakukan layaknya benda, jadi tidak peduli bagaimana perlakuan yang diberikan majikan mereka tidak akan mendapat hukuman.
Karena harganya mahal, kupikir tidak akan ada yang sering membunuh mereka karena ingin, tapi belum tentu juga sih.
Budak paling mahal adalah gadis muda, diikuti pria bertubuh bagus.

Sebagai orang yang terlahir di jepang aku melawan sistem perbudakan, tapi saat ini aku benar-benar membutuhkan orang yang pasti tidak akan mengkhianatiku.



“Selamat datang. Apa anda ingin membeli budak?”

Begitu aku memasuki toko, seorang pria berpakaian rapi langsung menanyaiku.
Sepertinya dia penjual di sini, tapi imejnya benar-benar berbeda dari bayanganku tentang penjual budak yang bertubuh gempal sehingga aku sempat terdiam.
Saat aku mengangguk, dia membawaku ke salah satu meja yang ada di toko tersebut.
Si penjual kemudian duduk di hadapanku dan mulai membicarakan bisnis.

“Toko kami memiliki segala jenis budak. Budak seperti apa yang anda cari?”

“Remaja perempuan dengan umur di separuh awal belasan tahun… ah, dan yang hampir mati.”

Begitu aku mengatakan permintaanku, si penjual membeku dan langsung melihat ke arahku.
Karena mata kami tidak bisa bertatapan, aku menjawabnya dengan keheningan sembari memastikan mataku tertutup.
Tidak dapat dipungkir bahwa syaratnya yang terakhir membuat dia bereaksi, tapi aku tidak bisa mengatakan alasannya dengan jujur.
Pertama adalah soal harga; lalu aku merasa segan memerintah orang yang lebih tua; dan karena butuh keberanian untuk makan dan tidur bersama lawan jenis, aku butuh perempuan yang baru memasuki umur belasan tahun, tapi bisa saja uangku yang hanya 5 gold ini tidak cukup.
Kalau orangnya akan segera mati karena sakit atau terluka, walaupun umurnya baru belasan tahun aku yakin harganya akan turun jauh.
Aku tidak yakin kalau mereka menjual yang seperti itu. Tapi aku yakin ada yang digunakan sebagai tameng hidup melawan monster atau untuk kelinci percobaan penyihir…
Alasan lain adalah kalau membeli budak di sini dan menyuruh mereka mengurus belanja dan kehidupanku sehari-hari, ada masalah budaknya akan takut kepadaku.
Selain harus menyimpan rahasiaku, dia akan tinggal bersamaku di dungeon jadi tidak mungkin membuat dia tidak pernah melihat mataku secara langsung.
Walaupun dengan kepatuhan mutlak yang membuat budak tidak bisa melawan majikannya, tapi itu hanya terbatas pada tindakannya mereka.
Walau kuperintahkan “jangan takut padaku”. Mereka hanya akan bersikap tidak takut, bukan berarti ketakutan mereka akan hilang sepenuhnya.
Kalau budaknya bukan orang yang hampir mati, mereka tidak memenuhi persyaratan.

“Tentu saja kami punya walaupun jumlahnya tidak banyak. Saya mungkin harus merepotkan anda karena harus turun ke bawah. Apa itu bisa diterima?”

Menjawab dengan anggukan, aku mengikutinya ke belakang toko.
Sepertinya kalau mencari budak biasa, si penjual akan membawakan budak yang sesuai kriteria, tapi mengingat kebutuhanku, sepertinya mereka harus membuatku memilih sendiri.
Setelah menuruni tangga yang sempit, sebuah penjara terlihat dengan cahaya obor yang tertutupi jeruji besi.
Di dalam penjara tersebut ada beberapa wanita.
Beberapa tersungkur di atas kasur polos dan beberapa bersandar pada dinding batu. Namun tubuh mereka semua tidak ditutupi sehelai benang pun.

“Kalau berdasarkan kriteria nona, semuanya ada di sekitar sini. Kalau ada yang membuat anda tertarik, saya akan memberikan penjelasan lebih lanjut…”

Aku menyela si penjual yang tengah menghadap ke arahku dan berbicara dari sisi samping.
Dari sudut yang tak bisa dilihat olehnya, aku membuka tudungku dan melihat ke para wanita yang ada di dalam kurungan.
Aku bisa membagi responnya menjadi 3.
Mereka yang gemetar dan memalingkan mata, mereka yag tidak bereaksi dan hanya menatap kosong lalu ada satu orang yang walaupun lemah, tapi melihat ke arahku dengan bergeming.
Aku berjalan maju ke arah satu-satunya orang yang memiliki reaksi berbeda dan melihat ke balik jeruji besi.
Gadis itu berada tak jauh dari jeruji besi, duduk tak berdaya di depan dinding.
Rambut pirangnya yang panjang terlihat kotor dan kusam, rusuknya dapat terlihat, tangan dan kakinya hanya tulang berbalut kulit, membuat dirinya terlihat dapat mati kapanpun juga.
Wajah yang seharusnya cantik kini begitu kurus dengan pipi yang lesung ke dalam, memperlihatkan bayangan tulangnya yang jelas.
Walaupun di ambang kematian, dia menyadari keberadaanku, mata birunya mengarah kepadaku.

“Gadis ini?”

“Namanya Tena, 14 tahun. Dia lahir di desa yang jauh bernama Riemel dan menjadi budak utang. Tapi selama perjalanan ke sini dia terserang penyakit mematikan dan mungkin hidupnya hanya tinggal satu bulan lagi.”

Kata-kata yang kejam keluar di hadapan Tena, membuat yang bersangkutan gemetar saat mendengarnya.
Tapi, di saat yang sama dia menunjukkan bahwa dirinya belum menyerah untuk hidup.
Walaupun tahu hidupnya akan segera berakhir, dia terus menggantungkan diri pada tanting hidup yang samar, tanpa menyerah sedikitpun.

“Aku, mungkin bisa menyelamatkannya.”

Setelah kalimat tersebut terlontar, aku bisa melihat mata birunya yang melihat ke arahku bergetar.
Matanya bertatapan langsung dengan mataku, tapi tak ada sedikitpun tanda bahwa dia takut.
Mungkin karena dia melewati hari dengan rasa takut akan mati yang jauh lebih kuat dari rasa takut yang diberikan oleh mataku, membuat rasa bahaya yang dimilikinya menjadi tumpul.

“Aku tidak bisa membuktikannya, tapi kalau kau ingin percaya dan menerima, raih tanganku.”

Aku mengulurkan tanganku di depan kurungan.
Untuk beberapa saat, Tena melihat ke arah wajahku, lalu kearah tanganku yang terulur.
Kemudian tangannya dengan perlahan meraih tanganku.

“Berapa…?”

“Harganya 5 koin perak.”

Menanyakan dan menerima jawaban mengenai harga kepada penjual yang ada di belakangku, tanganku memegangi tangan kurus Tena yang seakan begitu rapuh.
Karena dia yang ada di ambang kematian, aku tidak tahu apakah harganya tinggi atau rendah, tapi dengan potensi yang dia miliki, dirinya yang sehat mungkin akan berharga 100 kali lipat.
Si penjual mungkin meragukan kata-kata dan tindakanku, tapi mungkin menyadari dirinya profesional, dia tidak bertanya lebih lanjut.

“Baiklah. Kalau begitu berikan pakaian apapun untuknya; aku akan membayar bila ada biaya tambahan.”

“Ah, kalau hanya pakaian polos untuk budak, tidak ada biaya tambahan.”

Dia memanggil asisten prianya yang terlihat kuat utuk membuka kurungan dan mengeluarkan Tena.

“Kami akan menyerahkan dia begitu tubuhnya kami bersihkan dan diberikan pakaian. Selagi menunggu, anda bisa mengisi formulir yang dibutuhkan, jadi silahkan kembali ke tempat duduk yang sebelumnya.”

Aku mengikuti apa yang dikatakan penjual dan kembali dari penjara bawah tanah.



Kembali ke bagian depan toko, aku mengisi informasi yang dibutuhkan di lembar kontrak dan membayar 5 koin perak.

“Baiklah, sudah kami terima. Selanjutnya tinggal mendaftarkan budak maka administrasinya selesai.”

Di saat bersamaan, seorang pria membawa Tena dalam gendongannya.
Tena mengenakan pakaian seperti kantoui; sebuah pakaian sederhana dengan lubang untuk kepala.
Karena tidak diikat dengan sabuk, tubuh telanjangnya dapat dilihat dari samping.
Karena telah dimandikan, warna pirang rambutnya hampir kembali seperti semula, tapi aura kematian yang melekati seluruh tubuhnya membuat daya tariknya menghilang.
Diletakkan di atas lantai, ada sebuah gelang leher yang belum pernah kulihat sebelumnya.

“Silahkan sentuh gelang leher itu dengan tangan anda.”

Mengikuti perkataan si penjual, aku berdiri dan memegang gelang leher yang melekat pada Tena.
gelang leher tersebut terbuat dari bahan yang terlihat seperti batu dan terlihat tanpa lapisan serta tidak dapat dilepas.
Setelah menyentuhnya beberapa saat, gelang lehernya bersinar.
Apa ini fenomenanya seperti pendaftaran kartu petualang.

[Tena telah diperbudak]

Seperti saat aku memperkuat sesuatu, atau ketika menjadi dungeon master, ada suara yang terdengar entah dari mana.

“Dengan ini dia telah menjadi budak dan akan mematuhi segala perintah anda. Karena dia tidak bisa berjalan, apakah anda ingin kami panggilkan kereta kuda?”

“Tidak perlu, akan kugendong dia.”

Berkata begitu, aku mengacuhkan si penjual dan asistennya yang terkejut serta suara Tena.
Memegang tangan tena, aku meletakkannya di punggungku.
Dia meronta mencoba turun, namun pada akhirnya dia menyerah dan kembali tenang.
Aku tidak yakin bagaimana ekspresi si penjual saat aku meninggalkan tokonya.


Tubuhnya begitu ringan.
Mereka mengatakan umurnya 14 tahun yang berarti dia lebih muda dariku.
Tapi karena malnutrisi, tubuhnya kecil bagi orang seumurannya dan mungkin satu atau dua kepala lebih rendah dariku.
Ditambah lagi tubuhnya beritu kurus hingga rusuknya telihat dan tubuhnya begitu ringan sehingga aku bisa dengan mudah membawanya dengan tubuh lemahku ini.
Entah kenapa aku jadi sedih akan rasa ringan ini.
Walau begitu, tak peduli seringan apapun dia, aku tetap akan membawanya ke dungeon dengan berjalan kaki, jadi ini akan berat bagi kami berdua.
Setelah meninggalkan toko, aku memasuki gang sempit dan berjalan sebentar hingga menemukan tempat yang tidak terlihat oleh orang lain kemudian aku menurunkannya.
Tena yang kini ada di di atas tanah melihat dengan bingung ke arahku yang berdiri di hadapannya
Aku melangkah mundur dan membuka tudungku.

“Kamu bersumpah akan percaya kepadaku.”

“…Ya.”

Untuk pertama kalinya, sebuah kata terucap dari mulutnya.
Mendengar jawabannya, aku mengarahkan telunjukku ke dahinya.

“Kalau itu memang benar, maka terima ini.”

Mengatakan demikian, ini pertama kalinya aku menggunakan sebuah skill secara sadar.

“Divine enchantment”

[Divine protection telah diberikan kepada Tena]
[Divine protection telah diberikan ke pakaian budak]

Bersamaan dengan kata-kata itu, tubuh Tena diselubungi kegelapan.
Begitu kegelapannya menghilang, penampilan Tena berubah 180 derajat.

Rambut pirangnya yang kusam walaupun sudah dibersihkan kini bersinar gemerlap. Pipi cekungnya dan tubuh kurusnya kini terisi, mengembalikan karakteristik tubuh seorang gadis yang seharusnya.
Ada sebuah pola hitam tempat dimana telunjukku menyentuh dahinya, berbentuk seperti huruf “S” yang terbalik, lalu mata birunya kini berubah merah.
Pakaiannya yang menyerupai kantoui kini berubah menjadi seperti pakaian miko jaman dahulu yang berwarna hitam, dilengkapi dengan beberapa ornamen.
Yang lebih penting, atmosfir kematian yang dimilikinya telah menghilang, dan aura gadis cantik kini terpancar dari dirinya.
Hmm, sepertinya berjalan lancar.
Walaupun dari dewa jahat (evil god, jashin), tapi tetap saja dia mendapatkan “Divine protection” seorang dewa serta skill curang yang mengubah perlengkapan pemula menjadi armor yang ditemukan di dungeon terakhir.
Kuharap penyakit mematikan yang dideritanya juga ikut menghilang.
Aku sedikit terkejut karena pakaiannya berubah, tapi kalau ternyata pakaiannya jadi memiliki kutukan, maaf ya…

“Eh… ah…”

Terpana dengan perubahan yang terjadi, Tena terus memandangi tangan dan pakaiannya tanpa sepatah kata pun.
Di saat yang sama, dia kemudian menyadari bahwa rasa sakit saat bernafas yang disebabkan penyakitnya telah menghilang, membuat air mata menggenangi kornea merahnya.
Tena berulang kali mengucapkan terima kasih sembari memegangi tanganku yang tadi masih terulur.
Menahan rasa bersalah karena merusak hidupnya demi keuntunganku, aku berusaha agar ekspresinya tidak terlihat di wajahku.


Tena yang akhirnya berhenti menangis kini terdiam memikirkan apa yang telah dia lakukan.
Melihat tena mengintip ke arahku, aku bersyukur dia tidak takut padaku setelah penyakitnya sembuh.
Aku penasaran apa dia jadi kebal dari kemampuan mata magis dan auraku karena perlindungan yang diberikan.

“Berdiri.”

“Ba-Baik!”

Aku tidak bermaksud berteriak, tapi Tena berdiri tegap sambil menunggu perkataanku selanjutnya.
Sepertinya tidak ada rasa takut yang disebabkan skill-ku, tapi kurasa rasa gugupnya kini dalam titik ekstrim.

“Aku ingin kamu tinggal di rumahku dan mengurus belanja dan bersih-bersih di sana.”

“…Hah?”

Aku penasaran... kenapa dia bertingkah seperti tengah meragukanku?"

"Ma-Mana mungkin! Hanya saja.... umm... apa segini cukup?"

Ah, begitu ya.
memang yang kuperintahkan padanya bisa dilakukan hanya dengan mempekerjakan pelayan biasa jadi sebenarnya aku tidak perlu repot-rpot membeli budak.
Budak ada untuk dipaksa melakukan sesuatu yang tidak bisa atau tidak akan dilakukan oleh seorang pelayan.
Hanya saja, aku sedang tidak punya keinginan yang harus dia lakukan, tapi mau bagaimana lagi.
Kalau majikannya seorang pria mungkin dia akan meminta dberikan 'layanan malam', tapi itu tidak berlaku karena aku seorang wanita.

"Begitu saja tidak apa. Tapi aku tinggal cukup jauh dari kota, jadi mungkin berbelanja adalah tugas yang berat."

"Saya mengerti."

Tena memiringkan kepalanya karena tdak tahu di mana aku tinggal, tapi mungkin dia tidak akan mengira kalau aku tinggal dalam sebuah dungeon.
Menjelaskan saja mungkin akan rumit, jadi sebaiknya aku memperlihatkan langsung kepadanya.

Setelah membeli sepatu dan pakaian dalam untuknya, aku mendaftarkan Tena di  guild Petualang terlebih dahulu sebelum meninggalkan kota.


Previous Chapter - Daftar Isi - Next Chapter
loading...