Monday, 2 January 2017

Evil God Average Chapter 8 Bahasa Indonesia


Translator: KIV
Editor: CTian

Chapter 8: Pindah

Halo, ini Anri.
Walau terdengar tiba-tiba… tapi aku diusir dari penginapan.

Singkatnya, masa tinggalku sudah habis dan izin perpanjanganku ditolak.
Aku tidak menyadarinya, tapi oba-san penjaga penginapan terlihat takut, mungkin mata kami berpapasan tanpa sengaja.
Walau sudah kuperkirakan ini akan terjadi, tapi tak kusangka akan secepat ini.
Fakta bahwa aku tidak diusir dengan paksa, melainkan permintaan “kumohon, pergilah dari sini” begitu menusuk dan akhirnya membuatku depresi.
Aku seharusnya segera mencari penginapan lain, tapi syok yang begitu hebat membuatku urung melakukannya.
Tapi ini mungkin saat yang tepat untuk introspeksi.
Karena aku belum memecahkan permasalahan pendapatan-pengeluaranku, bisa dibilang ini saat yang tepat bagiku untuk mencari penyelesaiannya.
Hanya saja kalau gagal, aku tidak bisa kemana-mana.

Selagi aku beristirahat di café plaza tempatku memesan teh hitam tempo silam, aku memikirkan rencanaku ke depannya.
Ada dua cara yang bisa kuharapkan.
Pertama, mencari penghasilan lain, cara kedua, mengatasi permasalahan “tempat tinggal” yang menghabiskan mayoritas pengeluaranku.
Aku sudah memikirkan soal cara pertama saat mendaftar di guild, tapi aku sudah menyerah.
Melihat sifat dan kemampuan, aku benar-benar tidak pantas ada di industri jasa. Aku bahkan tidak tahu bagaimana menghasilkan sesuatu. Ini mustahil.
Sama sekali tidak ada cara lain bagiku memperoleh uang selain dengan berpetualang.
Alkimia menggunakan divine enchanment--- membeli barang dengan murah lalu memperkuatnya dengan enchanment sebelum dijual—mungkin menggiurkan, tapi aku khawatir tidak bisa menjualnya karena aku yakin hasilnya akan menjadi barang kutukan. Lagipula kalau berhasil terjual pun barangnya akan sangat mencolok dan bisa membawaku dalam masalah.

Untuk yang selanjutnya, masalah tempat tinggal. Uang yang hanya tersisa 5 gold tidak bisa untuk membeli rumah. Menyewa rumah atau kamar di penginapan juga berisiko untuk diusir, sehingga aku nggak mungkin menetap.
Lagipula , mustahil bagiku untuk terus menghindari tatapan mata ketika tinggal bersama orang lain.
Yang ideal bagiku adalah “tempat tanpa orang lain”, “bukan sewa, tapi milikku sendiri” dan juga “lingkungan hidup yang layak”.
Mauku sih kalau mungkin juga “bisa menghasilkan uang”.

“mana mungkin tempat seperti itu…”

Aku mau menyangkal, tapi sebenarnya kalau aku tidak pilih-pilih, ada tempat itu. Namun itu jadi membuatku khawatir.
Berpegang pada prinsip atau memanfaatkan kondisi? Timbangan dalam hatiku mulai goyah.
Tapi memang sih untuk menyelesaikan masalah yang datang tiba-tiba harus butuh pengorbanan.
Hmm? Samurai yang berpura-pura telah makan walau sebenarnya tidak ada makanan, katamu?
TLN: 武士は食わねど高楊枝
Aku bukan samurai, jadi tidak masalah.

Sembari berpikir begitu, aku berjalan menuju toko untuk menimbun makanan.


Tiga jam kemudian, dengan banyak makanan dalam kotak item, aku menuju dungeon yang tempo hari kudatangi.
Aku berbelok dari prinsip dan memanfaatkan kondisi, demi tinggal di dungeon ini.

“tempat tanpa orang lain”…butuh sekitar dua jam dengan berjalan kaki dari kota dan tidak ada orang gila yang mendirikan rumah di sini.
 “bukan sewa, tapi milikku sendiri” …aku dungeon master di sini.
“lingkungan hidup yang layak” …saat ini mungkin tidak begitu bagus, tapi bisa diperluas dan diubah sesukaku.
“bisa menghasilkan uang” …mungkin akan ada mangsa mudah yang punya banyak uang.

Kerugiannya mungkin “ketenanganku terganggu” dan “hati kecilku tidak bisa menerima”. Yang pertama mungkin bisa diatasi dengan memperkuat dungeon. Untuk yang kedua… dalam skenario terburuk pun aku mungkin akan mengalah dan tidak membunuh siapapun.
Membulatkan tekad, aku memasuki dungeon.

Sebagai dungeon master, ada perasaan samar “aku bisa melakukan apapun”. Contohnya, sebagai dungeon master aku bisa berpindah kemanapun walau hanya di dalam dungeon, dan aku bisa melihat dan mendengar semua yang terjadi di tempat ini.
 Aku lalu melakukan teleportasi ke mana inti dungeon berada.

Dalam ruangan kecil berukuran 6 tatami, sebuah Kristal biru berukuran 50cm mengapung di udara.
Apa ini inti dungeon-nya?
Aku menyentuh Kristal itu dan menggumam:

“dungeon master”

Nama    : Holy Land of Evil God
Atribut  : Kegelapan, Wabah Kematian.
Tingkat : 3 lantai
Mana    : 1532

Statusku sendiri masih sama, tapi status dungeon-nya jadi seram.
Aku akan berpura-pura tidak melihat nama dan atribut lalu membaca baris selanjutnya.
Seperti dungeon sebelumnya, dungeon ini memiliki 3 lantai.
Secara fundamental, strukturnya memang berubah, tapi pemisah antar lantai sepertinya masih sama.
Mana di sini mungkin nilai Mana yang terkumpul di dalam dungeon, sepertinya bisa kugunakan untuk memperluas atau merawat tempat ini.
Ada dua cara untuk mengumpulkan mana di inti dungeon; diisi langsung oleh dungeon master, atau menyerap mana dari musuh yang mati dalam dungeon.
Inti dungeon berfungsi seperti tabungan dan kalau dungeon master memasukkan mana setiap hari, dia bisa menggunakan hal di luar batasan.
Contohnya jumlah Mana seorang dungeon master berkisar di antara 10-20 ribu. Karena untuk menambah satu lantai butuh satu juta, selamanya pun lantainya tidak mungkin akan bertambah. tapi kalau disimpan di inti dungeon sampai batasan, anggap menabung 10.000 setiap hari, sederhananya tabungan 100 hari bisa untuk satu lantai.
Tapi mungkin sebenarnya akan butuh waktu lebih lama, menyetor semua Mana mungkin langkah buruk karena mungkin ada kebutuhan yang lain.

Mempelajari semua informasi dasar dari inti dungeon, aku hanya tersenyum getir.
Sudah kuduga, jumlah Mana 3 juta itu tidak normal.
Mana-ku bisa pulih setelah tidur semalam, jadi karena sehari bisa menambah 3 lantai, kalau dalam 100 hari berarti aku bisa menambahkan 300 lantai.
Eh, tapi tidak akan kulakukan, kok. Soalnya akan merepotkan.
Hmm… capek juga mengatakan “jumlah Mana…” terus menerus. Apa perlu kutambahkan satuan? Mungkin “poin”?
Pokoknya,  aku menambahkan 3 juta poin Mana ke inti dungeon, kemudian menggunakan 2 juta poin untuk menambah dua lantai.
Sepertinya lantai yang berisi inti dungeon otomatis menjadi yang terbawah, dengan kata lain lantai 5 karena ada tambahan 2 lantai di atasnya.
Aku membuat lantai 3 dan lantai 4 layaknya labirin biasa, lalu 1 juta poin sisanya untuk merenovasi lantai 5 menjadi markas.
Kubagi lantai 5 menjadi beberapa ruangan: ruang tidur, ruang tamu, dapur, kamar mandi, toilet, gudang dan kantor yang berisi inti dungeon.
Di saat yang sama, aku menggunakan Mana untuk menciptakan matahari palsu dan menciptakan siklus siang dan malam.
Rasanya sedikit aneh karena ada sinar matahari tanpa jendela, tapi nanti juga terbiasa.
Yang tersisa hanya memanfaatkan ruangan yang luas untuk menanam sayuran. Walau sepertinya panen masih akan lama.
Tanpa sadar, 1 juta poin telah habis. Tapi setidaknya tempat ini jadi lebih layak huni.
Untuk sentuhan terakhir aku memerintahkan semua penghuni dungeon untuk menghadapi setiap penyusup, namun mereka tidak boleh dibunuh. Hanya perlu membuat mereka pingsan.
Monster biasa mungkin tidak akan puas dan membelot karena insting. Tapi karena penghuni dungeon ini adalah monster inorganik tanpa kesadaran, mereka mungkin akan menuruti segala perintahku.

Aku jadi mengantuk setelah menghabiskan mana dalam jumlah besar, namun berhasil kutahan dengan kekuatan tekad. Aku menuju kamar mandi setelah sekian lama. Mana mungkin aku bisa tidur sebelum mandi sepuasnya.
Setelah beberapa hari, akhirnya aku bisa berendam.
Dan di saat berendam itu, aku pun tertidur.

loading...