Saturday, 14 January 2017

Boku No Heya Ga Danjon no Kyūkeisho Ni Natte Shimatta Kudan Chapter 1 Bahasa Indonesia


Translator: ozonajah
Editor: Ise-kun  

Chapter 1: Masalahnya Adalah Aku TIdak Sengaja Membuat Kontrak Dengan Properti yang Absurd

 [Apa jangan-jangan... sesuatu seperti hantu... bakal keluar dari tempat itu? HAHAHA!!]

Aku merasa malu karena meneriakkan kata yang tidak masuk akal seperti "hantu", jadi aku membuatnya menjadi seperti sebuah lelucon. bisa dibilang, aku tidak yakin dengan perkataanku karena kekacauan komunitasku. Meskipun agen perumahan itu wajahnya nampak datar, dia tetap profesional dengan pekerjaannya dan hanya menganggap perkataanku tadi sebagai lelucon.

[HAHAHA pelanggan. Hentikan candaannya dong, tentu saja sesuatu seprti hantu itu tidak ada]

Itu benar. Jika ada suatu insiden di sebuah kondominiium atau apartemen atau sejenisnya pernah terjadi sebelumnya, maka agent tersebut berkewajiban untuk memberitahukannya kepada penyewa. Kurasa aku pernah mendengar hal seperti itu sebelumnya. Meskipun berwajah datar, dia tetaplah warga jepang. Jika dia tidak memberitahukannya, dia akan menerima sanksi sesuai hukum.

[Aku mengerti. HAHAHA]

[*Uhuk* (Ya, Goblin dan Slime tentu tidak di hitung)]

Bentar-bentar. Apa telingaku salah dengar.
Orang itu baru saja mengatakan hal aneh dengan suara kecil untuk menyesuaikan senyum palsuku.

[Maaf.... apa yang kau bilang tadi?]

[Kalau begitu, silahkan tulis namamu di perjanjian ini, dan juga tolong beri capmu di sini.]

Aku benar-benar punya firasat buruk tentang ini.
Goblin? Slime? Nama sebuah monster yang ada di game kesukaanku dan di dalam LN(Lovel Ringan). Sial. Sial. SIal. Sial. Indra ke-enamku memberitahu padaku kalau ada sesuatu yang salah.

Tapi daya tarik dari sebuah apartement 2KDM(2 kamar, 1 dapur, 1 ruang makan) di area metropolitan Tokyo yang biaya sewanya hanya seharga 30.000 yen ini lebih membuatku tergiur. Aku yang seorang prajurit paruh waktu menyedihkan yang keluar dari universitas karena beberapa alasan.

Aku melihat sebentar ke mata agent ini.
Tidak mungkin kata seperti Goblin atau Slime keluar dari orang berwajah preman yang berpikiran realistis. Seperti itulah yang kupikirkan.

Aku menekan cap pribadiku pada kertas perjanjian dan menulis namaku.

Toru Suzuki

◆◆◆

[Oke, apa-apaan ini?] (Toru)

Saat aku berada di pintu depan, Ruang depan apartemenku untuk suatu alasan berubah menjadi Dungeon. Kenapa ada Dungeon di sini? Apa ada yang bisa menjelaskannya kepadaku?
(tlnoter: teras depan kayaknya area kosong kecil yang biasanya buat naro sepatu, kagak tau itu di sebutnya apa :v)

[Coba lihat... aku membuka pintu depan. Karena sangat gelap, aku menggunakan flaslight dari Iphone milikku. Koridornya entah kenapa menjadi berdinding batu alami... dan ada Dungeon disini! (Toru)
(TL : Kau akan menemukan beberapa dialog yang terdengar seperti monolog dari sudut pandang MC kedepannya. saya akan mencoba untuk mengubahnya agar terbaca seperti dialog tanpa membuat banyak perbedaan dengan kalimat aslinya, jadi kuharap kau bisa mengerti.)

Sudah kuduga ini pasti properti bangke, atau mungkin bisa di bilang ini berada di level yang berbeda dari yang kusebutkan tadi. Oke, tunggu sebentar, ini mungkin kesahalan atau sejenisnya. Ayo ingat lebih teliti lagi.

Aku membongkar barangku setelah orang-orang dari jasa pengiriman barang pulang. Karena sudah agak malam, aku mencoba pergi ke minimarket untuk membeli makan malam. Saat aku berada di depan pintu depan. Lalu ruang depannya tiba-tiba berubah menjadi seperti ini. Bahkan setelah aku tenang seperti ini, akhir kesimpulannya tidak berubah.

Jadi ini alasan kenapa perjanjiannya dibuat terburu-buru.
Setelah itu dibuat, aku tidak bisa protes tentang properti bangke ini. Dia juga bisa meng-klaim kalau semuanya sudah dijelaskan dengan baik. Kalau si perumahan bermuka datar itu sudah berniat mengetakan sesuatu tentang Goblin dan Slime dengan suara yang kecil.

[Aku ingin tahu apa aku bisa bertahan hidup melewati semua ini dan pergi ke rumah. Ah... Kalau di pikir-pikir, tempat ini tidak lain adalah rumahku] (Toru)

Aku menutup pintu depan lalu menguncinya pelan-pelan.
Pintu depan ini dibuat dari besi yang kuat.
Kurasa ini untuk pencegahan jika ada pencuri.

[Ini efektif untuk pencuri, tapi apakah berlaku juga untuk Goblin dan Slime...] (Toru)

Lihat kiri dan kanan, ketika aku memastikan lebih dulu kalau ruang depan apartemenku berubah menjadi dungeon. Masih tidak ada Goblin maupun Slime yang terlihat. Tapi di ujung pojokan itu, bukannya Goblin aku punya firasat kalau ada naga di sana. Itu tidak lucu, itu tidak membuatku tenang sama sekali. Karena kepalaku sakit, aku duduk di kursi di ruang tamu, Semua ini sangat membingungkan, aku lupa untuk menyalakan lampu meskipun ini sudah gelap. Cahaya dari lampu jalan di luar bercampur dengan gelapnya ruanganku melalui jendela.

[Cahaya dari lampu jalan!?] (Toru)

Saat aku melihat keluar melalui jendela, ini benar-benar pemandangan Jepang dengan lampu jalan.... dan kotak telepon.

[Apa yang terjadi!?] (Toru)

Aku mengambil sepatu di dekat barang otaku milikku yang berada di dekat pintu depan dan mencoba keluar melalui jendela bermodel Jepang yang besar itu ke halaman luar. Di sini tercium aroma dari gas pembuangan yang merupakan ciri khas kota. Lampu jalan, lampu mobil, membakar langit malam dan menghancurkan cahaya bintang. Tidak jauh dari sini ada sebuah minimarket dan toko Tososukihote yang semua barangnya sedang diskon. Ini bahkan jauh berbeda dengan dunia penuh dinding batu yang gelap sebelumnya.
(TL :トンスキホーテ = Tososukihōte is this how you read it? A store name? A reference for something?)

[Ini benar-benar jepang yang normal... lalu apa yang terjadi dengan apartemennya?] (Toru)

Sekali lagi, aku kembali ke apartemen dengan ruangan model jepang melalui jendela tempatku keluar sebelumnya.

[Mungkin jika aku keluar masuk melalui pintu depan, itu akan menghubungkanku dengan dungeon. Begitukah? Dengan kata lain....] (Toru)

Kerugian dari aparteman 2KDM yang berlokasi di area metropolitan Tokyo yang biaya sewa hanya 30.000 yen sebulan ini hanyalah, aku yang hanya bisa masuk dan keluar melalui jendela. Ini mungkin properti bangke tapi diwaktu bersamaan ini merupakan properti yang bagus juga. Dan juga, bukankah dungeon itu terdengar menyenangkan? Aku terkejut dengan diriku yang tenang ini daripada diriku yang tadi.

[Mungkin karena aku sudah tidak asing dengan hal macam ini dari game dan light novel. Tapi awas saja kau agent perumahan berwajah preman yang gak ada ganteng-gantengnya, kukukuku....] (Toru)

Aku pergi ke mini market dengan mood yang sangat senang untuk membeli makanan dan alat untuk menjelajah dungeon.

◆◆◆

Toko yang barangnya rata-rata sedang didiskon itu benar-benar luar biasa.

[Bahkan beliung untuk mendaki gunung dan helm dengan senter aja ada...] (Toru)

meskipun tidak ada armor, senjata terbaik dan sumber cahaya untuk menjelajah dungeon sudah ada di tanganku. Dan isitimewanya, helm dengan senter ini mungkin adalah alat level legendaris di dunia dimana kau berpetualang dengan obor dan lentera.

[Ayo pergi... ke dungeon] (Toru)

Aku menempelkan telingaku ke pintu depan apartemen untuk memastikan apa ada suara yang aneh.

[Untuk sekarang, sepertinya tidak akan ada serangan mendadak dari Goblin setelah aku membuka pintunya. kalau Slime... mereka tidak akan mengeluarkan suara bukan?] (Toru)

Aku pelan-pelan membuka pintunya.
cahaya dari senter kepala menerangi kegelapan yang ada di dalam.
Ini tidak bisa disamakan dengan cahaya dari flashlight Iphone.

[Huh? Kupikir ini jalan, tapi ini terlihat sedikit berbeda] (Toru)

Pilar besar berdiri tegak di depan pintu. Sepertinya luas area disekitar sini lebih besar dibanding dengan ruanganku. Jika dirasiokan ukuran lebar dan panjangnya, ini hampir seukuran kolam di SMA.

[Pastinya, tidak akan ada Goblin yang tiba-tiba menyapa dari belakang pilar kan?] (Toru)

Daripada melalui pintu depan, kali ini aku dengan putus asa mencoba mendengar suara disekitar secara langsung.

[.....!] (Toru)

Aku tidak berpikir itu suara monster. Aku tidak yakin tapi.... aku mendengar suara napas dari sisi lain pilar...

[Apa itu... Goblin?] (Toru)

Saat ini, aku berdiri di depan pintu dengan setengah tubuhku berada di dalam kamarku dan setengahnya lagi berada di dungeon. Aku harus mendekat ke tempat itu untuk memastikan dengan mataku sendiri apa itu Goblin atau bukan.

[Mungkin sebaiknya aku mengintip sedikit lalu cepat-cepat kembali ke kamarku. Baiklah kalau begitu!] (Toru)

Oh, kuharap ada tutorial dulu. Saat aku berpikir kalau ini game, aku melangkahkan kakiku ke dungeon. Tidak ada tanda kalau pintuku menghilang tiba-tiba. Aku dengan hati-hati melangkah ke depan sambil memastikan rute kaburku. Aku mengintip ke bayangan yang membuat suara napas dari balik pilar.

[Hii! Itu Goblin] (Toru)

Tubuh organik yang bening sebening air berbaring di lantai. Aku langsung kembali ke belakang pilar. Itu mengejutkanku, tapi...

[Sepertinya Goblin itu sekarat] (Toru)

Goblinnya tidak menunjukkan taring maupun melihat ke arahku, dia hanya berbaring di lantai. Meskipun awalnya aku terkejut, tapi keterkejutan itu sudah agak berkurang. Tapi masih ada kemungkinan kalau ini jebakan, tapi kata hatiku berkata padaku kalau itu tidaklah berbahaya. Apa yang harus kulakukan? Ayo periksa sekali lagi!

[Aku sudah sejauh ini, Aku tidak punya pilihan lain selain terus lanjut] (Toru)

Aku dengan hati-hati melihat ke Goblin dari belakang pilar. Setelah menghabiskan beberapa waktu untuk mengamatinya, aku kembali ke tempat Goblin itu berada.

[Hmm..... Apa itu benar-benar Goblin?] (Toru)

Aku melihat tubuh organik yang seharusnya adalah paha Goblin. Warna kulitnya sangat mempesona. Jika dilihat secara teliti, di bagian atas pahanya ada sebuah armor. dan juga ada perisai bundar yang tergeletak di dekatnya. saat aku mencahayainya, Kecantikan rambut pirang terlihat di mataku.

[Itu bukan Goblin... Mungkinkah.... Seorang kesatria perempuan?] (Toru)

loading...