Thursday, 22 December 2016

Wagamama Onna ni Tensei Shita yo Chapter 2 Bahasa Indonesia


Translator: KIV

Chapter 2: Aku Terlahir Kembali


“Mama! Mama!”

Hmm? Ah, apa aku tertidur?
Rasa kantuk sepertinya berhasil mengalahkan rasa laparku.

“Mama baik-baik saja?”

Di sudut mataku, seorang anak laki-laki mungil mengintip hati-hati dari tepi kasur.
Siapa?

Tunggu, anak ini… Wirbel… dia, adalah putraku.
Apakah aku… bukan Tanaka Yuri?
Tidak, ingatan Tanaka Yuri benar-benar ada.
Aku tinggal di Shapporo dan bersekolah di sebuah SMA dekat rumahku.
Aku tinggal bersama ayah, ibu, dan seorang kakak perempuan.

Tapi, aku menyadari, ada satu lagi ingatan yang kumiliki.

Namaku, Amalie Ena von Flaksburb.
Istri kedua dari DukeFlaksburb.
Seperti ombak, berbagai ingatan datang menerpa kepalaku.
Hmm, walau sulit kuaki, tapi aku bukanlah seorang wanita yang baik.
Keluargaku adalah bangsawan berdarah kerajaan, membuatku dibesarkan dengan penuh manja.
Aku akan berteriak ketika ada yang tak disukai, benar-benar tipe bangsawan yang arogan.
Aku merendahkan orang lain dengan bangga, memerintah mereka semena-mena.

Menjijikkan…

“Mama?”

Wirbel mengulurkan tangannya yang mungil.

Apa yang telah kulakukan pada anak imut ini?
Aku dengan histeris mencari kesalahannya, memaksanya untuk tidak kalah dari putra istri pertama tanpa sedikitpun tersenyum kepadanya.
Tak sedikitpun kata-kata lembut pernah terlontar kepadanya.
Bodoh, benar-benar hal yang bodoh.

“Wirbel, mama tidak apa-apa. Maaf telah membuatmu khawatir.”

Aku mengulurkan tanganku dan membelai rambut cokelatnya yang halus.
Ah, Air mataku keluar.
Air mata cintaku menetes hanya dengan menyentuhnya.
Kenapa selama ini aku tidak pernah memeluknya, menciumnya, dan memberikannya kasih sayang?

Bodoh sekali…
Waktu yang hilang tidak dapat kembali.
Karena itu, ayo berubah mulai sekarang.
Aku akan benar-benar memanjakannya!
Ah tunggu, aku jadi cemas kalau dia nanti menjadi sepertiku.
Yosh, ayo besarkan anak ini dengan hati-hati, dengan penuh cinta, membuatnya hidup bahagia dengan penuh senyuman.

“Wirbel, apa mama boleh memelukmu?”

“Ah, Umm… Ya!”

Dengan bantuan seorang pelayan, Wirbel menaiki kasur.
Ketika aku mengangkat tubuhku dan merentangkan tangan, Wirbel masuk ke dalam pelukanku.

Ah, harta karunku. Aku menyayangimu.

Ketika berpelukan dan menikmati skinship pertama kami, ada suara yang lucu bergema.

“Wirbel, apa kamu lapar?”

“Un, maaf.”

“Tidak perlu minta maaf. Sebenarnya mama juga lapar, lho. Bahkan mama sudah tidak tahan!”

Tak lama suara perut laparku menggema keras dalam kamar ini.

“Iya, kan?”

Walaupun yang tadi itu memalukan, aku tersenyum lembut kepadanya..

“Saya akan memanaskan kembali sup nyonya. Makanan untuk Wirbel-sama sudah disiapkan di ruang makan. Tuan muda silahkan menuju ke sana.”

“Terima kasih. Bicaranya kita lanjutkan nanti, Wirbel.”
Ketika aku tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada si pelayan, dia menatap ke arahku dengan mata terkejut.
Un, tentu saja…
Pasti karena perlakuanku dulu, kan! Selain tersenyum, aku kini juga berbicara dengan tenang.
Ditambah lagi, sampai mengucapkan terima kasih, gila kan? Wajar saja kalau dia terkejut.

…Separah itukah diriku yang dulu?
Sebuah pertanyaan retoris kuucapkan tanpa suara.
Tersenyum sebagai tanda terima kasih itu wajar saja, kan?
Oh, Amalie… menyedihkan sekali dirimu.

“Mama tidak akan ke mana-mana?”
Wirbel dengan mata seperti akan menangis melihat ke arahku.

“Eh? Tentu saja, kan?”

“Mama…”

Wirbel memelukku begitu kuat, cukup kuat hingga hampir membuatku sesak.

Hmm? Ada apa ini?

“Jangan pergi…”
Gumamnya lagi.

Aku mengelus punggung Wirbel karena terkejut.
Ah, begitu ya… anak ini berbicara soal diriku yang sekarang.

Ibu egois yang tidak pernah memeluk atau tersenyum padanya, kini menjadi orang yang begitu berbeda.
Dia takut aku akan kembali seperti dulu seketika dirinya berpaling.
Sebenarnya berapa banyak beban yang telah kuberikan pada anak ini…?

“Wirbel, mama akan selalu ada di sisimu. Baiklah, mama akan membuatkanmu kue kalau sudah sembuh. Kamu mau?”

Aku meletakkan tanganku di pipi Wirbel yang lembut dan bertanya.

“Mau! Mama… aku akan menantikannya!”

Wirbel mendangah dengan air mata bahagia.

Imutnyaaa!!
Eh, bahkan “imut” pun bukan lagi ungkapan yang tepat untuknya.
Tanpa kusadari aku menciumnya dan menggosokkan pipi kami berdua.

Walau sedikut ragu, aku meminjam sarung tangan dari si pelayan, lalu menggosok wajah Wirbel dengan lembut sebelum melepaskan tanganku darinya.

“Nah, Wirbel, kunyah makananmu dengan benar, ok? Dengan begitu, perutmu nanti juga akan sehat.”

“Ya, mama. Mama juga, cepat sembuh. Aku sudah tidak sabar untuk minum teh dengan mama.”

Wirbel tersenyum lebar dan meninggalkan kamar tidur ini bersama si pelayan.

Waah, putraku benar-benar lucu.
Senangnya… eh, tunggu, tunggu dulu.

Ngomong-ngomong, apa mungkin aku telah bereinkarnasi?
Terlahir kembali sebagai wanita bangsawan bernama Amalie, lalu ingatan lamaku kembali karena demam yang hampir membunuhku.
Tidak, ketimbang mengingat kehidupan sebelumnya, mungkin lebih tepat mengatakan kalau Amalie telah mati dan jiwa Tanaka Yuri mengambil alih.

Ini adalah kediaman DukeFlaksburb.
Kepala keluarga rumah ini adalah Christhard von Flaksburb.
Dia mengabdi pada keluarga kerajaan Morgenrot dan sekarang bekerja sebagai kapten dari Pasukan 
Penjaga Istana.

Aku adalah istri kedua pria tersebut.
Putri seorang Dukeberdarah kerajaan namun menjadi istri kedua.
Wajarnya, posisi istri pertama adalah hal yang bisa kudapatkan.
Namun mau bagaimana lagi, reputasi diriku terlalu buruk.
Suka mendominasi, egois, dan histeris.
Wanita seperti itu, tak peduli siapa orang tuanya, tak peduli seberapa banyak mas kawin sang mempelai pria dapatkan, orang-orang pasti tetap tak menyukainya.
Tentu saja, aku pun akan benci orang seperti itu.
Dan wanita seperti itu dipaksakan kapada Flaksburb yang malang.
Yaa, tentu saja dia dipaksa menikahinya atas perintah sang Raja.

Tapi, DukeFlaksburb telah memiliki seorang tunangan.
Mencampakkan orang itu tentu saja tidak mungkin, jadi diputuskan aku akan menjadi istri keduanya.
Ketika istri pertama melahirkan seorang putra, aku mengandung Wirbel.

Walau aku hanya memiliki Wirbel, istri pertama, Bianca-sama memiliki seorang putra dan seorang putri, dua orang anak.
Putra pertama bernama Arthur, dan yang putri bernama Anneliese. Secara berurutan, umur mereka 4 dan 2 tahun.
Wirbel sekarang berumur 3 tahun, dan dia memiliki seorang kakak dan seorang adik, walaupun berasal dari ibu yang berbeda.

“Nyonya, saya membawakan sup anda.”

Pelayan bernama Berta membawakan meja kecil dengan semangkuk sup ke atas kasur.
Anak ini bukanlah orang yang kubawa dari rumah orang tuaku, tapi orang yang melayani kediaman Flaksburb.
Sebagai syarat pernikahan, aku tidak diperbolehkan membawa siapapun dari rumah.

“Terima kasih, Berta.”

“Sudah tugasku, Nyonya…”

Walau terlihat bingung, Berta menjawab dengan suara pelan.

Suaraku saat menyeruput sup menggema, menjadi satu-satunya suara dalam ruangan ini.

Rasanya canggung… tapi aku sedang tidak punya bahan pembicaraan.
Apa yang harus kukatakan? Minta maaf atas semua hal yang telah kulakukan selama ini?
Tidak, itu hanya akan membuatnya lebih curiga.
Yah, kurasa nanti juga akan terbiasa.

“Terima kasih makananya. Aku akan beristirahat lagi.”

“Kalau begitu saya permisi.”

Dengan tenang, Berta merapikan peralatan makan di hadapanku dan keluar dari ruangan.

Seketika kepalaku menyentuh bantal kelopak mataku pun menutup, mengantarkan kesadaranku kembali pergi.


loading...