Thursday, 22 December 2016

Wagamama Onna ni Tensei Shita yo Chapter 1 Bahasa Indonesia


Translator: KIV


Chapter 1: Ini Di Mana?

Tubuhku terasa lemas.
Mungkin karena berbaring terlalu lama, kepalaku menjadi linglung dan terasa sedikit pusing.
Apa aku tertidur lama? Hmm, mungkin flu?
Demam tinggi merenggut tubuhku, membuatnya sulit untuk digerakkan.
Kelopak mataku membuka, memperlihatkan ruangan bercahaya remang.

“Uu…”
Aku mencoba beranjak bangun.
Seketika pusingku menguat, membuatku terjatuh kembali ke atas bantal.
“Hmm… haus…”
Tanpa sadar aku menggumam senyap.
Lalu dengan cepat kelambu didepanku terbuka.
(TLN: 天蓋 = kelambu atau apalah itu, just google it)

“Nyonya!! Kesadaran anda kembalI! Akan saya minta dokter untuk segera kemari!!”
Kegelapan ini membuatku bingung, tapi seorang wanita setengah berteriak sebelum bergegas keluar.

…di mana ini? Ini bukan rumahku?

Aku… siapa aku?
Tunggu, aku tahu.
Namaku Tanaka Yuri.
Apa aku bolos karena sedang flu?
Sepertinya demamku cukup tinggi, wajar saja kan kalau aku beristirahat?
Tapi, kenapa aku tidak berada di rumah?
Di mana ibuku?

Tempat ini tidak terlihat seperti rumah sakit… apa mungkin rumah sakit khusus selebritis?

Tapi, di sana tidak ada kasur berkelambu kan?
Ingatanku berkabut, pikiranku masih kacau.
Aku lelah…

Langkah kaki bergema dalam koridor.
Pintu terbuka dengan tergesa dan beberapa orang melangkah masuk.

“permisi, nyonya.”

Kudengar suara seorang pria sebelum tanganku dipegang olehnya.

Dia dokter?
Aku membuka mata dan melihat ke samping.
Seorang pria paruh baya berkumis mengukur denyut nadi lalu suhu tubuhku dengan tangannya.
Dia dokter.

“Air… *uhuk**uhuk*.”

Kerongkonganku kering, membuatku sulit untuk berbicara.

Setelah batukku reda, sesendok air ditempelkan pada bibirku.
Air itu membasahi bibirku dan sedikit mengairi isi mulutku.

“terima… kasih…”

Mengatakan terima kasih, sendok di depan bibirku tersentak.
Hmm? Penasaran, aku melihat ke arah Suster-san(?) yang memasang ekspresi terkejut.
Ada apa?

“Nyonya, demam anda sudah turun, tapi anda sebaiknya istirahat lebih lama. Tolong makan sup ini dan minum obatnya.

“Baiklah… terima kasih, banyak.”

“kalau begitu, saya permisi.”
Si dokter meninggalkan ruangan.

“Nyonya, apakah saya perlu menyiapkan supnya segera?”

…aku dipanggil “nyonya” sedari tadi, apakah ini benar-benar rumah sakit bourgeois?
Tunggu, apa ini memang rumah sakit?
Ada yang aneh…

“nyonya?”

“Ah, maaf. Bisa tolong siapkan supnya?”

Aku mendengar perutku berbunyi.
Aku merasa bisa makan seluruh baumkuchen saking laparnya.

Ketika aku mendongak, Suster-san, mungkin? terdiam dengan mulut menganga.
Apa dia baik-baik saja?

“apa ada sesuatu?”

“Ma-Maafkan saya! Akan segera saya bawakan!”

Tersadar, … Maid-san? Ya, ketimbang Suster-san, sepertinya memang lebih cocok maid.
Maid-san dengan segera meninggalkan ruangan.

Fuuh, capek, ngantuk, lapar… aku ngantuk… 

loading...