Thursday, 29 December 2016

Ubau Mono Ubawareru Mono Chapter 45 Bahasa Indonesia


Chapter 45: Pemburu Pemula ②

Kami dapat berhasil masuk ke dalam ruangan boss di lantai 10 dengan aman.

Para trio itu sekarang sudah menghancurkan «Firewall» and «Earthwall». Aku menyadari hal tersebut menggunakan «Jaring Sorgawi» tapi beruntungnya kami sudah mencapai warp pedestal.
(TL Note: "Lengkungan Pedestal" saya rubah jadi "Warp Pedestal")

Sebenarnya aku ingin memberikan buff kepada Lena dan Nina sebelum memasuki ruangan bossnya, tapi karena trio itu, rencana tersebut pun jadi terganggu. Setelah kami masuk, aku nyaris selesai memberikan buff sebelum bossnya muncul.
_


__ _

Boss yang terakhir kali kami lawan adalah Great Magic Monkey (Sebelumnya Great War Ape). Kali ini bossnya adalah Cyclops (subspecies). Nampaknya tiap kali boss muncul, yang muncul adalah acak, tidak pasti sama.

Karena bossnya hanya sendirian, 【Warcry】 tidaklah sebahaya seperti biasanya. Lena memulai pertarungan dengan menggunakan «Earth Lance». Itu adalah salah satu dari kelemahannya cyclops, sihir bereleman tanah.

Dia mencoba menghindar namun Nina mendekatinya untuk memotong kakinya. Monsternya mencoba untuk menghentikan Nina menggunakan 【Warcry】 tapi meleset. Nina kemudian dengan cepat memotong salah satu kaki monsternya. Setelah itu dia mengambil beberapa langkah lagi.

Sihir Lena tidak berhenti disitu. Dua «Earth Lance» diluncurkan lagi ke arah matanya.

"Goko... Gyaaa!"

Tombaknya mendarat di titik yang dituju. Akan tetapi Lena masih belum berhenti disitu. Dia terus melancarkan «Earth Lance» lagi dan lagi. Nina memotong tangan kirinya cyclops sementara «Earth Lance»-nya Lena tetap menusuk tubuh cyclops ke tanah. Nina nampak menambahkan beberapa racun ke belatinya karena memotong anggota tubuhnya tidak menunjukan adanya tanda-tanda regenerasi.

Dalam kemarahan, cyclops tersebut menarik keluar «Earth Lance» dari tubuhnya dan kemudian mencoba bergerak ke arah Lena. Meskipun begitu dia terjatuh lagi beberapa meter karena Nina memotong kaki satunya lagi.

"Go me ~n ne"

Disaat berikutnya, kepalanya si cycops itu pun terputus.
Nina mampu membunuhnya sendirian aku rasa.
Ketika aku membuka kotak harta yang muncul beberapa saat kemudian, satu buku ada didalamnya.

"Apa ini?" (Yu)

"Ntah, ini pertama kalinya aku melihat buku yang seperti ini." (Nina)

"...Buku sihir petir." (Lena)

—-

Book of Thunder (Beginner) : Sihir petir hingga rangking 2 dapat dipelajari.

—–

Memang benar itu adalah sebuah buku sihir jika kau melihat ke dalamnya.

"kalau kau membacanya, kau akan bisa menggunakan sihir berelemen petir." (Lena)

Buku ini meskipun hanya buku pemula, tapi bisa dijual setidaknya 20 gold.

"Jadi gimana?" (Nina)

"Karena yang mengalahkannya Nina dan Lena, kalianlah yang memutuskan." (Yu)

"Apa tidak apa?" (Lena)

Pernyataan tersebut cukup jelas. Tanpa menunggu lagi, Lena membaca bukunya sementara aku menguliti tubuh cyclops. Aku juga mencoba mengajari Nina skill 【Skinning】 tapi dia tidak berhasil.

"...Aku jadi lebih jenius.." (Lena)

Kelihatannya dia bersemangat untuk mempelajari sihir baru. Levelnya naik menjadi level 20, jadi sekarang saatnya baginya untuk mengambil job keduanya.

"Haruskah kita maju lebih jauh lagi?" (Nina)

"Jangan, orang-orang yang sebelumnya masih ada disana. Kita kembali saja ku guild untuk mengambil job keduanya Lena." (Yu)

Setelah itu kami menggunakan pedestal untuk kembali ke pintu masuk. Kami tidak melihat adanya tanda-tanda dari trio itu itu berarti mereka sedang menunggu kami di lantai 11. Jika ada sebuah party yang sedang bertarung dengan boss, party berikutnya akan dikirim ke lantai 11 sebagai gantinya. Terkadang beberapa adventurer menggunakan trik kotor untuk membuat mengorbankan seseorang untuk melewati ruangan bossnya. Jadi, kami kembali ke kota Comer sembari menghindari trio itu.

Seperti biasa ketika kami tiba di pintu masuk, para pedagang sudah mengantri. Disana juga ada kandang besar berbaris di sudut tempat.

"Aku dapat menggunakan 【White Magic】."

"Aku mempunyai 【Physical Strength Up lvl 2】, bagus untuk mengantarkan barang-barang."

Perbudakan, ada di dunia ini. Tubuh para budak kurus kering. Mereka sangat jelas kekurangan makanan dan kematian dengan segera menjemput mereka jika seseorang tidak membelikan makanan kepada mereka.

Lagi... Disana ada seorang budak yang tidak bisa aku lewatkan. Budak tersebut adalah gadis dark elf. Dia memiliki luka memar di mata kiri dan lehernya. Dia tidak bisa berteriak untuk menarik perhatian orang-orang. Aku tidak tahu apakah itu karena luka di lehernya atau mata yang sudah kehilangan cahayanya itu karena telah menyerah untuk hidup. Tapi, aku tidak bisa melakukan apapun untuk itu. Aku cukup melewatinya dengan cepat untuk menghindari tatapannya.

Ketika kami kembali, kami langsung pergi ke tempatnya Collet-san.

"Whoa! Ini kulitnya Cyclops (subscpecies)." (Collet)

"Dan, yang ini sudah digunakan tapi apakah masih bisa dijual?" (Yu)

Aku mengeluarkan buku sihir petir dan meletakannya di konter.

"Buku sihir?" (Collet)

Kemudian Collet-san menggunakan waktunya untuk memeriksa bukunya. Disaat yang bersamaan Nina dan Lena sedang memotong sayuran kentang-kentangan(?), menggorengnya dengan minyak dan menaburinya dengan garam. Itu adalah kepingan kentang dari dunia ini tapi rasanya sedikit manis. Makanan sejenis itu dibuat oleh ku tapi untuk penduduk di dunia ini cukup unik.
(TL Note: Asli gw ga ngerti sama paragraf di atas dan sempet2nya mereka masak sesuatu)

"Buku ini masih bisa dijual. Bagaimana dengan 5 gold coin" (Collet)

"Terima kasih. Aku akan menjualnya. Juga, ini tidak banyak tapi..." (Yu)

Aku memberikan beberapa kepingan kentang untuknya. Setelah mencicipinya sekali, kepingannya langsung lenyap dalam sekejap.

"Wha... Betapa tidak sopannya diriku.." wajahnya memerah, ditambah lagi dua resepsionis lainnya melihat ke arahnya.

"Tidak usah khawatir. Yang lebih penting lagi, Lena ingin mengambil job keduanya." (Yu)

"Baiklah, silahkan ikuti aku." (Collet)

Collet-san dengan cepat membawa kami ke ruang pengambilan job.

Setelah Lena meletakan tangannya di bola kristal, pilihan jobnya muncul.

Witch, priest, enchanter, sage, perfumer. Meskipun pilihan job milikku bisa dianggap luar biasa, Lena pun juga tidak ketinggalan. Witch tersedia. Itu adalah rangking yang lebih tinggi dibandingkan magician dan hanya tersedia untuk wanita, meskipun begitu, keinginannya yang sebenarnya adalah untuk menjadi seorang wizard.
(TL Note: Rada bingung juga sih. Ingat kan kalau dia pernah bilang dia ingin masuk ke sekolah untuk menjadi seorang wizard, apa sang author merubah plot ceritanya? Ataukah dia perlu untuk menjadi seorang wizard dulu buat masuk ke sekolah?)

"Untuk menjadi seorang wizard, persyaratannya adalah 【White Magic lvl 5】 dan 【Black Magic lvl 5】." (Collet)

Tentu saja jika menambah job sekarang, statusnya akan meningkat pesat tapi akan butuh waktu beberapa saat sebelum menambah job lagi.

"Kau bisa menaikan level skillnya pertama-tama kemudian kembali kesini lagi." (Yu)

"Itu ide yang bagus. Tapi biasanya kau menambah jobnya langsung dan mengambilnya kemudian." (Collet)

"Aku tidak masalah menunggu sebentar lagi sebelum mengambil job kedua ku. Tapi, akankah aku jadi beban?" (Lena)

"Tidak usah dipikirkan Lena, aku akan melindungi mu." (Nina)

"Terima... kasih.." (Lena)

__ _

Setelah kehilangan kesempatan untuk memburu kelompoknya Yu, para trio itu masih melanjutkan tindakannya.

"Kali ini kami mendapatkan mangsa yang bagus."

"Ya, ayo cepat."

"Oh, aku sudah menantikan ini."

Tidak lama setelah itu, 5 orang muncul di lantai 11 Labyrinth of Golgo dari warp pedestal.

"Kalian, apa yang kalian lakukan? Kalian semua ajin! Pergi sana. Kami tidak punya urusan dengan kalian."

Dia menggunakan istilah diskriminatif. Ajin, merupakan istilah untuk bangsa bukan manusia, seperti elf, dwarf, dan setengah naga.

"Hahahaha. Kau berani menyebut kami itu?" (Zero)

Zero tertawa keras mendengar itu.

"Ayo kita bunuh mereka sekarang." (Bol)

Akan tetapi Zero menghentikan Bol.

"Ada apa?" (Bol)

"Haruskah kita membuatnya jadi lebih menarik lagi?" (Zero)

"Apa yang kalian katakan? Kenapa kalian mengatakan hal-hal yang tak masuk akal?"

Pihak lain tidak cukup sabar dan mulai menyerang. Akan tetapi dalam sekejap, si penyerang memiliki lubang di dadanya.

"Siapa kalian?"

"Seya, apa kau sudah selesai menganalisa mereka?"

"Ya, mereka hanya berada disekitar level 22 sampai 26."

"Hahaha... Levelnya serendah itu?"

Dalam sekejap, satu demi satu mereka dikalahkan. Akan tetapi mereka tidak dibunuh. Hanya dibuat setengah mati.

"Tolong... Ampuni kami... Ini sudah cukup.."

Bol kemudian bergerak ke depan dan menggenggam rambut seorang wanita.

"Too... Tolong hentikan..."

"Oh? Apa ini orang yang kau cintai?" (Zero)

"Iya, tolong... ampuni aku."

"Bol, kau dengar itu? Dia meminta pengampunan." (Seya)

"Baiklah!" (Bol)

Dalam sekejap, "Guaaaaah!" tangannya terpotong. Tidak benar-benar terpotong, tapi nyaris terpotong.

"Bol, kau sungguh punya hobi yang buruk." (Zero)

"Tapi tidak seburuk Seya." (Bol)

Seya saat ini sedang menggunakan sihir pemulihan untuk memperbaiki lukanya.

"Selesai. Bol, yang ini sudah diperbaiki lagi." (Seya)

Dengan senyuman, Seya terus menyembuhkan yang terluka.

"Baiklah, ini adalah ronde kedua." (Bol)

Bol dan Seya kemudian terus mengulang rutinitasnya. Potong, sembuh, potong, sembuh, sampah mereka sudah tidak bisa berteriak lagi.

"Bol, Seya, aku akan menikmati ceweknya." (Zero)

Zero berkata seperti itu sembari membawa wanita itu ke pojokan.

"Baiklah." (Seya)

"Fuh... Kira-kira kapan ya aku bisa memotong kepala bocah berambut hitam itu..."

__ _

 __ _


loading...