Friday, 23 December 2016

Ubau Mono Ubawareru Mono Chapter 43 Bahasa Indonesia


Chapter 49: Mata Busuk

Setelah menyelesaikan perburuan di hutan besar, kami kembali ke kota Comer.

Sepanjang jalan, mata Joseph memerah karena badai pasirnya dan terkejut ketika dikejar oleh Zombie King Goblin.


.....

Ketika kami menyerahkan tanaman herbal yang kami kumpulkan ke Collet-san, dia terkejut.

"Yu, ini luar biasa." dan ketika dia menyadari kualitas tanamannya, dia semakin terkejut.

"Rumput sihir, rumput rembulan, kembang pokko, semuanya berada dalam kondisi yang sangat baik." (Collet)

"Collet-san, tolong tenanglah." (Yu)

Dia berbicara dengan semangatnya hingga beberapa air liur keluar dari mulutnya, kemudian wajahnya pun langsung memerah.

"Ah... Maaf.. Bagiku untuk tidak berlaku sopan seperti itu." (Collet)

"Yang terpenting, bagaimana dengan rumah yang aku tanyakan kemarin?" (Yu)

"Tentu saja aku tidak lupa. Ada lima properti yang memenuhi kriterianya." (Collet)

Aku melihat ke kertas yang dia berikan padaku. Ya, semuanya memiliki biaya uang muka 50 gold coin, beberapa darinya memiliki ukuran yang bagus dan punya banyak ruangan.

"Rumah ini sangat besar." (Yu)

"Ya, rumah itu merupakan mansion seorang aristokratis, tapi lokasinya berada di luar tembok kota Comer sehingga keamannya kurang. Monster-monster terkadang datang menyerang jadi... Bagaimana dengan yang satu ini?" (Collet)

Sebenarnya aku tidak begitu peduli dengan keamanannya. 【Specter Magic】 dapat digunakan untuk menghidupkan kembali monster mati untuk menjaga rumahnya tetap aman.

"Tidak usah khawatir. Aku akan memeriksanya saat ini juga." (Yu)

"Aku mengerti" Collet-san menjawabnya dengan suara pelan. Kalau ini bukan karena skill 【Sharp Hearing】, aku tidak akan mendengarnya. Dia terlihat cukup murung. Apa itu karena setelah aku membeli rumahnya, dia mengira kalau aku tidak akan datang kemari lagi?

"Baiklah, kamu akan segera pergi sekarang. Karena kami masih akan tinggal di kota, kami masih memerlukan bantuanmu, Collet-san." (Yu)

"Serahkan saja padaku!" Dia kembali ke keadaan dia yang sebelumnya ketika dia mengatakan itu.

Hari berikutnya, kami juga melakukan beberapa quest. Tentu saja Joseph masih mengikuti kami. Rasanya menjengkelkan. Rutinitas kami terus berlanjut seperti itu selama dua minggu. Kami masih membuat kemajuan. Pengendalian 【Barrier】-nya Lena kini telah sempurna. Dia dapat menjaganya selama beberapa jam. Rangking Nina meningkat juga dari E ke D. Juga pemeriksaan awal rumahnya telah selesai.

Pilihan kami jatuh ke sebuah mansion megah yang memiliki 2 lantai dan sebuah kebun. Disana juga ada beberapa peralatan sihir yang dipasang di dalam, tapi seperti yang kubilang, itu hanyalah peralatan sihir sederhana.

"Kita jadi punya rumah!" (Nina)

Itu rumah ku.

"Rumahnya terlalu besar untuk 3 orang.." (Lena)

Tentu saja untuk 3 orang ntuh rumah kebesaran. Mulai dari membersihkan hingga membeli perabitan, seharian penuh akan dihabiskan. Seriusan deh, aku perlu untuk menyewa seorang maid.

"Fuuh... Penginapan lebih baik karena kita nggak perlu ngebersihinnya, tapi perasaan karena punya rumah itu berbeda." (Nina)

"Setuju.." (Lena)

"Kalian... Apa coba gunanya ngebeli rumah besar kalau kalian cuman menetap di kamarku!" (Yu)

Ketika aku tiduran di kasurku, Nina dan Lena juga ikutan naik.

"Aku akan mati karena kesepian kalau aku jauh-jauh dari Yu." (Nina)

"Apa kau ini seorang hewan peliharaan yang membutuhkan tuannya?" (Yu)

"Sniff sniff." (Lena)

Dan Lena mulai menciumi bau badanku. Jujur saja aku menyerah dengan cewek-cewek ini.

....

Si Goblin King nampaknya berburu dengan lancar di dekat rumah. Dia tidak mati ketika berhadapan dengan Joseph jadi itu dah bagus. Meskipun dia tidak memiliki skill, tapi tidak ada monster yang ada di hutan besar yang sanggup membunuhnya dengan mudah.

Hari berikutnya, kami pergi menuju Labyrint of Golgo lagi. Karena Nina dan Lena tumbuh menjadi lebih kuat, kami sekarang mungkin sudah mampu pergi ke lantai 21 setelah membunuh boss di lantai 20. Di pintu masuk, seperti biasa, kami bertemu dengan si tukang buff.

"Yo, lama tidak berjumpa, nak. Apa kau butuh buff?"

"Ada yang baru?" (Yu)

"Fufu.. Fuhahaha! Tentu saja, aku dapat mengaktifkan Magic Barrier, Energy Absorption dan Magic Absorption."

Magic Barrier, tentu saja itu untuk meningkatkan ketahanan akan sihir. Energy Absorption dan Magic Absorption adalah untuk meresap beberapa damage untuk mengurangi damage yang diberikan untuk HP dan MP. Si tukang buff ini mungkin adalah orang hebat.

"Baiklah, gunakan semuanya padaku." (Yu)

"Kenapa selalu kau?"

"Yang terpenting, apa kau satu-satunya tukang buff disini?" (Yu)

"Iya, memang akan lebih baik untuk pergi ke dungeon yang lebih tinggi, tapi biasanya party rangking yang lebih tinggi sudah punya tukang buff-nya sendiri."

Tentu saja, itu adalah supply dasar dan tuntutan.

Setelah kami memasuki dungeon, dalam kurang dari 30 menit kami sudah mencapai lantai 7. Setelah aku memasang buff pada Nina dan Lena, aku kembali membuat potion.

"Hari ini, kita akan mencapai bagian yang terdalam." (Nina)

"Tidak masalah dengan kekuatan kita." (Lena)

Bagaimana mungkin mereka malah bermain-main seperti itu.

Tidak lama setelah, "Jaring Sorgawi" ku menangkap beberapa pergerakan. Pergerakan itu bukanlah dari monster, tapi ternyata manusia. Nina juga menyadari kehadirannya sekarang.

"Halo."

Dia adalah setengah manusia dan setengah manusia naga. Dia datang bersama dengan seorang dwarf dan seorang elf.
(TL note: Perbedaan manusia naga dengan orang diatas... Jika manusia naga adalah naga tapi berbentuk manusia, yah seperti Lizardman. Sementara orang diatas adalah manusia tapi sebagian tubuhnya adalah tubuh naga.)

"Hai, namaku adalah Zero, dwarf ini adalah Bol dan si elf adalah Seya. Bagaimana kalau kita membentuk party? Bol dapat menggunakan perisai dan Seya menggunakan sihir. Kurasa kami dapat berguna." (Zero)

Manusia naga itu mendekati kami dengan senyuman, tapi aku mengambil sikap yang dapat menyerang kapanpun. Jujur saja, mereka terlalu mencurigakan.

"Maaf, aku tidak ada minat untuk bergabung." (Nina)

"Aku juga tidak mau." (Lena)

Wajah si manusia naga itu kemudian menunjukan sedikit ketidaknyamanan, lebih seperti kekecewaan kalau boleh jujur.

"Kenapa? Dari apa yang kulihat kau punya seorang pengintai dan seorang healer. Kalau kita membentuk party, kekuatan kita akan meningkat." (Zero)

"Bagaimana kalau kami coba menunjukan kekuatan kami dengan bertarung melawan beberapa monster?" (Bol)

"Bukan tawaran yang buruk kan?" (Seya)

Si dwarf dan elf juga mencoba membujuk kami.

"Maaf, tapi aku harus menolaknya." (Yu)

Seriusan, mereka terlalu mencurigakan. Perlengkapan mereka buruk meskipun untuk dungeon rangking D. Aku mencoba untuk memeriksa level mereka.

Manusia naga adalah level 36, dwarf 33 dan elf 35. Level dan perlengkapan mereka tidak seimbang.

"Baiklah, beri tahu saja kami kalau kau berubah pikiran." (Zero)

Meskipun dia berkata seperti itu, ekspresinya berkata sebaliknya. Kamudian aku hanya melihat mereka berjalan pergi.

"Mereka udah pergi kan?" (Nina)

Sepertinya kebencian Nina terhadap laki-laki masih belum pulih.

"Mereka cukup aneh." (Lena)

Lena sudah merasakan pengalaman ikut party orang lain sebelumnya dan tidaklah aneh bagi para adventurer untuk merekrut seorang healer.

"Akan lebih baik untuk mengawasi mereka." (Yu)

"Kenapa?" (Nina)

"Mata mereka busuk, dan aku dapat mencium bau darah yang kuat. Mungkin, mereka seperti ku.." (Yu)

Mata mereka, itu adalah mata yang sama dengan si penagih hutang, mata yang sama dengan ayah tiriku. Itu adalah mata yang busuk. Sama juga sepertiku...

"Oi.. Apa yang kamu lakukan?" (Yu)

Nina mendorong dahinya ke dahiku, wajahnya sangat dekat denganku.

"Mata Yu, meskipun hitam, matanya tidaklah busuk. Matamu imut, lho~" (Nina)

"...Bau Yu tidak berbau seperti darah... Baunya Yu.. enak.." (Lena)

Lena memelukku dari belakang dan mulai mengendusi tubuh ku.

Seriusan deh, kalau bukan karena posisi aneh ini, aku akan mengirimi mereka chop ke kepala mereka.

loading...