Sunday, 4 December 2016

Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Chapter 6 Bahasa Indonesia


Translator: Alice
Editor: Ise-kun 

Chapter 6: Mungkin, Pertarungan Pertama ku Adalah Melawan Boss.

Taring yang akan dengan mudah menghancurkan manusia datang tepat didepan mataku.

Karena aku memiliki tubuh manusia super aku bisa menghentikannya. Sini maju kalau berani.

...

Nggak mungkin aku akan mengatakan itu! Tidak ada di dunia ini yang lebih tak masuk akal dari pada aku!!

Ada yang mengatur semua ini, tidak, ini bukanlah melebih-lebihkan tapi ini adalah kenyataan!

Dengan panik, aku melompat ke belakangnya.

Naga itu, tanpa peduli kalau gigitannya meleset, ia mulai mendekatiku lagi. Serangan gigitan berikutnya datang!

Ular yang terbang ditengah udara, sekarang kalau aku pikir lagi mengenainya, gerakannya benar-benar sulit untuk diprediksi!?

"Apa!?" (Shen)

Memutar tubuhku, aku melompat ke samping.

Selamat! Aku masih hidup.

Aku tidak membiarkan naga itu terlepas dari pandanganku. Dengan melihat ukuran mulut besarnya yang bisa dengan mudah menghancurkanku, entah kenapa aku bisa memastikan ukuran kepalanya.

Aku mencoba mencari tahu, seberapa besar seluruh tubuhnya.

Apa, jadi ia berkali-kali lipat lebih besar dari pada kereta peluru, huh. Aku tidak yakin dengan panjang tubuhnya sih.

...

Aku akan mati!!

Event bodoh macam apa ini, pengawas! Hey Serangga(Dewi), keluarlah Serangga!!

Kau pastinya punya senjata legendaris atau alat legendaris yang bergeletakan disana 'kan!?

Akhirnya kabutnya turun ke bawah sini.

Aku tak bisa melihat sekelilingku maupun juga tanganku sendiri dengan jelas.

Bahkan aku tak bisa melihat dimana aku berdiri.

Ada naga besar didekatku, namun aku tak bisa melihat sosoknya.

Terlebih lagi, kalau naga itu bergerak, seharusnya kabutnya juga bergerak dengannya. Tapi kabutnya terus tenang dan diam ditempatnya.

Seseorang yang menciptakan kabut itu pasti adalah naga itu, Shen huh. Tidak adil.

Selain itu, keberadaannya.

Bahkan untuk tidak bisa merasakan apapun, itu terlalu aneh. Bagaimanapun juga kabut ini bukanlah kabut yang normal.

Tidak menguntungkan, ini adalah situasi yang benar-benar tidak menguntungkan.

Suatu hawa dingin terasa di bawah tengkuk leherku.

Aku lari pada saat itu dan kemudian menoleh untuk melihat kebelakang.

Mulut yang besar berada disana.

"Apakah itu adil kalau aku sama sekali tak bisa merasakan keberadaannya!?" (Makoto)

Aku tidak memiliki celah untuk menyerang balik.

Saat kau bertarung dengan lawan yang bertubuh besar, hal pertama yang seseorang pikirkan adalah memanfaatkan celah dan waktu yang tepat dalam serangannya untuk menyerang balik. Tidak bisa dipungkiri kalau kau harus menghindar dan bertahan dari setiap pukulan yang lawan lakukan. Mungkin,

Bagaimanapun, kesimpulan yang kudapat dari seluruh game aksi dan game pertarungan adalah pada saat ini, aku harus tenang. Di jenis situasi seperti ini, aku tak boleh bertahan dengan ceroboh.

Tapi aku tak bisa melihat tubuhnya dan ia bisa tiba-tiba muncul dibelakang dan melahapku. Kalau seperti itu, aku tak bisa melawannya! Metode game macam apa ini!

Seperti bertarung dengan boss terakhir dalam game pertarungan baru yang kau miliki.

Dan terlebih lagi, setelah menghindari tubuh yang seperti ular itu, kepalanya datang.

Jika aku menghindari serangannya, kepala itu akan datang tepat didepanku untuk melahapku. Itulah kenapa aku tak bisa menentukan saat yang tepat untuk menyerang tubuhnya. Dan bahkan aku tidak tahu jika ada cakar disana juga.

Apa yang harus kulakukan!? Apa yang harus kulakukan!?

3 kartu biru mulai melayang didalam pikiranku. Yah, bukankah kita sudah cukup tenang? Ayo kita lihat.

1. Kau bisa menghindarinya dengan semangatmu dan menyerangnya!
2. Bersihkan saja kabutnya, sekarang pergilah dan hembuskan beberapa angin!
3. Orang yang pertama menyerang terlebih dulu adalah pemenangnya! Serang secara acak!

Yang pertama kelihatannya mustahil. Indera keenamku memberitahuku kalau aku tak bisa menyerang disituasi seperti itu.

Yang kedua itu. Panggil Zhuge Liang.
(TLnote: Zhuge Liang adalah ahli strategi militer Tiongkok yang terkenal pada periode Tiga Kerajaan, di wikipedia T.T Zhuge Liang meminjam angin tenggara di pertempuran Chibi)

Yang ke tiga, Menurunkan kekuatan seranganku dan bergantung pada kecepatan untuk menembak kesegala arah.
Bagaimanapun, Aku bisa melemparkan bola api ke seluruh tempat dan menemukan lokasi musuh.

Dan setelah aku memastikan lokasinya, aku akan menembakkan panah api.

Ya, itu. Yang ketiga kelihatannya bisa dilakukan.

Lebih seperti, dengan kepalaku, itu adalah batasnya.

Aku hanya harus melakukannya. Didalam jarak yang mendekati nol seperti ini, aku tak berpikir aku akan bisa bertahan lama. Jika aku jatuh dalam rasa panik, aku akan diburu.

~ Sudut pandang Shen~

Menyelimutinya dengan kabut, aku akan membuat lawanku sadar akan seranganku dan kemudian menyeretnya kedalam 'Asora' dan membunuhnya.

Aku dalam jajaran naga adalah salah satu yang paling unggul. Aku disebut sebagai 'yang tak terkalahkan'

Tapi alasan diriku menjadi yang tak terkalahkan adalah karena kekuatanku 'Asora'

Menggunakan kabutku sebagai perantara, aku bisa menyeret apapun yang kabutku tangkap ke dalam dunia yang telah kuciptakan.

Di dunia itu aku bisa membatasi sihir dan aku bisa membelokkan hukum fisika.

Bagiku, kalah ditempat itu adalah hal yang mustahil.
Lagian, diriku didalam Asora kan bukanlah tubuh asliku.

Tubuhku dalam berbagai cara telah terpisah jadi meskipun jika aku kalah disana, tubuhku yang sebenarnya tidak akan berada disana lagi.

Begitu aku menyeretnya kesana, aku hanya tinggal mundur saja. Disituasi itu, aku bisa menyerangnya secara sepihak.

Di masa lalu, belum pernah ada kejadian dimana aku belum bisa menyingkirkan musuhku di Asora.

Dan aku berencana untuk melakukannya pada orang bodoh yang menghancurkan gerbangku.

Sebelum kabut itu tiba, aku akan menggigitnya 2 kali, dan pada saat kabut itu sampai, aku hanya akan perlu menggunakannya sebagai perantara dan membawanya ke Asora, dengan itu seharusnya semuanya sudah selesai.

Namun.

Aku tak bisa menyeretnya.

Tidak peduli berapa kalipun aku mencoba, aku merasa seperti mencoba memasukkan sesuatu yang besar kedalam lubang yang kecil secara paksa.

Apakah pintu yang kubuat terlalu kecil?

Kalau begitu, aku hanya akan harus memburunya didalam kabut ini.

Aku mencoba menyerangnya dari belakang.

Tapi entah bagaimana dia bisa mendeteksinya dan menghindarinya.

Benar-benar Hyuman yang merepotkan. Tapi dengan ini aku tak bisa hanya membunuhnya.

Aku harus memeriksa kenapa aku tak bisa menyeretnya ke Asora.

Bagaimana dia bahkan bisa menghindariku didalam kabut yang seharusnya menurunkan seluruh panca indra. Apakah itu hanyalah sebuah kebetulan?

Kalau ini terus berlanjut, ketidak terkalahkanku akan mulai goyah.

Jika seseorang yang menghasutnya untuk melakukan ini pada naga unggul yang lain, maka aku pasti harus menuntaskan masalah ini.

Aku hanya tertidur di ujung dunia ini, jadi aku tak tahu kalau ada hal yang negatif yang telah kusebabkan sih.

Jika itu hanya karena ia iri pada gelar tak terkalahkanku maka aku tak kan memaafkannya. Tidak peduli siapa musuhnya, aku akan mengalahkannya.

Aku memeriksa keadaan hyuman itu. Didalam sudut pandangku, aku bisa melihatnya dengan jelas.

Apakah itu bola api? Dia melemparkannya kemana-mana.

Sayang sekali, Aku memiliki ketahanan terhadap elemen-elemen. Pada tingkat itu, aku akan bisa dengan mudah menahannya.

Keputusan ini adalah kesalahan.

Aku mulai mengelilingi mangsaku sambil berhati-hati terhadapnya. Tentu saja aku membaca lintasan dari brid-nya itu dan menghindarinya, tapi...

Salah satunya mengenaiku.

Bola apinya mengenai tubuhku.

Tidak terasa sakit sedikitpun tapi kabut yang mengelilingiku sedikit pudar. Tubuhku yang bersisik sekarang terlihat jelas.

Pada kecepatan yang bisa dikatakan hanya sekejap.

Hyuman itu memusatkan maryokunya dan menciptakan brid pekat yang tidak biasa. dan dengan akurat mengarahkannya ke tubuhku.

Aku mencoba menekuk tubuhku untuk menghindarinya tapi.

Aku tidak sempat melakukannya, dalam sekejap, seolah-olah itu adalah sebuah panah, brid itu dengan tajam datang kearahku dan 'menusuk' tubuhku.

Dalam tubuhku yang tahan terhadap api, brid yang sama yang aku seharusnya tak bisa merasakan panasnya dan itu adalah brid yang datang dari Hyuman yang sama tapi.

Brid itu menusukku dengan kecepatan yang luar biasa dan meledak.

Panas yang luar biasa dan juga terasa sakit.

"Agyaaaa!!!" (Shen)

Tanpa menyadari kalau ledakan itu telah membersihkan sebagian kabut yang ada disekitarku.

Aku, untuk pertama kalinya dihidupku, telah melakukan hal yang disebut 'menjerit'.

Tubuhku, bagaimana tubuhku!?

Tidak menyadari situasiku sendiri, aku yang pada saat itu dengan terburu-buru memeriksa tempat yang telah terkena serangan.

Bagian yang telah mendapat serangan mengerikan itu telah setengah terbakar dan tercungkil.

Dari dalam hatiku yang telah kosong dengan rasa takjub segera dipenuhi dengar amarah.

Dengan mata merah aku mencari hyuman itu!

Dia bukanlah seekor mangsa lagi. Dia bukanlah mangsa yang harus kuburu. Dia adalah musuh bebuyutan yang harus kuhancurkan!

Tapi sekarang aku seharusnya tidak cemas terhadap lukaku.

Seharusnya aku tidak kehilangan keberadaannya.

Setelah mencarinya, akhirnya aku telah menemukannya dalam jangkauan penglihatanku!

Dia berada dekat dengan titik butaku.

Apa ini, apa ini, apa-apaan dia ini!!

"Tusukan tangan Keputusasaan!" (Makoto)


Tusukan!

Mengatakan sesuatu yang aku tak bisa pahami dengan baik, dia mendorong tinjunya kearah pipiku.

Terasa seperti palu telah memukulku, bagian didalam kepalaku terasa seperti ada bintang yang berputar-putar. Ini bukanlah kekuatan fisik dari seorang Hyuman! ini seperti seekor Ogre ataupun raksasa, atau mungkin bahkan jauh lebih kuat dari pada itu!?

"Kalau itu tidak cukup, maka... Backfist!" (Makoto)


Selain itu, dia menyerangku ditempat yang sama!!

Dan kekuatannya tidak sama dengan yang terakhir tadi!

Kekuatan yang luar biasa. Bukan hanya wajahku, tubuhku terhempas ke arah yang berlawanan.

Tapi setelah seluruh cedera itu, kesempatan telah tiba!

Dengan ini aku akan bisa masuk kembali ke dalam kabutku.

Aku koreksi kata-kata ku. Hyuman ini berbahaya, dia jelaslah tidak normal. Tidak diragukan lagi kalau dia dibawah perlindungan ilahi dari seseorang.

Sudah kuduga, apa itu dari salah satu naga unggul? Dia adalah hyuman, sejenis penguatan seperti ini tak bisa dipercaya.

Kalau begitu, itu berarti... Dewa!?

Dewi yang selalu berubah-ubah itu!?

Kalau itu dia maka itu bukanlah mustahil. Tapi Hyuman ini memiliki penampilan seperti orang biasa.

Dia tidak terlihat seperti seseorang yang bisa mendapatkan kasih dari Dewi itu.

Kalau begitu siapa sebenarnya yang melakukan itu? Aku tidak akan mundur dari rasa sakit ini, ini adalah pertama kalinya aku dipukul diwajahku. Bagian yang terbakar ditubuhku masih terasa sakit.

Tunggu saja!

!?!?!?!?!?

"Kenapa ditempat ini aku..? " (Shen)

Mustahil. Tidak peduli bagaimana caranya, didalam kabut itu seharusnya mustahil. Memang benar kabutnya telah menipis, tapi bisa-bisanya dia untuk..

"Sekarang, karena sudah seperti ini, aku akan menggunakan kemampuan membunuhku.." (Makoto)

Tangannya mulai memerah. Dia mengatakan kata yang benar-benar berbahaya. A-apa yang dia.. coba lakukan?

“Frog Jump UPPER!!” (Makoto)


Dia melemparkan tinjunya ke arah daguku.

Kemudian.

"Jadilah BINTAAAAAAAAAAAAAAANG!!" (Makoto)

Setengah dari tubuhku telah diterbangkan oleh pukulannya. dan seperti itu tubuhku remuk ke arah yang berlawanan.

Aku hampir tak bisa mempertahankan kesadaranku.

Meskipun jika aku belum binasa, ini adalah dilema yang berbahaya.

Penghinaan macam apa ini.

Aku tidak peduli mengenai metode yang kugunakan. Aku mengerti ini dengan baik.

Dalam keadaan jatuh, aku pura-pura telah kehilangan kesadaran dan mulai mencari lokasinya didalam kabut.

Diam-diam aku menghembuskan kabut yang digunakan untuk fatamorgana.

Bahkan tanpa Asora, kekuatanku tidaklah sesederhana itu.

Kemampuan dasarku yang sebenarnya adalah fatamorgana. aku bisa mengintip ke dalam ingatan targetku, dan setelah itu aku bisa membuat ilusi yang musuhku inginkan ataupun yang tidak dia inginkan.

Jika aku membuat sebuah barier kabut yang tebal dan menuangkan kekuatanku, aku bisa membuat ilusi yang lebih nyata sampai pada titik dimana tidak ada bedanya dengan kenyataan.

Entah kenapa aku tak bisa menyeretnya ke Asora.

Kemudian sambil mempertimbangkan situasi yang tak terduga dalam perhitunganku, aku akan menjebaknya didalam kabut ini dan 'mempertahankannya' sampai dia mati.

Tidak bagus jika ilusinya bukanlah suatu ilusi yang tidak ia inginkan, mungkin akan ada masalah kalau dia memberontak.

Memperlihatkannya ilusi yang ia inginkan, didalam kebahagiaan itu dia akan mati kelaparan. Hyuman, tidak peduli seberapa kuatnya dirimu, dalam waktu 10 hari kau pasti akan mati.

Jika 10 hari pun tidak cukup, 1 bulan, aku bahkan bisa melakukannya selama 1 tahun.

Dengan kebulatan tekadku yang baru, aku mencari hyuman itu.

Untuk berpikir aku akan harus pura-pura mati dan harus memilih cara membunuh yang seperti menjilat ini.

Dengan punggung tegaknya, pria itu bernapas lega.

Tapi dia hanya berpura-pura. Kabut disekitarnya memberitahuku kalau pria itu belum menurunkan penjagaannya. Sikap macam apa itu.

Dan dia perlahan lahan menepi, ia memeriksa sekelilingnya. dan tanpa sedikitpun kelalaian, dia 'keluar dari kabut'

Kali ini pasti, kehati-hatiannya akan mengendur. Itu adalah sesuatu yang normal. Tidak diragukan lagi bahwa dia berpikir kalau 'dia keluar dari kabut'!

Dia tidak merapal sebuah aria!

Sekarang. Tempat dimana dia berada adalah sebuah pemandangan 'diluar kabut' yang aku proyeksikan tapi masih tetap 'didalam kabut'

Aku bisa melakukannya!

Aku membuka mataku! dan Hyuman itu melompat menjauh dalam satu napas. Seperti yang kuduga, untuk berpikir kalau dia bisa bergerak sepanjang itu.

Tapi kau terlalu lambat.

"Ini adalah akhirnya!" (Shen)

Dengan banjiran emosi, aku menciptakan sebuah ruang persegi yang dibungkus dengan barier kabut.

loading...