Sunday, 18 December 2016

Seirei Gensouki ~Konna Sekai de Deaeta Kimi ni~ Chapter 2 Bahasa Indonesia


Translator: Exicore
Proofreader: Ise-kun

Chapter 2: Kebangkitan

Tahun 991 dari Kalender Suci.

Benua Yufilia, Kerajaan Beltram.

Di sudut daerah kumuh Ibukota, dengan dada yang terasa sangat sakit, seorang bocah sedang berbaring di tanah.

“Ha~, ha~…”

Bahkan setelah ia membuka matanya, rasa sakit yang ia rasakan tidak bisa hilang dan terus menyita perhatiannya. Mengetahui hal itu, bocah itu memegang dadanya dengan erat.

Sebelum ia menyadarinya, tubuhnya sudah dipenuhi keringat.

Seluruh tubuhnya terasa panas.

Serasa dagingnya terbakar.

Tiba-tiba, seperti keajaiban, rasa sakit itu pelan-pelan menghilang, dan rasa hangat menyebar ke seluruh tubuhnya.

(Apa itu tadi…?)

Bocah itu tidak mengerti apa yang baru saja terjadi, hanya saja rasa sakit yang ia rasakan pelan-pelan menghilang.

Saat ia kembali pulih, dia mulai melihat ke sekelilingnya.

Apa yang ia lihat adalah gang yang gelap dan kotor dipenuhi dengan rumah kayu rapuh yang berjejer.

Bau tidak sedap masuk ke hidungnya. Dia mengkerutkan dahinya karena bau itu, tapi karena bau itu pula kepalanya terasa sedikit lebih baik.

Ia mengangkat kepalanya, melihat ke atas langit biru yang terpantul di matanya.

(Perasaan aneh apa itu tadi? Dan mengapa aku berbaring di tanah?)

Baru saja terbangun, ia tidak bisa berpikir jernih meski pun tidak ingat pernah mengonsumsi sake.

Dia menyadari bahwa rumah di sekitarnya memiliki rancangan aksitektur yang jauh berbeda dengan yang ada di Jepang.

Terlebih lagi, tubuhnya tidak dalam kondisi terbaik. Mungkin itu karena ia sakit akibat tidur di jalan. Sendi-sendinya juga terasa sakit.

(!?)

Dia mencoba menggerakkan tubuhnya lagi, dan menyadari sesuatu. Teriakan bisa terdengar dalam kepalanya.

Ia kemudian melihat seorang anak kecil.

Aku seharusnya sudah kuliah.

Tidak, aku seharusnya adalah seorang anak yatim piatu.

(Apa arti dari semua ini?)

Bocah itu bingung karena memori yang tumpang tindih.

Berpikir pelan-pelan mengenai masalah itu, bocah itu kemudian mengarahkan pandangannya ke tangan dan kakinya.

Itu bukanlah kulit sehat yang seharusnya dimiliki oleh penduduk negara kaya seperti Jepang.

Dan terlebih lagi, kulitnya kering dan tubuhnya kurus karena kekurangan nutrisi dan juga karena ia tertutupi oleh tanah.

Bocah itu mencoba untuk meluruskan pikirannya; tidak ada ingatan tentang ia pernah mandi.

(Yang benar saja…)

Dia secara tidak sadar menyangkal dirinya sendiri saat ia melihat tubuhnya yang kotor.

Dia menggunakan pakaian dari kain lusuh.

Tentu saja, ia juga tidak memiliki sepasang sepatu.

Namun, dia masih tetap bersyukur karena ada sesuatu untuk dikenakan.

Dia tidak tahu bagaimana tampang wajahnya, tapi dia tahu bahwa rambutnya yang sedikit kotor oleh debu berwarna hitam.

Anggota badannya berada dalam kondisi yang sama seperti pakaiannya tapi tidak dengan pikirannya.

Mendinginkan kepalanya, dia berusaha mengevaluasi keadaan.

Namanya adalah Rio, dan juga Amakawa Haruto.

Melihat ingatannya, ia merupakan seorang anak berumur tujuh tahun di dunia ini, dan juga seorang pria Jepang berusia 20 tahun.

Kepalanya diserang rasa sakit karena rasa lapar yang luar biasa. Setelah mengetahui hal itu, ia memilih untuk duduk di tanah dan berpikir.

Dia, sebagai Amakawa Haruto punya ingatan hingga tepat sebelum ia mati.

Dia juga punya ingatan kehidupan Rio hingga hari ini.

Dia tidak tahu alasan mengapa ia tidak sadarkan diri di jalanan, tapi itu tidaklah penting.

Memiliki ingatan Amakawa Haruto ditambah dengan ingatan Rio, ia berhasil menyimpulkan bahwa, ia tidak lagi di bumi.

Rio, adalah anak yatim tanpa pendidikan, tapi dia tahu nama negara yang ia tempati.

Dinilai dari tingkat peradabannya dan juga mempertimbangkan faktor lain yang membawanya ke kesimpulan bahwa negara itu tidak ada di Bumi, Amakawa Hakuto tahu.

Mungkin saja, ia telah berenkarnasi.

(Tapi sulit untuk dipercaya… Tidak, mungkinkah ini hanya mimpi?)

Tapi saat Rio berpikir keras mengenai situasi itu, kemungkinan bahwa ia ada dalam mimpi semakin kecil.

Pikirannya terlalu jernih untuk menyatakan bahwa itu adalah mimpi.

Menenangkan dirinya sendiri, dia berusaha namun gagal menemukan keanehan pada dirinya sendiri.

Kemungkinan paling besar, adalah gejala seperti flu yang membuat persendiannya sakit. Ini adalah kenyataan dan dia sudah meyakinkan dirinya sendiri.

Rio tidak pernah mendengar keberadaan negara itu sebelumnya di bumi. Hal seperti Raja dan Bangsawan, yatim piatu tak berumah yang menjadi budak, tidak adanya listrik dan juga ilmu pengetahuan. Ditambah lagi, keberadaan monster. Ini bukanlah mimpi dan juga Bumi.

Sekarang, Rio berada di distrik kumuh ibukota Kerajaan Beltram.

Sangat tepat untuk mengatakan bahwa kondisinya sekarang sangat buruk dan bila terus seperti itu, ia akan mati sebentar lagi.

Sepertinya ia selamat hingga saat ini karena keberuntungan.

Hanya anak yatim piatu yang beruntung yang bisa hidup di Panti Asuhan. Bagi mereka yang tinggal di lokasi kumuh, mereka harus terus berjuang; mencari sisa-sisa makanan dan juga mencopet.

Jika dia beruntung, dia mungkin bisa membeli roti keras yang murah melalui uang yang telah ia dapat. Bukanlah hal yang mengejutkan bila ia kekurangan nutrisi.

Itulah yang Rio lakukan setiap hari untuk bertahan.

Dalam kondisi seperti itu, sebenarnya, tidak aneh bila ia terjatuh dan mati di jalanan.

Untuk sementara, dia harus mendapatkan makanan, tapi dalam kondisinya yang sekarang itu akan sulit.

Merupakan hal yang biasa bagi mereka yang lemah untuk berkumpul, tapi karena rambut hitamnya yang tidak biasa, Rio dijauhi.

Sebagai hasilnya, dia menjadi kesulitan berkomunikasi dengan anak yatim piatu yang lain. Ia menghalalkan segala cara untuk bertahan.

(Sekarang aku harus menemukan tempat tinggal dan tempat kerja, tapi…)

Sulit untuk menemukan tempat yang ingin memperkerjakan anak yatim piatu.

Lebih mudah bagi mereka untuk menganggap bahwa yatim piatu tidak pernah ada.

Jika dia memang bisa menemukan pekerjaan, maka itu pasti adalah sebuah pekerjaan kasar dengan gaji kecil.

Menyadari hal itu, ia mulai memikirkan keuntungan macam apa yang ia miliki di dunia ini. Kemampuan yang ia punya sebelumnya mungkin akan berguna.

Kebanyakan kemampuan yang ia punya berasal dari hidupnya yang sebelumnya.

Dia bisa menghitung sudah termasuk keuntungan besar. Untungnya, negara ini sudah mengenal sistem desimal.

Kemampuan lainnya yang mungkin berguna adalah, kemampuan bela diri, memasak, dan beberapa kemampuan untuk melakukan kegiatan sehari-hari lainnya.

Dia sudah mengingat cara melakukan itu semua.

Tapi, sekarang ia tidak punya nilai jual dalam masyarakat, yang membuatnya sulit untuk menggunakan kemampuannya.

Bagaimana pun, dia tidak bisa memecahkan masalah itu hanya dengan berdiri di sana.

Merasa ia perlu menghilangkan rasa laparnya, dia mulai berkeliling kota.

Kemudian, Rio menyadari perubahan lain yang mulai ada sejak ingatan mereka bersatu.

Dia bisa melihat cahaya lemah terpancar dari tubuh orang-orang.

Awalanya ia berpikir bahwa itu adalah ilusi, tapi hal itu tidak hilang bahkan setelah ia berusaha memfokuskan ulang matanya.

Cahaya yang bersinar berbeda-beda dari tiap orang, tapi kebanyakan hanya memancarkan cahaya yang lemah.

Dia telah melihat banyak orang sejak ingatannya bersatu, jadi dia yakin bahwa kemampuannya untuk mengukur lemah kuatnya cahaya itu cukup akurat.

Tiba-tiba, Rio menyadari bahwa tubuhnya juga memancarkan sinar yang sama.

Tapi jumlahnya lebih banyak dari orang lain.

Tidak, bisa di bilang itu mungkin karena ia masih kurang ahli.

Melihat orang lain, tidak mungkin pancaran cahaya itu mencapai tidak terbatas.

Sama seperti uap yang keluar dari air mendidih dan menghilang di udara, cahaya itu juga keluar dari tubuh Rio.

Terlebih lagi, cahaya itu pelan-pelan semakin banyak.

Di saat yang sama, dia menjadi lebih sensitif kepada cahaya itu.

Seakan-akan ia bisa merasakan sekitarnya melalui kelima inderanya.

Melalui matanya, ia bisa melihat semua hal di dunia ini yang berhubungan dengan cahaya seakan ia ada disana. Dia bisa mengerti satu sifat dari cahaya itu.

Dia bisa mempeluasnya tanpa batas, membuatnya bisa mengetahui lebih banyak hal daripada orang normal.

(Aku merasa cahaya ini hanya bisa meningkatkan penglihatanku…)

Memperluas inderanya, ia merasakan pengalaman yang sama seperti melepas jiwa dari tubuhnya. Dengan peningkatan penglihatan yang cepat itu, ia mulai mempertanyakan sesuatu.

Apakah hanya dia yang bisa melihat cahaya itu?

Karena jumlah cahaya yang keluar dari tubuhnya tidaklah normal, Rio mengerti bahwa ia mungkin saja terdeteksi.

Sekarang, ia butuh tempat yang jauh dari orang-orang. Rio segera pergi dari jalan utama dan menuju ke gang yang gelap dan duduk di tanah yang dingin.

Jumlah cahaya yang memancar dari tubuhnya terus meningkat, tapi kondisi fisiknya tidaklah berubah.

Ia harus bersabar.

Pikirnya dengan pikiran yang tenang.

Rio mulai bermeditasi, ia berhasil menyatukan tubuh dan pikirannya dengan sempurna.

Dia tidak menyangka kemampuan bela diri yang ia pelajari dari kakeknya bisa menjadi berguna di saat seperti ini.

Dia masih bisa mendengar keramaian di jalanan. Dia sudah membuang sangat banyak waktu. Siapa yang tahu sudah berapa lama ia bermeditasi? Pikirannya mulai mencapai batasnya.

Telah mencapai kesatuan pikiran, Rio merasakan jumlah tenaga yang luar biasa di seluruh tubuhnya.

Kekuatan itu mirip seperti darah yang mengalir dalam tubuhnya.

Cahaya itu sebenarnya adalah sihir.

Kekuatan sihir keluar dari tubuhnya dan tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.

Oleh karena itu Rio tersadar bahwa Ia butuh kekuatan imajinasi untuk mengendalikan kekuatan sihir miliknya.

Hal itu terasa tidak nyata baginya.

(Baiklah…)

Dia merasa percaya diri terhadap tebakannya, Rio pelan-pelan dan dengan hati-hati mulai mengurangi jumlah sihir yang keluar dari dirinya.

Sama seperti saat seseorang berusaha menghapus keberadaannya.

Tidak benar-benar sama, tapi cukup mirip.

Cahaya apa itu?

Sekarang, satu-satunya perubahan yang ia rasakan adalah inderanya yang semakin tajam.

Dan kebanyakan orang hanya mengeluarkan jumlah sihir yang sangat sedikit dari tubuhnya. Rio bertanya-tanya apakah ada juga orang yang bisa menggunakan sihir di luar sana.

Kuantias melawan Kualitas berarti ia tetap harus berhati-hati saat ingin menggunakannya.

Untuk sekarang, ia harus menekan pertanyaan-pertanyaan yang terus muncul dalam kepalanya dan juga menyerap kembali seluruh kekuatan sihir yang mengelilingi tubuhnya.

Dengan begitu, ia bisa menyimpulkan beberapa hal. Dia mengerti kekuatan sihir bisa bergerak sesuai imajinasinya dan berkumpul di satu titik.

Tapi, dia masih belum tahu cara menyimpan semuanya.

Pengetahuannya masih terbatas.

Setelah memastikan tidak ada orang di sekitarnya, Rio melepaskan kekuatan sihirnya dan kemudian memperhatikan tubuhnya.

Tiba-tiba, dengan cepat, ia merasakan kekuatan mengalir di dalam tubuhnya.

Terasa seperti kekuatan menguatkan tubuh.

Dinilai dari berbagai macam perubahan dalam kondisi tubuhnya, ia menyimpulkan bahwa apa yang ia lakukan adalah bentuk sihir penguatan tubuh.

(…Tubuhku terasa ringan.)

Dia merasa tubuhnya dipenuhi kekuatan.

Rio berusaha mengetes kekuatan itu dengan sebuah lompatan. Meskipun ia memiliki tubuh anak kecil, dia bisa melompat hingga setinggi lompatan pemain basket profesional.

Hanyalah kebetulan ia bisa menggunakan kemampuan memperkuat tubuh. Meskipun sebelumnya ia hanya mengerti konsepnya secara samar-samar, sekarang ia benar-benar bisa membayangkan apa itu kemampuan menguatkan tubuh.

Dengan menghilangkan batasan otaknya, ia telah mampu memperkuat tubuhnya lebih jauh dengan membayangkan tubuhnya memakai pakaian dari kekuatan sihirnya.

Rio membayangkan tubuhnya diperkuat saat ia berjalan.

Dia melakukan beberapa gerakan ringan sebagai konfirmasi akan keberhasilan hal tersebut.

Hasilnya adalah ia mampu melakukan gerakan yang tidak seharusnya mampu dilakukan bocah yang sedang tidak sehat.

(Sepertinya penggunaan terus menerus terhadap kemampuan penguatan tubuh bisa dilakukan…)

Tapi, untuk melakukan itu, ia harus menggunakan lebih banyak kekuatan sihir.

Tubuhnya mungkin saja tidak sanggup menerima kemampuan penguatan tubuhnya.

Sebuah ide muncul di kepalanya. Kalau begitu, bagaimana kalau ia mencoba untuk memperkuat bagian tertentu dari tubuhnya. Ia membayangkan penguatan daya tahan dagingnya dan juga berfokus pada serat otot dan tulangnya.

Beban tubuhnya berkurang.

Sepertinya ia telah melakukan hal yang benar.

Untuk sementara, Rio puas dengan hasil eksperimennya.

Tapi, tidak perduli seberapa kuat kemampuan atau atau pun kekuatan tubuhnya, dia tidak bisa menghilangkan rasa laparnya. Dan perutnya berbunyi sebagai konfirmasi.

Meskipun eksperimen yang ia lakukan menarik, dia tidak bisa melanjutkkannya kecuali mendapat makanan.

Melihat ke langit, ia sadar bahwa hari sudah mulai gelap.

Malam akan segera tiba.

Sebenarnya, ia tidak punya uang ataupun cara untuk mendapatkan makanan dengan cara yang halal.

Bila memang harus, dia sudah siap untuk tidak makan. Tapi, ia tetap harus punya hal yang ingin dicapai.

Untuk sementara ini, demi hidupnya sendiri, ia harus berkeliling mencari cara menghasilkan uang. Rio meninggalkan tempat itu.

Berjalan lemah ke arah pasar, sebuah bangunan besar memasuki pandangannya.

Dia tidak bisa membaca apa yang tertulis di papan itu, tapi ia tahu bahwa bangunan itu milik Guild Petualang.

Dia bisa menghasilkan uang dengan menjadi seorang petualang.

Tapi Rio segera menghilangkan pikiran itu karena sadar ia masih belum cukup umur.

Salah satu peraturan dari Guild Petualang adalah; mereka hanya akan memperkerjakan orang yang berumur 12 tahun ke atas.

Rio pernah mendengar anak yatim piatu lain membicarakan tentang hal itu.

Di Jepang hal yang sama juga berlaku, tapi di kebanyakan tempat di dunia ini, hal itu tidak berlaku.

Itu karena anak-anak bisa digunakan saat perang, mereka sangatlah berguna. Tapi, bila itu petualang, maka ada banyak kasus dimana seorang petualang tidak bisa meraih sesuatu karena batasan umur.

Rio masih memikirkan hal itu.

Berbicara tentang petualang, pekerjaan mereka entah mengapa tidak jelas. Rio membayangkan mereka mempertaruhkan nyawa untuk mendapat bahan mentah dan kemudian menjualnya.

Kalau begitu, tidak ada aturan yang melarangnya untuk melakukan hal yang sama.

Tapi, pelanggannya bukanlah Guild Petualang.

Melainkan para pedagang.

Rio memutuskan untuk menyelidiki bahan apa yang akan dibeli oleh pedagang.

Dia langsung menjalankan idenya dan bergerak menuju ke pasar menurut peta Ibukota yang ada dalam kepalanya.

“Bocah! Apa yang kau lihat? Pergilah!”

Namun saat Rio melihat-lihat di pasar, mata tajam dari seorang penjaga toko melihatnya dan segera berteriak kepadanya.

Para penjaga toko berhati-hati dengan anak yatim piatu karena mereka biasanya berusaha mencuri dari pasar.

Anak yatim piatu tidaklah disukai di daerah pasar.

Karena beberapa anak yatim piatu terkadang memiliki sedikit uang, mereka tidak langsung mengusirnya tapi mereka pasti akan berhati-hati.

Anak yatim piatu yang hanya melihat-lihat pastilah mencurigakan.

Karena itu, Rio tidak bisa bertindak dengan bebas.

Kalau begini terus, dia tidak punya pilihan lain selain mencari cara yang lain.

Karena dia tidak punya makanan, maka ia hanya bisa pergi mencari sisa makanan.

Rio dipaksa untuk mencari apapun yang bisa dimakan untuk mengisi perutnya, tapi sebagai Amakawa Haruto, dia tidak bisa menerima hal itu.

Rio memutuskan untuk menggunakan kemampuan bela dirinya yang mana ia pelajari di kehidupannya yang sebelumnya.

Dia menghilangkan keberadaannya dan menyatu dengan daerah sekitarnya.

(Bagus…!)

Dengan kondisi keberadaannya yang terhapus, Rio segera melihat barang-barang yang ada di pasar.

Apa yang harus ia jual? Kemana ia harus menjualnya?

Rio berjalan dengan santainya sembari memikirkan hal itu. Kemampuan ini memberinya kesempatan untuk mencuri dengan resiko yang kecil.

Tapi, ia tidak mau melakukannya.

Moralnya sebagai Amakawa Haruto, yang mana merupakan seorang masyarakan Jepang terhormat, mencegahnya melakukan itu.

Rio hanya berjalan di tengah-tengah pasar itu dan tidak menyentuh apapun.

Dia sekarang tertarik kepada; tanaman obat, tanaman, dan sayuran.

Dengan sopan, ia menanyakan hal itu kepada penjaga toko.

Walaupun awalnya orang itu curiga, tapi dia menjawab semua pertanyaan Rio setelah dipaksa oleh Rio.

Beberapa tanaman bisa di tanam di daerah perkebunan yang mengelilingi Ibukota, tapi beberapa hanya bisa di dapat di alam liar.

Karena tanaman itu hanya bisa tumbuh di luar daerah Ibukota.

Saat dibutuhkan, petualang biasanya disewa untuk memanen mereka.

Beberapa petualang akan membeli tanaman yang mereka panen dengan uang mereka sendiri.

Namun, bagi anak seperti Rio, memanen tanaman seperti itu adalah hal yang sama dengan bunuh diri.

Penjaga toko itu hanya bisa menatap Rio dengan kasihan sembari memberi beberapa saran.

Menerima saran dari penjaga toko, Rio hanya bisa tersenyum pahit dan berterima kasih padanya.

Hal itu memang berbahaya, tapi masih lebih baik daripada harus duduk dengan perut yang kelaparan.

Dia memperkuat tubuh dan dagingnya.

Dia juga punya kemampuan bela diri dari kehidupannya yang sebelumnya sehingga ia bisa bertarung.

Ia tidak punya pilihan lain.

Sebelum hari berakhir, ia harus mendapatkan sesuatu untuk menekan rasa laparnya jadi ia berhenti memikirkan masalah itu untuk sementara waktu.

Tanpa melakukan kebiasannya mencari makanan sisa di tempat sampah, ia segera kembali ke rumahnya di daerah kumuh.

Untuk mengalihkan dirinya sendiri dari rasa lapar, ia mengingat-ingat kembali kejadian mengejutkan yang terjadi hari itu.

Yang pertama adalah munculnya ingatan kehidupannya yang sebelumnya.

Terkumpulnya kembali ingatan Amakawa Haruto yang kemudian mengambil alih tempat sebagai kepribadian utama. Tapi kesadaran dan ingatan Rio juga masih ada yang mana menyebabkan mereka berdua bersatu.

Dua sisi menjadi kepribadian utama, yang mana menyatu tanpa masalah.

Dia sebagai Amakawa Haruto menerima Rio.

Dan Rio, seorang anak yatim piatu, juga menerima Amakawa Haruto.

Di kehidupannya yang sebelumnya, Amakawa Haruto hanya bertujuan untuk menemukan teman masa kecilnya.

Selain dari itu, dari kondisinya yang sekarang, ia tidak punya tujuan lain.

Rio juga punya sesuatu yang ingin ia lakukan.

Awalnya, Rio tidaklah hidup di daerah kumuh dalam kemiskinan.

Ayah dan ibunya adalah seorang petualang.

Mereka berdua merupakan tim dan selalu berkelana ke negara lain bersama.

Saat ibu Rio mengandung Rio, dia berhenti untuk sementara.

Tentu saja, hal itu menyebabkan ayahnya harus bekerja sendirian.

Padahal, mereka biasanya selalu melakukan misi bersama.

Kemudian, ayah Rio membuat kesalahan dalam salah satu misinya bersama petualang lain. Dan akhirnya mati.

Dengan kematian suaminya, ibu Rio harus membesarkan Rio sendirian.

Menggunakan uang yang ia simpan saat ia masih menjadi petualang, ia berhasil membesarkan Rio dengan aman.

Tapi, itu hanya bertahan hingga Ro berumur lima tahun.

Ibu Rio adalah wanita cantik yang menggoda.

Dia memang sudah punya anak tapi masih cukup muda untuk menarik perhatian pria di sekitarnya yang akan menatapnya dengan tatapan penuh nafsu.

Mengambil Rio sebagai sandera, seorang pria yang mengenal ibunya saat ia masih bertualang memperkosa dan membunuh ibunya.

Rio melihat kejadian itu.

Pada saat itu, ia memastikan dirinya mengingat nama dari pria itu.

Rio tidak akan menyerah. Bahkan walau ia dipaksa untuk mencari makanan sisa untuk bertahan, dia pasti akan membalaskan dendamnya suatu hari nanti.

Keinginan itu ia simpan dalam hatinya hingga hari ini.

Tapi, Amakawa Haruto merasa terganggu dengan balas dendam itu.

Tiba-tiba saja, ingatan akan hari mengerikan itu terulang di kepalanya.

Rio mengenyeritkan dahinya saat itu terjadi.

Dia menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan pikiran itu dan kemudian mempercepat langkahnya.

loading...