Saturday, 3 December 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 4 Part 2 Bahasa Indonesia


Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 4 Chapter 4 part 2/3: Tsuginaru basho (Tempat Berikutnya)

Percakapan yang mengarah kemana-mana itu pun selesai ketika Frederica kembali setelah selesai mempersiapkan kamar tamu.

"Aku ingin melihat sebentar keadaan desa yang ada di dekat sini. Karena aku memegang sertifikat para pedagang lainnya mengenai pembelian kargo mereka, aku setidaknya bisa mengurusi pendistribusiannya ke desa. Tentu saja Margrave akan membayar biayanya nanti." (Otto)

Setelah mengatakan itu, seolah tidak terpengaruh atas kelelahan dari perjalanan jauhnya, Otto bergegas pergi ke desa.

Tidak peduli bagaimana dia menunjukan wajah seorang pedagangnya, proposalnya untuk membantu desa Arlam yang masih belum bisa berjalan layaknya sebuah desa karena 60% penduduknya belum kembali tidak bisa terlaksana.

Melihat Otto yang menyembunyikan wajahnya dibalik sikap gila uangnya, Subaru dipaksa dengan cepat untuk menutupi rasa terima kasihnya dengan berpura-pura meludah ke tanah.

"Aku sudah mempersiapkan sebuah kamar di kalangan pelayan seperti yang diperintahkan... Anehnya, terdapat satu kamar yang terlihat sudah dikosongkan." (Frederica)

"Dikosongkan... Kamar yang ada di lantai dua paling dalam itu?" (Subaru)

"—Iya, kamar itu. Hanya kamar itulah yang benar-benar terlihat bersih, seakan semuanya telah disingkirkan kecuali kasurnya... Apa kau, tahu sesuatu tentang itu?" (Frederica)

Ketika Frederica berbicara mengenai kamar yang baru saja dia siapkan itu, Subaru berusaha untuk menahan kesedihan yang muncul di matanya.

Kamar yang dia bicarakan itu— —kamar terdalam di lantai dua yang ada di sisi kiri Mansion, adalah kamar yang biasa Rem gunakan. Mendengar semua penjelasannya mengenai kamar itu, kekuatan luar biasa dari Kekuasaan 'Dosa Kerakusan': penghapusan keberadaan sangat terasa oleh Subaru.

"...Nggak. Cuma perasaan ku saja; nggak ada maksud apapun kok." (Subaru)

Frederica, yang melihat kebenaran dari kata-kata Subaru, tidak mengatakan apapun.

Dia juga, sepertinya memiliki kecenderungan yang sangat baik sebagai seorang maid. Kemungkinan besar, Rem dan Frederica lah yang terus menjaga kelangsungan mansion yang luas biasa megah ini... Ram tidak dihitung.

Melihat kembali ke arah Mansion, sebuah suara dengusan lembut menyambut Subaru ketika dia menuju ke arah gerobak naga.

Melihat ke arah dimana gerobaknya diparkirkan, Subaru melihat gedung yang tidak dia kenal yang terlihat seperti rumah penyimpanan— —yang kemungkinan besar gedung itulah tempat yang biasa digunakan untuk menaungi gerobak naga, seperti sebuah garasi.
Dia melihat gedung, dan kandang Patrasche yang bersebelahan dengan gudang.

Naga tanah dengan kulit hitam pekat mengeluarkan ringkikannya, menjulurkan lehernya dengan sikap lembut kepada Subaru yang berjalan mendekatinya.

Menempatkan jarinya kepada cuping hidungnya, Subaru menggelitik kulit kerasnnya.

"Maaf aku tidak pernah mengungkapkan rasa terima kasih padamu dengan baik, Patrasche. Banyak hal terjadi, dan aku tau ini telat, tapi, aku mengandalkan mu mulai sekarang, kawan." (Subaru)

"...."

Sebagai jawaban atas kata-katanya Subaru, Patrasche menjilat telapak tangannya dengan lidah kasarnya. Melihat mereka yang saling bertatapan, Frederica memiringkan kepalanya.

"Dia benar-benar menyukaimu. Dalam sekali lihat, siapapun bisa tahu kalau dia adalah naga tanah yang dapat diandalkan. Melihat dia yang dapat dijinakan seperti itu... sangat mengejutkan." (Frederica)

"Aku tidak melakukan apapun untuk menjinakannya. Kalau naga tanah normal itu susah untuk dielus dan dipeluk, berarti itu hanya karena Patrasche memiliki kapasitas perasaan yang lebih dalam dari naga tanah lainnya. Atau, mungkin karena aku terlalu lemah sehingga dia tidak bisa meninggalkan ku." (Subaru)

Kata-katanya bukan seperti Subaru merendah, itu hanyalah satu-satunya cara yang dapat dia gunakan untuk menghargai cintanya Patrasche.

Hanya 3-4 hari sejak pertama dia bertemu dengan Patrasche, sudah berapa kali hidupnya diselamatkan oleh naga tanah berhati lembut ini.
Sebaliknya, Subaru belum melakukan apapun untuk membalasnya. Dia hanya bisa berpikir kalau pertemuannya dengan naga tanah ini tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah karunia.

Seakan mengerti apa yang Subaru katakan, Patrasche menjulurkan kepalanya yang sebelumnya menjilati tangannya Subaru, dan menggosok-gosokan moncongnya ke pipinya Subaru. Terkejut akan tindakannya yang tiba-tiba, Subaru tersenyum kecut terhadap sensasi kasar yang ada di wajahnya.

"Aku, rasa aku mengerti orang seperti apa Subaru-sama itu. —Kau, punya kesulitan mu sendiri." (Frederica)

"...." (Subaru)

Daripada ke Subaru, yang dimana tangannya sudah penuh oleh Patrasche, kata-kata Frederica dan tatapannya ditujukan pada Patrasche, yang sedang bermain-main dengannya.

Patrasche menghentikan pergerakannya sebentar terhadap perasaan yang mendalam dibalik kata-katanya Frederica, melihat ke arahnya dengan mata reptilnya, sebelum melanjutkan bermain dengan Subaru.

Pada saat itu, ntah bagaimana kedua wanita itu mengerti satu sama lain, dan Subaru sama sekali tidak menyadarinya.
(TL Note: Patrasche itu wanita)

Namun demikian,

"Maaf sudah menunggu Rem. Pasti gelap dan sempit ya disini? Aku akan membawa mu ke kamar mu, oke?" (Subaru)

Setelah menghabiskan beberapa waktu bermain dengan Patrasche, dia pun pergi menuju gerobak naga yang sudah diparkirkan itu— —dengan kata lain, ke tempat dimana Rem tertidur.

Tidak ada sedikitpun perubahan, Rem masih tertidur dengan lelap. Dia sama sekali tidak menunjukan adanya keberatan. Merajuk saat ditinggalkan, memalingkan wajahnya, menggembungkan pipinya... berkata "Subaru-kun jahat!", atau tertawa atas permintaan maafnya Subaru—tidak ada dari hal itu yang terjadi saat ini.
(TL Note: Merajuk=bahasa formal dari 'Ngambek')

"—Aku sudah mendengar tentang ini sebelumnya, tapi tetap saja, aku terkejut." (Frederica)

Dari belakang Subaru, yang sedang tenggelam dalam perasaan nostalgia, Frederica, yang melihat Rem untuk pertama kalinya, tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Ketika Subaru memiringkan kepalanya terhadap respon terkejutnya Frederica, dia perlahan menggelengkan kepalanya.

"Tidak ada, hanya saja, wajahnya terlihat mirip dengan Ram yang aku tahu. Satu-satunya yang membedakan adalah warna di rambutnya... kembar, sama seperti yang kau bilang." (Frederica)

"Aku yakin pasti sulit untuk mempercayainya, dengan ingatan mu yang dihilangkan, tapi aku senang kau mau mempercayai ku. Aku akan lebih senang kalau kau mengingatnya, tanpa berpikir itu adalah semacam lelucon." (Subaru)

Mengangguk terhadap Frederica yang terkejut, Subaru mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipinya Rem.

Ntah kenapa, dia tidak merasakan hangat maupun dingin. Tidak diragukan jika semua fungsi penyokong hidupnya masih bekerja, tapi tidak ada kehidupan yang tersisa dalam dirinya.
Memastikan atas apa yang sudah dia periksa beberapa kali, Sebaru sekali lagi menerima luka yang tidak dapat disembuhkan jauh di dalam hatinya. Meskipun tahu ini akan terjadi, tapi dia masih tetap ingin memeriksanya.

"Subaru-sama. Aku tidak masalah untuk membawan..." (Frederica)

"Aku ingin membawanya. Tolong biarkan aku melakukannya. Aku ingin aku sendiri yang membawa Rem ke dalam Mansion... ke kamarnya. Maaf kalau aku egois." (Subaru)

"Nggak juga, tadi itu sangat menyentuh. Mata mu terlihat seperti seorang pembunuh, tapi ternyata kau baik, aku mengerti." (Frederica)

"Aku juga punya hati yang bakalan terluka kalau disebut begitu." (Subaru)

Menanggapi kata-kata Frederica, Subaru membungkus Rem dengan lengannya. Dia sudah mengangkat Rem beberapa kali untuk memindahkannya, tapi meskipun begitu dia teringat akan betapa ringannya Rem itu. Tubuh inilah yang dia miliki untuk berdiri dihadapan Subaru, tubuh yang dia gunakan untuk bertarung dengan keras untuk melindungi dirinya(Subaru) yang tidak berguna. Semakin dia memikirkannya, semakin besar juga perasaan akan betapa berharganya Rem baginya.

"Aku akan membangunkan mu sesegera mungkin. Jadi, tolong, marahilah aku karena udah merasakan kelembutan tubuhmu dengan jari-jari ku." (Subaru)

"Itu adalah kata-kata yang bagus, sampai kau berakhir mengacaukannya." (Frederica)

Subaru berjalan keluar dari gerobak naga, mengabaikan kata-kata tidak puasnya Frederica. Dia mengangguk ke Patrasche sebagai ucapan selamat tinggal, yang dimana sedang menjulurkan kepalanya keluar kandang. Subaru kemudian memasuki mansion dengan dipandu oleh Frederica.

Subaru dipandu menuju kamar pelayan yang ada di timur— —Kamar tidur, sebuah kamar yang pernah digunakan oleh Rem.

"Kau berbicara, dengan Beatrice-sama?!" (Frederica)

Pertanyaan terlontarkan secara tiba-tiba ketika mereka sedang berjalan.

Subaru, yang sedang berhati-hati menaiki tangga, melihat ke arah punggung Frederica. Frederica menyipitkan kedua pupil mata tajamnya, dan melihat balik Subaru yang ada di belakang dengan tatapan yang hanya berisi intimidasi. Meskipun, Subaru mengerti kalau itu hanyalah kesalahpahaman, karena dia memiliki mata yang sama dengan Frederica, hanya saja area putih yang ada di mata Subaru lebih banyak dari orang kebanyakan.
(TL Note: Intinya tatapannya Frederica jika dilihat orang kebanyakan seperti tatapan intimidasi, padahal hanyalah kesalahpahaman saja)

Berasumsi jika diamnya Subaru atas pertanyaannya merupakan tanda kalau dia meng-iyakannya, Frederica melanjutkan,

"Apa dia baik-baik saja? Aku bertanya begitu karena sejak aku kembali ke Mansion, aku masih belum bisa bertemu dengannya." (Frederica)

"Aku sudah berkata kepada Emilia-tan, tapi dia baik-baik saja... sepertinya. Meskipun, aku tidak dapat berbicara dengannya sebanyak yang biasanya aku lakukan karena dia sedang dalam suasana hati yang lebih buruk dari biasanya." (Subaru)

"Be... gitukah." (Frederica)

Seolah-olah cemas, ekspresinya terhadap jawaban Subaru tidak terlihat ceria.

Melihat hal itu, Subaru hanya bisa bertanya-tanya terhadap peran yang dimiliki seorang gadis bernama Beatrice sebenarnya di Mansion ini.

Sampai sekarang, Subaru masih belum mencari lebih dalam posisi ataupun latar belakangnya.

Gadis itu, yang berada di Mansion milik Margrave Roswaal, tinggal di dalam ruangan sihir misterius yang disebut Perpustakaan Terlarang, dan diperlakukan oleh Rem dan Ram sebagai tamu dan juga bangsawan.

Dan lagi, dia sepertinya secara kanak-kanak mengagumi Puck, sesosok roh yang terikat oleh Emilia, yang merupakan seorang kandidat dalam Pemilihan Raja, seolah-olah Puck adalah kakak laki-lakinya. Juga, bagaimana dia bersikap terhadap Subaru nampak sesuai dengan umurnya, meskipun tindakannya selama pertemuan terakhir mereka itu— —itu semua masihlah misterius.

"E tto, Frederica, sudah berapa kau bekerja di Mansion ini?" (Subaru)

"Ara, apa kau tertarik? Emilia-sama, gadis di lengan mu... ditambah Beatrice-sama... kau cukup sesuatu juga ya." (Frederica)

"Jangan mengikutsertakan Beako seenaknya, aku tidak tertarik dengan anak kecil. Kau bisa melihat di kedua tangan ku sudah penuh dengan Emilia-tan dan Rem, kan? Frederica itu... Jujur saja, meskipun baru kenal sebentar, tapi kau bukan tipe ku." (Subaru)

"Aku dibenci." (Frederica)

"Ini tidak baik, kau mencoba untuk mencabut rantai perasaan milik ku sama seperti salah satu maid Roswaal itu. Oh, dan ini hanyalah masalah selera pribadi; aku tidak membencimu atau semacamnya." (Subaru)
(TL Note: Maid yang dimaksud Subaru itu Ram)

Mengikuti kata-katanya Subaru, mata Frederica berkedip cepat bagaikan sedang menari dan kemudian tertawa, sembari menutupi mulutnya yang dipenuhi oleh taring-taring yang terlihat jahat.

"Aku tidak begitu memikirkannya. Kau juga nampaknya terlalu khawatiran gitu." (Frederica)

"Itu karena aku sudah melukaimu ketika pertama kali kita bertemu. Meskipun kau hanya membalasnya dengan tertawa, tapi tetap saja sedikit sakit 'kan?" (Subaru)

"...."

Terhadap kata-katanya Subaru, mata Frederica berkedip dengan ekspresi terkejut kali ini. Senyumnya menghilang dari wajahnya, dia menatap ke arah Subaru. Warna emas di matanya terlihat berkilau, tatapannya sedikit menyelinap mata Subaru, dan Subaru merasakan sebuah sensasi seolah Frederica sedang melihat kedalam dirinya.

Perlahan menghela napas, Frederica berkata,

"Jarang-jarang seseorang melihat kedalam hati ku. Aku menghargainya, kalau kau mau menahan diri untuk melakukan itu." (Frederica)

"Aku hanya mencoba menarik kesimpulan atas apa yang sudah aku lakukan. Selain itu, mata ku juga memiliki tatapan yang tajam... Yah, seluruh keluarga ku juga sama sih." (Subaru)

Karena kedua orang tuanya memiliki ekspresi garang secara natural, anaknya juga memilikinya.
Selama makan malam, mereka semua memasang ekspresi yang sama ketika memuncratkan mayones dari wadahnya masing-masing, dan itu mungkin terlihat seakan mereka sedang melakukan ritual Sihir Hitam disekitar meja makan.

Mengerutkan keningnya saat dia melihat kenangannya itu, Frederica menghela napas lebih dalam lagi.

"Kau bukan pria yang tidak menyenangkan, tapi sangat aneh. Aku rasa aku mengerti kenapa Emilia-sama bertingkah seperti sekarang ini." (Frederica)

"Emilia-tan, apa?" (Subaru)

"Bukan apa-apa. Kali ini, Emilia-sama akan benar-benar marah dengan ku. Apa yang akan kau lakukan begitu tau berapa lama aku sudah bekerja disini?" (Frederica)

Menggelengkan kepalanya, Frederica mengembalikan topik pembicaraan.
Meskipun Subaru tidak mengerti dengan perkataannya, dia juga kembali ke topik awalnya.

"Jadi gini, aku ingin membicarakan sesuatu tentang Beako... Beatrice. Kalau kau sudah bekerja sebagai maid disini sejak lama, maka aku ingin bertanya seberapa lama Beatrice tinggal di Mansion ini." (Subaru)

Subaru tidak menyuarakan itu sebagai sebuah pertanyaan atau semacamnya, tapi dari perkiraan Subaru, umur Frederica beberapa tahun lebih tua darinya— —Sekitar 23 atau 24 tahun. Meskipun dia seorang maid veteran yang telah bekerja selama 10 tahun, dan karena Beatrice berumur sekitar 12 tahun jika dilihat dari segala aspek, yang perlu dia lakukan adalah menghitung kembali dan mendapatkan kesimpulannya dengan sebuah estimasi.

Tapi, terhadap pertanyaanya Subaru, Frederica menggelengkan kepalanya.

"Maafkan aku, tapi aku tidak tahu. Beatrice-sama sudah mengunci diri di Perpustakaan sudah dari lama, sejak dari sebelum aku mulai bekerja di Mansion ini." (Frederica)

"Ah, yah sepertinya apa boleh buat. Latar belakang mu sebagai seorang maid bukan berarti berhubungan secara langsung dengan sebarapa lama kau bekerja di Mansion Ros-chi. Jadi kau datang ke mansion sebagai maid expert ya..." (Subaru)

"Tidak, bukan itu maksud ku, Subaru-sama." (Frederica)

Frederica memotong perkataan Subaru, yang dimana kesimpulannya telah ditolak oleh alasan yang agak tidak masuk akal.

Ketika Subaru mengerutkan dahinya, Frederica meluruskan punggungnya, dan dilengkapi dengan wajah seram dan kepedulian nyatanya, dia berkata,

"Satu-satunya tempat aku bekerja sebagai seorang maid adalah disini, di mansion Master. Dan ketika aku dipekerjakan sebagai seorang maid adalah ketika berumur 12 tahun. Itu adalah 10 tahun yang lalu." (Frederica)

"....Bentar, bukankah itu aneh? Karena, kalau dihitung lagi, itu berarti Beako udah mengunci diri di ruangan lapuk itu dari balita dong." (Subaru)

"Mou, bukankah kau sudah mengetahuinya?" (Frederica)

Seolah mengkritisi sikap keras kepalanya Subaru, Frederica menggelengkan kepalanya.

Dengan sikap Frederica tersebut, Subaru pun dapat memastikan keraguan yang selama ini ada di dalam hatinya, Subaru mengerti apa yang telah dia coba hindari berpikir terlalu dalam itu.

Dengan kata lain, gadis yang ada di perpustakaan itu—

"Penampilannya tidak berubah... Sepertinya dia memang bukan manusia." (Subaru)

"Seorang penjaga perpustakaan yang telah bersumpah untuk terus mengawasi Perpustakaan Terlarang sejak awal mula Keluarga Mathers— —itulah dirinya, Roh Agung Beatrice-sama." (Frederica)

Tidak dapat mendeteksi kebohongan di perkataannya, Subaru tidak punya pilihan lain selain menerima kata-katanya. Identitas sebenarnya dari gadis yang berinteraksi dengannya sampai sekarang, adalah sesosok eksistensi dari dimensi yang benar-benar berbeda.

"Roh Agung... gelar itu sama seperti Puck, tapi dia sama sekali terlihat berbeda darinya." (Subaru)

"Hal itu berhubungan dengan tidak adanya kontrak dan janji... tidak, ini sudah lebih dari apa yang seharusnya aku katakan. Tolong lupakan itu." (Frederica)

"Mustahil, benar-benar mustahil." (Subaru)

Sudah berapa kali ketidaktahuan Subaru menyebabkan dia terseret oleh apa yang orang lain tahu tapi tidak ingin membaginya.
Frederica tidak peduli dengan tatapan sinisnya Subaru, dan menutup mulutnya rapat-rapat; sepertinya dia tidak memiliki niatan untuk membahas masalah itu lagi. Terhadap sikap dan perilakunya, Subaru menghela napas, menyadari jikalau dia tidak akan bisa memaksa pembicaraan mengenai Beatrice lagi.

Setelah itu, Subaru sadar kalau pembicaraannya terus berlanjut sementara kaki mereka sama sekali tidak bergerak,

"Frederica..." (Subaru)

"Maafkan aku, Subaru-sama. Lidahku sedikit kehilangan kendali. Aku hanya bersyukur seseorang yang peduli kepada Beatrice-sama muncul. Tolong, maafkan aku." (Frederica)

"Tidak apa, tapi lengan ku udah sampai batasnya." (Subaru)

Lengan teratasnya gemetaran, Subaru melihat ke arah Frederica dengan ekspresi kaku di wajahnya.

Subaru bertingkah sok kuat karena 'Tubuh ini sangat ringan' dan 'semuanya dapat terjadi selama ada cinta', tetapi sesuatu seperti kekuatan lengan, daya tahan otot, dan semacamnya benar-benar mengabaikan semua kata-kata tadi dan menyerangnya dengan paksa.

"Oh, oh." (Frederica)

"Jadi, tolong menyingkir lah!" (Subaru)

Subaru bersumpah pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah melakukan yang bodoh seperti meletakan Rem di lantai, atau menyerahkannya kepada Frederica; dan kemudian bergegas untuk melewati dan mengabaikan tawaran Frederica untuk gantian membawanya, pergi menuju kamar dengan langkah terburu-buru.

Suara langkah kaki lembut menggema dari belakang; nampaknya Frederica mengikutinya dari belakang. Sambil merenungi betapa buruknya Subaru mengakhir percakapan itu, dia pun tiba di depan kamarnya Rem.

"—Kamu bener-bener, kelamaan." (Emilia)

Ucap Emilia, ekspresinya menunjukan bagaimana monotonnya dia menunggu Subaru.


loading...