Sunday, 25 December 2016

Evil God Average Chapter 6 Bahasa Indonesia


Translator: KIV
Editor: CTobing

Chapter 6: Janji

Pintu terbuka dengan suara decitan, dan aku melangkah memasuki Guild.
Melihat dari pintu masuk ada sebuah papan pengumuman di sebelah kiri dengan beberapa lembar kertas yang terlihat seperti quest tertempel di atasnya.
Di sisi kanan terlihat beberapa meja bundar dengan para petualang yang kelihatannya tengah berpesta.
Kemudian di depanku ada sebuah meja dengan resepsionis muda yang tengah berbicara dengan seorang petualang
Di meja tersebut, ada juga dua orang berbaris di belakang orang yang tengah berbicara, dan aku memutuskan untuk antri di belakang mereka.

Giliranku tiba dan aku maju menghadap meja.

“selamat datang di guild, ada yang bisa aku bantu?”

“aku ingin mendaftar.”

“baiklah. Untuk mendaftar biayanya 1 koin perak. Apakah kamu bersedia?”
Aku mengangguk dan mengeluarkan keping perak dari saku jubahku lalu menyerahkannya kepada resepsionis.

“Baiklah, silahkan letakkan tanganmu di atas kartu ini.”

Setelah mengatakan itu, dia mengeluarkan satu kartu polos dan meletakkannya di atas meja.
Aku meletakkan tangan kananku di atas kartu tersebut seperti yang diperintahkan.
Setelah satu menit, kartunya mulai bersinar.

“baiklah, begitu saja sudah cukup.”

Setelah diberitahu, aku melepaskan tanganku. Kartu yang semula polos kini dipenuhi berbagai tulisan.
Sepertinya statusku yang tertulis di sana.

Nama                    : Anri
Ras                         : Manusia.
Jenis Kelamin     : Perempuan
Umur                    : 17 tahun
Pekerjaan           : Penyihir
Level                     : 1

U-Untung saja hanya sebagian.
Kalau title dan skill-ku diperlihatkan, mungkin akan timbul keributan.

“Akan kutuliskan apa yang tertulis di kartu—“

“Oi, oi, gadis kecil ini ingin jadi petualang? Sepertinya kiamat sudah dekat.”

Dari samping, seseorang menyela ucapan si resepsionis.
Refleks aku melihat ke sana, mendapati petualang tadi berbicara di meja kini berdiri dan mendekat ke arah kami.
Pria besar itu memiliki tinggi sekitar 2 meter, dengan janggut brewok kotor acak-acakan di wajahnya.
Bukankah ini… event“mengajak protagonist OP berkelahi”?
(TLN: such cliché, much fun, just wow. It’s a sarcasm fyi…)

“Oi, oi, Gartz. Kau benar-benar serius mau menantang anak baru lagi?”

“Masih belum bosan? Sudah berapa kali kau melakukan ini….”

Eh… ini sudah sering terjadi?
Sepertinya aku saja yang ke-PD-an.
Bisa kurasakan wajahku memanas karena rasa malu.

“Oi, katakan sesuatu! Jangan diam saja di sana sambil menutupi wajahmu!”

Mengatakan itu, seorang pria beruang yang mengajakku berkelahi, Gartz, menarik tudungku dengan tangannya.

“!!?”

Tubuh Gartz yang melihat mataku secara langsung seketika membeku, wajahnya dipenuhi rasa kaget dan teror.
Untung saja tubuh besarnya menutupi, membuat orang lain tidak terpengaruh mata mistisku.
Kemudian, sesuatu meluncur dari bawah dan mendarat di tanganku.

“HII— !?”

Saat kulihat, di tanganku ini ada tantou hitam kelam yang kemarin kugunakan.
Sepertinya batas waktu setelah lepas dari tanganku sudah lewat.
Melihatku menyiapkan senjata, Gartz menjerit dan terjerembab.
Dengan posisi itu, dia lalu mencoba kabur dariku,
Sambil memperhatikan, aku berhasil mengenakan kembali tudung untuk menutupi mataku.

“Oi, kenapa!?”

Mungkin menyadari perilaku aneh Gartz, salah satu rekannya datang menghampiri Gartz dan meletakkan tangan di bahunya.

“!? UUOOOAAAAAAAHHH---------!!!”

“Gah-!? Kenapa kau ini!?”

Begitu ada tangan menempel di bahunya, Gartz berbalik dan berteriak ketakutan, berdiri kemudian berlari.
Beberapa petualang selain rekannya mencoba menghentikan Gartz yang mengamuk, tapi dia berhasil melepaskan diri dan melompat keluar.
Aku bisa mendengar teriakan dan umpatan kesal dari luar guild, uh… ini bukan salahku, kan?

Menganggap begitu, aku berbalik dan melihat si nona resepsionis terdiam dengan kartuku di tangannya.

“tidak jadi menyalin?”

“EH? Ah— maaf. Akan segera kulakukan!”

Dia menuliskan segala detail dalam kartuku ke sebuah daftar nama. (sepertinya).

“Dengan ini selesai. Um, tadi apa yang kamu lakukan pada Gartz-san?”

“Tidak ada, sih.”

Mengambil kembali kartunya, aku membalas dengan singkat.
Memang benar kok aku tidak melakukan apapun, semuanya karena takdir. Tapi sepertinya si resepsionis tidak mempercayaiku.
Bahkan walau dia membawa tantou-ku yang dikutuk saat keributan dan terkena efek status, bukan salahku, kan?

“Umm, apa kamu butuh penjelasan soal misi?”

“Boleh.”

Walau dia belum bisa menerima, mungkin karena sadar tidak baik baginya untuk mengusik lebih lanjut, kakak ini mengubah topik dan berpura-pura hal tadi tidak terjadi.
Aku malah berterima kasih, jadi kudiamkan saja.

“yang ditempelkan di papan pengumuman sebelah kiri adalah lembar misi. Tolong sobek misi yang kamu mau dan bawa ke resepsionis bersama kartumu. Begitu misinya selesai, serahkan buktinya bersama kartu petualang-mu untuk ditukarkan dengan imbalan. Ada beberapa misi dengan batas waktu, jadi harap hati-hati. Begitu batas waktunya sudah lewat, misimu langsung gagal dan harus membayar denda.”

Sejauh ini normal.
Hanya saja, di dalam lembar itu tidak ada hal lain selain konten misi, hadiahnya dan batas waktu, ya?
Ngomong-ngomong, tidak ada rank yang tertulis di kartu petualang.

“apa misi yang bisa diambil dibagi berdasarkan ranking?”

“Sebenarnya kamu bisa mengambil semua misi yang ada. Kami akan memberitahu kalau misi yang diambil terlalu sulit, tapi bukan berarti kamu harus mematuhinya.”

Berarti, semuanya tanggung jawabmu sendiri, ya…

“Misi umumnya dibagi menjadi 3 jenis: penaklukkan, pengumpulan, dan penjagaan. Apa perlu kujelaskan lebih lanjut?”

“tidak perlu.”

Dari namanya saja aku sudah tahu apa yang dimaksud.

“kalau begitu penjelasannya berakhir. Apa kamu akan langsung mengambil misi?”

Mengangguk, aku menyobek satu misi yang kuincar dari papan pengumuman, lalu kuletakkan di meja resepsionis dengan kartu petualang milikku.

“Hmm, baiklah, misi mengumpulkan tanaman obat. Minimal 5 lembar daun, dan imbalannya 30 koin perunggu, tapi tidak masalah kalau kamu mengumpulkan lebih. Karena ini misi permanen dari guild, tidak ada batasan waktu.”
Satu daun harganya 6 koin perunggu, ya?
Mungkin harganya di antara harga toko dan harga beli.
Eh? Kenapa aku tidak mengambil misi penaklukkan?
Seram tahu, ogah.

“Kamu boleh mengumpulkannya dari mana saja, tapi meretia banyak tumbuh di hutan sebelah timur, jadi di sana lebih terjamin.”
(meretia = kata ganti mereka untuk objek non-manusia. Refer: http://suwardjono.staff.ugm.ac.id/bahasa-kita/100-swd27.html)

“Ok.”

Aku mengambil kartuku dan berbalik.
Semua petualang yang tadinya mengintip langsung memalingkan mata mereka.
Apa ini? Bullying?
Karena kurasa tidak baik bila berada di sini, aku pergi meninggalkan guild.

Aku membeli sandwich dari sebuah kios untuk makan siang lalu menuju gerbang timur.
Kukembalikan tanda pengenal sementara yang kuterima kemarin saat masuk kota dan mendapatkan kembali uang jaminan yang kutitipkan pada mereka.
Setelah berjalan sekitar satu jam aku sampai di hutan dan begitu mengumpulkan 10 daun, aku pulang ke kota karena matahari telah terbenam.

Entah kenapa aku tidak menemui masalah dan melewati hari tanpa adanya satupun serangan monster.
Baru di kemudian hari aku menyadari kalau itu bukanlah sebuah hal yang normal.

loading...