Sunday, 13 November 2016

Ubau Mono Ubawareru Mono Chapter 35 Bahasa Indonesia


Translator: Google Translate
Editor: Bing Translate
Proofreader: Yahoo Translate

Chapter 35: Membuat Party ①

Adalah Istana Arc di negara Kiyoshikuni. Merupakan salah satu negara terbesar di benua ini. Sebagian besar penduduknya percaya dalam Irigamitto, Dewi cahaya, sehingga Kepala Agamanya merupakan bagian dari keluarga kerajaan. Mereka mendominasi dan menjalankan negara dengan agama Irigamitto sebagai dasarnya.
(TL Note: Itu bukan agama dari Jepang, murni ciptaan author, jadi kalau mau cari google, ga bakal ada wkwkwkwkwk)

Di sebuah ruangan Istana Arc, suara ketokan pintu dapat terdengar.

"Masuk.."

"Maaf mengganggu."

Pria yang masuk nampaknya seorang penganut yang taat dilihat dari jubahnya.

"Jadi, biarkan aku mendengar laporannya."

"Seperti yang anda duga Uskup Agung Stella Foddo. Yu Sato yang direncanakan untuk membenci umat manusia berkembang tanpa hambatan sesuai rencana."

"Begitu ya, kalau begitu sudah waktunya untuk mengajarinya beberapa skill bertarung lagi."

"Ya, mengendalikan spirit dan dalam rencana satu tahun,  dia diharuskan belajar beberapa skill bertarung dan sihir pemanggilan."

"Jadi, teruskan berikan laporannya padaku tiap bulan."

"Menurut saya akan ada beberapa kendala. Ada kemungkinan jikalau Kanzuka si Bijak Kano membuat pergerakan."

"Sialan orang itu."

Uskup Agung menutup bukunya dan berkata seperti itu. Menyebabkan si penganut itu menjadi ketakutan, tapi tetap melanjutkan laporannya.

"Soal Perserikatan berjalan dengan lancar. Kami mendapatkan reaksi positif dari Republik kerajaan Daelim. Kami akan menghubungi raja di kesempatan yang berikutnya."

"Dan negara Hamelin?"

"Hamelin dan kami sedang dalam sengketa kecil karena masalah keuangan."

"Tch... Pedagang itu harusnya kuberesi saja tadi. Aku masih belum tahu apa aku bisa mengunjungi mereka atau tidak."

"Terima kasih wahai Uskup Agung."

Organisasi penganut Irigamitto terdiri atas Kepala Agama, Kardinal, Uskup Agung, uskup, pastor kepala, pastor, pastor pembantu, dan pengikut. Orang itu adalah yang ketiga terkuat didalam organisasi. Kemudian laporan pun berlanjut.

__ __


Kami saat ini sedang berada di lantai 9 dungeon Golgo. Nromalnya para adventurer masuk kedalam dungeon sekitar 1-2 kali per minggu, tapi kami melakukannya tiap hari. Tentu saja Joseph-san juga mengikuti kami, tapi hanya aku saja yang menyadarinya.

"Sekarang, MATI!" (Nina)

Nina kemudian bergerak ke belakang Salamander dan memotong lehernya dengan bersih menggunakan benang baja laba-labanya. Tanpa ada yang menahan, lehernya terpotong dan jatuh.

"Kenapa kamu selalu teriak setiap kali menyerang?" (Yu)

"Ehehe, udah kebiasaan?" (Nina)

Kelihatannya Nina sepertinya malu dengan itu. Dua Salamander lainnya yang ada di belakang sudah tercabik-cabik oleh sihir anginnya Lena.

Lena menjadi lebih baik dalam menggunakan MPnya secara efisien, staminanya juga meningkat.

"Yu, ada ruangan disana." (Nina)

"Jangan masuk, itu ruangan boss." (Yu)

"Boss?" (Nina & Lena)

"Hari ini kita cukup naikin level sedikit lagi dan juga kita harus mengambil perlengkapan kita dari blacksmith." (Yu)

Masih ada waktu sebelum tengah hari. Awalnya, Nina dan Lena memerlukan waktu 10 jam untuk bisa sampai lantai ini, tapi sekarang hanya memerlukan 4 jam saja. Meskipun begitu, masih ada faktor kecemasan untuk melawan bossnya, jadi akan kupikirkan nanti setelah level Lena mencapai level 20.

"Aku udah sampe level 23 dan rasanya jadi makin susah aja buat naikinnya." (Nina)

"Makin tinggi levelmu makin susah juga naikinnya. Tapi skill mu masih bisa naik meskipun levelnya tetep stagnan." (Yu)

"...Kalau masalah skill ku, itu bukanlah masalah." (Lena)

Aku mengirimkan chop ke Lena karena mengatakan hal itu. Dia menatap ku dengan mata berair, tapi berpuas diri adalah sesuatu yang fatal bagi adventurer.

Meskipun begitu, karena mereka membunuh monsternya terlalu cepat, aku tidak bisa merampas skill mereka. Dan beberapa skill juga tidak mau naik dari level 6 ke level 7. Apa mungkin ada tembok besar yang menghalanginya?

"Oyaji, kami mau pulang 'lho." (Yu)

"Eeh kenapa?" (Joseph)

Joseph-san mengikuti kami lagi, tapi kali ini semua perlengkapannya adalah hitam, hal tersebut dapat mencegah terdeteksi oleh 【Awareness】 sampai ke level 5.

"Aku sudah membayar mahal buat dapetin perlengkapan ini dan masih ketahuan." (Joseph)

Dia merengek karena sudah ketahuan meskipun sudah membayar mahal. Sebenarnya sulit juga bagiku untuk bisa menyadari keberadaannya. Aku menggunakan trik Nina disini.

Aku menggunakan benang laba-laba dan menyebarkannya di tanah dengan sihir ku. Seperti membuat jaring. Lena bahkan tidak menyadarinya karena aku menggunakan sedikit mana. Aku menyebutnya "jaring surga".

"Kau berisik banget, oyaji." (Yu)

"Joseph oyaji, semangat." (Nina)

"....Shinee" (Lena)

"Jahatnya..." (Joseph)

Nina mencoba untuk menyemangatinya, tapi kata-katanya Lena kasar. Dia pasti benar-benar membencinya.

Kemudian kami kembali ke guild untuk menjual material. Terus pergi ke blacksmith untuk mengambil perlengkapan.

"Otchan, apa kau ada disini?" (Yu)

"Oh! Aku sudah menunggu kedatangan mu. Lihat ini." (Woods)

Otchan drarf membawa perlengkapannya dengan semangat.
(TL Note: Disini saya mengganti "Kurcaci" dengan "Dwarf", karena saya merasa "Dwarf" lebih enak dibaca"

__ __

Ogre Boots (Grade 5): Meningkatkan Ketahanan Sihir

__ _

Ogre Shoes (Grade 5): Meningkatkan Ketahanan Sihir

__ _

"Aku membuatnya menggunakan subspecies." (Woods)

"Otchan.. Ini.." (Yu)

"Kau menyadarinya? Karena kulit ogre awalnya memiliki ketahanan sihir yang tinggi,  maka perlengkapannya memiliki ketahanan sihir meskipun tanpa diperkuat." (Woods)

(Apa mungkin aku bisa menambahkan beberapa penguat juga?) [Yu]

Kami juga menerima baju, celana panjang, dan hot pants yang terbuat dari kulit ogre.

"Tunggu.. Satu lagi.. Ini adalah layanan tambahan." (Woods)

Otchan pergi mengambil sesuatu dan memberiku topi.

"Ini sebuah prototype. Dibuat dari kulit burung pemakan api, dan dijahit menggunakan benang baja laba-laba. Kacanya terbuat dari tempurung Niji-shokukame dengan kemurnian tinggi yang akan melindungi mata mu." (Woods)

Topinya tidak memiliki nama karena itu adalah prototype, tapi terlihat seperti kacamata pilot pada masa perang dunia.

"Keren.. Berapa harganya?" (Yu)

"Aku bilang kan itu layanan tambahan.. Cukup terus datang kemari saja untuk kedepannya." (Woods)

Itu seperti kontrak untuk aku datang seterusnya.

Aku juga menyerahkan beberapa kulit dan sisik Salamander. Aku ingin beberapa senjata dan armor. Tentu saja dia senang karena aku tidak melihat pelanggan lainnya selain aku disini.

Nina dan Lena sudah sudah selesai menjual materialnya dan sedang melihat papan quest.

"Memburu naga tanah. 100 gold coin! Lena, kau bisa dapat uang untuk daftar sekolahnya dengan ini." (Nina)

"Tetapi spesies naga itu setidaknya monster ber-rangking 6." (Lena)

Ketika mereka sedang berbicara, sebuah kelompok dengan tiga orang anggota datang menghampiri mereka.

"Hei, aku akan mengambil quest perburuan jendral goblin. Gimana kalau kita lakukan bersama-sama?"

"Kami dari klan Crimson Meteor, merupakan klan terbesar di kota Comer."

"Aku tidak pernah dengar.." (Lena)

Para adventurer itu tanpa sadar tertawa kering karena reaksi Lena, tapi mereka tidak menyerah.

Sementara adventurer elf memegang tangan Nina dan berkata.

"Jendral Goblin ini memiliki nama, dan hadiahnya adalah 10 gold coin hanya dengan memburunya saja. Jika kau menambahkan material-material lainnya, maka akan jadi berlipat-lipat!"

Akan tetapi, Nina memiliki pengalaman buruk dengan party.

"Maaf.. aku tidak akan bergabung dengan party lain." (Nina)

Mereka kecewa melihat Nina menolak elf itu, tapi mereka masih belum menyerah.

"Akan lebih baik jika kalian bersama kami. Klan kami bahkan akan menerima kalian jika memang menjanjikan."

"Ya, juga merupakan pengalaman yang berharga jika kalian bergabung dengan party kami."

"Pengalaman berharga?" (Nina)

"Iya. Dengan bergabung dengan party yang berbeda, kalian dapat beradaptasi dengan baik terhadap situasi apapun dan bahkan dapat berkontribusi untuk meningkatkan party kalian yang sekarang."

"Aku mau.." (Lena)

"Er, Lena, apa kau beneran yakin?" (Nina)

"Itu bagus.. Gimana dengan oneesan yang satunya?"

"Aku bilang nggak mau." (Nina)

Setelah beberapa saat, mereka menyerah membujuk Nina. Kemudian mereka pergi ke konter untuk menerima quest dengan Lena.

"Nina-chan.. Halo"

Lalit menyapa Nina seperti biasanya, tanpa tau apa yang sudah terjadi.

"La, Lalit-san?" (Nina)

"Ada apa?" (Lalit)


loading...