Sunday, 13 November 2016

Tsuki ga Michibiku Isekai Douchuu Chapter 4 Bahasa Indonesia


Translator: Alice
Proofreader: Ise-kun

Chapter 4 : Hal yang Telah Kudambakan.

"Kalau begitu, tolong coba lakukan" (Ema)

Seperti yang Ema katakan padaku, aku pun mengucapkan mantra.

Bahasa yang digunakan untuk mantra berbeda dari bahasa Orc tapi bagiku terdengar seperti kata-kata yang normal. Lebih seperti, jika aku mau menggunakannya, aku merasa seperti kata-kata akan mengalir secara alami. Saat mengalami sensasi itu, aku merasa aku memahami apa yang kuucapkan.
(TLnote: ada sebuah sensasi saat dia mengucap mantra dan dia merasa entah mengapa bisa memahami bahasa mantra mungkin?)

Kelihatannya mantra itu seperti sesuatu yang spesial sehingga mustahil itu akan menjadi bahasa lisan mu entah apapun yang terjadi. Aku ingin memperlihatkan kalau aku bisa tapi aku tidak jadi melakukannya.

Mereka memberitahuku kalau itu seolah-olah seperti mengumpulkan seluruh kekuatan didalam tubuhmu tapi aku memutuskan untuk tidak melakukannya.

Peningkatan kekuatan fisik dan sihir yang tsuki-sama ajarkan padaku, jika aku menggunakannya secara serius, mungkin itu akan menjadi situasi yang benar-benar merepotkan.

Apa yang akan kugunakan sekarang adalah sihir peluru api yaitu brid. Tidak harus api sih, sejenis sihir yang sama yang menggunakan elemen lain juga disebut brid. Sebuah sihir serangan dasar, begitulah yang dia katakan padaku.

Sebuah sihir berperingkat rendah yang bisa digunakan untuk menyalakan api tapi meskipun tempat ini besar, tempat ini tetaplah sebuah gua.

Kalau apinya terlalu besar, kau bisa mati karena kekurangan oksigen atau dari panasnya. Aku tak mengerti struktur sihir jadi aku merasa tak ingin mencobanya.

Aku agak ragu apa apinya akan keluar atau tidak, tapi mereka bilang aku harus mencobanya untuk mengetahuinya jadi..

"Brid!"

Dalam sekejap.

Dari sekelilingku, sesuatu yang sulit untuk dijelaskan, sebuah 'sensasi' mengalir keluar dari tubuhku.

Di depan tangan yang kuulurkan, Sebuah api yang terlihat seperti kapas tercipta.

Api itu berhenti untuk sesaat dan kemudian sambil bergetar, apinya menghilang.

"Oooooh~! Apakah ini sihir!?" (Makoto)

Suaraku menjadi bersemangat.

"Ya, Itu adalah tahap awal saat kau mengaktifkan brid. Tak kusangka kau akan bisa mengaktifkannya dalam percobaan pertama" (Ema)

Ema yang mengajariku, terkesan dan memujiku. Penyebab utamanya mungkin karena aku bisa mengerti bahasa mantra(Bahasa sementara).

Oh begitu~ Ini yang disebut sihir~♫

Agar bisa menggunakan sihir, seseorang harus mencoba, atau setidaknya itulah yang seseorang beritahu padaku saat aku mengulurkan tanganku. Dengan ini, itu terbukti benar.

Untuk berfikir hari dimana aku bisa menggunakan sihir akan tiba...

Di Game, hal ini adalah hal yang standar tapi untuk diriku bisa menggunakannya itu benar-benar sesuatu~

Ufuuuu, ufufufufufu

Secara spontan, aku pun tertawa.

"Bayangkan api itu seperti gambaran sebuah bola yang jelas dan kemudian bayangkan itu terpengaruhi oleh tujuanmu untuk menembaknya. Kemudian apinya akan menjadi wujud akhir dari brid"

Suara instruksi dari Ema menenangkanku dari kegiranganku.

Oh begitu, jika kau membicarakan mengenai bola api, sudah sewajarnya kalau kau akan perlu melemparkannya. Untuk membentuk apimu seperti sebuah bola dengan gambaran yang seperti itu.. Apakah itu artinya kalau brid itu adalah suatu pemanggilan api?

Nah, kesampingkan saja hal itu sekarang.

"Begitu ya~ kalau begitu" (Makoto)

Dengan mood yang bagus, aku menggumamkan sebuah aria(mantera) pendek dari brid.

Sesuatu mengalir keluar. Kemungkinan besar inilah maryoku(kekuatan sihir). Tentu, sekarang aku mengerti dengan jelas mengapa Ema memberitahuku bahwa dari pada dingertiin, mencobanya jauh lebih cepat.

Bahkan dengan penjelasan pun aku tak mengerti. Sekarang aku mengerti bahwa maryoku ini yang dijelaskan padaku itu, berada diseluruh dunia ini.

Api pun muncul sekali lagi.

Dengan mengendalikan ini.

Aku membentuknya menjadi sebuah bola dan..

Api itu berkedip dan tidak menghilang. Saat Aku membayangkan ukuran bola baseball, kedipan itu menjadi lebih kuat dan dengan lancar membentuk menjadi bentuk bola.

"Mengesankan, untuk melakukannya sampai ketitik ini hanya dengan mengikuti apa yang kukatakan saja..." (Ema)

Rasa terkejut yang Ema keluarkan juga terasa menyenangkan.

lalu ia bertukar pandang dengan orc-orc yang berada didalam gua dan mereka berkumpul di sisi dinding. Orc tersebut sangat besar dan terlihat seperti sebuah ras yang bangga terhadap kekuatan fisik mereka.

Jaraknya sekitar 5-6 m.

Gadis itu menatapku dan mengangguk, jadi aku mengarahkan bola api itu ke batu.

Lalu dengan membayangkan 'menembak ke bagian tengah' dengan kuat, aku menginstruksikannya untuk terbang.

Bola api itu terbang dalam kecepatan biasa, terus lurus dan mengenai batu itu.

Didalam gua, goncangan dan angin yang panas terjadi. Yah, sebenarnya nggak kayak gitu kok. Menyebutnya angin panas itu keterlaluan. Itu hanyalah seperti angin yang hangat.

Batu itu pun tercerai berai dan kehilangan bentuknya. Tampaknya kekuatannya lumayan. itu membuatku lega karena itu bukanlah sebuah mantera yang kosong.

"Dengan ini, aku telah mempelajari brid, kan? Ema" (Makoto)

"I-Itu benar" (Ema)

Caranya bicara kembali menjadi gagap. keliatannya aku melakukan sesuatu yang cukup mengesankan.

"Aku sebenarnya berfikir untuk mengajarimu untuk membuat cahaya yang sederhana dan kemudian berlanjut untuk latihan membayangkan mantera atau hal-hal seperti itu tapi.." (Ema)

Kelihatannya, Aku telah melompati banyak langkah. lalu, itu artinya aku sudah bisa menggunakan sihirku sebagai suatu cahaya!?
(TLnote: aku juga ga faham, mungkin maksudnya sebagai sesuatu yang bisa dia gunakan/andalkan)

Oh? Sihir itu menyenangkan, kelihatannya akan menyenangkan.

Suatu hal yang kusukai telah bertambah satu sekarang.

Terlebih lagi, mungkin karena aku masih dalam tahap belajar, tapi ini menyenangkan~ ♫

"Oh? Ajari aku, ajari aku. Aku tidak keberatan kalau kau cuma memberitahuku mantranya. Ajari aku lebih banyak" (Makoto)

Aku ceria sekali sekarang.

"Ah, ya. Kalau begitu, aku akan melakukannya bersamaan nanti. Omong-omong Makoto-sama, apa persepsi maryokumu baik-baik saja sekarang?" (Ema)

"A, samar-samar aku merasakannya. Hal yang mengalir keluar saat kau menggunakan sihir kan?" (Makoto)

"E~ itu benar. Sudah kuduga, kemampuan belajarmu berada pada tingkat jenius" (Ema)

"Yah, Aku tipe yang mengerti saat aku memikirkannya dikepalaku tapi seperti yang Ema katakan. Aku mengerti kalau itu lebih mudah untuk mencobanya terlebih dahulu" (Makoto)

Kelihatannya memang seperti itu. Benar-benar deh, Ema akan menjadi Sensei yang baik. (Sensei=guru)

"Lalu, bisakah kau memahami kalau itu juga ada didalam tubuhmu sendiri?" (Ema)

"Ng?" (Makoto)

Aku mencoba berkonsenterasi seperti dengan apa yang ia beritahukan padaku.

Seperti biasanyanya, cara untuk menggunakan kekuatan yang Tsuki-sama telah berikan padaku masihlah benar-benar sebagai suatu misteri.

Tapi, pasti.

Mungkin karena efek dari penggunaan sihir, aku bisa merasakan bahwa ada kekuatan yang berbeda yang mengalir diseluruh tubuhku.

Itu terasa seperti berada disekitarku.

Ini Maryokuku sendiri.

Rasanya seperti suatu perasaan yang ambigu. Seperti tercelup didalam air dan menjadi basah.

Jika itu berada diseluruh tubuhku, aku tidak benar-benar mengetahuinya.

"Iya, Ada. Jadi ini maryokuku" (Makoto)

"Memiliki kekuatan fisik sebesar itu dan bisa menguasai sihir dengan mudah. Makoto-sama mungkin cocok dalam pekerjaan untuk menjadi magic swordman" (Ema)

"Pekerjaan?"

Hey hey, dunia ini jauh lebih seperti game dari pada yang awalnya kupikirkan.

Apakah itu juga memiliki koreksi pekerjaan atau kemampuan unik juga?

"Eh~ maka levelmu pasti tinggi juga" (Ema)

Level, Dia bilang.

Uh?

Dengan ini, aku merasa aku harus merubah cara pandangku terhadap dunia ini.

Apakah ini seperti RPG? kemudian sesuatu yang namanya 'Liz' tadi harusnya juga telah memberiku exp. dia tak terlihat menjatuhkan emas sih.

"Uh.. Entahlah? Aku sendiri tidak tahu" (Makoto)

Pada saat kami datang kesini, aku telah memperkenalkan diriku pada Ema dan telah menjelaskan tentang situasi ekonomiku dan banyak hal yang lainnya juga.

Jujur saja, aku mengatakan banyak kebohongan mengenai diriku.

Jika aku memberitahunya kebenaran, Ema pasti akan berfikir kalau aku adalah orang yang menyedihkan yang memiliki masalah dengan otaknya.

Saat aku bangun, aku sudah berada disini.

Dan entah kenapa, ingatanku kabur. Yah, itu benar sih kalau aku tak memiliki ingatan mengenai dunia ini jadi itu tak akan jauh dari suatu kebohongan.

Aku merasa buruk untuk menipu seorang orc yang baik tapi untuk berfikir kalau hal itu akan membantu disituasi ini.

"Kalau itu cuma level, mungkin kita bisa mengetahuinya" (Ema)

Dia mengeluarkan secarik kertas.

"Apa ini?" (Makoto)

"Ini adalah sebuah kertas yang bisa memberitahu seberapa besar kekuatan seseorang. Yah, entah kenapa itu bisa melakukannya. Dulu, seorang Hyuman menjatuhkannya." (Ema)

Hyuman. Eh, Bukankan itu manusia!?

Sekarang dia mengatakannya, itu bukan manusia tapi Hyuman yang ada disini.

"Eh~ Apa yang kita lakukan dengan ini?" (Makoto)

Nah, untuk sekarang hal itu tidak masalah, ayo ukur levelku terlebih dahulu.

"Tolong pegang ini" (Ema)

"Hoi" (Makoto)

Aku memegangnya seperti yang ia beritahukan padaku. kertas itu putih tapi pada saat aku memegangnya, warnanya menjadi biru. lebih tepatnya sih biru muda.

"Ara, ini tidak mungkin" (Ema)

Ema bertanya-tanya karena itu. Apakah warnanya aneh?

Orc-orc lain yang ema telah perkenalkan padaku dan diberitahu mengenai aku yang mengalahkan liz, semuanya berada disini dan memiliki ekspresi yang bingung.

"Apa? Apa warnanya aneh?" (Makoto)

"Ummm... " (Ema)

"Umu, beritahu aku" (Makoto)

Aku sudah siap. Lagipula, itu hanyalah memberitahuku angka. Tidak seperti itu akan mengubah apapun~

"Level 1" (Ema)

Uuuh..

Benar~ Aku harus menanyakan tentang Hyumans ~♫

-----------------------

Catatan Author:
Dengan kekuatan dewi, makoto-kun bisa mengerti kata-kata yang berada dalam mantera.

kata-kata yang seharusnya terdengar seperti ‘askljfahsdklga’, baginya itu terdengar seperti 'cahaya terlahir' dan bisa mengaktifkannya.

ini adalah sebuah efek yang bahkan Dewi pun tidak tahu kalau ini akan terjadi.

loading...