Monday, 7 November 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 3 Part 2 Bahasa Indonesia


Translator: Google Translate
Editor: Bing Translate
Proofreader: Yahoo Translate

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Klik Untuk Mensupport Kami Agar Bisa Terus Rilis Tepat Waktu: Support Link

Volume 4 Chapter 3 Part 2/2: Kinsho-ko no shōjo (Gadis Perpustakaan Terlarang)

Dalam sebuah pengulangan setelah membunuh Paus Putih, Subaru hanya pernah bicara pada Beatrice sekali di Perpustakaan Terlarang.
(TL Note: Ingat, itu dalam pengulangan setelah membunuh Paus Putih, bukan pas keberadaan Rem lenyap dimakan paus putih)

Tujuan dalam percakapan itu adalah untuk membujuknya agar mau mengungsi dari Pemuja Penyihir, tapi dia menolaknya, dan pada akhirnya, diapun ditinggal sendirian didalam mansion.

Ketika Subaru tidak dapat mengingat lagi apa yang mereka bicarakan di pengulangan itu, melihat kembali, ada satu fakta yang Subaru tidak bisa lewatkan.

Beatrice, dipengulangan itu, bertanya pada Subaru mengenai Rem, yang seharusnya sudah kembali bersama Subaru.

Yang pada saat itu, surat yang bertuliskan tangannya Rem sudah menjadi kosong ketika tiba di Mansion.

Dengan kata lain, percakapan itu mengambil tempat setelah Rem diserang oleh Uskup Agung Pemuja Dosa, dan Beatrice, yang sepertinya terlihat apatis terhadap Rem, tiba-tiba bertanya mengenainya— —

"Jawab aku, apa kau mengingat Rem yang biasa tinggal di mansion ini?" (Subaru)

Subaru ingin dia mengingatnya, dia harus mengingatnya, memikirkan ini, suara Subaru menjadi berubah mendekati kalimat akhirnya.

Ingatan terdalamnya memastikan hal ini, dan hatinya yang pernah melemah, yang hampir tenggelam dalam lautan keputusasaan, berharap untuk bangkit, Subaru tidak akan menyangkalnya...
(TL Note: Menyangkal apa yang terjadi pada emosi batinnya)

Beatrice dengan hening menatap Subaru.

Di dalam bola matanya, tidak ada sedikitpun perasaan ataupun emosi. Apa yang sedang dia pikirkan mustahil untuk dibaca.

Biasanya, dia adalah gadis yang emosinya mudah untuk dimengerti, tapi saat ini, Subaru sama sekali tidak bisa membacanya. Giginya terasa gatal, seakan waktu telah berhenti berjalan, dan hatinya Subaru terbakar menjadi abu.
(TL Note: Intinya menjadi tidak sabaran)

"Oi..." (Subaru)

Kenapa kau tidak mengatakan apapun?

Apakah kau ingat atau tidak? Itu bukanlah pertanyaan yang sulit untuk dijawab...

...Tentu saja, hanya ada satu jawaban yang ingin Subaru dengar. Si Beatrice itu mengingat Rem, dan kemudian dia akan menertawakan pertanyaan bodohnya Subaru.

Ingatan yang termakan, nama yang tertelan, disingkirkan dari dunia, betapa bodohnya pemikiran itu.

Biarkan dia merasakan apa yang Subaru rasakan, biarkan dia merasakan yang sama atas kebiadaban dunia ini. Atau, walau hanya mereka saja yang dapat berbagi realitas umum atas keberadaannya, mungkin mereka dapat menemukan solusinya bersama-sama, dan itu saja sudah cukup.

Jadi, katakan padaku kau mengetahuinya.

Seperti Emilia, Crusch, Wilheilm, seperti yang lainnya, Rem—— jangan bilang kau melupakannya juga.

Ingin mendengar jawabannya. Takut untuk mendengar jawabannya. Pergolakan, kontradiksi, emosinya bercampur menjadi satu.

Kemudian, terhadap Subaru yang goyah, yang hatinya sedang bergejolak, Beatrice bicara

"— —Aku tidak ingin menjawabnya" (Beako)

Diamengalihkan padangannya dari Subaru, tidak menjawab 'ya' ataupun 'tidak'.

Menghembuskan napas sambil berkata 'Ha', dalam sekejap, pikiran Subaru terhenti. Kemudian menghempaskan tangannya ke udara.

"Tu-tunggu, apa maksudmu tidak mau menjawabnya? Bukankah pertanyaanku tadi hanya memiliki jawaban YA atau TIDAK?" (Subaru)

"Aku tidak tahu apa maksudmu dengan '/ya/'atau'/tidak/', sepertinya. Dan jawaban ku tidak akan pernah berubah. Aku tidak mau menjawabnya." (Beako)

"AKU BILANG ITU BUKANLAH SEBUAH JAWABAN!" (Subaru)

Mengayunkan tangannya ke bawah, Subaru melangkah maju dengan geram.

Gadis yang duduk di pijakan tangga bahkan tidak melirik sedikitpun terhadap sikap mencoloknya Subaru, dan hanya menutup rapat mulutnya. Melihat sikap keras kepalanya, kobaran api melahap dadanya Subaru, mustahil untuk menghentikannya sekarang.

"Itu bukanlah kata-kata yang ingin aku dengar darimu!" (Subaru)

"Kenapa juga Betty harus menjawab dengan kata-kata yang ingin kau dengar, sepertinya?...Berhentilah membuat keributan. Perpustakaannya bisa berantakan nanti, sepertinya." (Beako)

"Kau....!" (Subaru)

Subaru bergegas berjalan ke arah Beatrice.

Wajah yang bahkan tidak ingin melihatnya, Subaru ingin sekali memaksa wajahnya untuk menengok dan bertanya padanya secara tatap muka bagaimana bisa dia mengatakan sesuatu yang tak berperasaan, tapi,

"— — — —" (Subaru)

Disaat dia akan menyentuhnya, Beatrice melihat ke arah Subaru.

Dan kemudian, dalam sekejap, matanya dipenuhi oleh gelombang emosi, tangan Subaru terhenti. Karena itu seakan dia——

"Pertanyaan mu itu, apakah itu kata-kata yang menanyakan tentang seseorang yang dimakan oleh dosa 'Kerasukan'?" (Beako)

"— —! Jadi kau..." (Subaru)

"Masalah seperti ini, bagi seseorang yang sudah terbiasa dengan Kekuasaan Dosa Kerakusan, pasti tidak akan kesulitan untuk menyimpulkannya, sepertinya. Roswaal juga, dan Nii-cha, dan Shaula juga tahu semua ini." (Beako)

"Ros...!?" (Subaru)

Nama yang tidak diduga-duga muncul, tenggorokan Subaru menjadi tersedak.

Roswaal mengetahui Kekuasaan Dosa Kerakusan — — apa itu berarti ada kemungkinan kalau dia mengingat Rem? Tidak, tapi sebelum itu,

"Seberapa banyak kalian mengetahui Pemuja Penyihir? Bahkan Roswaal seharusnya sudah mengetahuinya, kalau sekalinya identitas Emilia sebagai Half-Elf diketahui publik, Pemuja Penyihir akan segera mengambil tindakan. Tapi, jika aku tidak melakukan sesuatu, Mansion dan desa didekatnya akan hancur. Apa yang terjadi?" (Subaru)

"........" (Beako)

"Tidak mungkin dia tidak merencanakan apapun, itulah yang Rem dan Crusch-san katakan padaku. Tapi malahan, bagiku terlihat dia tidak mempersiapkan apapun sama sekali, karena jika dia melakukannya, bagaimana bisa ini berakhir menjadi seperti ini..." (Subaru)

"Betty tidak tahu seberapa besar Roswaal sudah memikirkan mengenai hal itu, sepertinya. Tapi... Aku tidak berpikir Roswaal tidak memikirkan apa-apa mengenai itu." (Beako)

Mendengar pernyataannya Beatrice, Subaru mengangkat alisnya, mencoba mencari indikasi pergerakannya Roswaal selama pertempuran melawan Betelgeuse. Tapi, tidak peduli seberapa dalam Subaru mencari di ingatannya, dia tidak menemukan apapun yang berhubungan dengan itu.

"Apa ini kesalahpahaman? Ataukah kita yang berlebihan dalam menilai kemampuannya? Jika Roswaal melakukan sesuatu, terus kenapa aku dihadapkan dengan begitu banyak masalah..." (Subaru)

"Kalau kau tidak tahu, maka tidak ada seorangpun yang tahu." (Beako)

Helaan napasnya membawa warna kekecewaan, Beatrice sepertinya menyerah terhadap kurangnya pemahaman SUbaru. Meskipun dia tidak menyukai kelakuannya Beatrice, Subaru menyadari kalau percakapannya menyimpang dari topik.

"Tunggu, dibandingkan dengan itu, kalau kau tau mengenai Pemuja Penyihir, katakanlah segalanya. Mengenai Uskup Agung Pemuja Dosa, mengenai 'Dosa Kerakusan'. ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu.... dan buku juga." (Subaru)

Satu demi satu, Subaru ingin menanyakan Beatrice segalanya.

Subaru memasukan tangannya kedalam jaketnya, dan mengeluarkan buku bersampul hitam.

Buku itu, dikotori oleh darah kehitam-hitaman disampulnya dan sebagaian didalamnya, itu adalah barang yang dia dapat setelah pertempuran sengit dengan lawan tangguh, beberapa hari yang lalu.

"Aku tau ini sangat penting dan memiliki makna yang dalam bagi Pemuja Penyihir... Aku tidak bisa membaca apa isinya, tapi sebagai penjaga Perpustakaan Terlarang, kau mungkin mengetahui sesuatu..." (Subaru)

"— —Buku Injil" (Beako)

Melihat buku yang ada ditangannya Subaru, matanya Beatrice terbuka lebar.

Bibirnya bergetar, menatap Injil itu dengan tatapan beku.

Kata-kata yang tidak dapat dibaca tertulis disampulnya — Dia membacanya sekilas, dan dengan ekspresi tidak percaya, dia berkata

"Kenapa kau, dari semua orang, punya..." (Beako)

"Aku merampasnya, tapi bukan itu yang sebenarnya aku inginkan 'tau. Seperti yang aku bilang, Pemuja Penyihir telah mengepung mansionnya. Jadi aku mengambilnya dari pemimpin mereka. Pemiliknya... sudah tidak ada lagi di dunia ini." (Subaru)

"Mengambilnya... tapi, itu..." (Beako)

Suara Beatrice gemetaran ketika dia mengulurkan tangannya untuk menggapai Injil yang dipegang oleh Subaru.

Meskipun dia sungkan, melihat jari kecilnya Beatrice yang gemetaran, Subaru perlahan menaruh Injilnya ke tangannya Beatrice. Menerima buku itu, seolah-olah memeriksanya, dia menelusuri tulisan-tulisan misterius yang ada disampulnya dengan jarinya, dan

"Pemiliknya.... mati, katamu, sepertinya?" (Beako)

"....Ya, dia mati. Dia dilalap oleh roda gerobak dan... aku membunuhnya." (Subaru)

Jika diperhatikan lagi, Betelgeuse tidak dibunuh secara langsung oleh Subaru.

Tapi tetap saja, segalanya mulai dari alasan, kadaan, sampai kejadian-kejadian yang mengarah ke realitas kematiannya, semuanya karena tindakan-tindakannya Subaru.

Subaru ingin membunuh Betelgeuse, jika dia tidak mengambil nyawanya dalam duel sampai mati, didalam jiwanya, dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.

Karena itulah, Subaru tidak ada keberatan mengenai niatnya untuk membunuh Betelgeuse.

Tapi, meskipun tanpa adanya rasa keberatan, tetap saja mengotori tangannya seperti itu tidak mungkin tidak meninggalkan penyesalan apapun padanya. Dia tidak bisa berpura-pura jika itu tidak memperngaruhinya, ataupun menipu hatinya mengenai masalah ini.

Kenyataan dia membunuh Betelgeuse, dan sekali terbunuh oleh Betelgeuse, dia tidak akan pernah melupakannya.
(TL Note: Dia terbunuh sekali oleh Betelgeuse hanya terjadi pada novel, di anime tidak ada)

Selama dia hidup, dia akan membawa kehidupan yang dia ambil dari pria itu— —tapi sentimen ini tidak keluar dari mulutnya Subaru.

Betelgeuse merupakan keberadaan yang pantas untuk mati, dan Subaru percaya itu.

Itu saja.

Tetapi, untuk semua pikiran yang tercampur oleh kata-katanya, Beatrice tidak menunjukan adanya reaksi.

Dia hanya bergumam diam-diam "Begitu ya...", terus menjaga matanya ke bawah melihat ke Injil yang ada ditangannya,

"Jadi kau bahkan meninggalkan Betty, ya, Juice..." (Beako)

"— —? Siapa itu?" (Subaru)

"Kau tidak perlu tahu. Apa yang terjadi pada 'Gen Penyihir'nya, jika kau telah membunuh 'Dosa Kemalasan', sepertinya?" (Beako)

"Gen, penyihir...?" (Subaru)

Terhadap pertanyaannya Beatrice, Subaru mengerutkan dahinya dan memiringkan kepalanya.

Melihat sikap tubuhnya Subaru, ekspresi Beatrice menjadi terheran-heran, dan dia menyipitkan matanya seolah-olah mencoba untuk membaca emosinya Subaru dari ekspresinya. Tapi, mencarinya, tatapannya tidak menemukan apa yang Beatrice cari.

Subaru mendecapkan lidahnya dalam pergolakan.

"Cih, ayolah, jangan gunakan istilah-istilah sulit dong kepada orang yang tidak tau apa-apa mengenai situasinya. Apa itu 'Gen Penyihir'? Ugh, kedengarannya keren amat." (Subaru)

"Kau tidak tau...? Bentar, kau beneran nggak tau? Kalau begitu, untuk alasan apa kau membunuh 'Dosa Kemalasan', sepertinya? Aku tidak mengerti." (Beako)

"Aku cuman menyingkirkan masalah yang ada! Apa yang sebenarnya ingin kau coba katakan padaku?" (Subaru)

Percakapan ini hanya akan menghilangkan kesabaran Subaru, tapi tidak seperti Subaru, yang memaksakan alurnya, Beatrice malah semakin dan semakin menjadi hening. Meletakan bagian belakang tangannya ke bibirnya, seolah-olah sedang berpikir keras, dia hanya terus memandangi sampul depan bukunya,

"Aku, tidak tahu... Ini diluar kemampuan Betty untuk memutuskan." (Beako)

"Apa yang sedang kau coba putuskan sendiri — —oi!" (Subaru)

Menggelengkan kepalanya, Beatrice melempar Injilnya ke Subaru.

Subaru dengan cepat menangkap bukunya, menghela napas kecil dan,

"Apa yang kau lakukan tiba-tiba gini?! Aku nggak bilang bahaya, tapi ini masihlah buku yang menyeramkan 'tau? Perlakukanlah dengan lebih hati-hati." (Subaru)

"— —Sebaiknya kau simpan saja itu, sepertinya. Apa yang akan Gen Penyihir pilih atau tidak... Apapun itu, keputusannya akan dipaksakan. Ketika waktunya tiba, kalau itu membantumu dalam keputusan mu, Juice akan dapat menyerahkannya dengan damai juga, sepertinya." (Beako)

"Apa maksudmu dengan memberikan minuman!? Kau...!" (Subaru)
(TL Note: Subaru mengira 'Juice' itu sebuah minuman :v )

Subaru sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan Beatrice. Tapi, sebelum Subaru dapat mengatakan sesuatu, ada sebuah sensasi aneh terasa dibelakangnya.

— —Dibelakang ada suara ruang yang dibengkokkan dengan kekuatan aneh. Subaru secara insting mengerti, meskipun dia tidak tahu kenapa dia mengetahuinya,

"Apa kau mau mengusir ku? Aku bahkan belum bertanya apa-apa padamu... Kau mau aku pergi begitu saja? Yang bener aja!?" (Subaru)

"Jawaban yang ingin kau dengar, dan kata-kata yang ingin kau dengar - kenapa juga Betty harus mengatakannya, sepertinya? Egois... Berhentilah menjadi sombong!" (Beako)

"Som...! — —Katakan saja padaku, aku mau tau! Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi! Jadi, tolong..." (Subaru)

"— —Betty..." (Beako)

Semua rambut bagian belakang kepalanya berdiri — — mereka ditarik oleh kekuatan yang menarik seluruh tubuh Subaru ke belakang.

Ruangan terdistorsi — — tepat ketika dia menoleh kebelakang, dia melihat pintu yang harusnya tertutup, menjadi terbuka, dan dia tahu kalau sebuah ruang dengan kegelapan mutlak akan segera menelannya.

Tidak ada angin yang bertiup, ataupun tangan dan kakinya yang dipegang oleh sesuatu.

Hanya ada tekanan yang tidak bisa dijelaskan menekan seluruh tubuhnya dari depan, dan sebuah gaya gravitasi yang tak terlihat kasat mata dari belakang, seakan memeluknya, menariknya kebelakang.

-Mutlak dan memaksa, itu adalah wujud sejati dari Pintu Persilangan.

"Beako... Beatrice!" (Subaru)

"Apa yang saat ini mencoba untuk keluar adalah tubuh mu dan jiwamu" (Beako)

"Apa yang kau-" (Subaru)

"Hatimu tidak ingin mendengar jawaban sebenarnya, karena kelemahan mu itu pandanganmu menghindari realita, dan pikiran egoismu tidak ingin melihat dosa mu sendiri. Semua ini, jauhkan tubuh mu jauh-jauh dari Perpustakaan Terlarang ini!" (Beako)

Tapi,

"Aku— —" (Subaru)

"Betty bukanlah...alat serbaguna untuk mu." (Beako)

"— —!?" (Subaru)

"Apa yang ingin kau dengar, ketika kau ingin mendengarnya, dalam kata-kata yang ingin kau dengar, dengan cara yang ingin kau dengar... Aku bukanlah keberadaan yang serba bisa, seperti itu." (Beako)

Semua kata-kata itu keluar dari mulutnya Beatrice, Subaru tidak bisa mengucapkan kata-kata lagi.

Kata-kata itu menembus dalam, dan menancap tepat sasaran, dan Subaru yang sama sekali tidak siap, dihajar oleh kata-kata itu hingga tidak sanggup berkata apa-apa lagi.

Kemudian, disaat kekosongan itu muncul, ketahanan tubuh Subaru merosot, dan

"Cra— —" (Subaru)

Kali ini, seolah-olah dihisap oleh pintu yang ada dibelakangnya, tubuh Subaru ditarik menuju Pintu Persilangan.

Jika dia melewatinya, dia akan keluar dari Perpustakaan. Disaat-saat terakhir, Subaru menggenggam ujung pintu, dan ketika setengah tubuhnya hampir terlempar keluar, dia menginjak ke ujung lainnya.

Terengah-engah, menggemeretakkan giginya erat-erat, dia melihat ke depan— —didepannya, ada seorang gadis dengan ekspresi penuh kesedihan.

"Kalau kau ada sesuatu yang ingin kau tau, tanya Roswaal. — —Nii-cha ataupun Betty tidak akan berkata apapun pada mu." (Beako)


"...Kenapa kau, hampir menangis." (Subaru)

Terhadap kata-kata terakhirnya Subaru, Beatrice menunduk dan tidak memberinya respon.

Pada akhirnya, gadis itu mengulurkan ujung jarinya dan melilitkannya pada jari-jarinya Subaru yang ada di pintu— —dan melepaskannya.

Terhisap. Terlempar. Terkunci.

Terhadap pintu, dari Perpustakaan Terlarang — — oleh seorang gadis bernama Beatrice.

"— — — —" (Subaru)

Meluncur melewatinya, pintu itu memuntahkannya keluar dan mengirimkannya ke koridor.

Dihadapan matanya, pintu yang melemparnya keluar tertutup dengan kasar, melihat ini, Subaru mengulurkan tangannya ke penutup, tapu sudah terlambat.

"Ntuh Drill Loli..." (Subaru)

Dibalik pintu itu bukanlah Perpustakaan Terlarang lagi, melainkan hanyalah ruang tamu yang sudah tidak terpakai lagi.

Dia melihat sekeliling Mansion, tapi dia tidak bisa merasakan indra ke-enam yang menghubungkan dirinya dengan Perpustakaan Terlarang.

— —Hari ini, dia tidak bisa bertemu dengannya lagi.

Kenyataan ini terasa di hatinya Subaru.

Apa yang dia ingin dengar, apa yang dia ingin tahu, daripada itu, dia hanya diputar-putar oleh kata-kata membingungkan gadis itu, dan diusir sebelum mendapatkan apapun.

"Apa-apaan dia itu! Kalau kau mengetahui sesuatu, maka katakan saja napa, dasar bocah pelit! Dasar hikikomori pengunci diri!" (Subaru)

Subaru menendang pintunya yang sampai beberapa saat yang lalu telah terhubung dengan Perpustakaan Terlarang, dan mengeluarkan helaan napas panjang.

Menggelengkan kepalanya, dia mencoba melupakan gambaran itu dari ingatannya - Hal terakhir yang dia ingat ketika perpisahan mereka adalah ekspresinya Beatrice yang tidak bisa hilang dari pikirannya.

Tapi, yang pasti dia itu...

"Dengan wajah hampir menangis seperti itu, berhentilah mengurung dirimu sendirian, bodoh." (Subaru)

Berpikir kalau ini adalah salahnya sehingga Beatrice memiliki ekspresi seperti itu diwajahnya, dan tidak mendapatkan apa-apa, dia sama sekali tidak bisa menyalahkan Beatrice.

loading...