Wednesday, 30 November 2016

Kumo desu ga, Nani ka? Chapter 7 Bahasa Indonesia


Translator: KIV

007 – Bersantai 24 Jam Sehari.

Ahh, kenyangnya.

Mungkin karena aku kelaparan atau memang butuh nutrisi setelah terluka, kodok yang seukuran tubuhku kini semuanya masuk ke dalam perut.

Secaa fisik mustahil?

Hahaha. Di dunia dengan fenomena misterius seperti “skill”, yang begitu sih mungkin saja! Buktinya, perutku kini menggelembung seperti balon.

Aah~ kalau aku masih manusia, mungkin aku akan langsung merencanakan diet… eh, tapi saat masih menjadi manusia, aku tipe orang yang tidak bisa gemuk. Jadi selama ini aku tidak butuh diet.

Untuk sekarang, ayo perbaiki jaring rusuk karena kodok tadi.

Ugh…. Aku jadi susah bergerak karena kekenyangan. Memperbaiki jaring saja jadi benar-benar membutuhkan usaha. Untungnya tidak ada monster lain muncul saat aku bekerja.

Hmm, selain saat bekerja, bukankah aku cukup lengah saat makan tadi? Tidak menutup kemungkinan aka nada monster datang karena tertarik aroma darah. Walau di jalan kecil ini tidak terlihat apapun, tapi di jalur besar yang tadi ada serigala berkaki enam. Indera penciuman mereka sepertinya hebat. Mugkin untuk selanjutnya aku akan membawa mangsaku pulang sebelum makan.

Ah~ Setidaknya dari 3 kebutuhan dasar manusia (sandang, pangan, papan) aku berhasil mendapatkan pangan dan papan. Hmm? Bagaimana soal sandang? Kurasa tidak perlu, lagipula suhu di sini lumayan pas dan tubuhku ditutupi rambut pendek yang membuatku nyaman. Rasanya aneh kalau harus mengenakan pakaian, lagipula aku tidak punya apapun yang bisa kukenakan. Aku bisa sih merajut pakaian dari benang, tapi kalau sudah jadi harus kuapakan? Toh aku tidak tahu cara memakainya..

Makanya soal sandang diacuhkan saja. Dengan ini berarti aku sudah punya semua persiapan tanpa perlu banyak usaha! Fuahahaha. Memang sih aku harus membangun rumah dulu, dan melawan kodok tadi dengan susah payah. Eh… Sepertinya aku malah bekerja keras ya…

…ya sudahlah, yang penting selama tidak ada hal genting, aku bisa makan dan tidur dengan santai. Kalau bicara soal masalah, kemungkinannya hanya musuh yang bisa merusak jaringku atau tidak ada mangsa saat aku kelaparan. Kalau ada musuh yang bisa menerobos masuk, aku hanya perlu kabur tanpa piker panjang. Tapi aku tetap mengharapkan ada musuh yang bisa terperangkap. Kalau ada makanan, aku tidak perlu pergi kemana-mana.

Super sekali! Aku memang hikkikomori kelas kakap. Walau aku datang ke sekolah, tapi aku tidak berbicara dengan siapapun, begitu pulang, aku langsung menghabiskan waktu dengan internetan atau main game. Makananku hanya ada 3 jenis: yang diseduh, dimasukkan microwave, atau makanan siap saji di minimarket.

Kedua orangtuaku bekerja, dan mereka pulang begitu larut, sehingga kami jarang bertemu, apalagi berbicara satu sama lain. Aku melakukan pekerjaan rumah seminimal mungkin agar mereka tidak menggangguku. Jujur saja, mereka seperti orang asing yang tinggal serumah denganku.

Karena kehidupan seperti itu, aku menganggap berkomunikasi dengan orang lain sebagai sesuatu yang menyebalkan… yah, mungkin memang bukan gayaku, atau mungkin memang sudah bawaanku begitu. Maka tidak heran kalau aku tidak memiliki teman. Bahkan saat bermain MMO, aku hampir tidak pernah chatting dengan pemain lain.

Karakter MMO-ku tipe pendiam yang selalu menjaga jarak. Aku biasanya memainkan om-om botak, tipe orang yang tidak berbicara banyak dan lebih banyak bekerja. Stat dan skill kurasa tidak berguna, jadi aku hanya meningkatkan STR dan SPD. Karena aku tidak boleh kena serang, jadi gaya bermainku adalah hit-and-run.

Aku bisa mati dengan sekali pukulan!

Hmph. Aku tidak begitu peduli kalau tidak bisa bertemu kembali dengan orang tua atau teman-temanku. Tapi aku akan merindukan si om botak. Di MMO free to play, karakter gratisan yang bisa mengalahkan cash player sangat jarang, makanya saying sekali kalau karakterku menghilang begitu saja.

Aku lebih menyesali karakter game-ku ketimbagn orangtuaku sendiri, sepertinya aku memang bukan orang yang baik, ya? Tapi kenyataannya memang begitu. Apa mereka akan sedih begitu tahu aku mati? Hmm… kurasa aku tidak akan sedih kalau di posisi mereka. Dan mungkin aku tidak akan mengeluarkan uang untuk pemakaman.

Kurasa aka nada orang yang marah kalau aku mengakan ini, tapi memangnya kenapa? Aku tidak merasa mengganggu orang lain, jadi bukan urusan mereka kan. Aku membebani orang tua? Jujur saja, aku bermain saham dengan nama orang tuaku, dan dari situ aku berhasil mendapatkan cukup banyak uang. Begitu menyadari pola dan terbiasa mengambil risiko, main saham bisa jadi mata pencaharian. Karena itu aku merasa tidak membebani orang tua. Karena aku tidak menganggu orang lain, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk ikut campur urusanku.

Ah, sepertinya aku berbicara panjang lebar soal hal yang tidak penting lagi.

TL;DR: Hikkikomori FTW!!

Catatan Pengarang: tolong jangan melakukan apa yang dicontohkan dalam cerita ini. Ini hanyalah karya fiksi dan opini karakter tidak merepresentasikan opini penulis.

loading...