Wednesday, 30 November 2016

Kumo desu ga, Nani ka? Chapter 6 Bahasa Indonesia


Translator: KIV

006 – Aku Makan Tanpa Rasa Penyesalan.

Catatan Pengarang: Cerita berikut mengandung adegan pemangsaan. Pembaca harap mempersiapkan diri.

RUmah baruku terasa begitu aman sampai-sampai aku tertidur tanpa kusadari. Namun ketika benang yang terhubung dengan kakiku bergetar, tubuhku terhenyak bangun. Aku sempat berharap begitu bangun, semua tadi hanyalah mimpi, tapi pemandangan di hadapanku tetap gua yang sama. Ya sudahlah.

Aku meregangkan kedelapan kakiku sembari berdiri. Kaki-kakiku bergesekan saat bergerak, rasanya sedikit menjijikkan.

Setelah tersadar penuh, aku mengarahkan perhatianku ke benang yang bergetar. Benang ini terhubung dengan jaring bawah di lorong sebelah kiri. Sepertinya ada sesuatu yang tersangkut.

Mangsa pertamaku.

Aku perlahan datang mendekat. Yang terjebak di jaring adalah sesuatu dengan kulit dihiasi titik-titik berwarna pelangi.

| Frog

Ya, walaupun tubuhnya berwarna pelangi dan berukuran sebesar tubuhku, mahluk ini tetap bisa dibilang kodok. Ini pertama kalinya aku setuju dengan apa yang dineritahkan appraisal kepadaku. …Oh iya, selain waktu appraisal bilang aku ini laba-laba.

Tapi kodok ya… untuk tangkapan pertama, lumayan juga kan? Aku tidak pernah mencobanya saat di jepang, tapi sepertinya ada daerah tertentu yang menganggap mereka sebagai makanan. Dan kudengar, rasanya mendekati rasa ayam. Tadi aku berpikir kalau aku harus makan kotoran untuk bisa hidup, tapi ini tidak buruk! Kalau tidak bisa memakan ini, aku mungkin tidak akan bisa makan yang lain di dungeon ini.

Ada masalah lain, sih. Kodok ini mungkin beracun… hmm, ya, dengan warna mencolok seperti ini, sudah pasti beracun. Bagaimana ya…

Selagi aku duduk dan berpikir, kodok yang tengah meronta itu menyerang balik! Dia menyemprotkan cairan berwarna cerah tepat ke arahku! AAAH! Aku terlalu sibuk memikirkan bagaimana membunuhnya sampai aku tidak sadar! Sudah terlambat untuk menghindar! Tubuhku tertutupi cairan menjijikkan itu.

AAAAGH!

A-Apa ini!? Sa-Sakit! A-Apa ini bisa!? Ini bena-benar bisa!! Tubuhku dikenai bisa!

(TL Note: Perbedaan racun, bisa, dan asam yang dimaksud dalam cerita:
 

Racun: kandungan yang menyebabkan rasa sakit bila dikonsumsi, menjelaskan sesuatu yang dikandung dalam suatu substansi.
http://kbbi.web.id/racun
Bisa: berbeda dengan racun, bisa adalah sesuatu dapat dikeluarkan oleh mahluk hidup untuk meracuni mahluk hidup lain.
http://kbbi.web.id/bisa-2
Asam: sifat senyawa yang memiliki level PH dibawah 7, dalam kasus ini, asam yang bersifat korosif (merusak dengan menggerus bagian yang terkena asam)
http://kbbi.web.id/asam
http://kbbi.web.id/korosif)


Uwah, dia menyerang lagi! Tunggu-tunggu, aku belum—aduh! Aku kena lagi! Rasanya benar-benar sakit! Kabur, kabuuuur!!

Aku melarikan diri dari jangkauan si kodok dan hampir tersandung kakiku sendiri.

Uwah… benar-benar sakit. Apa begini rasanya tersiram asam1? Apa tubuhku meleleh? Aku jadi khawatir karena tidak ada cermin.

Gawat, aku salah langkah. Aku jadi sembrono karena musuhnya terjerat. Ada pepatah yang bilang “Tikus yang terpojok akan menggigit balik”. Bahkan kodok yang diburu oleh ular tidak akan membiarkan dirinya dimakan begitu saja.

Aah, sakiit, walupun tidak sampai membuatku ingin mati. Bisanya sebagian besar mengenai tubuh kiriku. Mata kiriku kena, jadi sebagian kecil pandanganku menghilang. Eh… padahal mata kiriku tidak berfungsi, tapi kenapa hanya sedikit yang tertutup…? Ah, ya, sekarang aku bermata delapan karena jadi laba-laba. Untung deh.

Ketimbang itu, rasa sakitnya tetap tidak mau hilang.

“Syarat keahlian terpenuhi, skill [Acid Resistance LV1] telah ditambahkan.”

Oh? Tiba-tiba rasa sakitnya berkurang. Suara tadi mengatakan skill… apa itu berarti aku bisa mendapat skill tanpa menghabiskan poin? Eeh… Kalau begitu kenapa aku harus menghabiskan seratus poin untuk appraisal!? …ugh, sudahlah.

Sepertinya aku mendapat skill untuk mengurangi damage dari asam. Tebakanku sih karena serangan kodok tadi. Karena skill-nya tidak langsung keluar, berarti syaratnya lebih dari itu. Kemungkinan besar skillnya muncul karena asamnya menempel di tubuhku dan memberikan damage terus menerus.

Nanti saja kupikirkan. yang penting aku mendapat kekebalan dan rasa sakitnya berkurang. Lagipula, aku benar-benar marah. Padahal dia Cuma makanan! Berani-beraninya menyerangku! Tidak dapat kumaafkan! Sudah kuputuskan, beracun atau tidak, aku akan memakan kodok itu!

Aku menerjang! Selama hati-hati, ini akan mudah. Lagipula dia terperangkap di jebakan dan menjadi mangsaku!

Kodok itu menyerang lagi ke arahku. Tapi itu sudah bisa kutebak! Aku menghindar semprotan asam yang mendekat dan menyerang balas. Terimalah, kodok, ini jurus pamungkasku!

Bagaimana gigitanku, kodok? Ohoho, jangan piker ini gigitan biasa! Aku laba-laba! Taringku diselubungi bisa mematikan! (walau aku baru tahu saat membuat benang tadi). Ohohohooo, rasakan bisaku mengalir di pembuluh darahmu dan matiii!

Cprat!

UGYAAAH!

Dia menyemprotkan bisa dalam kondisi begini!? Aduduh! Bahkan dengan kekebalan yang kudapat, rasanya masih sakit!

Aku tanpa sengaja melepas taringku darinya.

“Syarat keahlian terpenuhi. Skill [Poison Resistance LV1] naik menjadi [Poison Resistance LV2]

Ahh, begitu ya?

Eh, tunggu dulu! Kodok ini bukan Cuma sekali dua kali menyerangku dengan cairan menjijikkan, tapi tiga kali lho!! Benar-benar tidak dapat dimaafkan! Padahal awalnya aku ingin memaafkanmu, bersiaplah untuk kuhabisi!

Aku menyerang sekali lagi dengan penuh amarah. Kodok tadi menggeliat kesakitan. AHAHA! Rasakan! RASAKAN!!!

Aku menggigitnya, lagi dan lagi. Kodok itu meronta menahan sakit, tapi perlahan tubuhnya melemah dan akhirnya terhenti.

Heh. Akhirnya kalah juga. Kalau ini pertarungan pertamaku, aku yakin yang selanjutnya akan semakin sulit. Tapi untuk sekarang, aku berhasil!

Sip, saatnya untuk makan!

Omnomnom.

Ugh, pahit. Mulutku juga jadi sakit. Apa rasa pahit ini karena racun? Dan rasa sakit ini dari asamnya? Yah, yang penting aku ada kekebalan, jadi tidak mungkin aku mati. Aku bisa menahannya, tapi, huek, kodoknya tidak enak.

“Syarat keahlian terpenuhi, skill [Acid Resistance LV1] menjadi [Acid Resistance LV2]”

Walau dagingnya tidak enak, setidaknya skillku bertambah.

loading...