Saturday, 19 November 2016

Kumo desu ga, Nani ka? Chapter 5 Bahasa Indonesia


Translator: KIV

005 – Sekarang Saatnya Membangun Rumah Baru

Aku menyerah mencoba kabur dari dungeon ini.

Setelah berkeliling, aku hanya bisa melihat dead-end apabila nanti ada sebuah pertemuan yang tidak terduga. Baik monster maupun manusia, mereka semua adalah lawan hebat bagiku. Lawan hebat di sini maksudnya bukan rival lho, ya. Yang dimaksud di sini adalah lawan yang benar-benar bisa membuat nyawaku dalam bahaya.

Untungnya (kalau bisa dibilang beruntung) tidak ada monster yang lebih cepat dariku di lorong ini. Kalau ada, tidak mungkin aku bisa kabur.

Tubuh laba-labaku ini cukup cepat. Bukankah kalau hanya soal kecepatan, tubuh ini lebih baik dari kehidupanku sebelumnya? …Ah, maaf. Aku terlalu menyombongkan diri. Sebenarnya, selain kecepatanku, kemampuan atletikku sekarang juga jadi jauh lebih baik. Hehe.

Yah, sebelum reinkarnasi, aku lebih ke arah orang yang bilang: “Olahraga? Apa itu?” dsb, dsb. Nah, laba-laba liar tentu saja memiliki kemampuan yang lebih baik dibandingkan aku yang dulu. Satu-satunya bagian tubuhku yang terlatih hanyalah jempolku, yang telah memainan game ribuan jam.

Kesampingkan ketidakatletisanku, di tubuhku sekarang ini, aku jadi lebih hebat soal kabur. Tentu saja, aku tidak mungkin bisa kabur terus-menerus. Bisa jadi aku akan mati kalau dikepung, atau ada yang lebih cepat dariku.

Ngomong-ngomong, rasa laparku semakin parah. Tidak mungkin aku bisa bertarung dengan perut hampa. Walaupun tidak ada pertarungan, aku bisa mati kelaparan kalau terus begini.

Yah, baiklah, ayo pikirkan dulu.

Q: apa yang dimakan laba-laba?

A: Serangga lain.

Ooh… benar juga ya… kalau mau makan, itu yang harusnya kucari kan… dan karena tubuhku sebesar ini, pilihan mangsaku jadi berkurang… terlebih lagi, pilihanku adalah monster lain, dan walau tidak mau kupikirkan, manusia.

Hmm… saudaraku juga jadi kanibal setelah lahir dan laba-laba raksasa yang sepertinya orangtua kami juga santai saja meakan anak-anaknya. Sepertinya sebagian besar spesiesku menganggap semua hal di dunia ini selain dirinya sendiri sebagai makanan.

Yah, tidak ada pilihan lain lagi sih, terlebih di gua ini.

Oh iya, kira-kira apa yang dimakan monster rusa di jalan besar tadi? Apa mereka karnivora yang menyamar sebagai herbivore? …wah, aku tidak bisa berhenti berpikir soal makanan. Aku benar-benar khawatir dimana aku harus mencari makan.

Saatnya menghadapi kenyataan. Kalau dibiarkan, aku akan mati kelaparan. Itu berbahaya, jadi aku sepertinya terpaksa memakan sampah apapun yang bisa kutemukan. Ugh… harus menyiapkan diri.

Menyiapkan diri sih mudah, tapi langkah pertama harusnya mencari tahu apa yang akan kumakan. Tentu saja, sekarang aku tidak punya makanan, mau tidak mau aku harus pergi mencarinya. Tapi bagaimana?

Jujur saja, kesempatanku memenangkan pertarungan sama dengan nol. Ya, memang jalur di labirin ini lebih kecil dari jalur yang dipenuhi monster besar tadi. Tidak ada monster seperti laba-laba raksasa atau monster naga itu. Ukuran monster di sini, paling besar hanya seukuran manusia.

Walau begitu, mungkin tidak mungkin bagiku untuk menang. Hah, kenapa? Aku tidak tahu caranya berkelahi! Tapi kalau di game sih lain cerita. Masalahnya menggerakkan tubuh di game dan di dunia nyata adalah 2 hal berbeda. 2D dan 3D tidak bisa disamakan.

Yah, walau begitu, aku tetap akan bertarung bila terpaksa.

Sekarang perutku sudah sangat lapar, walau tidak sampai membuatku tumbang. Aku harus mencari tahu bagaimana laba-laba mencari mangsa…

Oh, kalau bicara soal laba-laba tentu saja tidak lupa soal sarangnya! Menjalin sarang dari benang laba-laba yang lengket lalu menangkap mangsa adalah ciri khas laba-laba. Dan gua ini tempat yang sempurna, karena aku bisa membuat sarang sepuasnya.

Sudah kuputuskan! Aku akan membangun rumah di sini!

Pertama ku harus membuat benang. Benang laba-laba itu keluarnya dari pantat kan? Lalu aku sadar sudah ada benang yang keluar tanpa kusadari. Eh? Aku tidak ingat mengeluarkannya. Ditambah lagi, benangnya membentang dari arah tempatku datang tadi.

Apa mungkin selama ini aku mengeluarkannya tanpa disadari…?

Uwah… memalukan sekali! Sepertinya aku hanya bisa menghentikan benangnya secara sadar.

Yeaaa…. Sekarang apa yang harus kulakukan dengan semua benang ini? Mungkin nanti akan berguna, tapi sekarang simpan saja dulu.

Sekali lagi… aku akan membuat rumah di sini!

Aku sudah tahu caranya membaut benang. Selanjutnya tinggal menempelkan benang ini di tempat yang bagus. Walau aku PD soal kecekatanku, tapi bisakah aku melakukannya?

…Selagi aku memikirkan itu, sarang yang sudah jadi kini ada di hadapanku. Dalam sekejap mata, aku telah membangun jarring yang memuaskan. Terowongan ini kini telah ditutupi jaring laba-laba raksasa. Wuah… Apa ini karena instingku!? Begitu aku mulai, tubuhku bergerak sendiri selagi aku melamun.

Aku membagi jaringku menjadi dua bagian. Bagian atas dan bawah dipisahkan oleh celah sebesar satu meter. Kau ingin tahu alasannya? Tentu saja supaya aku bisa kabur.

Rumah baruku berada di pertigaan yang berbentuk seperti T, jadi aku membuat jaring di setiap lorong. Tapi, aku memastikan ada lubang di setiap jaring supaya aku dapat kabur, karena aku bisa terperangkap kalau semuanya ditutup. Walau kupikir tidak akan ada yang bisa menembus, tapi bisa saja ada yang mampu merusak jaring tadi. Makanya, lubang itu ada untuk kugunakan saat sedang genting.

Monster bodoh yang merangkak di tanah akan terjebak di jarring bawah, mereka yang mencoba melompat atau terbang akan terperangkap di jaring atas. Aku telah menutup semua pintu masuk, jadi aku benar-benar aman di sini. Karena aku menutup sarangnya dari tiga sisi, keamananku terjamin. Jalur melarikan diri juga sudah kusiapkan.

Bukankah ini tempat sempurna bagi hikkikomori?

Akan kusebut tempat hebat ini sebagai rumahku.

loading...