Saturday, 12 November 2016

Kumo desu ga, Nani ka? Chapter 3 Bahasa Indonesia


Translator: KIV

003 - Dulu Aku Merasa Appraisal itu skill OP.

Aku adalah seekor laba-laba.

Sampai sekarang belum memiliki nama.

Hmm kenapa aku bilang begitu? Aku hanya ingin bilang kalau aku tidak memiliki nama. Kenapa aku tidak memiliki nama? Hmm… sepertinya kita harus kembali ke beberapa saat yang lalu untuk membicarakannya.







Aku hanya terdiam melamun setelah mengetahui ukuranku yang sebenarnya. Tapi itu wajar kan? Selain masih shock karena aku terlahir kembali sebagai laba-laba, ternyata aku juga menjadi monster.

Suram.

Manusia biasa mungkin akan bunuh diri karena depresi.

Hmm, yah, untung aku belum kepikiran untuk mati.

Tapi sekarang bukan waktunya untuk depresi! Soalnya ini bukan bumi, jadi aku masih belum tahu apa-apa tentang bahaya apa yang akan mengintai. Bukankah ada kemungkinan kalau di sekitar sini ada monster lain yang seseram laba-laba tadi!?

Kalau ukuranku sekitar 1 meter, berarti dia sekitar… 30 meter? Apa mungkin manusia bisa melawan mahluk sebesar itu? Kuharap pemilik jejak kaki tadi tidak sampai bertemu dengannya. Eh, tunggu! Mungkin mereka punya kesempatan menang kalau membawa senjata berat. Lagipula ini dunia fantasi kan? Mungkin mereka juga punya sihir yang cukup kuat. Apa mungkin laba-laba itu punya kekebalan terhadap sihir? Entahlah. Tapi sebagai musuh, aku harus menganggapnya sebagai bos monster. Kalau tidak, aku mungkin tidak akan berumur panjang.

Mungkin nggak akan buruk kalau orang-orang tadi melawan si laba-laba raksasa… walaupun rasanya sedikit janggal. Soalnya aku ini mungkin anak dari monster itu.

Ahh, ya, benar juga. Aku ini monster laba-laba!

Kalau mereka menemukanku, bukankah aku akan dibunuh?

Hmm… mungkin sih. Sangat mungkin.

Bagaimana, ya? Aku ingin tahu soal mereka, tapi kalau sampai bertemu, bisa-bisa aku dihabisi.

Uwah, gawat. Aku tidak punya banyak informasi….

Baik itu tentang dunia ini. Atau tentang penduduk dunia ini. Atau juga tentang perlakuan merea terhadap monster.

Aku ingin tahu begitu banyak hal, tapi tidak tahu caranya.

Ugh! Kuharap aku punya skill appraisal yang biasanya muncul di novel-novel.

“Anda memiliki 100 skill point. Skill [Appraisal (LV 1)] dapat diperoleh dengan 100 skill point. Apakah anda ingin mendapatkan skill tersebut?”

…Serius?

Tiba-tiba ada suara seperti robot yang muncul di kepalaku.

Ahahaha! Ternyata ada! Ternyata skill appraisal benar-benar ada seperti di novel-novel!

Meta sekali! Hahaha!

Ya! Tentu saja jawabannya iya!

“Anda mendapatkan skill [Appraisal(LV 1)]. Tidak ada skill point tersisa.

Aku menghabiskan semua skill point yang kumiliki tanpa ragu. Lagipula, tia akan bertambah kalau aku naik level, kan? Jadi aku santai saja, santai!

Nah, sekarang saatnya mencoba skill appraisal untuk memecahkan misteri dunia ini!



uhuk, tunggu. Cara pakainya bagaimana? Uh, mungkin pakai cara standar?

Aku menghadapi batu yang sepertinya menarik, lalu berkonsentrasi dan berpikir, “Appraisal”.

Ooh! Sepertinya bekerja! Ada informasi yang masuk ke kepalaku!

| Batu

… Hah? Cuma itu? Eh, tunggu, tunggu dulu. Nggak mungkin kan? Aku pasti melakukan kesalahan karena ini pertama kali kugunakan. Ayo coba sekali lagi.

| Batu

…mustahil… Cuma itu? Beneran Cuma itu? Nggak mungkin deh! Atau mungkin ini Cuma batu biasa? Oh, mungkin saja karena tidak ada hal penting untuk diketahui dari batu ini!

Selanjutnya ayo coba dinding. Mungkin aku bisa tahu sekarang ada di mana! Seenggaknya aku bisa sedikit lega kalau ada informasi, walaupun cuma nama guanya.

| Dinding.

…Speechless.

Sepertinya aku harus berpikir sekali lagi. Nama skill-nya, “Appraisal, level 1”…

Di situ tertulis level satu. Seperti yang kualami tadi, skill level satu kegunaannya Cuma itu. Mungkin skill-nya bisa lebih berguna kalau levelnya kutingkatkan… tapi, aku sudah menghabiskan semua skill point.

Aaaaagh! Bodoh sekali! BODOOH! Aku menghabiskan semua skill point untuk appraisal tanpa memeriksa soal skill lain. Bagaimana coba kalau tadi ada skill lain yang bisa digunakan walau masih level satu?

Eh, tunggu deh, jangan menyesal dulu. Kalau appraisal saja selemah ini di level satu, mungkin skill lain juga sama saja.

Ok, asumsikan saja begitu.

Sip, aku move on.

Aaah.

Nai waaa~

Iseng, aku mencoba menggunakan appraisal pada diriku sendiri.

| Spider – (No Name)


Hah? Tulisannya laba-laba seperti perkiraan, tapi kok… “No name”?







Kejadiannya kurang lebih seperti itu.

Aku tidak punya nama.

Yah, di kehidupanku sebelumnya aku punya nama sih. Tapi aku yang sekarang belum pernah diberikan nama.

Untuk sekarang, acuhkan saja skill appraisal tidak berguna ini. Yah, nggak sepenuhnya percuma sih, setidaknya aku bisa tahu beberapa hal.

“Skill Point”. Mungkin ini poin yang bisa kutabung untuk membeli skill baru. Tapi aku tidak tahu bagaimana mendapatkannya. Sepertinya mahluk hidup dunia ini memiliki level. Dan sepertinya setiap level up akan mendapatkan tambahan poin. Ini masih sekedar hipotesis sih.

Level, skill, poin… kok rasanya dunia ini seperti game, ya? Iya kan?

Sudahlah, pokoknya sekarang aku ini monster laba-laba. Aku mungkin tidak akan memilki kehidupan normal, eh tunggu, mungkin tidak tepat aku mengharapkan kehidupan manusia normal karena aku ini laba-laba.

Lalu, dalam dunia yang seperti game ini, walau terlahir sebagai laba-laba, aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya!

…eh, tapi ngomong-ngomong, aku lapar.

loading...