Sunday, 6 November 2016

Kumo desu ga, Nani ka? Chapter 2 Bahasa Indonesia


Translator: KIV

002 – Sepertinya Aku ini Monster

Yap. Sepertinya aku harus menghadapi kenyataan bahwa aku terlahir kembali sebagai seekor laba-laba. Lalu apa yang harus kulakukan mulai sekarang?

Krauk!

Suara yang tidak enak di telinga membuatku tersadar dari lamunan. Ah, ya. Aku nggak boleh melarikan diri dari kenyataan. Saat ini aku masih dikelilingi laba-laba (yang sepertinya saudaraku?) dan sekarang ada suara aneh dari tempat mereka. Membalikkan tubuh, aku mencoba melihat asal suara tersebut.

Krauk Krauk!

UGYAAH!?

Apa yang mereka lakukan? Mereka sedang makan? EH!? MEREKA KANIBAL!?

Di depan mata, saudara-saudaraku sedang berlomba memakan satu sama lain demi bertahan hidup. Eh, nggak, nggak! Gawat, gawat! Kenapa harus ada pertumpahan darah di antara saudara!?

Oh, tapi makanan ya makanan. Mereka lapar. Dan sepertinya aku juga sama laparnya dengan mereka…

AH!?? Gawat, gawat. Bahaya. Kalau aku ke sana, aku pasti seperti gadis perawan yang dilemparkan ke sarang penyamun! Itu cuma metafora, tapi tahu kan maksudnya…
(fun fact: Kumo-chan itu perempuan)

             Fight
             Item
            Escape

Di saat seperti ini lebih baik kabur. Kabur itu juga salah satu dari 36 Strategi Perang kan?
(Note: https://en.wikipedia.org/wiki/Thirty-Six_Stratagems)

Aku? Ikut bertarung? Nggak mungkin. Aku yang biasanya langsung pulang begitu sekolah selesai mana mungkin bisa bergerumul dengan kumpulan barbar di hadapanku. Oh, tapi sekarang tubuhku sama dengan mereka, sih. Tehee.

Ah. Kalau ada waktu untuk berpikir, sebaiknya kupakai untuk kabur.

Bum!

Ada guncangan yang tiba-tiba muncul dari belakang. Ini apa lagi!?

Begitu berbalik, ada seekor laba-laba raksasa yang ukurannya jauh lebih besar dari kami.

Oh, apa itu ibuku? Atau ayahku? Lalu kenapa ukurannya bisa sebesar itu!? Bayangkan deh, ukurannya mungkin 10x lebih besar dariku. Kalau kuingat-ingat lagi, memangnya ada laba-laba sebesar itu di bumi?


Omnomnom.

Ah. Laba-laba besar itu menusuk salah satu laba-laba kecil dengan kakinya. Kemudian mengunyahnya seperti cemilan.

Oh ibu, begitu kejamnya dirimu…!


Sekarang aku harus benar-benar kabur, aku harus bertahan hidup!




Aku berlari sekencang mungkin, sampai akhirnya terhenti karena tenagaku terkuras habis. Baguslah, sepertinya aku nggak diikuti oleh kumpulan laba-laba tadi. FUh, kupikir aku akan mati.

Nggak lucu banget setelah lahir langsung mati.

Baiklah, karena sudah aman, ayo pikirkan kondisiku saat ini.

Fakta bahwa aku ini laba-laba sudah tidak dapat dipungkiri. Tubuhku yang nggak biasa olahraga nggak mungkin bisa melompat seperti tadi, apalagi bisa berlari di dinding seperti tadi.

Hmm? Cerita saat kabur tadi? Aku hanya berlari menerobos sekumpulan laba-laba yang jumlahnya menjijikkan. Kalau mau dianalogikan, rasanya seperti menerobos kumpulan ibu-ibu saat ada obral pakaian. Menyeramkan sekali! Ah, ya, tapi aku belum pernah melakukannya sih...

Kembali lagi, saat aku kabur dari gerombolan laba-laba itu, tanpa sadar aku berlari di dinding dan melompat-lompat seperti ninja! Rasanya memang aneh, tapi aku bisa menggerakkan kakiku dengan bebas tanpa tersandung satu sama lain. Apa mungkin ini disebut insting alamiah? Baguslah, seenggaknya aku nggak perlu khawatir dengan tubuhku.

Jadi, laba-laba super besar tadi itu apa?

Hmm.

Kalau melihat situasinya, masa sih yang tadi itu orang tuaku? Aku nggak begitu memahami ekologi laba-laba, tapi ada orang tua memakan anaknya… liar sekali. Tapi, melihat saudaraku yang kanibal sejak lahir, orang tua yang memakan anaknya mungkin bisa dibilang normal. Kalau raksasa tadi memang orangtuaku, apa mungkin suatu hari tubuhku akan sebesar itu?

…Setelah dipikir-pikir, kondisiku sekarang ini nggak buruk juga. Soalnya, laba-laba itu hewan kecil yang berguna kan? Sepertinya aku yang sekarang ini jauh lebih berguna ketimbang saat aku masih manusia, ya? Uh… aneh, kenapa aku jadi sedih begini…

Ah ya, kembali lagi, ada kemungkinan aku salah melakukan pengukuran. Soalnya, “besar” relatif terhadap ukuranku kan? Masalahnya aku tidak tahu ukuran tubuhku sendiri. Kalau tubuhku hanya sebesar ujung kelingking, maka laba-laba tadi mungkin hanya sebesar tarantula. Tapi kalau aku yang sebesar tarantula… laba-laba tadi mungkin lebih besar dari spesies yang pernah ditemukan di bumi. Tapi kalau ini spesies baru mungkin juga sih. Karena aku reinkarnasi saja sudah ajaib, mungkin saja ada hal yang lebih ajaib di sekitarku. Tapi terlalu optimis juga nggak baik…

Baiklah, ayo verifikasi ukuran tubuhku yang sebenarnya. Apa ada sesuatu yang bisa dijadikan perbandingan?

Aku melihat sekeliling. Sepertinya sekarang aku berada di gua yang cukup besar. Walaupun tidak banyak cahaya, tapi kegelapan seperti ini terasa pas bagiku. Aku mencari dengan hati-hati.

Ah...! ada jejak kaki! Aku menemukan jejak sepatu yang cukup jelas di tanah! Kalau ada jejak sepatu, berarti ada pengelana, dan itu berarti ada manusia di dunia ini! Hahahaha!

…tapi setelah menemukan jejak itu… ah… yang namanya kenyataan memang kejam.

Tubuhku lebih besar dari jejak kaki tersebut.

Dengan asumsi jejak kaki ini berasal dari orang dengan tinggi 170 cm… mungkin panjang tubuhku sekarang sekitar 1 meter.

Aku sudah sedikit curiga semenjak melihat laba-laba raksasa itu. Mau dilihat seperti apapun, aku tidak mungkin jenis laba-laba yang bisa ditemukan di bumi. Dan itu berarti dunia ini sama sekali bukan bumi. Dan walau ini bukan bumi, mau dilihat dan diperhalus seperti apa pun, aku sekarang adalah seekor monster.

loading...