Tuesday, 1 November 2016

Evil God Average Chapter 3 Bahasa Indonesia



Translator: Seriya
Editor: KIV & Ise-kun

Chapter 3 – Perkembangan Umum

Seorang gadis mencurigakan yang seluruh tubuhnya ditutupi pakaian berwarna hitam pekat terlihat menelusuri hutan… tapi itu aku.

Aku mengalami berbagai guncangan, tapi berdiam diri saja tak ada gunanya, jadi aku memutuskan untuk melakukan hal lain untuk sekarang.

Saat ini, apa yang benar-benar kuinginkan adalah mencapai pemukiman manusia.



Berdasarkan apa yang sebelumnya kulihat dari skill, aku tidak bisa terlalu berharap. Tapi meskipun begitu, kalau aku terus berdiam diri di sini, satu-satunya yang menantiku adalah mati kelaparan, jadi apa boleh buat.

Dalam penjelasan skillnya dikatakan “efek terhadap manusia lebih lemah” jadi aku hanya bisa bertaruh pada itu.



Sebenarnya, aku khawatir tentang kutukan tantou dan jubah , tapi apa maksudnya “jika kau menjatuhkannya, benda ini akan kembali lagi kepadamu setelah jangka waktu tertentu” dan “bahkan meskipun kau mencoba untuk mengganti dengan suatu equip, equip tersebut akan terlepas secara paksa” itu?.

Aku mencoba menaruh tantou ke dalam kotak item-ku, dan mendapati kalau menyimpannya adalah hal yang memungkinkan.

Namun setelah 30 menit tantou-nya terbang keluar dan kembali lagi ke tangan kananku.

Bahkan, ketika tanganku kosong, aku mencoba untuk mengambil sebuah cabang pohon yang seukuran pedang kayu, tapi ternyata tantou yang kusimpan terbang dan menyingkirkan cabang kayu itu dari tanganku.

…Karena rasanya seperti dia cemburu, aku jadi berpendapat kalau tantou-nya imut.

Lalu, sepertinya aku tetap bisa mengambil ranting kecil asalkan bukan untuk senjata.



Tentu saja, meski tidak ada orang, aku tetap tidak ingin membuka jubahku untuk percobaan, lagipula hasilnya mungkin sama saja.

Berarti aku nggak bisa memakai pakaian yang lain.

Aku tidak punya hobi fashion, tapi aku nggak mau kalau hanya bisa memakai satu pakaian.

Mari berdoa semoga ada cara untuk menghilangkan kutukannya.

Karena aku tak memiliki sepatu, aku tidak punya pilihan lain selain berjalan dengan telanjang kaki.

Pada awalnya aku berjalan agak canggung, menghindari batu-batu atau batang-batang yang akan menggores kakiku, tapi anehnya kok nggak sakit ya?

Ini mungkin berarti kalau kemampuan fisik yang dikatakan evil god itu bukan hanya kemampuan atletik saja, tapi termasuk ketahanan dan hal-hal lainnya.

Ketika aku memikirkan kalau tubuhku ini mungkin saja bukan manusia, aku jadi ketakutan, tapi aku sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya sekarang ini.

Tapi sayangnya, area pengelihatanku buruk.

Karena banyaknya pohon-pohon besar, ada begitu banyak blind spot bagiku.

Aku tidak menunjukannya di wajahku, tapi dalam hati aku takut kalau seekor hewan tiba-tiba melompat keluar dari celah pohon dan menyerangku.

Kalau itu cuman hewan biasa maka itu mungkin masih lebih baik. Masalahnya dalam dunia fantasi ini, sangat mungkin kalau yang keluar adalah monster.

Gadis yang mengembara tanpa tujuan mendadak terkepung oleh sekelompok orc dan goblin.

Gadis cantik yang tidak beruntung dan memilukan itu menjadi “mainan” mereka dan... mn, mustahil, ya?

Kendati begini, entah kenapa aku malah memikirkan delusi mustahil semacam itu.

Kalau saja aku memiliki aura seorang heroine, maka tidak aneh rasanya kalau aku punya benih-benih asmara di kehidupan lamaku.

Tapi aku bahkan tidak pernah punya pacar, pujaan hati pun nggak, yang ada hanya anak buahku yang seenaknya bersumpah setia kepadaku.

Mn, kalau dipikir lagi, itu mustahil, kan?

Walau skill-ku begini, aku tidak bisa membayangkan apapun selain adegan orc dan goblin yang menungguku.

Aku tak ingin mengalami kejadian mengejutkan itu, jadi mari bergegas pergi dan keluar dari hutan.



◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆◇◆

Aku mengalami kemajuan yang bagus melalui dedaunan ketika pohon-pohon disekitar ku mendadak lenyap.

Aku bisa melihat lahan kosong kira-kira 20 meter di antara pepohonan.

Meskipun tidak beraspal, itu mungkin sebuah jalan, dan sepanjang bagian datar dari jalan yang membentang di kiri dan kananku ada banyak jejak roda, tapal kuda, dan tapak kaki.



Di sebelah kanannya ada delman yang berhen… berhenti?



Perasaan ragu-ragu muncul tentang delman yang berani berhenti di tengah hutan. Aku melihat lebih dekat dan menemukan bahwa disekitar delman tersebut ada sekitar 10 pria, sangat jelas mereka bukan orang baik, mengelilingi delman itu dengan pedang dan gada di tangan mereka.



Tung- mungkinkah delman itu berada di tengah serangan para bandit?

Dan di saat yang bersamaan ketika aku meninggalkan hutan?

Mengapa aku menemui perkembangan klise begini sih? Apa mungkin ini merupakan ulah dari si evil god?



Ada beberapa hal yang tidak kupahami, namun untuk sekarang aku berpikir tentang apa yang harus kulakukan.

Untuk sekarang, aku memiliki tiga pilihan────

(1) Anri-chan dengan rasa keadilan yang kuat, bergegas membantu delman tersebut dengan penuh geram.

(2) Anri-chan yang taat pada kekuatan, bergabung dengan para bandit dan menyerang delman bersama mereka.

(3) Anri-chan yang mengikuti kepercayaan untuk membiarkan apapun terjadi apa adanya, memutuskan kalau dia tidak melihat apapun dan lari menjauh.



Tanpa sadar aku menggunakan nama revisiku, dan tentu saja aku akan mengambil pilihan (3).

Eh? Bukankah ini dimana aku seharusnya mengambil (1), katamu?

Jangan bercanda, aku beneran tidak berniat untuk bertarung.

Sebagai orang yang yang sampai ke akarnya adalah anggota klub budaya, sebaiknya kau tidak mengharapkan sesuatu yang berbau klub olahraga kepadaku.

Bahkan, berjalan santai di depan grup biadab itu sama saja seperti domba yang melompat ke dalam sekelompok serigala.

Untuk alasan yang sama aku menolak (2), karena sejak awal aku tidak sejahat itu hingga mau membantu para bandit.

Bahkan (3) juga tidak berperikemanusaiaan , katamu? Tidak, tidak, menyuruh cewek lemah berlevel 1 untuk bertarung dengan lebih dari 10 bandit lebih tidak manusiawi.

Untukmu yang berada di dalam delman──── entah putri, atau seorang pedagang atau siapapun────maaf, tapi silahkan terima ini sebagai nasib burukmu, dan jangan menyeretku.



Aku dengan perlahan masuk kembali ke dalam hutan supaya para bandit dan orang yang berada dalam delman tersebut tidak melihatku.

Kalau ini adegan klise di novel, sekarang mungkin akan menjadi momen menginjak ranting dan menarik perhatian, tapi aku tak akan melakukan kesalahan seperti itu.

Bahkan walau masih melihat ke arah mereka, aku masih memperhatikan langkahku… Geh- mata kami berpapasan.



“Hii!?”



Bandit tersebut menjauh; dengan kata lain, pria terdekat denganku, melihat ke arahku dan berteriak.

Hey-, oi.



“A-apa itu?”



“Se-seorang wanita? Tidak…”



Pria lain satu persatu melihat ke arahku dan melangkah mundur.



“Tidak…” kau bilang? Kau tahu, secara teknis aku seorang wanita, tahu? Secara biologis.



“…”



“…”



Kira-kira sekitar 30 meter, aku dan para bandit memandang satu sama lain tanpa mengucapkan apapun.

Area dipenuhi keheningan mencekam.



“…”



Tidak tahan dengan kesunyian, aku tanpa sadar berpikir ‘katakanlah sesuatu, apapun itu’ jadi aku membuka mulutku.

Seketika, ketegangan itu meledak.



“UWAHHHHHHHHHHH―――――!!!”



“S-SELAMATKANNNN AKUUUUUUUU―――――!!!”



“T-TUNGGU AKUUUUU!”

Pada saat itulah, para bandit melarikan diri ke seluruh arah.

Benar-benar tercengang, aku hanya melihat sosok mereka yang melarikan diri.



Ketika aku tersadar, para bandit sudah menghilang, dan hanya ada delman di sana.

Tunggu, aku tidak melihatnya sebelumnya, tapi kalau dilihat dengan benar, ada seorang pria di sana.

Awalnya kupikir dia bandit yang terlambat kabur, tapi pakaiannya berbeda dari pada bandit tadi.

Dia mungkin pemilik delman itu, yang hampir saja diserang para bandit.

Nyaris, tapi untungnya masalah selesai sebelum nyawanya melayang.



Aku jadi menyelamatkannya tanpa sengaja. Tapi aku bertanya-tanya ada apa dengan mereka.

Dari respon para bandit sebelumnya, tidak diragukan lagi bahwa skill yang kumiliki juga bekerja dengan baik pada manusia.

Yang itu berarti kalau kemungkinan dia takut itu tinggi.

Jujur saja aku ingin pergi dari apapun yang bisa melukai hatiku, tapi aku mungkin bisa berbicara dengannya, sayang sekali kalau ini kulewatkan.

Ya. Aku tidak melakukan apapun dan para bandit tadi kabur sendiri, tapi mungkin bisa dibilang kalau aku adalah penyelamatnya.

Kalau aku bicara perlahan dengannya pasti tidak apa-apa.

Berpikir begitu, aku datang mendekat.

Oops, sebaiknya kumasukkan tantou ini ke dalam kotak item supaya aku tidak membuatnya takut.

Lalu, senyum adalah hal penting untuk menjalin persahabatan. Senyum, senyum.

Tapi ketika aku bersusah payah untuk tersenyum, pria yang pucat tersebut menjadi semakin pucat pasi.

Apa aku gagal?

Memiringkan kepalaku, pria tersebut melemparkan tas kulit di tangannya ke arah- Buuh!!

“O-OH TUHAN, SELAMATKAN HAMBA MU...!!!!”

Sepertinya ada logam di dalam tas kulit ini, karena tadi ada sesuatu yang keras dan berat menghantam wajahku.

Selagi aku terkejut dengan tindakan barusan, pria tadi melompat ke tempat kusir dengan buru-buru, menarik kekang kuda dan pergi menjauh dengan kereta kudanya.

Delman tersebut melewati jalanan hutan seperti berseluncur, sebelum akhirnya benar-benar menghilang.

Masih memegang tas kulit yang dilemparkan ke wajahku, aku hanya berdiri terdiam.

.........Sakit, tau.

loading...