Thursday, 24 November 2016

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Chapter 35 Bahasa Indonesia


Translator: Belang
Editor: Fan Ni
Proofreader: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Chapter 35: Satu-Satunya Cara Untuk Bertahan Hidup

"Baiklah, kupikir aku akan memberi kalian semacam latihan bertarung" [Hajime]

Hajime dan partynya yang dibuang dari Faea Belgaen beristirahat di markas sementara di dekat Great Tree, saat dia mengatakan itu secara mendadak. Bahkan meski itu disebut markas, itu hanyalah sebuah penghalang yang terbuat dari kristal Faea yang…… Hajime curi dengan santainya. Di dalam itu sambil duduk di atas tunggul, telinga kelinci mereka terangkat dengan ekspresi kebingungan.

"E-etto…… Hajime-san. Latihan bertarung itu maksudnya……" [Shia]

Shia bertanya atas nama sukunya yang kebingungan.

"Seperti yang kata-kata itu katakan. Lagi pula, kita tidak bisa mencapai Great Tree sebelum sepuluh hari terlewati, kan? Kalau begitu, akan lebih baik untuk menggunakan waktu itu secara efektif, aku berpikir untuk membuat kalian yang lemah, rapuh, dan sifat pecundang yang melekat sangat dalam, menjadi seseorang yang handal dalam bertarung." [Hajime]


"Ke-kenapa kamu memikirkan itu……" [Shia]

Telinga Kelincinya gemetaran karena perasaan intimidasi itu bisa dirasakan dari mata Hajime dan seluruh tubuhnya. Shia secara alami meragukan Hajime yang mendadak menyatakan itu.

"Kenapa? Apa kau bertanya kenapa? Kelinci tidak tau malu." [Hajime]

"Au, kau masih tidak memanggilku dengan nama……" [Shia]

Hajime dengan mata skeptis menjelaskan kepada Shia yang tertekan.

"Dengarkan baik-baik. Janji yg kumiliki dengan kalian hanya untuk melindungi kalian sampai kalian selesai memanduku. Lalu, apa yang akan kalian lakukan setelah memanduku, apa kalian sudah memikirkan soal itu?" [Hajime]

Anggota suku Haulia saling memandang satu sama lain, kemudian menggelengkan kepala. Kam juga memiliki ekspresi yang sulit. Bahkan meski mereka secara samar-samar merasa kegelisahan, tampaknya itu karena mereka berada dalam pergolakan demi pergolakan dipikirannya itu telah dilemparkan ke sudut pikiran mereka. Atau itu mungkin bahwa mereka tidak memikirkan itu sama sekali.

"Yah, itu terlihat seperti kalian tidak memikirkan tentang hal itu sama sekali. Apalagi tak ada yang memberitahuku kalian sudah memikirkan soal itu. Kalian lemah, sehingga kalian hanya bisa berlari dan bersembunyi di depan kedengkian dan kemungkinan terluka. Untuk kalian yang semacam itu, tempat untuk mengungsi yang disebut Faea Belgaen telah hilang. Dengan kata lain, ketika perlindungan dariku hilang, sekali lagi kalian akan jatuh ke dalam keadaan yang sulit." [Hajime]

"""""" … …””””””

Karena apa yang dikatakannya itu benar, semua orang dari suku Haulia melihat ke bawah dengan ekspresi gelap. Sementara itu, mereka bisa mendengar perkataan Hajime.

"Kalian tidak memiliki jalan keluar lainnya. Tak ada perlindungan maupun tempat untuk bersembunyi. Bagaimanapun, Demonic Beast dan manusia akan mengarah kepada kalian yang lemah tanpa belas kasihan. Jika ini terjadi, satu-satunya yang akan terjadi adalah kepunahan…… Apa kalian tidak apa-apa dengan itu? Apa kalian tidak apa-apa dengan kelemahan kalian untuk dijadikan sebagai alasan kepunahan kalian? Apa kalian tidak apa-apa saja untuk kehidupan yang dengan beruntungnya kalian dapat kembali kemudian hilang secara percuma? Apa yang kalian pikirkan?" [Hajime]

Tidak ada yang mengeluarkan perkataan apapun dan atmosfir suram memenuhi sekeliling mereka. Sampai seseorang dengan tiba-tiba berkata.

"Tidak mungkin aku bisa menerima itu." [Shia]

Suku Haulia mulai melihat kedepan tersentuh oleh perkataan itu. Shia sudah terlihat tegas.

"Itu benar. Tidak mungkin bisa diterima. Lalu, apa yang harus kalian lakukan? Jawabannya mudah. Cukup menjadi kuat. Cukup serang semua kesulitan yang datang dan menghancurkannya, kalian hanya perlu mendapatkan hak kalian dengan tangan kalian sendiri." [Hajime]

"…… tapi, kami adalah suku Manusia Kelinci. Kami tidak memiliki tubuh yang kuat seperti suku Manusia Harimau dan suku Manusia Beruang maupun Skill khusus seperti suku Wingedman dan suku Earthman…… secara jumlah kami, itu…… " [Shia]

Karena memang akal sehat suku Manusia Kelici adalah lemah, perkataan Hajime hanya melahirkan perasaan negatif. Karena mereka lemah, mereka tidak bisa bertarung. Tidak peduli seberapa keras mereka berjuang untuk menjadi kuat seperti yang Hajime katakan, itulah apa yang mereka pikirkan.

Melihat suku Haulia begini, Hajime tertawa.

"Apa kalian tau aku pernah dipanggil "tidak kompeten" oleh mantan teman-temanku?" [Hajime]

"Eh?"

""Tidak kompeten" kalian dengar, "tidak kompeten". Status dan skill ku seperti rata-rata orang biasa. Yang paling lemah di antara teman-temanku. Tidak lebih dari sekedar beban dalam pertempuran. Karena itulah, aku dipanggil "tidak kompeten" oleh mantan temanku. Tentu saja, itulah kebenarannya." [Hajime]

Semua anggota suku Haulia terkejut oleh pengakuan Hajime. Mereka tidak percaya bahwa Hajime yang dapat dengan mudah mengalahkan Demonic Beast Raisen Grand Canyon yang brutal dan senior dari suku manusia beruang yang unggul dalam pertempuran adalah seseorang yang "tidak kompeten" dan "paling lemah".

"Namun, aku yang terjatuh ke bagian terbawah Jurang memutuskan untuk menjadi kuat. Aku tidak berpikiran jika ada sesuatu yang mungkin atau tidak mungkin untuk dilakukan. Jika aku tidak melakukan apapun maka aku akan mati, itu sebabnya aku berjuang dengan seluruh kekuatanku dalam krisis itu. …… ketika aku menyadarinya, tau-tau aku sudah menjadi begini." [Hajime]

Ia membicarakan semua itu biasa saja, namun, semua anggota suku Haulia bisa merasakan dingin yang menjalar ke seluruh tubuh mereka karena perkataannya. Dengan status yang rata-rata sama seperti orang biasa berarti spesifikasinya lebih rendah dari Suku Manusia Kelinci. Dalam situasi itu, ia mampu mengalahkan monster yang bahkan lebih kuat daripada Demonic Beast di Raisen Grand Canyon, sampai mereka bahkan tak dapat bertarung lagi. Kemampuannya dan fakta bahwa ia selamat bahkan meskipun dia adalah yang paling lemah setelah menantang para monster membuat suku Haulia gemetar dalam ketakutan membayangkan situasi aneh. Jika itu mereka, mereka akan hancur dalam keputusasaan dan menerima kematian dalam kepasrahan. Sama seperti sebagaimana mereka menerima keputusan dari Konferensi para Tetua.

"Situasi kalian sekarang mirip sepertiku. Sekarang berjanjilah kepada diri kalian sendiri, hancurkanlah rasa keputusasaan menjadi berkeping-keping. Aku tak peduli sekalipun kalian berpikir itu mustahil bagi kalian. Kalian hanya akan musnah di waktu berikutnya. Apalagi, aku takkan menolong kalian setelah perjanjian kita terpenuhi. Tidak apa-apa sih untuk menghabiskan sisa waktu hidup kalian, tetaplah saling menjilat satu sama lain layaknya pecundang." [Hajime]

Lalu, apa yang akan kalian lakukan?
Itu adalah apa yang ditanyakan oleh matanya Hajime. Anggota suku Haulia tak ada yang langsung menjawabnya. Yah, bisa dibilang tidak ada jawaban yang lain. Mereka mengerti tak ada jalan lain untuk bertahan hidup kecuali untuk menjadi kuat. Hal tersebut tidak seperti Hajime sedang melindungi keluarga mereka dari ketidakadilan. Karena itu, ia secara pasti akan meninggalkan mereka setelah janjinya terpenuhi. Namun, sekalipun mereka mengerti itu, sifat alaminya adalah kedamaian dan kelembutan. Kelembutan suku Manusia Kelici lebih kuat dari siapapun. Itulah sebabnya bagi mereka, pernyataan Hajime itu sama seperti melangkahkan kaki ke dalam wilayah yang tidak dikenal. Bagi mereka begitu sulit untuk mengubah cara hidup mereka kecuali mereka jatuh ke dalam situasi yang sama seperti Hajime.

Suku Haulia jatuh ke dalam kesunyian dan saling memandang satu sama lain. Namun, Shia yang sejak beberapa waktu lalu menampilkan ekspresi tegas melihat ke arah mereka dengan pandangan skeptis lalu dia berdiri.

"Aku akan melakukannya. Tolong ajari aku caranya untuk bertarung! Aku tak mau jadi lemah lagi!" [Shia]

Teriakannya menggema ke penjuru Sea of Trees. Pernyataan untuk mengatakan bahwa tak ada yang perlu dipikirkan selain dari ini. Shia membenci perkelahian. Itu menakutkan dan menyakitkan, di atas semua itu ia sedih untuk menyakiti dan terlukai. Bagaimanapun, kenyataannya bahwa dia lah yang menyebabkan sukunya berada dalam keadaan sulit seperti ini, maka dari itu dia benar-benar takkan membiarkan sukunya binasa. Karena tujuan itulah, Shia ingin menjadi lebih kuat sekalipun itu berlawanan terhadap sifat alaminya suku Manusia Kelinci.

Dengan tekad kuat yang ada dalam matanya, Shia bersungguh-sungguh menatap ke arah Hajime. Kam dan sukunya yang tercengang oleh itu, sedikit demi sedikit ekspresi mereka berubah menjadi tegas, satu persatu mereka berdiri. Pada akhirnya, tidak hanya para pria, semua perempuan dan anak-anak suku Haulia pun berdiri dan Kam yang mewakili mereka melangkah kedepan.

"Hajime-dono…… tolong ajari kami." [Kam]

Perkataannya tak seberapa. Namun, di dalamnya ada kemauan. Kemauan untuk bertarung melawan ketidakadilan yang akan datang untuk menyerang mereka.

"Baiklah. Apa kalian sudah siap? Seberapa kuat kalian nantinya itu ditentukan oleh kebulatan tekad kalian. Aku di sini hanya memberikan arahan terhadap itu. Dan juga, aku takkan segan kepada siapapun yang memutuskan untuk berhenti di tengah jalan. Kita hanya memiliki sepuluh hari tambahan…… terbiasalah terhadap kematian. Lagipula apa yang menanti kalian hanyalah hidup atau mati." [Hajime]

Setelah mendengar perkataan Hajime, Seluruh anggota suku Haulia mengangguk dengan kebulatan tekad.



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Sebelum ia mulai melatih suku Haulia, Hajime mengeluarkan peralatan yang akan digunakan untuk berlatih dari "Treasure Box" dan menyerahkannya kepada mereka. Itu adalah pedang bermata satu yang mirip dengan jenis pedang Jepang yang disebut 'Kodachi' itu dia berikan kepada mereka sebelumnya. Hajime membuat pedang-pedang itu dengan ketelitian yang bahkan ketajamannya pun sangat bagus, itu karena ia berlatih metode untuk memproduksi pedang super tipis. Pedang tersebut kuat terhadap dampak serangan karena pedangnya terbuat dari Taur Ore. Itu membawa kebanggaan dalam daya tahannya walaupun itu tipis.

Setelah dia memberikan senjata kepada mereka, ia mengajari mereka gerakan dasar. Tentunya Hajime tidak memiliki pengetahuan dalam seni bela diri. Tapi itu bukanlah sesuatu yang dia dapatkan dari manga ataupun game. Hal-hal yang ia ajarkan memang hanyalah "pergerakan logis" yang ia peroleh dan gerak-gerik dari Demonic Beast di dalam Jurang. Meski begitu, dia menyimpan pengalaman bertarung sesungguhnya terhadap berbagai jenis Demonic Beast. Point terkuat suku Haulia adalah kemampuan pencarian dan kemampuan bersembunyi. Dalam kesimpulannya, ia berpikir lebih baik strategi untuk mereka itu berkelompok yang mengkhususkan diri dalam kerjasama dan serangan kejutan.

Ngomong-ngomong, Shia secara khusus dilatih oleh Yue soal sihir. Itu karena dia bisa menggunakan sihir meski dia demi-human, Shia juga dapat memakai manipulasi sihir secara langsung jadi seharusnya ia mampu menggunakan sihir tanpa merapal atau memakai lingkaran sihir asalkan dia mempunyai pengetahuan untuk itu. Terkadang, teriakan Shia bisa terdengar dari sisi lain kabut tapi tampaknya pelatihan dia berjalan dengan baik.

Tapi, sesuatu terjadi pada hari kedua pelatihan. Hajime terlihat kesal dengan kemunculan urat di kepalanya sambil mengawasi latihannya Suku Haulia. Tentu saja, anggota suku Haulia yang pergi melawan sifat alami mereka, melakukan latihannya dengan serius. Bahkan mereka sedikit berhasil untuk mengalahkan Demonic Beast tanpa menerima banyak luka.

Namun……

Gusagh!

Salah satu Demonic Beast mati tertusuk oleh Kodachi spesial Hajime.

"Aah, kumohon maafkan aku yang penuh dosa ini~"

Orang yang mengatakan itu sambil menempel pada Demonic Beast adalah seorang pria dari suku Haulia. Seolah-olah ia telah membunuh sahabat yang sudah lama ia kenal.

Bushu!

Demonic Beast lain telah dikalahkan dengan sebuah tebasan.

"Maafkan aku! Maafkan aku! Meski begitu aku harus melakukannya~"

Kodachi yang digenggam oleh kedua tangannya memotong leher makhluk tadi, sementara para wanita yang melakukannya gemetaran. Ini seperti hasil dari kegilaan cinta, dari seorang wanita yang membunuh orang yang dicintainya.

Bakikh!

Terhadap Demonic Beast yang sekarat, makhluk itu menggunakan kekuatan terakhirnya untuk menyerang. Kam yang terpental oleh serangan itu bergumam dengan mengejek dirinya sendiri saat terjatuh.

"Huh, ini adalah hukuman untuk ku yang mengacungkan pedang…… lagipula ini memang hasil yg alami……" [Kam]

Setelah mendengar perkataanya, suku Haulia di sekitarnya mulai berkaca-kaca, lalu mereka berteriak kepada Kam dengan ekspresi pahit.

"Kepala suku! Tolong jangan bilang begitu! Orang yang dipenuhi dosa adalah kita semua!"

"Itu benar! Bahkan jika saatnya penghakiman pun tiba, tapi itu tidak sekarang! Tolong bangunlah! Kepala suku!"

"Kita tak punya jalan lain untuk kembali lagi. Karena sebab itulah kepala suku, saatnya kita maju bersama-sama sampai mati."

"Ka-kalian……. Itu benar. Aku tidak boleh terjatuh di tempat seperti ini. Demi kepentingan dari kematian dia (Demonic Beast kecil yang terlihat seperti seekor tikus), kita akan maju melewati kematian!" [kam]

“”””””””Kepala suku!“”””””””

Suasana nyaman mengelilingi Kam dan sukunya. Hajime yang tak dapat menahan itu lagi langsung memotong.

"Aghhhーーー! Berisik, bodoh! Kenapa kalian membesar-besarkan sesuatu setiap kali kalian membunuh seekor Demonic Beast! Biar apa? Serius dah, itu biar apaan? Itu permainan rendahan! Apa itu semacam drama? Tinggal bunuh dan gak usah banyak bacot! Cukup bunuh dengan cepat! Jangan Panggil Demonic Beast dengan sebutan "dia"! Itu menjijikan!" [Hajime]

Begitulah, bahkan meski dia tahu bahwa anggota suku Haulia bekerja keras, tapi karena sifat mereka, setiap kali mereka membunuh sesosok Demonic Beast, mereka membuat sebuah drama aneh. Ini adalah hari kedua, setelah melihat pertunjukan tersebut selama berkali-kali, Hajime sudah ditunjukkan beginian berkali-kali, lambat-laun, ia kehabisan kesabarannya.

Untuk Hajime yang sedang marah, mungkin karena ia mencoba untuk menahan suaranya, tubuhnya berkedut dan menggetar setelah mendengar gumaman "Sekalipun kau mengatakan itu……" atau "Sekalipun mereka Demonic Beast, kasian mereka……" dari anggota suku Haulia. 

Urat yang muncul pada kepalanya bertambah banyak.

Seorang anak laki-laki dari suku Haulia yang tidak bisa menahannya lagi kemudian mencoba untuk mendekati dan menenangkan Hajime. Anak ini adalah salah satu yang Hajime tolong dari Hyveria saat di Raisen Grand Canyon, tampaknya secara khusus terikat kepadanya.

Namun, saat anak laki-laki itu berjalan maju sambil mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada Hajime, dengan tiba-tiba, ia melompat kebelakang.

Hajime yang keheranan oleh itu bertanya kepada anak itu.

“? Apa yang terjadi?" [Hajime]

Anak itu menjawab pertanyaan Hajime sambil perlahan-lahan merangkak menggunakan kedua tangannya.

"Ah, iya. Aku hampir menginjak Hana-san…… syukurlah. Jika aku tidak melihatnya, dia akan hancur. Karena dia begitu indah, kasian kalau sampai keinjak."
(netNOTE__ Hana itu bunga )

Pipi Hajime berkedut-kedut.

"Ha-hana-san?" [Hajime]

"Un! Hajime-niichan! Aku sangat suka Hana-san! Karena ada banyak Hana-san di sini, itu tidak baik jika kita menghancurkannya saat pelatihan~"

Anak laki-laki bertelinga kelinci itu tersenyum dengan senyuman cerah. Anggota suku Haulia sekitarnya pun melihat ke arah anak ini dengan senyuman.

Secara perlahan Hajime menundukkan wajahnya. Rambut abu-abu Hajime tergerai menyembunyikan ekspresinya. Lalu, tiba-tiba ia berbicara dengan suara seperti berbisik.

"…… terkadang, sambil bergerak kalian melompat beberapa kali…… Apa itu karena Hana-san?" [Hajime]

Seperti yang Hajime bilang, selama pelatihan, suku Haulia terkadang mengubah langkah mereka secara berkali-kali, bergerak kesana kemari. Meski itu di dalam pikirannya, karena itu terhubung dengan tindakan mereka selanjutnya, di matanya malah terlihat seperti mereka berusaha untuk menemukan posisi yang enak bagi mereka untuk membunuh.

"Tidak tidak, itu tidak mungkin. Tak ada hal yang seperti itu." [Kam]

"Haha, itu benar, 'kan?" [Hajime]

Hajime mulai mengendurkan ucapannya setelah mendengar apa yang dikatakan Kam dengan senyum kecut. Namun……

"Iya, bukan hanya sekedar bunga, kami juga memperhatikan serangga. Ketika kami bergerak cepat secara mendadak, entah bagaimana kami berhasil untuk menghindari mereka." [Kam]

Setelah mendengar perkataannya Kam, ekspresi Hajime mulai jatuh. Hajime mulai melenggok seolah-olah dia itu sesosok hantu, sementara anggota suku Haulia berpikir bahwa sesuatu yang buruk telah di ucapkan, memandang satu sama lain dalam kegelisahan. Dengan perlahan Hajime mendekati anak laki-laki itu, kemudian ia tiba-tiba menampakkan senyumnya sementara anak itu juga menjaga senyumannya.

Dan kemudian Hajime…… bersama dengan senyumannya melangkah dan menginjak bunga tersebut. Dengan sopan, setelah menginjak itu, ia gesek-gesek dengan kakinya.

Anak laki-laki yang melihatnya tercengang. Akhirnya, Hajime menyingkirkan kakinya, apa yang tertinggal adalah sisa-sisa "Hana-san" yang tergeletak secara tragis setelah kekejaman tersebut.

"Ha-hana-sa~n!"

Suara kesedihan anak itu menggema di dalam Sea of Trees. "Apa yang kau lakukan!" itulah yang di katakan dalam ekspresi keterkejutan anggota suku Haulia sambil menatap Hajime, lalu Hajime menengok ke arah mereka dengan senyuman yang dibarengi dengan urat di kepalanya.

"Aah, akhirnya aku mengerti. Aku akhir~nya mengerti. Aku memang terlalu lembut. Ini adalah tanggung jawabku. Itu memanglah kesalahanku untuk memberikan harapan kepada suku kalian. Haha, aku tidak percaya bahkan dalam situasi hidup dan mati, kalian tetap memperhatikan "Hana-san" dan "Serangga"…… kemampuan bertarung ataupun pengalaman pertarungan sesungguhnya bukanlah masalah utama kalian. Seharusnya aku menyadari itu lebih cepat. Aku marah karena kurangnya pengalamanku…… FUFUFU" [Hajime]

"Ha-Hajime-dono?" [Kam]

Setelah Hajime mulai tertawa menakutkan, Kam dengan takut bertanya kepadanya. Dan jawabannya adalah……

DOPANn!

Tembakan dari Donner. Kam terpental ke belakang, setelah sedikit terputar di udara ia jatuh ke tanah. Selanjutnya, peluru karet tidak mematikan yang tadi digunakan untuk menyerang, dari dahi Kam jatuh ke tanah.

Di sekitar mereka angin bertiup "Wuuush", sambil keheningan mengatur tempat itu. Kemudian Hajime mendekati Kam yang telah pingsan dengan matanya berubah menjadi putih, kali ini ia mengarahkan tembakan lalu menembakan peluru karet di perutnya Kam.

"Hauuu!" [Kam]

Kam yang terbangun sambil berteriak panjang, terbatuk beberapa kali melihat Hajime dengan mata penuh air mata. Walaupun surealisme yang di tunjukkan terlihat menyedihkan, pria tua berjenggot serta bertelinga kelinci itu duduk seperti wanita, Hajime pun menyatakan.

"Dasar menjijikan *piip*. Mulai sekarang, kalian harus membunuh Demonic Beast seolah-olah kalian akan mati *piip*! Selanjutnya, jangan pernah perhatikan bunga ataupun serangga! Atau yang lainnya! Aku akan *piip* kalian! Kalau kalian mengerti, burulah para Demonic Beast sekarang! Ini *piip*!" [Hajime]

Suku Haulia terbujur kaku oleh ucapan vulgarnya Hajime. Dan untuk mereka, Hajime menembak tanpa ampun.

DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn! DOPANn!

Suku Haulia menyebar kedalam Sea of Trees layaknya anak laba-laba sambil menjerit. Anak laki-laki tadi dengan putus asa melekat kepada Hajime sambil gemetaran.

"Hajime-niichan! Apa yang terjadi!? Kenapa kakak melakukan ini!?"

Hajime memelototi anak itu yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca, lalu melihat ke sekeliling dan terkonfirmasi ada bunga yang sedang mekar di sana-sini. Sampai akhirnya, dia dengan diam menembak kembali.

Setelah satu demi satu bunga berserakan. Anak itu berteriak.

"Kenapa~, memangnya kenapa~, kumohon hentikan Hajime-niichan!"

"Diam lah, anak nakal menyebalkan. Apa kau tau? Setiap kali kau berbicara omong kosong, aku akan melenyapkan bunga-bunga di sekitar. Jika kau memperhatikan bunga, itu akan kulenyapkan. Sekalipun kau tidak melakukan sesuatu, aku akan melenyapkannya. Jika kau tidak ingin itu, pergi bunuhlah Demonic Beast sebanyak-banyaknya!" [Hajime]

Setelah berkata begitu, Hajime mulai menembaki bunga lagi. Anak itu menangis lalu menghilang kedalam Sea of Tree. Setelah itu, di dalam Sea of Tree *piip* terus bisa didengar dalam teriakan dan tangisan anggota suku Haulia.

Itu memang metode pelatihan yang tepat untuk mengubah karakter suku Manusia Kelinci yang tidak handal dalam pertarungan oleh alam. Bahkan kemampuan bertarung dan semangat dapat diubah dengan menggunakan metode ini, bisa dibilang mirip dengan metode he***man dari bumi……

loading...