Wednesday, 30 November 2016

Arifureta Shokugyou de Sekai Saikyou Chapter 36 Bahasa Indonesia


Translator: Belang
Editor: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Chapter 36: Shia, Pertarungan Terbesarnya Sekali Seumur Hidup

ZUGANn!! DOGYA!! BAKI BAKI BAKI!! DOGUSHA!!

Kedahsyatan suara kehancuran dapat terdengar di dalam Sea of Trees. Beberapa pohon yang menjadi saksi, hancur terbelah dua. Terdapat lubang yang tersebar di sana-sini yang terlihat seakan meteor jatuh ke dalamnya. Selain itu, beberapa pohon terbakar sementara beberapa lainnya dibekukan.

Kehancuran terhadap alam seperti itu disebabkan oleh dua orang wanita. Bahkan sekarang, kehancuran ini masih berlanjut.

"Deeyaaaa!!"

Sebuah pohon dengan diameter satu meter dilemparkan bersama dengan teriakan yang membengkakan telinga. Pohon tersebut hancur saat di tengah dan berterbangan menuju target dengan kecepatan yang luar biasa. Dengan massa dan kecepatan yang pasti. Kebrutalan kekuatan pengrusakan diberikan kepada pohon biasa, membawa penguraian kehancuran di belakangnya.

“… … 'Scarlet Spear'"

Itu adalah tombak api yang membakar targetnya dan semua yang ada di depannya menjadi abu. Bahkan objek dengan massa yang besar akan dibakar jika tersentuh oleh skill itu. Membalas serangan batang pohon yang bergerak layaknya peluru meriam dan mengubahnya menjadi abu yang beterbangan di udara.

"Masih belum!"

Serangan kejutan dibuat pada saat tabrakan antara lemparan "Scarlet Spear" dan batang pohon, menyingkirkan kabut, dan di sisi lain kabut, sekelibatan bayangan dapat terlihat. Dengan cepat, batang pohon jatuh dari langit layaknya meteor dan menembus tanah dengan suara gemuruh. Melompat kebelakang, target lolos dari berbagai serangan kejutan lalu sekali lagi tombak api dikeluarkan.

Namun, bayangan tersebut melompat keluar dari kabut dengan kecepatan tinggi dan kemudian tendangan melayang dengan kuat menyerang batang pohon yang menembus tanah. Tak diketahui darimana kekuatan itu berasal tapi batang pohon yang menerima tendangan itu meledak hancur, dan dari situ datang serpihan yang menembak ke arah targetnya.

"kh! 'Fire Castle'"

Secara tiba-tiba tembok api yang bisa dibilang bersifat keras, muncul untuk memblok tembakan yang telah diperkuat itu, tak satu pun tembakan yang dapat mencapai targetnya.

Namun……

"Kena Kau!"

"Kh!"

Pada saat bayangan hitam sudah bergerak ke belakangnya. Setelah menembakan tembakan yang telah diperkuat yang dijadikan sebagai pengalih perhatian, ia sekali lagi masuk kedalam kabut. Tangannya menggengam palu yang bisa dibilang kelas super berat, dengan segera, angin yang sangat kuat diturunkan.

"'Wind Wall'"


Dampak kedahsyatan dari Palu Godam menghantam serta menghancurkan tanah. Dari serangan itu, batu-batu pada terbang dan berhamburan ke segala arah. Namun, targetnya mampu menghalau serangan menakutkan itu, dan menahannya menggunakan tiupan angin yang berasal dari penghalang angin, karenanya dengan segera ia mundur ke tempat aman. Ditambah, setelah mengaktifkan skill tadi, sihir lainnya menyerang target tanpa ampunan ke arah pihak lain yang seperti sudah kewalahan, karena skill berpusat pada kekakuan.

"'Frozen Coffin'"

"Fue! Tu-tungg-!"

Ketika ia melihat sihir targetnya, ia mati-matian berteriak untuk menghentikan itu, tapi lawannya tidak perlu mendengarkan itu, karena hukum berbicara-tidak-penting di tempat ini. Si penyerang berusaha untuk menjauh dari lokasinya tapi sihir es mulai langsung membekukan kakinya…… dan mengakibatkan keseluruhan tubuhnya berubah menjadi bongkahan es, kecuali kepala.

"Di-dingin~, tolong lepasing dong~, Yue-sa~n" [Shia]

"… … Kemenanganku" [Yue]

Itu benar, ke dua orang yang terus bertarung tanpa berbicara adalah Yue dan Shia. Hari ini adalah awal dari hari kesepuluh pelatihan mereka, pertarungan penentuan sebagai ujian terakhir. Peraturannya adalah, Shia akan menang jika dia mampu melukai Yue walau hanya goresan saja. Hasilnya……

"Uu~, tidak~, eh, itu! Di pipi Yue-san! Ada goresan! Sebuah goresan! Seranganku kena! Ahaha~, aku berhasil! Ini adalah kemenanganku!" [Shia]

Tentunya, ada goresan kecil di pipi Yue. Mungkin itu berasal dari serpihan puing-puing batu yang menembus pertahanan Yue. Bahkan meski goresannya benar-benar kecil, luka ya luka. Itu kemenangan Shia. Setelah menunjuk itu, wajahnya Shia terlihat gembira dengan hal itu. Ia menampakkan senyuman lebar, walaupun tubuhnya kedinginan dan hidungnya meler. Telinga kelincinya bergerak kegirangan. Tak heran, apalagi ada janji penting yang dia buat dengan Yue dalam pelulusan latih tanding ini.

Lalu, untuk Yue, janji tersebut bukan sesuatu yang menyenangkan. Oleh karena itu,

"… … tak ada luka" [Yue]

Itu hal bagus bahwa lukanya dengan segera menghilang karena "Auto-Regenerasi". Kepalanya memberengut dengan 'hmpf'.

"A-ap-!? Itu curang tau! Emang lukanya…… nggak, meski sekarang nggak ada! Tadi beneran ada! Curang itu kejam! Ngomong-ngomong, tolong hilangkan sihirnya~. Aku kedinginan daritadi…… are, entah kenapa aku jadi ngantuk gini……" [Shia]

Karena dingin serta ingus keluar dari hidungnya, Shia mulai tertidur. Kau akan mati kalau kau tertidur! Itu adalah situasinya sekarang. Yue, sejenak melihat ke arah penampilannya itu, menghela napas dalam-dalam sembari berpikir itu seharusnya tidak dilanjutkan dalam hatinya, menghilangkan sihirnya.

"Hachiw-! Hachiw! Auu, di~nginya~. Aku hampir jadi kelinci yang tak bisa kembali (untuk hidup)" [Shia]

Setelah bersin dengan imutnya, dia menutupi hidung dengan daun terdekat. Shia kemudian menatap Yue dengan keseriusan dalam matanya. Yue membuat ekspresi yang tidak menyenangkan karena tatapan matanya. Ekspresi datarnya runtuh karena ekspresi tidak menyenangkan tersebut.

"Yue-san. Aku sudah menang." [Shia]

“… … … … … … Nn." [Yue]

"Itu janjinya, 'kan?" [Shia]

“… … … … … … … … Nn." [Yue]

"Kalau aku bisa menang setidaknya sekali dalam sepuluh hari… … Aku akan ikut dalam perjalanan Hajime-san dan Yue-san, 'kan?" [Shia]

“… … … … … … … … … … Nn." [Yue]

"Setidaknya, kamu akan membantuku untuk meyakinkan Hajime-san, 'kan?" [Shia]

“… … … … … … … … … … sarapan hari ini, apa ya?" [Yue]

"Tungguu! Apa-apaan dengan perubahan topik yang tiba-tiba itu! Terlebih lagi, ini udah siang! Yue-san, bukankah kamu baik-baik saja selama ada darah Hajime-san! Apa-apaan nanya sarapan segala! Tolonglah jadi sekutu ku! Kalau aku mendapatkan Yue-san sebagai sekutu, maka sudah 90% OK" [Shia]

Shia membuat bunyi gya- gya-, Yue melihat bahwa ekspresi Shia berasal dari lubuk hatinya.

Seperti yang Shia bilang, Yue sudah berjanji kepadanya. Begitulah, Yue bilang ke Shia, hanya jika ia mampu untuk melukai dirinya dalam pertarungan penentuan walau dengan luka kecil dalam waktu sepuluh hari. Jika dia berhasil, Yue harus mengakui dan mengizinkan Shia melakukan perjalanan bersama dia dan Hajime. Juga, Yue harus membantu Shia membujuk Hajime ketika dia meminta ke Hajime.

Shia benar-benar ingin pergi bersama dengan Hajime dan Yue. Setengah dari itu karena dia tak ingin menjadi beban terhadap keluarganya, sementara separuh lainnya hanya karena dia ingin bersama Hajime dan Yue, dan berpetualang dengan mereka berdua.

Namun, keinginannya telah ditolak mentah-mentah. Bahkan sekarang itu bisa terlihat dari sikap Hajime dan Yue. Pada saat itu, apa yang Shia pikirkan adalah janji yang sebelumnya.

Di mata Shia, entah kenapa Hajime memanjakan Yue demi memuaskan harapannya. Ditambah, Shia adalah seorang wanita. Dia memahami perasaan Yue terhadap Hajime. Tentu saja itu karena dia juga memiliki perasaan yang sama. Sampai, kebalikannya juga sama. Yue pun mengerti perasaan Shia. Itu sebabnya, pertama-tama yang di perlukan adalah untuk membuat Yue mengakui keberadaan Shia Haulia.

Ini bukan seperti Shia ingin merebut Hajime dari Yue. Dia sama sekali tidak berpikiran tentang hal itu. Apa yang dia inginkan dari Hajime adalah untuk mengakui keberadaannya seperti Yue, walau sedikit. Itu mungkin karena pengaruh dunia ini yang membuat mereka "sama". Dengan kata lain, ia hanya ingin "berteman" bersama mereka. Sampai akan ada seseorang yang dia cintai dan seorang teman yang berada disisi orang itu juga mencintainya. Semacam itulah masa depan yang Shia impikan.

Di sisi lain, mengenai penyebab Yue mau membuat perjanjian dengan Shia, bahkan meskipun tidak ada manfaatnya untuk Yue. 20% dari itu karena dia merasa simpati kepadanya. Saat ia mendengar cerita Shia untuk pertama kalinya di Raisen Grand Canyon, bahkan walau dia mengembangkan perasaan kompleks karena keadaan Shia yang terhitung lebih baik dari dirinya, di suatu tempat dalam hatinya dia tak bisa menyangkal perasaannya bahwa mereka itu "sama". Karena dia memikirkannya sebagai seorang teman sekalipun sedikit, Shia "memanjakan" nya.

Lalu, 80% lainnya adalah… … sifat wanita. Yue telah memahami janji Shia. Yaitu,

"Tolong lihat sendiri kalau aku hanya akan jadi beban. Sekalipun tak mungkin, kumohon lihatlah kalau aku mampu berada di samping Hajime".

Itu tantangan untuk memperebutkan orang yang ia cintai. Dia tidak berpikiran seorang wanita sepertinya bisa ada di dekatnya. Tapi, saat ia berpikir Shia yang memang "sama" sepertinya sebagai lawan, penampilan Shia antusias dan konsentrasinya jadi hebat, di lubuk hatinya dia berpikir itu tidak mungkin untuk terus diam.

Dan hasilnya, pertandingan dimenangkan oleh Shia.

"… … haa. Baiklah. Aku akan memegang janji ku… …" [Yue]

"Benarkah!? Seperti yang kuharapkan, ti~dak perlu berhenti~! Tolong pertahankan dengan baik!" [Shia]

“… … … … … … … … Nn" [Yue]

"Entah kenapa, berasa kayak ada jeda yang aneh… … apa kamu beneran akan menepatinya?" [Shia]

"… … Bawel" [Yue]

Dengan malas, dengan perasaan yang sang~at malas, Yue mengakui kemenangan Shia. Shia sedikit gelisah mengenai jawaban Yue tapi dia mengesampingkannya dan melanjutkannya dengan ekspresi lega serta kegirangan, karena dia tahu bahwa Yue sama seperti Hajime yang dimana dia takkan mengingkari janjinya.

Sebentar lagi, pelatihan suku Haulia dengan Hajime akan berakhir. Si suram Yue dan Shia si periang kembali ke tempat Hajime dan yang lainnya.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Ketika Yue dan Shia tiba di tempat Hajime berada, Hajime sedang menutup matanya, serta menyilangkan tangannya sembari bersandar ke pohon.

Mungkin karena dia merasakan kehadiran mereka berdua, Hajime secara perlahan membuka matanya dan menengok ke arah mereka. Sambil melihat ragu ke arah mereka berdua dengan suasana hati yang sangat berlawanan, dia mengangkat satu tangan dan memanggil mereka.

"Yo, kalian berdua. Apa pertandingannya sudah selesai?" [Hajime]

Hajime sudah mendengar ada taruhan di antara mereka berdua selama pertandingan. Hajime lah yang menyiapkan Palu Godam Super Berat untuk Shia. Shia dengan ekspresi bersemangat ingin mengalahkan Yue, dan memintanya untuk membuat senjata baru yang masih segar dalam ingatannya, karena Yue dirinya tak keberatan dengan itu. Meskipun tak mengetahui isi taruhannya dan mereka tetap takkan memberitahu dia, juga karena itu takkan merugikan untuk Yue, jadi ia membuat itu.

Sebenarnya, Hajime berpikir, jika Yue dan Shia bertarung 8-9 dari 10 kali, akan berakhir dengan kemenangan Yue. Dia sudah memahami kemampuan Yue saat dalam Jurang. Tidak peduli jika Shia mampu menggunakan sihir secara langsung, dia yang terbiasa dalam kehidupan damai sampai sekarang memang berbeda dari mereka.

Namun, dari ekspresi mereka, secara internal Hajime terkejut bahwa ekspetasinya terpatahkan. Shia dengan girang berbicara kepada Hajime.

"Hajime-san! Hajime-san! Tolong dengarkan aku! Aku, akhirnya mampu menang melawan Yue! Ini adalah kemenangan besar lho! Yah~, aku ingin menunjukkannya kepada Hajime-san~, Kehebatanku bertarung! Dan sewaktu Yue-san mengakui keka-hebu!?" [Shia]

Shia berusaha menjelaskan bagaimana pertarungan mereka berakhir dengan gerakan. Tapi karena dia melebih-lebihkan, Yue menampar sambil melompat dan dengan "dosha" Shia terpental jauh, dan jatuh ke tanah sambil berputar-putar. Tamparannya sangat kuat sampai dia hanya bisa menggelepar tanpa tanda-tanda akan bangun.

Yue berbalik dengan "hmpf" bersama badmood nya, kemudian Hajime menanyai dia dengan senyum masamnya.

"Jadi? Apa yang terjadi?" [Hajime]

Daripada hasil pertandingan, Hajime bertanya tentang isinya. Sejujurnya, fakta bahwa Yue dikalahkan bukanlah sesuatu yang bisa ia percayai dengan gampang. Tak peduli siapa yang melihat Yue dan Shia, tanpa mengetahui apa yang sudah terjadi, hanya akan berpikiran bahwa itu adalah kebohongan.

Yue yang memancarkan aura bahwa dia tak ingin membicarakan soal itu tidak mau menyembunyikannya, dengan malas dia membalas pertanyaan Hajime.

"… … bakat sihirnya kuat seperti Hajime" [Yue]

"Bagus itu, kalau tidak itu akan jadi harta yang tak berguna… … Terus? Itu tidak semuanya, 'kan? Untuk direpotkan oleh Palu Godam dengan Level itu… …" [Hajime]

"… … nn, ia mengkhususkan diri dalam memperkuat tubuh. Sejujurnya, kekuatannya setingkat dengan Monster" [Yue]

"… … hee. Berarti sebanding dengan kita?" [Hajime]

Hajime menyipitkan matanya terhadap penilaian Yue. Sejujurnya, penilaian tertingginya lebih dari yang ia bayangkan. Anehnya, ekspresi datar Yue telah hancur berubah menjadi kepahitan saat membicarakan hal tersebut, itulah hal-hal yang ia lihat. Yue kelihatan sedang memikirkan bagaimana untuk membalas pertanyaan Hajime, dan kemudian dia menjawabnya sambil melihat kedalam matanya.

"… … dibandingkan dengan Hajime secara normal… … sekitar 60%" [Yue]

"Benarkah… … itu kekuatan maksimumnya?" [Hajime]

"Nn… … tapi, masih ada ruang untuk kemajuannya, mungkin" [Yue]

"Ooo. Memang setingkat dengan monster" [Hajime]

Hajime diam-diam terkejut mendengar Yue memberitahu mengenai Shia yang kekuatannya seperti Monster, lalu ia menatap ke arah Shia tanpa mengatakan apapun. Jika dikatakan sekitar 60% dari Hajime tanpa penguatan apapun, kekuatan status Shia seharusnya sekitar 6000. Itu sekitar dua kali lipat dari kekuatan pahlawan (Hero). Benar-benar kekuatan yang layak dianggap "Setingkat  Monster". Bisa dibilang ia mampu mencapai Yue. Itu sungguh sesuatu yang tak terbayangkan dari dia yang biasanya berpenampilan terisak-isak dan merengek.

Shia melihat tatapan Hajime setengah heran setengah kagum. Dia dengan girang berdiri, kemudian berjalan menuju Hajime dengan ekspresi serius sambil mati-matian mengontrol pikiran tergesa-gesanya. Menegakkan posturnya, rambut abu-abu dengan corak biru berkibar dan telinga kelincinya berdiri lurus. Sekarang dia akan mengungkapkan permintaan sekali seumur hidupnya. Yah… … itu bisa juga disebut pengakuan. Tubuhnya gemetar dalam kegugupan, bahkan walau ekspresinya kaku, ada semangat tak mau mundur di matanya, selangkah demi selangkah, dia maju. Akhirnya, dia menegaskan tatapan matanya dengan Hajime, kemudian mengungkapkan keinginannya.

"Hajime-san. Tolong bawa aku dalam perjalananmu. Kumohon!" [Shia]

"Aku menolak" [Hajime]

"Langsung dijawab!?" [Shia]

Shia yang tidak memikirkan ia akan ditolak karena suasana barusan, membuka lebar matanya dengan tatapan keheranan. "Apa-apaan dia mendadak bilang gitu?" mata Hajime mengatakan itu sambil ia menyaksikan Shia seolah menonton orang yang tak tahu malu itu.

Shia ngambek. ‘Mou tidak apa-apa untuk berjuang lagi!’ Begitulah.

"Ke-kejamnya, Hajime-san. Bahkan meski aku serius menanyakan itu, dengan mudahnya……" [Shia]

"Yah, meskipun aku tak mau tau sekalipun kau bilang begitu. Sebenarnya, bagaimana dengan Kam dan yang lain? Jangan bilang, kau tidak sedang mencoba untuk membawa mereka juga, 'kan?" [Hajime]

"Bu-bukan! Cuman aku saja! Sebelumnya aku sudah berbicara ke ayah dan yang lain. Bahkan walau mereka tidak berpikir aku ini beban… … itu… …" [Shia]

"Itu? Apaan?" [Hajime]

Entah kenapa Shia mulai jadi malu-malu. Sambil mengintip ke atas Hajime dan bermain-main dengan ujung jari-jarinya. Licik, Sikap yang licik. Hajime menatap curiga ke arah Shia.

Di sisi mereka, Yue terlihat kesal sambil menatap Shia.

"Itu…… aku, aku hanya ingin mengikuti apa yang aku pikirkan aja……." [Shia]

"Haa? Apa yang coba untuk kau ikuti? Sekarang ini, kau takkan jadi beban untuk suku mu, 'kan? Jika kau memiliki kekuatan itu maka umumnya, takkan ada siapapun yang tidak bisa kau kalahkan" [Hajime]

“… …” [Shia]

Shia yang malu-malu berusaha untuk menjawab membuat Hajime mencapai batas kesabarannya, ia kemudian menarik Donner. Tak diketahui apakah dia melihat itu tapi Shia meneriakkan "Keberanian Wanita!" dalam pikirannya lalu menyuarakan keinginannya.

"Aku ingin berada di samping Hajime-san! Aku mencintaimu!" [Shia]

 not
“… … Ha?" [Hajime]

‘Aku sudah mengatakannya, sekarang aku hanya perlu menggigitnya!’ itu adalah apa yang Shia pikirkan sambil panik, di depannya, Hajime tampak tercengang seakan ia adalah seekor merpati yang memakan peluru mainan. Tepatnya penampilan seseorang yang tak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun, setelah beberapa saat, seolah-olah perkataannya Shia akhirnya terkirimkan ke otaknya, ia secara spontan melakukan tsukkomi.

"TidakTidakTidak, Bukankah itu aneh? Di mana dah aku meningkatkan flag nya? Bahkan walau aku tak bisa bilang untuk diriku sendiri, tapi kupikir aku memperlakukan mu dengan kasar…… Jangan bilang, kau sange karena itu?" [Hajime]
(netNOTE__ flag itu tanda-tanda rute dapetin heroine di VN. Owh ya Hajime kebayang sama masokis, btw)

Shia tidak pernah berpikir dia akan memikirkan dirinya seperti itu dan mulai mundur selangkah dengan penyesalan dari Hajime. Lalu dengan tajam Shia memprotes.

"Siapa yang mesum! Aku tidak punya hobi semacam itu! Sebaliknya, jika kamu sadar bahwa aku diperlakukan secara kasar, kenapa kamu tidak jadi sedikit lebih baik……" [Shia]

"Yah, kenapa aku perlu baik kepadamu…… barusan, kau seriusan jatuh cinta dengan ku? Bukankah kau hanya tergoda oleh keadaan?" [Hajime]

Alasan bagi Hajime tak mempercayai keinginan baik Shia, karena ia pikir itu hanyalah efek Jembatan Gantung. Tidak mengherankan karena semua orang bisa melihat sikap Hajime terhadap Shia itu keras dalam setiap aspek. Namun, Shia yang mendapati perasaannya diragukan sangat tidak senang.
(netNOTE__ Jembatan Gantung itu maksudnya Shia suka hajime gara_gara pertolongan/kebaikannya, mungkin begitu. Di raw & inggrisnya memang jembatan gantung)

"Sama sekali tak ada hubungannya dengan keadaan. Tak peduli berapa kali kamu menyelamatkan ku dari keadaan bahaya, keadaan ku takkan berubah…… bahkan walau aku merasa lega pada saat ketika kamu melindungi janji mu di depan para Tetua…… itu mungkin sudah mempengaruhi ku, tapi perasaan ini sudah terlanjur terlahir jadi apa boleh buat. Bahkan terkadang aku kepikiran mengenai ini. Sesuatu seperti 'Kenapa harus orang ini'. Bahkan sampai sekarang Hajime-san belum pernah memanggil ku dengan namaku, entah kenapa mendadak itu menusukku dan terasa menyakitkan, seperti iblis, menjawab kalau ada butuhnya doang, selalu menjebloskan dirinya ke dalam kerumunan Demonic Beast, tidak memiliki belas kasihan, seperti iblis, tak pernah baik kepadaku, hanya memihak Yue-san, seperti iblis…… are? Sumpah, kenapa aku bisa cinta denganmu? are~?" [Shia]

Sambil berbicara, Shia mulai meragukan perasaannya sendiri. Shia menundukkan kepalanya dan urat milik Hajime muncul dari kepalanya, saat hampir tak mampu untuk menahan keluarnya Donner tanpa di sengaja karena kekeliruan, saat mendengarkan jawabannya.

"Po-pokoknya. Aku tak bisa membiarkan kau pergi bersamaku, tidak peduli apa yang kau rasakan" [Hajime]

"Itu, barusan kamu bercanda ya kan? Aku sungguh mencintaimu, jadi tolong bawa aku dalam perjalananmu!" [Shia]

"Kau tahu, perasaanmu itu…… Yah, sekalipun memang asli, kau tidak mengerti ya kalau aku sudah punya Yue? Sebaliknya, mampu mengatakan pengakuan itu di depannya…… bahkan aku pikir tentang hal itu beberapa waktu lalu, senjata nomor satumu adalah memperkuat tubuh mu, tapi tak hanya itu, kan? Kupikir hati mu itu benar-benar terbuat dari Azanthium" [Hajime]

"Siapa juga yang punya hati terbuat dari bijih (ore) dengan kekerasan terkuat! Uu~, ini jadi seperti yang kuduga…… ee, aku mengerti. Semua tentang Hajime-san. Memang licik seperti yang kupikirkan" [Shia]

Tiba-tiba, "fufufu" Shia tertawa mencurigakan sambil berpaling ke arah Hajime.

"Karena kupikir ini mungkin terjadi! Aku sudah mendapatkan sekutu saat mempertaruhkan nyawa ku! Sekarang, Yue-sensei! Kumohon bantulah aku!" [Shia]

"Ha? Yue?" [Hajime]

Hajime mengerjapkan matanya setelah mendengar nama yang tak terduga. ‘Kena kau!’, itu adalah ekspresi puas Shia, kemudian dia melirik Yue yang ada di samping mereka.

Ekspresi Yue begitu pahit seakan ia menggigit 100 serangga sekaligus, lalu dengan sangat enggan memberitahu Hajime.

“… … … … … … … … … … … … … … Hajime, bawa dia bersama kita" [Yue]

"TidakTidakTidak, apa-apaan dengan mu itu. Kau sangat jelas membencinya…… Jangan bilang itu karena pemenang taruhan……" [Hajime]

"… … sayangnya begitu" [Yue]

Secara garis besar Hajime memahami keadaan dari Yue yang menjatuhkan bahunya, dia tak lagi merasa marah tapi keheranan. Tentunya, Shia telah berpikir, bagi Hajime untuk mendengarkan keinginannya, kekuatannya benar-benar tidak cukup. Sekali lagi, dia teringat bagaimana Hajime menerima perkataan Yue sebagai prioritas dalam pengambilan keputusan. Karena itulah, dia perlu sebuah metode untuk membuat Yue menjadi sekutunya. Itu tidaklah berlebihan untuk menyebutnya metode "mempertaruhkan nyawa", karena dia mengerti itu kalau tidak, akan menjadi mustahil mengingat dia sedikit mengetahui bagaimana perasaan Yue. Dalam sepuluh hari ini, bisa dibilang dia benar-benar hampir mati untuk mengetahui kebiasaan Yue (dalam pelatihan/pertarungan). Dengan kata lain, tepatnya itu betapa seriusnya Shia memikirkan soal itu.

Hajime menggaruk kepalanya. Sekalipun ia melihat betapa enggannya Yue mengakui Shia, tak ada alasan baginya untuk membawa Shia dalam perjalanannya. Pada akhirnya, itu masalah dari perasaan Hajime sendiri.

Yue mengangkat bahunya seolah mengatakan bahwa tidak ada yang bisa dilakukannya. Karena dalam sepuluh hari ini dia, lebih dari siapapun telah menyaksikan bagaimana Shia bekerja keras dan bagaimana dia mengatasi masalah yang membebankannya, hingga Yue memperkenankannya untuk menjadi rekan perjalanan. Pada awalnya, dia tidak pernah merasa benci terhadap Shia ataupun perasaannya terhadap Hajime.

Di sisi lain, Shia yang meminta Yue untuk membantunya dengan ekspresi kemenangan mulai merasa gelisah tapi dia menguatkan dirinya. Itu dikarenakan Shia sudah berusaha semua yang ia bisa, makanya dia hanya bisa menunggu nasibnya ditentukan.

Hajime menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya dan menatap lurus ke dalam mata Shia, kemudian satu persatu ia memutar perkataan untuk mempertegas. Kekuatan Shia secara perlahan kembali saat ia mendengar perkataan Hajime.

"Untuk pergi bersama kami, bukannya kau sudah mengetahui jawabannya?" [Hajime]

"Bukannya kamu tau? Masa depan itu kan hal yang tidak pasti." [Shia]

Shia mengatakan itu karena dia dapat melihat sekilas ke masa depan. Dia percaya bahwa masa depan bisa diubah oleh tindakan dan kepercayaan.

"Ini adalah perjalanan yang penuh marabahaya" [Hajime]

"Aku bersyukur aku ini monster. Berkat itu aku bisa pergi bersamamu." [Shia]

Itu adalah perkataan penghinaan dari para Tetua. Namun, sekarang dia membanggakannya. Apalagi, dia belajar bahwa ada hal-hal yang tak dapat ia lalukan kecuali dia monster.

"Keinginanku adalah untuk kembali menuju kampung halamanku. Kau takkan pernah bertemu keluargamu lagi tau?" [Hajime]

"Aku sudah berbicara mengenai itu.'Walaupun begitu'. Ayah dan yang lainnya mengerti" [Shia]

Mereka keluarga yang selalu melindunginya sampai sekarang. Tidak ada perkataan yang dapat mengekspresikan rasa terima kasihnya. Sebuah keluarga yang selalu bersama tidak peduli dimana mereka berada, ketika dia memberitahu mereka tentang perasaannya, mereka pasti akan tersenyum tanpa perlu mengucapkan apapun.

"Kampung halamanku bukanlah tempat yang bisa kau tinggali dengan mudah." [Hajime]

"Aku akan bilang tidak peduli apapun itu.'Walaupun begitu'" [Shia]

Shia telah menunjukkan perasaannya. Itu takkan menghentikannya hanya dengan "Perkataan" begitu. Sudah tak bisa dihentikan. Begitulah jenis perasaan ini.

“… …” [Hajime]

"Fufu, udah selesai nih? Kalau begitu, ini kemenanganku, 'kan?" [Shia]

"Kemenangan apaan……" [Hajime]

"Perasaanku yang telah menang. … … Hajime-san" [Shia]

“… … apa" [Hajime]

Sekali lagi, dengan jelas. Shia Haulia berharap.

"… … kumohon bawa aku bersamamu" [Shia]


Hajime dan Shia memandang satu sama lain. Hajime melihat ke dalam mata biru mudanya untuk menegaskan niatnya.

Kemudian……

“… … … … … … Haaah~, terserahlah lakukan yang kau suka. Orang aneh" [Hajime]

Mungkin karena dia melihat sesuatu dalam mata Shia, sebelum Hajime menghela napas panjang kemudian mengatakan kepadanya bahwa dia menyerah.

Di dalam Sea of Trees, satu teriakan kegembiraan dan sebuah suara tidak puas bergema. Setelah melihat itu, Hajime hanya bisa memperlihatkan senyum masam dengan banyak kesimpulan bahwa akan ada banyak permasalahan dari sekarang.

loading...