Monday, 10 October 2016

Tilea no Nayamigoto Chapter 9 Bahasa Indonesia


Translator: Liber Koibito Shareturee Dreamorire Syalala Helgeum Doo'ranbolt Xersteriium  Grodserius Schnaider Bailer Stagrium Xreearin Dreafo'or Vrendelis Crekion Bachigone pepepepepe pepepepepe Vrokiore Safiuty Qweolope Sreast Dretrol Rembelton Sadero-o-whisp rururururu
Editor: Kirz
Proofreader: Ise-kun

Chapter 9: Anjing Ini Meremehkan Kegiatan Wawancara, Iya kan?

Hari ini Nielsen (si cabul) seharusnya datang ke kedai.

Aku menyerahkan Nielsen (si cabul) ke Timu, tapi apa tidak apa ya menyerahkan orang itu ke dia? Yah soalnya, untuk beberapa alasan atau mungkin lebih, tampaknya Timu dan Nielsen (si cabul) itu sudah akrab banget, jadi aku percaya kalau menyerahkan orang itu ke Timu, itu ide yang bagus bagaimanapun juga.

Karena Nielsen (si cabul) dan aku udah pernah saling beradu tinju, jadi akan canggung banget nantinya. Gak apa sih kalau kami melupakan saja kejadian itu, tapi...

Aku benci adanya kecanggungan diantara kami berdua kalau kami lagi kerja bareng bagaimanapun juga. Tapi penyebab adanya perkelahian itu ya salahnya Nielsen (si cabul) itu sendiri. Apa yang kulakukan hanyalah membela diri, jadi seseorang yang harus meminta maaf adalah Nielsen (si cabul). Cuma, orang yang membuat Nielsen si cabul babak belur itu aku. Seseorang yang lebih merasa dirugikan itu Nielsen (si cabul), bukannya gitu?

Setelah duduk sambil mengkhawatirkan hal ini dalam beberapa saat, aku mendengar suara pintu terbuka.

----MN? Kayaknya dia udah disini.

Aku berdiri dari kursiku untuk memberikan salam pada Nielsen (si cabul)

"Aku sudah membawanya, Onee-sama"

"Makasih, Timu"

Setelah berterimakasih pada adikku, aku menatap Nielsen (si cabul) cukup lama.

Seperti biasa, dia seorang pria tua yang penuh gaya. Kumisnya rapi, dan dia terlihat menakjubkan menggunakan seragam pelayan itu, ya gak? Jika aku tidak tau dia itu sebenarnya seperti apa, aku pasti tertipu oleh penampilannya.

Setelah mengamati Nielsen (si cabul) seperti itu dalam beberapa saat, Nielsen (si cabul) melangkah maju.

"Kakak perempuan Camilla-sama yang terhormat, Tilea-sama. Maafkan tindakan kasar saya sebelumnya. Jika anda menginginkan hidup saya, saya bersedia meninggalkan kehidupan saya untuk memenuhi keinginan anda!"

Nielsen (si cabul) membungkuk, seakan-akan ia sedang menggosok kepalanya ke lantai.

Ya, ya, jika dia yang meminta maaf, kalau begitu kumaafkan. Tidak ada yang bisa kulakukan terhadap dirinya yang terlalu dramatis ini, ya soalnya dia kan Chuunibyou.

Seperti yang diharapkan dari Timu, huh. Meskipun dia marah dan menyerangku seolah ingin membunuhku, sikapnya yang sekarang seolah-olah menunjukan kalau semua itu hanyalah kebohongan.

Cuma aku penasaran apa sih yang ia katakan sampe mengubahnya (Nielsen) jadi kaya gitu?

Ah, bodo amat. Yang penting sekarang, aku akan membiarkannya tahu kalau aku gak peduli lagi.

"Aku gak keberatan, jadi gak apa kok"

"Permintaan maaf saya anda terima, tidak ada kenikmatan yang lebih besar dari ini!"

"Yang lebih penting, aku pernah memukulmu, tapi kau gak apa kan?"

"Tentu saja. Tubuh saya sedang dalam kondisi sempurna. Tapi bagaimanapun juga, tinjuan anda begitu kuat dan padat, Tilea-sama; Saya benar-benar terinspirasi oleh kekuatan tak terhingga yang anda tunjukkan pada saya!!"

Eh!? Apa ini!? dengan kata lain ia merasa senang ketika kupukul? Apa dia orang yang memiliki kecenderungan itu?
(TL note: Maksud Tilea-sama <3 disini adalah Masochist, seperti salah satu translator di website ini)

Dia mendesah AHHHHHHHHH... AHHHHHHHHH ketika ia dihajar seorang gadis!?

Apa kau ini benar-benar seorang masokis akut atau orang yang suka gituannnnnnnnnnnnn!?

Gak heran sih kalau dia gak punya rasa sakit. Tidak ada harapan lagi untuknya. Bahkan jika kau berkelahi dengannya, seakan-akan itu adalah hadiah untuknya. Jujur saja, karena aku pernah memukulnya aku sempat ingin meminta maaf padanya, tapi....

Huu~ tiba-tiba aku kehilangan semua tenagaku, Padahal, sekarang aku harus menyelesaikan semua tugasku hari ini. Aku meyakinkan ayah, jadi dia akan bekerja sebagai salah satu karyawan kami.

"Cabu--, maksudku, Nielsen, kan? Aku mau ngomong bentar denganmu, jadi mau gak kau datang kemari?"

Aku mengajak Nielsen (si Cabul) ke dalam ruangan, dan dia telah duduk di kursi.

Benar, Aku ingin meng-interview nya. Kami kan memanh mau membuat kontrak antara karyawan dan bos, jadi setidaknya kami harus mengetahui sedikit informasi dasar mengenai dirinya. Cuma, Aku sudah berjanji pada Timu untuk memperkerjakannya, jadi sekarang ini hanyalah sekedar formalitas.

"Jadi sekarang, Niel, Aku ingin bertanya beberapa pertanyaan kepada mu."

"Baik!"

Mn, Bagus ini, dirinya begitu semangat. Hal ini penting lho dalam dunia bisnis keluarga, ya kan.

"Kalau begitu, nama dan umurmu?"

"Nama saya Nielsen Bo Classical. Umur empat ribu enam ratus lima puluh tiga tahun, tapi itu tidak termasuk waktu yang saya habiskan ketika tersegel"

Yayaya, sip dah, Chuunibyou!

Mari kita buat begini saja, 'nama: Nielsen, umur: 60'...

Aku menulisnya satu persatu di riwayat hidup yang kusiapkan untuk Nielsen (Cabul).

"Pertanyaan selanjutnya, apa bakatmu?"

"Baik. Saya cukup terampil dalam pertarungan jarak dekat. Selain itu, dengan bangga saya akan mengatakan bahwa saya cukup bagus dalam memimpin pasukan"

Um~ bakat: gak ada, sip dah.

"Berikutnya asal-usul dan kampung halamanmu, mungkin?"

"Saya terlahir di Sirena di wilayah Elhard. Namun, itu adalah bekas tempat kekuasaan raja iblis, jadi saya tak begitu tahu apa namanya masih sama atau tidak."

Um~ 'Gak ada alamat yang pasti'

"Kalau begitu, apa pengalaman ker-- maksudku, bisa kau jelaskan apa saja yang telah kau lakukan hingga saat ini?"

Aku ragu kalau Si idiot ini memiliki pengalaman kerja, jadi aku tak punya pilihan lain menanyakannya seperti itu, hadehhh!

Sambil menahan kejengkelan yang terus menerus meningkat, aku bertanya seperti itu.

"Baik. Sebagai anggota baru, pertarungan pertama yang saya ikuti adalah pertarungan besar di Minora. Saya membunuh ribuan orang di perang ini, dan dipuji oleh Camilla-sama atas prestasi saya saat itu, saya dijadikan pengawalnya. Setelah itu saya mengikuti beberapa perang yang memiliki kesulitan yang beragam, tapi yang paling saya ingat adalah kekalahan di Velaad. Pada saat itu pasukan kami hanya berjumlah 500, dan walaupun kami dikelilingi oleh tentara besar berjumlah puluhan ribu, kami berhasil melarikan diri ke Demon Capital Benz. Pada saat itu pasukan kami sudah siap untuk mati, tapi sungguh keajaiban telah terjadi"

"Ooh, Ok aku udah dengerin ceritamu. Jadi dalam pertempuran itu kau mendapatkan julukan [Iron Wall Nielsen] ya kan? Memiliki orang yang pantas untuk menjadi pengawalku, begitu bangganya diriku!"

"Kata-kata anda terlalu baik untuk saya"

Ya, ya, Iron Wall Nielsen ya? luar biasa. Aku pasti akan menjadikanmu sebagai penjaga pintu di restoran ini!

Apa menurutnya aku akan bilang seperti itu? apa dia ini bodoh?

Sama timu juga, tolong lebih hati-hati lagi. Si Idiot ini kayaknya jadi terlalu percaya diri nih sekarang.

Huu~ Kesabaranku udah sampai batasnya, tapi aku akan tetap melanjutkan percakapan ini.

"Ah~ oke cukup. Apakah kau tidak punya pengalaman bekerja keras dalam keseharianmu?"

Ayolah, apa aja boleh. Ya kayak cuma kerja keras bersih-bersih setiap hari kek, atau merapikan segalanya kek, aku nggak minta lebih kok. Aku cuma ingin Ia mengatakan kalau Ia telah membereskan sesuatunya dengan benar.

"Baik. Saya tak pernah gagal dalam berlatih sebelumnya. Secara khusus, saat ini saya sedang fokus dalam peningkatan kekuatan sihirku, dan sebagai hasilnya saat ini kekuatan mana saya sekitar 42 ribu."

"Oh gitu, 42 ribu ya? kalau begitu mungkin aku sekitar 513 ribu"

(Editor Note: KWKAWKAWKWKKW NGAKAK ANJAY!)

Duh beneran dah, sudah waktunya untuk mengakhiri semua ini. Haruskah aku menjatuhkannya hanya dengan tangan kiriku!?

"Huhu, Onee-sama. Berbohong itu tidak baik, 'tau. Paling tidak, Kekuatanmu sudah pasti di atas satu juta"

Whoa, Whoa, Timu, omonganmu itu terlalu keterlaluan, bukan begitu? Bahkan Nielsen (si Cabul) akan marah, Ya kan?

"D-, dia memiliki kekuatan sebesar itu..."

Ap-, Kenapa kau malah memasang wajah terpesona? KAU ITU LAGI DIKERJAIN, 'tau. Gadis kecil empat belas tahun dan gadis tujuh belas tahun menganggap kalau kau itu tidak lebih dari serangga, 'tau.

----Duh beneran dah, seberapa masokis sih sebenarnya kau ini!?

Aku hampir memukul Nielsen (si cabul) ini karena refleks, tapi kutahan. Kayaknya kalau melanjutkan interview ini lebih dalam lagi itu cuma jadi sia-sia, tapi aku sudah meyakinkan diriku untuk melakukannya. Aku akan melanjutkannya sampai selesai.

Setelah itu aku menanyakan beberapa pertanyaan, tapi Nielsen (si cabul) tetap saja seperti biasanya. Aku tidak mendapatkan satupun jawaban yang normal.

"Kalau begitu, ceritakan tentang keluargamu? ada berapa banyak orang misalnya, atau tentang orang tuamu mungkin?"

Seperti yang kuduga dia itu NEET, jadi mungkin dia mendapat dukungan dari orang tuanya. Setidaknya aku ingin tahu beberapa informasi tentang seseorang yang bisa memastikan identitasnya.

"Orang tua saya? Saya pengikut Camilla-sama; Dengan kata lain saya terlahir dari 'mana'-nya ibu Camilla-sama, Mamira-sama. Jika saya harus mengatakan siapa orang tua saya, sudah pasti jawabannya adalah Mamira-sama. Tapi, sebagai pengikut, bukan orang tua, akan lebih tepat kalau saya menyebutnya sebagai tuan saya, tapi..."

Hmm~mm, aku tahu. Jadi kayaknya dia bilang kalau dia dan Timu itu bersaudara, huhh~

Apa itu artinya kami bersaudara juga? Onii-chan♪

― ― ― ―Aku beneran mau membunuhmu!

Mengatakan kalau kau adalah bawahan Timu yang setia, dan kemudian dengan licik mencoba membuatnya menjadi saudaramu? Dipikiranmu itu, apa kau tidak puas dengan bermain sebagai bawahan, dan ingin jadi saudara juga?

BETAPA CABULNYA DIRIMU!

......
..........
............

Fuu~ Fuu~ Tidak boleh, tidak boleh. Aku hampir aja ngamuk.

Bukannya aku udah tahu ya kalau dia itu Chuunibyou? dia ini bukannya punya niat buruk. Itu cuma sebagian efek dari penyakitnya.

Tapi tetap saja, bakal sulit nanti ketika menjelaskan mengenai Nielsen (si cabul) pada ayah. Karena dari awal ayah tidak percaya dengan Nielsen si cabul.

"Apa benar-benar ada orang yang tidak pernah bekerja walaupun umurnya hampir 60?, dan apa dia gak pikun nanti pas dia kerja?" gitu katanya.

Ayah itu seseorang yang bekerja dengan sempurna, jadi dia selalu berpikir kritis. Dan kemudian mendapatkan izin melakukan ini, melakukan itu, aku katanya disuruh 'awasi dia', jadi aku membuat daftar riwayat hidup dan bahkan berpikir tentang pekerjaan yang bahkan Nielsen (si cabul) tampaknya bisa melakukannya, dan datang dengan membawa hasil daftar riwayat hidup itu, tapi malah jadi seperti ini.

...Aku cuma perlu menulis kalau dia itu gak bisa diharapkan. Sebelum ada masalah nanti, kita tak bisa membiarkannya berada di depan para tamu. Masalah ini akan mempengaruhi kepercayaan di toko kami. Maaf Timu, tapi orang ini akan kutolak.

"Onee-sama. Menurutku kayaknya lebih baik biarkan Nielsen dalam perannya sebagai pemimpin para pengawal"

Sama sepertiku yang memikirkan tentang penolakan, Timu berbicara mengenai apa yang bisa dilakukan Nielsen (si cabul) mulai sekarang.

"Tilea-sama. Meskipun saya tak layak, saya berniat melayani anda dengan segala kekuatan saya!"

Terlebih lagi, bahkan Nielsen (si cabul) mulai berbicara seolah-olah dia sudah diterima.

Oi, menurutmu kau akan baik-baik saja setelah menjawab seperti itu? Yang ada malahan kita akan menghentikan interview ini, 'tau.

Tapi Timu bilang "Aku akan berada dalam perhatianmu lagi, Iron Wall Nielsen", dan Nielsen (si cabul) menjawab "Baik!" malahan, dan mereka berdua terhanyut dalam semangat mereka sendiri.

T-, terlalu sulit untuk mengatakan ini. "Yeah, aku pikir kita tidak harus memperkerjakannya juga" itu terlalu susah untuk diucapkan. Maksudku, kesampingkan dulu soal Nielsen (si cabul) itu, yang penting Timu tampaknya bahagia.

Kejadian ini mirip kaya seorang anak kecil yang berkata 'EH!? Kita bisa membiarkannya diam dirumah! Yee aku seneng. Onee-chan, Aku menyayangimu!" dan diriku tidak sanggup mengatakan "Yah, Aku tidak suka anjing ini jadi lebih baik aku mentelantarkannya saja".

.......
...............
...................

Tidak ada yang bisa dilakukan. Aku akan memberikannya kesempatan. Aku sudah siap untuk kemungkinan terburuknya.

"Nielsen, mari lewat sini"

"Baik"

Nielsen (si cabul) berlutut di depanku, dan menunduk.

Kau tahu, kumohon hentikan sikap formal ini. Aku sudah tahu seperti apa dirimu yang sebenarnya, sehingga ini keliatannya terlalu konyol. Kayaknya akan ada banyak hal yang akan kuajarkan padanya.

"Niel, secara resmi aku memperkerjakanmu. Mulai sekarang aku mengharapkan pekerjaan yang baik darimu"

"Ucapan anda terlalu baik. Semua 5 ribu anggota pasukan pengawal kami akan bersumpah setia padamu, Tilea-sama!"

N-, NANI? lima ribu, katanya?

Kurasa kekhawatiranku sudah naik ketingkat yang lebih tinggi.

loading...