Saturday, 8 October 2016

The Assassin Chapter 4


Penulis: Exicore

Chapter 4 : Mimpi

'Bagaimana bisa semuanya berakhir seperti ini?' Tanya Arsalt dalam hatinya.

Didepannya terlihat kira-kira 500 orang dengan pakaian yang sama, yaitu armor berat berwarna perak dengan sebuah perisai dan pedang yang terbuat dari bahan yang sama. 2 orang dari kelompok itu maju, dan menyerangnya. Mereka mengayunkan pedangnya secara horizontal dari dua arah yang berbeda, Arsalt tetap diam disana, dan saat kedua pedang itu mulai dekat dengan leher dan perutnya, pedang itu tertahan, suara besi yang saling bertabrakan satu sama lain bisa terdengar dengan keras memecah kesunyian tanah lapang yang luas tersebut.

Kedua prajurit tadi kemudian menguatkan pegangan mereka terhadap pedangnya dan berusaha menembus pertahanan Arsalt, namun tidak ada yang berubah kecuali posisi kaki kedua prajurit tadi mulai bergeser dan menimbulkan jejak yang cukup dalam di tanah. Arsalt kemudian memiringkan posisi pedangnya sebesar 25 derajat, membuat kedua orang tadi kehilangan keseimbangan dan jatuh ke tanah. Tidak menunggu musuhnya bangun, Arsalt segera menancapkan kedua pedangnya ke perut dan dada dua prajurit tadi.

Melihat teman mereka mati dengan mudahnya, para prajurit itu maju secara bersamaan, merubah pandangan mereka terhadap musuh di depan mereka dan maju bersamaan.


"Berusaha mengalahkanku dengan jumlah? Yah, terserahlah, pada akhirnya kalian semua akan mati juga." Ujar Arsalt, mengangkat kedua pedangnya.

Ia tidak beranjak dari tempatnya dan tetap berdiri disana, jubah hitam yang ia kenakan berkibar ditiup angin. Pupil mata hitamnya memantulkan gambaran musuhnya yang sedang berjalan mendekatinya.

"Sebaiknya aku bersiap untuk yang terburuk." Gumam Arsalt.

------

"Sial!" Teriaknya.

Pertarungan sudah berlangsung cukup lama, kedua pihak sudah mulai kelelahan, namun tidak ada yang ingin menyerah, di tengah tanah lapang itu sudah menjadi kolam darah yang dipenuhi mayat. Para prajurit yang tadinya berjumlah dari 500 orang,  kini jumlahnya sudah bisa dihitung dengan jari, 3 jam sudah mereka bertarung, walaupun kuat, namun Arsalt tetap saja butuh istirahat, dan hingga saat ini ia belum sempat mendapat kesempatan bernafas, itu semua karena-

"Matilah! Dasar Monster!" Terdengar suara teriakan dari sampingnya ia segera berbalik dan menangkis serangan dari pengguna Greatsword itu menggunakan kedua pedangnya, bahkan ia sedikit terdorong dari tempat ia berdiri sebelumnya.

'Kenapa aku tidak melihat mereka tadi?' Pikirnya, hanya tersisa 9 orang lagi. Namun merekalah yang paling sulit dibunuh, tidak sulit membunuh satu atau dua dari mereka, namun saat menghadapi sembilan orang dengan kemampuan mumpuni sekaligus, bahkan Arsalt pun akan kewalahan.

Tidak memberinya waktu berpikir, satu orang lagi menyerangnya dari belakang, seorang pengguna kapak besar. Ia dengan cepat menghempaskan si pengguna Greatsword ke belakang dan membalik tubuhnya, kapak yang mampu menghancurkan tengkorak manusia dalam sekali pukul itu semakin dekat dengan kepalanya, saat mata dari kapak itu mendekat wajahnya, ia menghentikannya menggunakan kedua pedang miliknya dan kemudian melempar musuhnya ke belakang dan merangsek maju mendekati musuhnya untuk melakukan itu, ia mengayunkan pedang di tangan kanannya, namun belum sempat pedang itu mencapai pengguna kapak tadi, sebuah suara keras besi saling beradu bisa terdengar, debu beterbangan dan pedangnya berhenti, ia terus berusaha mendorong, namun tidak ada yang berubah.

Setelah awan debu itu mulai menghilang, didepannya terlihat seorang anak anak kecil yang memegang perisai besar yang menghalangi laju pedangnya.

"Dasar kau!" Teriak Arsalt mengutuk, namun tanpa sempat bereaksi ia sudah dihempaskan ke belakang, kehilangan keseimbangan ia hampir jatuh ke belakang namun untungnya ia berhasil memperbaiki postur tubuhnya. Matanya menatap anak kecil di depannya itu dengan penuh amarah.
Karena anak itulah pertarungan ini berlangsung begitu lama, setiap serangannya bisa dihalau olehnya, bahkan di kembalikan dengan tenaga yang lebih besar.

"Ketua! Terima kasih karena sudah menyelamatkanku." Ujar pengguna kapak tadi.

"Tidak masalah. Kalian berdua tetap dibelakangku. Para pemanah bersiap-siaplah, panah saat ada kesempatan." Ujar anak itu dengan suara lantang dan penuh percaya diri. Pengguna Greatsword mulai berlari ke belakang anak itu mengikuti perinath, dan pemanah yang tidak bisa dilihat oleh Arsalt pun mulai menyiapkan panahnya.

"Kalau begitu mari kita mulai duel kita, Raven Blissword, menantangmu untuk berduel hingga mati." Ujar bocah itu sembari mengarahkan pedangnya ke Arsalt.

"Kalau begitu, biar kuterima tantanganmu bocah!" Teriak Arsalt sembari merangsek maju berusaha memperpendek jarak diantara mereka.

Chapter SebelumnyaDaftar Isi – Chapter Berikutnya –
loading...