Friday, 21 October 2016

Shinka no Mi Chapter 2 Bahasa Indonesia


Translator: Belang
Editor: Ise-kun

Chapter 2: Buah Kehidupan

Setelah di kirim ke Dunia Lain, aku berjalan tanpa tujuan menelusuri hutan ini. Menghabiskan waktu sekitar 1 jam. Dan aku nggak punya pilihan lain untuk mengosongkan kandung kemih ku di tengah-tengah semak belukar ini, setelah itu aku nggak melakukan apa pun tapi tetap lanjut berjalan tanpa tau arah.
(netNOTE__ mengosongkan kandung kemih ≡ pipis)

Dan sekarang kakiku sudah dalam batasnya. Aku bahkan tidak menggunakan sepatu yang tepat ‘tau? Sepatu outdoor ku ada di loker……! Aku cuman memakai sepatu indoor tipis (Uwabaki).

Selain itu, tanah ini sangat kasar bagi orang gendut sepertiku untuk berjalan di hutan selama satu jam. Tidak bisakah aku melakukan sesuatu soal ini? Nggak, emang nggak.

”……dan ahh, aku kelaparan……”

Aku sudah menggila dengan rasa lapar ini. Berapa lama lagi aku harus berjalan berputar-putar? Rasa lapar ini menggerogotiku.

”A-apa ada sesuatu yang kelihatannya bisa dimakan……”

Setelah berkata seperti itu, aku melihat sekelilingku. Nggak terlihat satu pun serangga, apalagi hewan. Bahkan Kacang-kacangan, buah-buahan atau jamur pun nggak ada.

”Oh tidak, apa aku bakalan mati kelaparan? ……Ini nggak boleh terjadi!”

Sulit menjaga perasaan stres ini keluar dari diriku.

”Bangsat……… Maakanaaaannn!”

Aku serasa mau berteriak, jadi aku lakukan aja. Walau begitu, ini belum membuatku tenang.

”Makaanann! Berikan aku makaanaaaaaaaaaaaaann!!”

Aku berteriak sekuat-kuatnya. Ini malah terasa menyenangkan. Tapi mungkin juga terlambat. Ketika aku melakukan hal-hal bodoh tadi, tiba-tiba ada suara gemerisik dalam semak belukar.

”Apa itu makanan!?”

Aku berpikir keras dan bergegas ke semak-semak.

”Graaaaaawr~~”

”… ANJIR……”

Ada serigala besar tepat di depanku!

”Aroooooooo~~”

”Maafkan akuu!! Ampuni aku!!”

Nggak tau kenapa, tapi aku langsung mensujudkan diriku di depan serigala ini.

Habisnya, apa lagi coba yang harusnya ku lakukan? Serigala abu-abu yang panjangnya 5m itu tepat di depanku! Membuatku takut karena mata laparnya! Bahkan bertambah menakutkan ketika aku melihat taringnya mengintip keluar di belakang bibirnya!

Aku beneran ketakutan! Itu sebabnya aku mensujudkan diriku sendiri. Mungkin aja dengan ngelakuin ini dia bakalan memaafkanku……?
(netNOTE__ Bayangin aja sujudnya kayak subaru di re zero pas lawan 3 preman )

”Graaaawr!”

Pada akhirnya sujudku nggak berguna, serigala itu mulai menerkamku.
Karena dalam keadaan sujud di tanah, aku berguling sekeras yang aku bisa, dan entah gimana serangan itu bisa terhindari.

”Eeek! Mati akuu!!”

Sialan, aku baru aja ke dunia ini. Untungnya tadi aku udah pipis……! Kalau nggak, bisa-bisa aku ngompol ini!

”Graaaaaw……”

Sepertinya serigala itu terkejut mengetahui kalau aku bisa mengelak, lalu dia menjaga jarak aman.
Tapi nampaknya daripada melihatku sebagai 「mangsa」, dia seperti berpikir 「Hmm apa ini?」, layaknya bayi penasaran yang mengucapkan semuanya.
Maksudku, kelihatannya yang ada di mata serigala itu penuh rasa keingintahuan, walaupun aku nggak tau kenapa.

Yeesh, aku sedang mencari satu makanan, lalu tiba-tiba sekarang aku yang jadi makanannya…… seseorang tolong aku! Seolah-olah harapanku dikabulkan, aku bisa mendengar suara gemerisik di sisi lain semak-semak.

”Apa itu penyelamatku?”

Keteganganku menjadi maksimal saat aku menoleh ke belakang. ”Graaaaawr~”

”…… ANJIR…”

Itu adalah kedua kalinya aku ngomong “ANJIR” hari ini.

Satu aja udah gawat! Malah nambah satu lagi!? Aku harus keluar dari sini! Bisa-bisa matii akuu!

”Hei! Kalau kau mau memakanku lalu cepatlah lakukan! ……kumohon lemah lembut ya?”

Aku menengadahkan wajahku ke atas, kedua lengan keluar, dan kaki terbuka lebar.
(netNOTE__ Bayangin Bintang laut, tapi versi gendut)

Tapi――――

”Graaoo graw!”

”Graaaawr…… Awuun!”

Eeh, serigalanya malah berantem.

”Awuuwuuwuu!”

”Gruaawr!”

Aku mencoba menggerakkan tanganku untuk menerjemahkannya.

”<Berikan makanan itu padaku!!>”

”<Asu lu pencurry!!>”

Atau sesuatu seperti itu, mungkin.

……...

”…… Lebih baik lari.”

Sementara serigala itu sibuk menyerang satu sama lain, aku mengambil kesempatan ini, diam-diam melarikan diri.


◆◇◆


”I-ini gawat……”

Kurubukkurubuk~~

Cacing diperut ku sedang ngadain konser daritadi.

Entah bagaimana aku berhasil menghindari Dead-End dari serigala itu. Sudah 3 hari aku tidur di pohon, entah gimana aku berhasil memanjatnya, dan mati-matian menyembunyikan diriku dari serigala.
Bahkan aku nggak bisa minum air dalam situasi ini.
Aku hampir nggak punya tenaga untuk bergerak lagi, apalagi memanjat pohon.

Hari ini pun sama, nggak ada tanda-tanda sesuatu untuk dimakan. Aku mencari kacang-kacangan, buah-buahan, dan jamur tanpa arah yang jelas.

”…… Apa aku beneran…… akan mati?”

Aku dikenal sebagai orang yang selalu berpikir positif, namun sekarang, aku nggak merasakan apa-apa, tapi tertekan.

Aku ini gendut, 5 hari bertahan tanpa makan itu sulit.
(netNOTE__ mending gendut ada simpanan lemaknya-_-)

Skenario terburuknya, aku bisa aja memakan rumput liar serta mengunyah dedaunan yang tumbuh rimbun di sekitar sini. Bahkan kotoran akan lebih baik daripada tidak sama sekali. Aku hanya ingin sesuatu masuk ke dalam mulutku.


”…… Ah, ini gawat……”

Tepat seperti yang tadi aku bilang, kalau energiku sudah habis sepenuhnya. Tubuhku jatuh serta wajahku menghantam tanah.

 ”…………”

Terasa sakit, tapi aku nggak punya waktu untuk memperdulikan itu.

”Uh, kalau aku nggak cepat dapet beberapa makanan, aku akan……”

Dengan cepat aku menggerakkan kepalaku, lalu menggigit tanah.

”Gahh!?” Sa-sangat keras…

Aku sama sekali nggak bisa menanamkan gigiku ke dalam, tanah ini sangat keras.

”Inilah…… akhirnya……”

Gumamku. Tibalah waktunya bagiku untuk menutup mata.

”…… mm?”

Aku mendengar beberapa hewan membuat keributan.
Suara keributan itu kedengarannya menuju ke arahku.

”――――kii!”

”――kii kii kii!”

”Graaawr!”

Dengan santai aku melihat ke arah suara itu.

Apa yang aku lihat adalah pasukan monyet gila yang berlari sambil membawa buah-buahan dan kacang-kacangan yang memenuhi kedua tangan monyet-monyet itu. Mereka sepertinya dikejar oleh serigala, kelihatannya sama sepertiku yang menghindari serigala lima hari yang lalu.

”Kii! Kii …ii!”

”Kyaakyakya!”

”Graaoooooooo!”

Bukk!

Monyet itu mengabaikanku, mereka langsung melewatiku. Dan terdengar suara seperti mereka menjatuhkan sesuatu.

”Hahahahaha!”

Serigala itu teralihkan perhatiannya sama si monyet, mereka berlari tepat melewatiku.

”A-apa itu?”

Meskipun aku bertanya-tanya, otakku nggak punya cukup kekuatan untuk memprosesnya, tenagaku habis.

”Setidaknya…… Kalau memakan itu akan membunuhku, itu lebih baik daripada kelaparan, 'kan?”
Tanpa sadar aku bertanya pada diriku sendiri.

Tapi karena aku sendirian, jadi ya nggak ada yang jawab.

”Haha……”

Entah kenapa senyuman keluar di wajahku.

Melihat ke masa lalu, aku nggak punya kehidupan yang sangat baik.
Aku sudah di bully sejak masih di TK. Kemudian SD, SMP, dan bahkan di SMA pun terus berlanjut.
Di bully dengan berbagai banyak cara. Aku dipukuli, mengambil barang rahasiaku, mengalami vandalisme, menyiramku dengan air kotor…… dan lainnya yang lebih kejam.
(netNOTE__ vandalisme ≡  perusakan yang kejam dan penistaan terhadap mutu segala sesuatu yang indah atau terpuji.)

Meskipun mengalami semua itu, aku bisa tetap berpikir positif, mungkin karena masih ada orang-orang di luar sana yang memperlakukanku layaknya manusia biasa.

Memang bukanlah kehidupan yang sangat bagus. Tapi, orang-orang yang menyayangiku, mengobrol denganku, bermain denganku, bahkan menyentuhku……. Harta terbesar dalam kehidupanku yang buruk ini adalah "persahabatan" yang selalu menjadi bagian dari diriku ini.

Hino dari kelas sebelahku seperti itu. Bersama Shouta dan Kenji. Meskipun kelas dan tingkatan kelas kami berbeda, Kannazuki-senpai dan Miwa juga sama……. Ada banyak orang lain di sekolah yang sama-sama menganggapku layaknya orang normal.

Tidak ada satupun dari mereka yang memperlakukanku sebagai manusia yang nggak normal. Kemungkinannya mereka melakukan ini hanya untuk membuat diri mereka terlihat lebih baik. Tapi…… Aku tetap bahagia mereka memperlakukanku seperti manusia normal.

Hubunganku dengan keluarga ku pun juga baik. Meskipun setelah ibu dan ayahku meninggal, hubungan dengan kerabatku menjadi buruk karena warisan……
Jadi aku memilih hidup sendiri, untuk melindungi warisanku. Paman Ichio yang akhirnya lebih dulu menjadi wali ku.
Pada akhirnya aku malah menggunakan warisan orang tuaku untuk melakukan apa pun yang aku inginkan, sampai aku menjadi gendut dan jelek…… ini sepenuhnya adalah salahku sendiri.

Bukan hidupku yang membuat semua ini jadi buruk, tapi diriku sendiri.

”Hahaha…… Aku bener-bener merasa hampa……”

Jadi ini ya, rasanya sekarat…… Aku nggak suka ini. Sama sekali.
Jika aku mati, aku ragu apa ada orang yang akan menangis…… atau sedih dengan kematianku?
Aku pikir dunia adalah temanku, tapi aku nggak mau semuanya berakhir seperti ini.
.
”Tapi… Kurasa…kalau aku mati……… tidak masalah……”

Sepertinya perlahan-lahan aku mulai kehilangan kesadaran, aku memandang ke arah sesuatu yang tadi terjatuh.

"…… Haha…… itu kacang… yang jatuh……”

Bersamaan dengan penglihatanku yang mengabur, aku melihat kacang yang tadi terjatuh di tepi jalan.

………………………….

………………….

………….

…….. eh, kacang?

“!?”
Tiba-tiba kesadaran ku kembali.

”I-ini benar-benar kacang.”

Ya, apa yang mendarat di depan mataku adalah, kacang. Aku nggak tau itu jenis kacang apa.
Tapi itu berwarna cokelat muda dan berbentuk seperti bola rugbi, apalagi coba kalau bukan kacang.

Kacang. Kacang.

Ini yang aku tunggu-tunggu.

MA-KA-NAN !!

”Maaaaaaaakkkkkkkaaaaaaaannnnnnnnnn!”

Aku sudah di tepian nerakaku sendiri, sekarang aku merangkak di tanah dengan mengeluarkan seluruh tenagaku. Aku nggak tau dari mana ledakan energi ini datang.
Tapi walaupun begitu, aku mencengkeram tanah saat merangkak maju! Tujuanku, kacang yang berada tepat di depanku!
Apa insting bertahan hidup ku sedang menendang ku? Aku nggak melihat apa-apa selain kacang itu, saat aku merangkak tanpa rasa malu atau peduli.

”ooooOOOOOO!!”

Dan――――tanganku akhirnya menyentuh si kacang.

“!”
Menyambar kacang itu dengan kuat. Aku mendapatkannya.

Ini makananku sekarang. Aku nggak akan memberikannya ke siapa pun…… Bahkan jika ini awalnya makanan si monyet aneh itu.
Aku menggenggam ini dengan kuatnya. Kemudian aku menahannya di depan wajahku.
Kuku ku berdarah akibat mencengkeram tanah yang sangat keras tadi. Lukanya cukup parah. Tapi daripada itu, aku lebih tertarik dengan makanan ini.

Agar lebih meyakinkan, aku memakai skill【Analyze】pada kacang ini.

【Seed of Evolution】

Analisisku hanya bisa menampilkan nama.
Ada beberapa informasi mengenai efeknya, tapi sama seperti saat aku memakai Analisis pada Aoyama, semua tulisannya amburadul dan tak terbaca.
Tapi setidaknya nggak beracun. Lalu, hanya ada satu tindakan yang tersisa bagiku untuk dilakukan.

”……… Saatnya makan!”

Dengan setiap gigitan dari kekuatanku, aku mengunyah makanan yang disebut Seed of Evolution ini.

Ini kelihatan seperti bola rugby berwarna cokelat yang bercahaya, kupikir ini keras saat di makan dan terasa seperti biji ketapang. Namun――――

”um…… rasanya kayak tai……”

Sangat mengerikan. Rasanya sangat tidak wajar.
Hmm, kenapa si monyet itu membuat ini jadi bagian dari makanannya? Apa ada sesuatu yang salah dengan rasanya?
Tapi tetap saja ini adalah makanan yang berharga. Aku nggak boleh mengeluh. Aku makan semuanya aja.

Biasanya, aku akan berhenti makan kalau rasanya nggak enak, tapi sekarang aku melahap ini tanpa pikir panjang. Saat sedang makan, aku melihat sesuatu.

”…… Kuku ku……menjadi sembuh?”
(EDN: Kok gw déjà vu ya)

Yap, ntah kenapa, kuku yang membengkok dan patah telah sembuh total. Meskipun aku hanya makan satu Benih Evolusi, perut ku jadi kenyang. Dan akhirnya aku menyelesaikan makanku.

”Aaahh…… itu rasanya mengerikan!” sambil mengelus-elus perutku.

 〖The Seed of Evolution's Effect has been Activated〗

Aku mendengar suara di kepalaku.

Hah? Efek? Apa ini dari……

Kupikir sesuatu akan terjadi, jadi aku tetap diam.



……………….

………….

…….

”Nggak ada yang terjadi!?”

Sama sekali nggak ada yang terjadi.

Berhentilah mempermainkan ku! Aku putuskan untuk memeriksa statusku, tapi ini masih barisan cantik berangka 1! Kau punya sesuatu untuk dikatakan hah!?

Yah, kurasa itu artinya aku tidak perlu khawatir dengan apa yang ku makan. Sekarang aku kenyang dan tetap hidup, hanya kedua hal itu yang harus kuhargai.

”Yoshh…… Apa yang akan kulakukan sekarang ya?”

Kalau aku cuman berkeliaran tanpa tujuan lagi, itu hanya akan mengulang kejadian yang sebelumnya.

”Setidaknya aku tau ada makhluk hidup di sini. Untuk sekarang aku harus mencoba mencari tempat tinggal mereka.”

Serigala itu menakutkan, tapi akan baik-baik aja kalau dekat dengan si monyet aneh. Ditambah, aku takut, aku mungkin akan mati kalau aku nggak bergerak, itu adalah hal terakhir yang aku inginkan.

Aku nggak mau menyesali apa pun. Aku mau bertahan hidup bersama keutuhan hatiku.

Langkah pertama adalah berada lebih dekat dengan si monyet, mengetahui tempat mereka makan dan sumber makanan yang aman.

”Sekarang aku tau apa yang harus dilakukan…… Misi dimulai!”

Aku telah dipenuhi dengan kebulatan tekad untuk mencapai tujuanku, bertahan hidup di tempat ini dan mendapatkan makanan.

……Tapi sebelum itu, aku punya beberapa bisnis untuk diurus. Karena aku udah nggak tahan!!

loading...