Thursday, 27 October 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 3 Prolog Bahasa Indonesia


Translator: Kirz
Editor: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Ini merupakan chapter prolog, dengan latar diantara episode 22 animenya, disebuah perulangan, dimana keberadaan Rem telah menghilang, Betelgeuse sudah tidak sadarkan diri dan ditangkap hidup-hidup untuk mencegah dia merasuki tubuh orang lain. Injilnya diambil dan berada di sakunya Subaru. Kemudian Subaru kembali ke mansion untuk mengevakuasi Emilia dan Ram, hanya Beatrice yang masih di Perpustakaan Terlarang, dan Subaru tertinggal dibelakang untuk mencarinya...

Tidak dibaca juga tidak apa-apa, tapi jangan salahkan saya kalau ngga ngerti pas baca chapter 3nya :3

Volume 4 Chapter 3 Prolog: Kinsho-ko no Shōjo (Gadis Perpustakaan Terlarang)

"Apa—? Ini aneh!?" (Subaru)

Meskipun Subaru atas kemauannya sendiri mencari Beatrice dengan gagah berani dan terlihat sok jagoan... tetap saja tidak ada hasilnya.

Biasanya, ketika Subaru ingin mengajak Beatrice makan malam bersama, yang dia perlukan cuma membuka pintu pertama yang Ia lihat didepannya dan maka Ia akan menemukan Beatrice serta Perpustakaan Terlarang didalamnya. Pernah waktu itu sekali, Ia bisa menemukannya dengan cuma membuka pintu ruang makan.

Sihirnya-nya Beatrice, 'Tobira-watari' merupakan sihir Pengendali-Ruangan bertipe Dark, yang level nya sulit untuk dipahami Subaru.
(TL Note: Tobira-watari 『扉渡り』: Door Crossing / Pintu Persilangan)

Seorang Gadis kecil, dan orang yang mahir dalam pengendalian sihir bertipe Dark, Beatrice memanfaatkan pintu-pintu di Mansion untuk mengalihkan secara acak arah masuknya Perpustakaan Terlarang. Pokoknya, ada diantara salah satu dari pintu-pintu itu, yang mengarah ke ruangannya, seperti sebuah permainan yang mengharuskan seorang pemain mencarinya untuk menemukannya, yang posisi barang yang dicarinya akan terus berganti tanpa ada pemberitahuan sama sekali.

Bagaimanapun juga, Subaru dengan gampangnya memecahkan ini dengan kemampuan yang disebutnya 'Tobira-yaburi', dan hal ini masih tidak jelas kenapa 'orang yang selalu bisa menemukan pintu ruangannya dalam sekejap' itu terjadi pada orang yang sama sekali gak bisa membaca mood orang lain.
(TL Note: Tobira-yaburi 『扉破り』: Door Breaking / Pemecah Pintu)

"Secara tiba-tiba gak bekerja di saat-saat seperti ini, tingkat kekecewaanku berbeda kali ini, ampun dah... Setelah menyombong kaya tadi ke Emilia dan Ram, Kalau aku tetap tidak bisa menemukanmu—— Aku gak bisa senang-senang kalau kaya gini jadinya, jadi kumohon keluarlah, oy..." (Subaru)

Ia bergumam sendiri sambil membuka semua pintu yang ada di 'tempat yang ber-pembantu' itu secara satu per satu, setelah membuka semua pintu di ruang tengah dimana merupakan tempat pertamakalinya Ia mulai melakukan ini, Ia telah menghabiskan banyak waktu. Ini pertama kalinya Ia sangat kesulitan mencari Beatrice, dan meskipun Ia mencoba untuk membuat ringan situasi ini, tetap saja keringatnya tidak bisa berhenti mengucur dari dahinya. 

……

Tidak peduli apapun itu, didalam mansion yang kosong, membuka setiap pintu yang ada setelah pintu yang sebelumnya membuatnya kecewa lagi dan lagi, semua ini pastinya akan terlihat menyedihkan bagi orang yang melihat ini.

"Bangke, gak ketemu! Ini gawat, aku dah kehabisan waktu! Haruskah aku menyerah saja dan kabur dari semua ini!? Hati nuraniku membayangkan bagaimana Emilia-tan begitu percaya kepadaku... tapi mau gimana lagi aku gak ada pilihan lain!? Aku akan memberitahu saja kepada semuanya kalau Beatrice sedang mengalami sakit perut yang serius dan tidak mampu untuk keluar dari kamar mandinya——" (Subaru)

"——Apa kau tidak bisa memikirkan alasa yang lebih baik lagi, sepertinya, dasar idiot?!"
(Editor Note: 'Sepertinya' itu merupakan logat/sesuatu yang hampir sering diucapkan oleh Beatrice tiap akhir kalimat)

Didepan kedua matanya, ruangan yang seharusnya kamar mandi, berisi macam-macam kertas yang biasa digunakan untuk sesuatu selain mengelap pantat seseorang— Singkatnya, ruangan ini malah menjadi sebuah perpustakaan yang penuh dengan buku-buku didalamnya. Sebuah Perpustakaan Terlarang, pemandangan yang selalu dilihatnya, Namun untuk kali ini Ia sudah lama tidak melihatnya. Penjaga perpus ini, seorang gadis kecil memakai gaun yang mewah, duduk didepannya seperti biasanya.

Masuk kedalam ruangan, disana terlihat pijakan tangga yang berdiri tegak didepannya, dan diatasnya terdapat seorang gadis kecil yang sedang mendudukinya sambil memegang buku tebal yang terbuka dipangkuannya.

"Beako, menemukanmu didalam kamar mandi dalam keadaan yang aman dan segar bugar— Insting ku gak buruk juga kalau aku bilang sih" (Subaru)

"Aku ini cuma kasihan sama kau, karena kau tidak akan menyerah pastinya nanti, sepertinya. Dan demi nama baik Betty, akan jadi parah nanti kalau kau ngomong yang aneh-aneh ke orang lain" (Beatrice)

"Santai aja kali! Semua orang juga be'ol kok, dan kalau perut mereka lagi mules, gak semua orang mau menanggapinya kalau mereka lagi dipanggil. Tapi memang aku gak boleh berkata seperti itu, seakan-akan kata-kataku itu gak peka kalau kau saat ini lagi berusaha keras menjaga nama baikmu, maaf ya!" (Subaru)

"Apa yang kau katakan tadi, adalah sesuatu yang paling tidak peka yang pernah ada di dunia ini, sepertinya!" (Beatrice)

Bangun dari duduknya, Beatrice merasa teramat sangat sakit hati. Melihat dirinya sangat marah, Subaru mencoba untuk menenangkannya dengan mengatakan 'Ya Aku salah, aku salah..', dan melambaikan tangannya.

"Kesampingkan itu dulu, sudah lama kita gak ketemu. Aku mencarimu kemana-mana disekitar mansion, rasanya seperti dirimu tidak mau sama sekali membiarkanku masuk" (Subaru)

"...... Memang seperti itu cara kerjanya 'Tobira-watari' bekerja sesuai keinginanku. Bahkan untukmu, kalau aku benar-benar serius, kau tidak akan bisa masuk, sepertinya." (Beatrice)

"Tapi faktanya kau membiarkan aku masuk tuh! dasar Tsundere!" (Subaru)

"Kalau aku gak biarin kau masuk, yang ada kau kemana-mana akan membahayakanku dengan aib itu!" (Beatrice)

Setelah berteriak dengan amat sangat marah, Beatrice tampaknya malu terhadap dirinya yang tak terkontrol itu dan ekspresi yang canggung pun terlihat pada wajahnya. Melihat dirinya merubah sikapnya, Subaru tersenyum kecil sambil berjalan menuju tempat dimana Ia duduk.

"Oh ya sama juga, Aku senang bisa menemukanmu. Maaf sebelumnya kalau ini tiba-tiba, tapi maukah kau bersiap-siap untuk pergi? Akan jadi masalah nanti kalau kau tetap diam disini" (Subaru)

"Betty gak mau pergi" (Beatrice)

"Hah?" (Subaru)

Terhadap ucapannya yang tiba-tiba menolak sarannya itu, Subaru terdiam dalam langkahnya.

Ia menatapinya, dan, Beatrice juga membalas tatapannya, Ia(Beatrice) menghela napas terhadap ekspresi tercengangnya(Subaru).

"'Betty gak mau pergi,' itu yang aku bilang. Kurasa aku gak ada niatan untuk meninggalkan Perpustakaan Terlarang ini, atau Mansion ini untuk alasan yang kayak gitu. Akan lebih baik kalau kau terima saja, dan pergi dari sini" (Beatrice)

"Tunggu dulu, kau itu gak ngerti situasi sekarang ini. Kau gak boleh diam disini, terlalu bahaya, jadi ayo pergi bersamaku. Nanti aku ceritain semuanya dah!" (Subaru)

"Bahkan tanpa kau menjelaskannya, kurasa aku udah ngerti inti permasalahannya. Juga, berhenti memperlakukanku kayak anak kecil" (Beatrice)

Sambil menatap dengan marah ke Subaru, Beatrice meraih salah satu buku yang ada di rak buku, mengambil buku yang terlalu besar untuk tangannya, yang keliatannya buku itu mengilustrasikan ensikopledia. Ia kembali ke pijakan tangganya, memeluk bukunya didadanya seperti yang biasa Ia lakukan, lalu, duduk dengan posisi bukunya terbuka di pangkuannya seolah-olah tidak terjadi apa-apa, seolah-olah Ia benar-benar tidak ada niatan untuk pergi.

"Oi, ayolah, jangan akhiri percakapan ini kayak gitu, membuat diriku terdiam secara tiba-tiba" (Subaru)

"Kurasa gak ada alasan lagi bagi Betty untuk berbicara. Kau saja yang menginginkan percapakan ini dilanjuti, dan meskipun kau melakukannya, jawabanku tidak akan berubah. Seperti diriku, kurasa kau udah gak ada waktu lagi kan?" (Beatrice)

"Guu.... Kalau kau tau sampe sejauh itu, maka bantulah aku. Aku akan membawamu bersamaku. Kau ikut bersamaku. Oke?" (Subaru)

"Tidak, terima kasih. Tetap saja mau siapapun yang ajak aku. —Ya, mau siapapun juga, kurasa aku tidak akan membiarkan mereka menginjakkan kakinya didalam ruangan ini" (Beatrice)

Kedua matanya melihat kebawah kebukunya, Balasan-nya Beatrice yang tenang itu sangat kuat dan tegas. Menggaruk kepalanya terhadap sikap keras kepalanya, Subaru menghela napas,

"Lihat, Aku datang kemari kali ini bukan untuk membuat  keributan, atau karena makan malam Ram udah siap. Aku tidak ingin mengatakan hal ini, tapi para Pemuja Penyihir telah datang. Mereka tidak membeda-bedakan siapa yang mereka serang, dan kalau aku meninggalkanmu disini, di mansion ini..." (Subaru)

"Kau harusnya tau dengan baik sekuat apa kemampuan Tobira-watari (Pengalih Pintu) ku ini. Dan meskipun mereka semua berani menginjakkan kakinya disini...... Kurasa aku tidak akan memberinya belas kasihan" (Beatrice)

"——!" (Subaru)

Untuk beberapa saat, Subaru merasakan aura bahaya dari Beatrice ketika Ia mengucapkan itu. Punggungnya gemetaran. Bernafas dengan ketakutan, Ia pun menyadari kalau ini adalah getaran dari gelombang sihir yang terpancarkan dari seluruh tubuh Beatrice.

Kehebatan 'Mana'-nya yang mengalir bahkan untuk Subaru, yang tidak begitu pengalaman dengan sihir, bisa mengatakan betapa gila nya 'mana' ini.

"——! Meskipun begitu, Aku tetap akan membawamu bersamaku" (Subaru)

"Itu lagi......" (Beatrice)

"Mau kau itu kuat atau tidak, aku tidak peduli dengan itu! Kau ini perempuan, kau kecil, alasan itu udah cukup! Aku tidak mau meninggalkanmu ditempat yang berbahaya, perlukah aku cari alasan lain lagi?!" (Subaru)

Bahkan telah mendapat tekanan dari kehebatan Aura yang dibuatnya, Subaru menginjakkan kakinya dengan begitu tegas, dan berteriak.

Melihat seorang lelaki didepannya membantahnya dengan bersikeras, kedua mata Beatrice terbuka lebar dengan kagum. Lalu, seakan-akan menahan sesuatu yang menyakitkan, Ia menutup kedua matanya lagi.

Subaru mengerutkan dahinya terhadap reaksinya, tapi tetap mendorong niatnya untuk membawanya bersamanya. Lalu saat itu juga,

"Betty, tidak bisa pergi denganmu. Kumohon, jangan kacaukan semuanya lagi" (Beatrice)

"Aku tidak salah. Kaulah yang salah.——Itu saja yang bisa aku ucapkan" (Subaru)

"Kau ini memang keras kepala, sepertinya.——Kau tau, Aku itu benci orang yang keras kepala" (Beatrice)

Beatrice menggerutukan sesuatu dengan pelannya. Tidak pasti apa yang Ia katakan, Subaru ingin menanyakannya, tapi sebelum Ia melakukannya, Beatrice bangun dari dudukannya.

"Oh gitu, sepertinya, Kau menang. Aku akan melakukan apa yang kau minta, sepertinya" (Beatrice)

"Oh? O-OH, itu bagus. Kau mengerti rupanya, itu bagus. Sebelumnya beberapa saat, setelah kau bangun, Aku itu udah pasang ancang-ancang untuk dilemparkan dari sini 'tau" (Subaru)

"Bagi Betty, untuk meledakkan dirimu sampai hanya bayanganmu saja yang tersisa didunia ini, itu sangat mudah...... Tapi aku tidak akan melakukan hal yang kejam seperti itu" (Beatrice)

Mengatakan sesuatu yang menakutkan seolah-olah hal ini tidak masalah baginya, Beatrice mengembalikan buku yang telah diambilnya kembali ke tempat asalnya. Penasaran dengan tingkahnya, Subaru menyadari sesuatu dan menaikkan dahinya. Mungkin karena Ia(Beatrice) sudah setuju untuk pergi bersamanya yang membiarkan pertahanannya lengah. Dengan cepat, Ia bertanya,

"Ngomong-ngomong, banyak sekali buku disini, tapi apa kau mengerti bahasa lain selain sistem Yi Ro Ha?" (Subaru)

"Aku penasaran mengapa bisa tiba-tiba kau nanya seperti itu......Mengenai Yi-Ro-Ha Kurasa maksudmu huruf-huruf alfabet seperti Yi dan sejenisnya? Menyebutnya seperti itu, kau udah berhasil bikin para Ahli Bahasa marah" (Subaru)

"Ya ya, aku salah aku salah, maaf. Tapi, balik lagi ke masalah tadi......" (Subaru)

Memberi Beatrice, yang menatap dengan seriusnya kepadanya, sebuah senyuman yang gugup, Subaru menarik sebuah buku keluar dari jaketnya. Bukunya hitam, dan isinya——

"Yang ini maksudku, tapi semua yang ada didalamnya belum pernah kulihat sebelumnya. Aku pikir kayanya kamu tahu..." (Subaru)

"— —Aku yang seharusnya mau tau, kenapa kau bisa bawa itu, sepertinya." (Beatrice)

Secara tiba-tiba, ucapannya membuat Subaru terdiam, memotong omongannya. Melihat kearahnya(melihat Beatrice), kedua mata Beatrice telah terbuka lebar, menatap dengan serius sambil membawa 'Injil' yang ada ditangannya.

Subaru terkejut dengan kekuatan yang terpancarkan dari reaksinya, yang tiba-tiba melontarkan kalimat seperti itu.

"Aku ingin tahu kenapa kau bisa bawa itu sekarang, sepertinya. Jawab aku" (Beatrice)

"Meskipun ini sampah.... Aku mengambilnya dari si idiot itu, dari si Pemuja Penyihir. Ia menggunakan buku ini untuk kepentingan kepercayaan gilanya, jadi menurutku bisa saja ada beberapa petunjuk ditulis disini" (Subaru)

"Mengambilnya? Dari para Pemuja Penyihir? Kau, dari sekian banyak orang yang ada......" (Beatrice)

Memegang kepalanya, badannya yang hampir jatuh kebelakang, Ekspresi Beatrice berubah. Dirinya mulai memucat, Subaru gelisah terhadap matanya yang mulai terlihat tidak fokus.

Dia terlihat seolah-olah ingin jatuh kapan saja, jadi tanpa berpikir panjang lagi, Subaru bergegas memegangnya untuk membuat dirinya stabil lagi.

"Oy,oy,oy, kau gak apa-apa kan? Kalau kau gak enak badan, jangan paksa dirimu" (Subaru)

"Betty....Tidak baik-baik saja, kalau ternyata seperti itu. Tapi, menyerahkan ini padanya....... ini tidak bisa dibayangkan, tapi mungkin Roswaal sudah mengurusnya, hingga saat ini.......?" (Beatrice)

"He—lo—? Maaf aku mengganggumu ketika dirimu terlihat sangat serius gini, tapi apa—kau-bisa—mendengar—ku—?" (Subaru)

"Aku hanya sedang berpikir sekarang, sepertinya, jadi apa kau bisa menunggu sebentar?" (Beatrice)

Beatrice menghentikan kekhawatiran Subaru dengan tatapan tajam, dan Subaru menjadi tenang diam-diam. Ia menutup mulutnya seperti Ia melihat Beatrice menutup kedua matanya, mengubah ekspresinya.

Setelah beberapa menit telah berlalu, dan Ia terlihat tetap tidak bereaksi apapun, Subaru pun membuka Injil yang ada di tangannya untuk pertama kalinya, membalik-balikan halaman yang tetap tidak bisa dimengertinya.

Lalu, Ia(Subaru) tiba-tiba sadar.

"Buku ini, setengah halamannya hilang. ... tapi, halaman apa sebenarnya sebelum halaman ini?" (Subaru)

Buku ini ditulis dengan huruf alfabet yang tidak dikenalnya, dan setengah halamannya telah hilang yang tampaknya telah disobek. Kedua fakta ini benar adanya. Hanya saja, halaman terakhir yang tertulis disini tampaknya telah ditambahkan beberapa kata-kata.

Walaupun begitu Ia tidak bisa membacanya juga. Mungkin Ia cuma bisa membayangkannya, jadi tidak ada gunanya Ia terlalu mengkhawatirkan ini.

"——Buku itu, apa yang ingin kau rencanakan dengannya, sepertinya?" (Beatrice)

Beatrice, yang telah lama terdiam, tiba-tiba bertanya.

Menaruh tangannya di bibirnya, seolah-olah telah menemukan kesimpulan di pikirannya, Beatrice melemparkan pertanyaan ini kepada Subaru. Subaru menjawabnya 'Meskipun kau tanya aku...', terpengaruh oleh sikap yang ditunjukkan Beatrice,

"Mengartikan isinya...... Meskipun sebenarnya aku gak tertarik sama apa yang Pemuja Penyihir pelajari atau yang lainnya, hanya saja mungkin ada informasi penting disini. Selain itu, Aku tidak mau terus-terusan membawa buku dari pria yang mengerikan itu kemana-mana" (Subaru)

"......Yah Sesungguhnya, Betty gak bisa baca apa yang ada didalamnya. Tapi, kalau kau tidak mau membawanya, kau bisa mempercayakannya padaku, sepertinya." (Beatrice)

"Mempercayakannya?" (Subaru)

"Buku yang aneh ini, merupakan buku yang disayangi oleh pemilik yang aneh, sepertinya. Kalau kau merasa keberatan membawa kemana-mana buku yang seperti itu, kau bisa menyerahkannya padaku" (Beatrice)

Beatrice mengulurkan tangannya dengan ragu-ragu kearah Subaru.

Dari gestur nya yang seperti itu, Ia bisa tau, kalau sebenarnya, buku ini tidak boleh dimilikinya. Apa yang dipikirkannya itu bukan pikiran dari seseorang yang berencana untuk menjualnya lagi demi meraih keuntungan.

Pikiran itu dipenuhi niat yang baik. Buku itu, dan dari bagaimana Beatrice berpura-pura tadi, Ia sudah pasti mengerti kalau sesungguhnya buku itu sebuah 'Kitab'. Jadi,

"Maaf, tapi aku harus menolak tawaranmu" (Subaru)

Subaru berkata, sambil dengan lembutnya menurunkan tangan Beatrice.

Terhadap kata-katanya, kedua mata Beatrice berkedip beberapa saat, sebelum akhirnya wajah manisnya berubah menjadi suram dan menakutkan.

"Kenapa? Kau secara naluriah sudah tahu betapa jahatnya benda itu, kan? Paling tidak, kau sudah menyadari kalau benda itu tidak baik untuk dipertahankan. Karena itu, daripada kau membawanya sendiri, Betty......." (Beatrice)  

"Aku ini layaknya makhluk kecil yang jahat, yang tidak mau memberikan sesuatu meskipun seseorang dengan paksa memintanya, dan meskipun aku tidak bisa menggunakannya. .... Kupikir itulah keputusanku. Sungguh, benar begitu" (Subaru)

Buku ini, yang dipanggil Injil, tampaknya begitu berarti bagi para pemuja penyihir. Bahkan daripada itu, pemiliknya adalah Betelgeuse, anggota yang mempunyai posisi tinggi di kalangan para Pemuja Penyihir. Ingatan tentang betapa lengketnya orang itu terhadap buku ini masih terngiang-ngiang di kepalanya Subaru. Meskipun dia sudah dikalahkan dan ditaklukan, Subaru tetap waspada.

"Ini adalah buku yang dapat memancing orang-orang menakutkan itu datang untuk mengambilnya kembali. Tidak mungkin bagi seorang pria untuk memberikan sesuatu seperti ini kepada seorang gadis cuma karena ini mengerikan untuk dibawa" (Subaru)

"——!" (Beatrice)

"Kalau ini berbahaya maka aku akan membawanya. Lagian, Aku kesini berniat untuk membawamu ke tempat yang aman 'tau? Menempatkanmu dalam bahaya dengan maksud agar dapat meringankan beban yang ada dikepalaku ini, Ayolah! Jangan memperlakukan ku seolah-olah diriku ini Pria yang dingin" (Subaru)

Tersenyum ringan, Subaru menaruh bukunya kembali ke pakaiannya, menyembunyikan ini dari penglihatan Beatrice. Ia tidak tau apa yang ada dipikirannya ketika Ia(Beatrice) melihat buku itu.

Sesekali Ia mengedipkan matanya, bibirnya terbuka seakan-akan ingin berbicara.

"————" (Beatrice)

Tapi tidak mampu berkata apapun, Mulutnya menutup lagi, dan Ia mengalihkan pandangannya.

Ada sesuatu yang tidak biasa dari reaksinya, tapi ekspresi yang ditunjukkannya menghalangi Subaru untuk menanyakan ini. Malahan, Ia menggertakkan lehernya, dan memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan.

"Ah, Yah ini bukan masalah yang besar juga. Sekarang, selagi kita telah memutuskan untuk pindah dari sini Aku menyerahkan persiapannya padamu. Jangan bawa barang yang terlalu besar, tapi kalau dua atau tiga buku yang penting seharusnya tidak masalah. Mungkin dua atau tiga pasang pakaian bisa juga..." (Subaru)

"......Perpustakaan ini akan mengikuti Betty kemanapun Betty pergi. Lebih penting lagi, Kau sudah memastikan kondisi mereka berdua?" (Beatrice)

"Sesuatu yang mengenakkan telah kudengar! Iya, Aku pastikan mereka baik-baik saja. Cuma kau saja yang tersisa. Kita semua akan mengungsi ke 'Sanctuary', tempat dimana Roswaal Berada" (Subaru)

"Roswaal... Subaru, apa yang terjadi dengan adiknya Ram yang ikut pergi bersamamu?" (Beatrice) 

Secara tak terduga, Beatrice mengganti topik pembicaraannya ke Rem.

Mendengarnya tiba-tiba membicarakan Rem itu, dia terkejut, dan Subaru hanya bisa menaikkan dahinya, melihatnya dengan agak terkejut. Menyadari kalau tanggapan yang seperti ini tidak baik, Ia mencoba untuk menenangkan dirinya, lalu berkata,

"Kalau kau membicarakan tentang Rem, dia sedang mengurus beberapa hal di ibu kota saat ini. Kami menangkap ikan raksasa dalam perjalanan menuju kemari, ya kurang lebih seperti itu. Besar sekali pokoknya, karena itu Ia kembali kemari untuk menyiapkan perayaan yang mewah. Setelah semua ini beres, ayo kita pergi kesana dan bersenang-senang disana" (Subaru)

"Kau terlihat senang sekali ketika kau membicarakannya 'tau. —Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" (Beatrice)

"Emmmh" (Subaru)

Mendengar nama Rem, Subaru sedikit bertingkah terlalu berlebihan. Ia tidak mampu menyangkal kalau cara bicaranya lebih cepat dari biasanya. Perkataan Beatrice menyadarkannya, lalu Subaru mengalihkan pandangannya, bersiul dengan cueknya.

"Gak, g-ga ada apa-apa kok beneran dah" (Subaru)

"Terbawa arus dengan begitu mudahnya, akan jadi aneh jika tidak ada perasaan yang muncul darimu, sepertinya. Betty gak akan bilang ke siapa-siapa, jadi lakukanlah sesukamu." (Beatrice)

"Aku, Aku tidak mencoba untuk menyembunyikan apapun 'tau, Cuma, butuh tekad yang besar untuk memberitahu Emilia-tan dan Rem tentang perasaan ini secepatnya.... Jadi Kupikir ini semacam strategi" (Subaru)

Berkata seperti itu, Subaru saling menempelkan kedua ujung jari telunjuknya dan, tersipu malu, membelakangi Beatrice dengan kepalanya menunduk.

Memang begitulah kenyataannya, dan memang benar kalau Subaru membutuhkan tekad yang besar untuk membahas ini. Sudah pasti Emilia tidak mau mendengarnya mengatakan, dengan secara tiba-tiba, 'Aku akan memiliki dirimu dan Rem!', seolah-olah dirinya sedang menuangkan air ditelinganya(Emilia). Walaupun sebenarnya ini termasuk rencananya juga.
(TL Note: pada akhirnya subaru jg mengatakannya itu kwkwkw xD, yg bingung baca chapter sblmnya)

"Merupakan hal yang bagus untuk memiliki tujuan yang ingin diperjuangkan. Dengan begitu motivasi untuk berusaha bisa didapat dengan mudah. Aku juga suka kerja keras, 'tau. Cuma aku benar-benar gak ada rencana untuk masa depanku sampai sekarang ini——!" (Subaru)

Kata-katanya melambungkan dirinya semakin tinggi lagi dan lagi, terbawa oleh Emosinya, tiba-tiba Ia terhentikan oleh sensasi yang tak terduga.

Ia merasakan kehangatan dipunggungnya, diikuti oleh tangan yang menyentuh sekitar pinggangnya, memeluknya dengan erat. Tangannya sangat kecil, tangan yang kurus, dan seketika Ia tahu tangan siapa itu.

Beatrice.

"Oh, ternyata Beako toh. Bikin kaget aja. Jangan tiba-tiba mengejutkanku kaya gitu, dong..." (Subaru)

"Tanggapan mu yang seperti itu benar-benar membuatku jengkel, sepertinya. ——Tapi, ini sudah cukup" (Beatrice)

"Hah?" (Subaru)

Ia memiringkan kepalanya sama seperti biasanya saat Ia mendengar perkataannya yang tak terduga, cahaya yang begitu terang tiba-tiba muncul membutakan penglihatannya.

Sebelum Ia menyadarinya, pintu ruangan ini telah terbuka dengan sendirinya,

"Saatnya perpisahan——" (Beatrice)

"Hah, AP—!?" (Subaru)

Tangannya yang daritadi memeganginya, yang tidak membiarkannya pergi, kini terlepas oleh tekanan udara tinggi yang muncul dari belakangnya. Tidak mampu melawannya, badannya pun mulai merosot, meluncur kearah pintu itu.

Kali ini, seakan-akan telah dihirup, Ia melayang kearah pintu ruangan—

"Beatrice——!" (Subaru)

"Betty......Tidak bisa bersamamu" (Beatrice)

Meliuk-liuk diudara, Subaru melihat balik kearah ruangan sebelum Ia terlempar keluar dari ruangan. Sosok gadis yang terlihat dalam jarak penglihatannya, bercucuran air mata membasahi pipinya.

"————!" (Subaru)

Tidak mampu mengeluarkan kata-kata, pendangannya berputar-putar. Terperangkap dalam pergantian dimensi, tubuhnya pindah dari tempat yang seharusnya tidak ada itu, yang dikenal sebagai perpustakaan terlarang, yang saat ini mulai memudar.

Dengan begitu, tubuh Subaru telah terlempar dari ruangan perpustakaan terlarang, menghilang menuju tempat yang sangat jauh.





"——sama" (Beatrice)

Menyaksikan pertunjukkan yang seperti ini, Beatrice menutup pintu ruangannya yang telah terbuka.

Terdengar suara yang terpatah-patah, diikuti oleh keheningan yang sekali lagi terjadi di Perpustakaan Terlarang.

"——Okā-sama" (Beatrice)
(TL Note: Okāsama (お母様) = Ibu)

Dalam suara kecilnya, seakan-akan ingin menangis, Beatrice memanggil ibunya. Air matanya yang mengucur dari kedua matanya sudah berhenti, meskipun ekspresinya tetap saja tidak berubah.
(TL Note: Masih terlihat sedih)

"Berapa lama... lagi... Betty harus menderita....." (Beatrice)

Ketika tangisannya hampir pecah, Beatrice berjalan kembali menuju pijakan tangganya, menumpukan berat badannya pada benda itu.  Ia mengulurkan tangannya ke bagian belakang tangganya—— ke Rak buku yang selalu menemaninya dibelakangnya, Ia mengambil sebuah buku, dan memeluknya dengan erat.

"Okā-sama...Okā-sama...Okā-sama......!" (Beatrice)

Seperti anak kecil, yang tersesat, memegang dengan kuat bukunya yang ada didadanya, Tangisan pelan Beatrice kembali terdengar di Perpustakaan Terlarang.

Buku yang ada dalam pelukannya, yang begitu hitam, tidak pernah menjawabnya.

loading...