Friday, 7 October 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 1 Part 2 Bahasa Indonesia


Translator: Kirz & Exicore
Editor: Ise-kun

Part ini dikerjakan oleh 2 orang, jika ada perbedaan gaya bahasa harap dimaklumi :)

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 4 Chapter 1 Part 2/3: Kaeri Tsuita Basho de 

Ngomong-ngomong,

"Jadi namaku sudah tercatat setalah membunuh si Paus Putih, Dan lalu Aku menyelamatkan Emilia dengan membunuh si 'Kemalasan'. Dan sekarang aku mendapatkan naga darat yang kucintai... Kalau diliat lagi, Hadiah ini mantap juga, ya kan?" (Subaru)

"Membunuh si Paus Putih, betapa berarti-nya hal itu, Subaru-dono tidak menyadari kalau seharusnya ini sesuatu yang patut untuk dipuji. Mungkin suatu hari dunia semestinya akan berterima kasih atas prestasi yang menakjubkan ini. Saya menunggu hari itu" (Wilhelm Ojii-san)

"Yo'i aku juga berpikir kaya gitu! Tunggu.. Tapi bukannya Aku cuma lari-larian disekitar hidung Paus Putih kaya umpan ya pas perburuan itu?" (Subaru)

Terhadap ketidaksetujuan-nya Subaru, bahkan terhadap ucapannya yang begitu merendah, Wilhelm menatapinya dengan senyuman hangatnya. Hatinya merasa gelisah karena kehangatan itu, Subaru menggelengkan kepalanya seakan-akan mencoba untuk membuang perasaan itu.

"Mari kita kesampingkan semua itu dulu.. Aku tidak akan bertemu denganmu untuk beberapa saat Wilhelm-san. Tolong rawat lukamu itu" (Subaru)

"Maaf saya membuat anda khawatir. Keliatannya Ia (Note: Istri-nya) mulai menjauh, pendarahannya sudah berhenti. Tapi tetap saja, hari dimana Saya bertarung bersama Subaru-dono akan datang lagi. Sampai saat itu tiba..." (Wilhelm Ojii-san)

Luka-nya Wilhelm — Luka yang tak dapat disembuhkan, yang dibuat oleh si 'Ahli Pedang Suci Generasi Sebelumnya', Thearesia van Astrea. Menyebut hal ini sebagai hal yang membuat tatapannya Wilhelm begitu tajam. Pikirannya tertuju pada para pemuja Uskup Agung Pemuja Penyihir yang menyerang Crusch, 'Keserakahan' dan 'Kerakusan'.

Jika pembunuhan istri-nya dilakukan dengan cara lain, yang bukan dengan mengandalkan si Paus Putih, kedua orang ini paling mungkin tersangka-nya.

Subaru, sama seperti Wilhelm, menggenggam kebencian yang kuat terhadap 'Kerakusan'. Tidak peduli apa itu, mereka harus bertemu secara tatap muka dengan Uskup Agung Pemuja Dosa ini. Ketika para Pemuja Penyihir ini harus di jauhi, untuk 'Kerakusan' ini berbeda lagi persoalannya. Bagi mereka, mereka harus mengalahkan Uskup Agung Pemuja Dosa ini untuk mendapatkan kembali sesuatu yang tak dapat ditukar oleh mereka... Terutama ingatan-nya Crusch, dan lebih penting lagi—

"Subaru-kyun, Rem-chan udah naik, mau melihatnya?"

Mengucapkan ini, dari jendela Gerobak keluar sebuah kepala dengan kedua kuping kucingnya — Ferris. Melihat Ferris keluar dari Gerobak khusus-nya Patrasche, Subaru berjalan. Mengintip kedalam, Dalam Interior yang luas, beberapa kursi telah ditaruhi tempat tidur darurat, dan diatas kasurnya, terdapat seorang gadis sedang tertidur.

Dia tidak memakai pakaian maid-nya, tapi memakai sebuah baju tidur birunya yang lembut, yang cocok dengan warna rambutnya. Seorang gadis dalam kondisi koma, dilupakan oleh dunia. Ia mencintai Subaru, dan Subaru mencintainya. Mungkin, Ia adalah gadis yang seperti itu.

"Itu aman kan?" (Subaru)

"Oit aku udah berhati-hati, Aku ini healer nyan~. Meskipun luka fisik-nya Rem sudah sembuh, dia ini bukan pasien lagi nyan~" (Ferris)

Secara diam-diam, Subaru menatapi wajahnya yang tertidur. Omongan nya Ferris begitu kurang ajar, tapi dari sisi wajahnya, tidak begitu ceria seperti biasanya. Kemungkinan Ferris sedang merasakan sakit dari ketidakberdayaan-nya, bukan terhadap Rem, tapi masternya tercinta, Crusch.

"Kamu benar-benar ingin membawanya bersamamu?" (Ferris)

"Yap, Aku akan membawanya bersamaku. Ia tidak akan membaik kalau tetap saja diam disini.. tidak, aku tidak bermaksud menyalahkanm.." (Subaru)

"Ya aku tahu Nyan~, Subaru-kyun tidak bermaksud seperti itu nyan~" (Ferris)

Melihat rasa malu Subaru setelah Ia mengatakan itu tadi, Ferris tersenyum dengan kecanggungan.

"Sebenarnya" (Ferris)

Menunjuk kearah Subaru,

"Selain Rem, orang yang mendapat perhatian terbesar itu Subaru-kyun bukan?" (Ferris)

"Aku?" (Subaru)

"Gak usah pura-pura nyan~, gerbang mu terlalu merenggang nyan~. Disaat Aku menyembuhkanmu Aku memaksakan menyuntikkan semua 'Mana' ku dengan jumlah yang besar ke gerbangmu, ini akan membuatnya agak rusak nyan~. Apa kamu merasa lemah atau lelah, secara fisik dan magis?" (Ferris)

(TL Note: Gerbang yang menjadi tempatnya sumber Mana setiap orang di dunia ini, yg melindungi Mana setiap orang)

Terhadap pertanyaan Ferris, Subaru menggerakan lehernya dan bahunya. Memutar-mutar nya, Ia tidak menemukan hal yang aneh. Dia melompat sedikit dan tampaknya tidak ada yang perlu dikhawatirkan-nya.

"Aman. Bagian tubuhku yang digunakan dan yang tidak digunakan semuanya aman. Gak usah dipedulikan dah itu Gerbangnya, Aku juga ga begitu selalu make sihir lagian." (Subaru)

"Memang sih kamu bukan Pengguna Sihir. Kalau itu Ferris, Ferris juga tidak akan menggunakan sihir kecuali kalau dalam keadaan genting nyan.. ehm, tapi cara berpikirmu itu udah bagus nyan~ (Ferris)

Melihat Subaru tidak memedulikan kondisi kritis kesehatannya, Ferris menyerah. Dengan kedua bola matanya, Ferris menatapi leher Subaru, disekitar kerah bajunya.

"Tapi jangan terus-terusan meregangkan dirimu seperti itu. Meskipun Ferris bisa mengeluarkan setiap racun di tubuh Subaru-kyun, tapi jika gerbang itu hancur berkeping-keping, Ferris tidak akan mampu memperbaikinya nyan~. Jadi luangkan waktumu untuk memulihkan ini... sekitar dua bulan nyan~" (Ferris)

"Dua bulan tanpa Magic.. untuk orang yang tidak menggunakan magic selama 17 tahun, kecil itu!" (Subaru)

Bercanda setelah mendengar diagnosis kesehatannya.. Kalau dipikir-pikir, Subaru bahkan belum 2 bulan di dunia ini, Walaupun dari sudut pandangnya dia sudah berada di dunia ini selama 4 bulan  — Semua ini memang terasa sangat lama.

"Em.. Meskipun aku selalu mendapati diriku terjebak ketika dihadapkan oleh beberapa bencana... Tunggu, Apa baru saja aku mengaktifkan "Flag"?! Aku denger sesuatu tadi!!" (Subaru)

(TL Note: jujur saya bingung disiini kowokww,, taapi.. mungkin ini mksudnya yg kayak dianime itu lho, klo dia gk boleh ngungkapin sesuatu yg harus dirahasiakan, mungkin mnurutnya 'terjebak ketika dihadapkan oleh beberapa bencana', itu sesuatu yg harus dirahasiakan nya)

"Syang sekali, Ferris engga jago ngobatin masalah halusinasi nyan~" (Ferris)

Munculnya reaksi yang seperti ini, Subaru memutuskan pembicaraan ini harus segera di selesaikan. Setelah berfikir beberapa saat, Ia mengulurkan tangannya pada Ferris.

"Nyan?" (Ferris)

"Gak kenapa, aku cuma harus berterima kasih padamu atas semua yang telah kamu lakukan untukku. Karena telah menyembuhkanku, dan saat kita menghadapi si Paus Putih dan 'Kemalasan' kalau bukan karena perbuatanmu, semuanya akan kacau... dan untuk Rem, terima kasih" (Subaru)

"...nyan. Kamu enggak ngejek aku, kan" (Ferris)

"Oooo! Kemampuanku <<Membaca Suasana>> udah aktif! Tenang aja!" (Subaru) 

Berterima kasih dengan begitu kakunya, tapi tampaknya Ferris menyukainya. Bagaimanapun juga, Ia tersentuh. Ferris memegang tangan yang tak dapat diraih itu, dan mereka bersalaman.
(TL Note: itu kiasan, maksudnya tangan yg seharusnya ferris tidak memegangnya)

"Lembutnya, begitu rampingnya jari-jarimu.. Aku gak bisa ngebayangin gimana kamu keliatannya kalau tanganmu jantan" (Subaru) 

"Pada keimutan dan kesempurnaan Ferris, kok omonganmu itu kedengerannya ngeselin banget ya nyan~? Mau bulu di tubuhku atau kulitku, semua yang ada pada badan Ferris ini alami nyan~" (Ferris)

Ferris mengangkat tangan dengan bangganya, Subaru diam-diam memandang sekilas kakinya yang begitu mulus dibawah roknya. Melihat begitu indahnya bentuk kakinya itu, Subaru menjadi murung.

"Padahal, dia ini laki-laki.." (Subaru)

"Yap, Ferris ini laki-laki tulen nyan~" (Ferris)

"Kok bisa kamu bangga banget terhadap ucapanku yang barusan? Emangnya bagian mana dari dirimu yang terlihat jantan?" (Subaru)

Berpakaian seperti seorang gadis cantik, mengatakan kalau Ferris itu laki-laki tulen kayaknya terlalu — Meskipun Subaru tidak begitu primitif atau sejenisnya, dia Tau kalau sikapnya Ferris ini kebalikan dari apa yang bisa disebut Jantan.

Terhadap pertanyaan Subaru, Ferris menaruh jarinya pada bibirnya. Dan dengan goyangan indah pinggangnya,

"Karena, Crush-sama bilang kalau ini cocok dengan Ferris, Yang ada pada diriku, aku, dan sebagian besar yang menerangi jiwaku.  —Ucapannya Crusch-sama, Ferris harus membalasnya dengan semua yang ada pada diriku.

"...Tapi" (Subaru)

...Crusch yang sekarang tidak mengetahui hal ini.. tapi Subaru menahan ucapannya. Meskipun Ia tidak mengatakan ini, Ferris sudah tahu. Dan meskipun Ia mengatakan ini, yang ada hanyalah rasa sakit.
(TL Note: Crusch yg sekarng tidak tau tentang bagian dr tubuhnya ferris yg begitu cocok dgn ferris)

Subaru, lebih dari siapapun, yang membenci hal ini. Jika seseorang membicarakan tentang Rem, Subaru akan jadi gelisah. Mungkin Ferris tahu tentang hal ini juga.

"—Tidak peduli apa jadinya Istana Karsten ini" (Ferris)

"……?" (Subaru)

Tiba-tiba, muncul suara yang menghantam gendang telinga Subaru.

Dengan tenangnya, Dinginnya, suara dari emosi yang tertahan ini.

Kepada siapa suara itu tertuju.. Bila ia mendengar ini sekarang, ini tetap akan membuat dirinya terdiam kaku.

Menundukkan kepalanya, raut wajahnya Ferris tertutupi oleh Poninya, tidak mungkin bisa dilihat.

Dengan demikian, Ferris memegang erat tangan Subaru.

"Hanyalah Crusch-sama, yang aku lindungi dengan hidupku" (Ferris)

"....Ferris?" (Subaru)

"Itu – lah – kenapa" (Ferris)

Didepan Subaru yang sedang tercengang, kepalanya Ferris tiba-tiba mengarah kedepan,tersenyum dengan suaranya yang gembira. Tapi ketika membandingkan sikap riangnya itu dengan yang biasanya, kedua mata Subaru yang begitu nakal digunakannya untuk melihatnya, dengan tatapan yang langsung seperti ini, keliatannya kedua matanya Ferris seolah-olah berpura-pura.

=======================================================================


[Ferris:Ingat perjanjiannya, Subaru-kyun! Kalau tidak semua Mana dalam tubuhmu akan menjadi tidak stabil dan membakar otakmu hingga kau mati nyan~]

[Subaru: Apa maksudmu berkata seperti itu dengan senyum di wajahmu!? Dan kenapa kau mengancam temanmu!?]

[Ferris: Mengancam? Aku pikir itu lebih seperti hukuman mati nyan~]

[Subaru: Bukankah itu lebih buruk!]

Subaru berbalik, mencampakkan Ferris. Di momen yang singkat itu, saat semua hal tadi terjadi

-Dia sedikit berharap bahwa Rem akan bereaksi.

Menghela nafasnya, dia mendorong keluar harapan miliknya itu dari pikirannya.

Di dekat barang bawaan di luar gerobak naga, dia menemukan Emilia dan Crusch berbicara satu sama lain.

[Emilia: Ah, Subaru. Apakah tempat tidur Rem-san sudah siap?]

[Subaru: Yap, Ferris melakukannya dengan sempurna. Lihatlah! Ini adalah aku dan RANGKAIAN GERAKAN SIRKUS YANG HEBAT Patrasche! Kami akan menujukkanmu sesuatu yang bahkan Sirkus Kinoshita yang Hebat tidak bisa tunjukkan!]

[Emilia: Meskipun aku tidak tahu apa yang kau bicarakan, aku punya firasat yang buruk tentang ini... Sebaiknya jangan lakukan Sirkus yang Hebat itu.]

[Subaru: Aaaah! Sangat disayangkan! Tapi hatiku sudah berdebar-debar dan antisipasi yang rendah dari Emilia-tan dengan sikap bersemangat yang salah.]

Subaru mengatakan “Di gerobak yang melaju cepat ini, nyawaku dalam bahaya, apakah peningkatan dari detak jantung ini yang namanya CINTA!?” yang dia arahkan ke dirinya sendiri.

Tapi saat Emilia mengatakan “Rem-san” … Rasa sakit menusuk yang aneh terasa di hatinya, tidak bisa dihilangkan.

Kemudian, mata Emilia melihat mulut Subaru, yang mana tiba-tiba saja berhenti bergerak. Tapi sebelum kalimat bisa keluar dari mulutnya, Ferris datang dari belakang Subaru.

[Ferris: Oke, gerobak naga sudah siap nyan~. Maaf karena terlalu lama nyan~. Memang sulit untuk mengatakan selamat tinggal – Crusch-sama , apakah kau ingin mengatakan sesuatu?]

[Crusch: En, iya.]

Ferris pergi ke samping Crusch. Subaru pergi ke samping Emilia. Melihat dua orang di depannya, Crusch mengambil nafas dalam-dalam, dan menempatkan tangannya di depan dadanya.

[Crusch: Pertama, mungkin aku sudah mengatakannya berkali-kali, bahwa aku sangat berterima kasih. Bahkan walau aku tak bisa lagi mengingatnya, aku tahu kalau sebelum aku kehilangan ingatanku, aku ingin kita bekerja sama, dan menjadi seorang teman. Sekali lagi aku berterima kasih padamu.]

[Subaru: En, memang benar Emilia-tan tidak melakukan apapun. Tapi aku bisa menangani semuanya jadi jangan khawatir. Lagipula, pencapaianku adalah pencapaian Emilia-tan ku juga!]

Melihat Emilia menciut karena malu, Subaru membusungkan dadanya saat mengatakan hal itu. Mencuri pandang ke arah subaru, Emilia sedikit mengangguk.

[Emilia: Terima kasih, Subaru… Meskipun aku tidak ingat pernah menjadi Emilia mu.]

[Subaru: R-rencanaku untuk “memasukkan kesan hubungan romantis tanpa disadari ke pihak ke tiga yang mendengarkan” telah disadari…!?]

[Emilia: Itu karena aku mendengarkan dengan cermat… Oh, dan juga maaf tentang itu.]

Semua udara yang ada di paru-parunya keluar, Subaru kemudian terduduk, dan Emilia meminta maaf kepada Crusch, yang diam mengamati mereka dengan pandangan yang ramah.

[Crusch: Tidak apa, hubungan diantara kalian berdua terlihat luar biasa. Aku harus segera kembali pergi ke tempat dimana aku seharusnya berada bersama Ferris dan Wilhelm.]

[Ferris: Ferris akan menyerahkan tubuh dan jiwanya kepada Crusch-sama nyan~!]

Ferris, menutupi pipinya dengan kedua tangannya, mulai bergerak-gerak dengan cepat kekanan dan kekiri. Saat Ferris menggeliat seperti gurita dibelakangnya, Crusch hanya menerimanya begitu saja, dengan senyum hangat, dan feminim.

[Crusch: Kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat, semoga saja, Emilia-sama dan Subaru-sama. Kuharap kita akan menjadi teman selamanya.]

Itu bukanlah kebohongan, itu pasti adalah hal yang benar-benar dia inginkan… Pikir Subaru.

Meskipun kehilangan ingatannya, dia tidak kehilangan kemuliaan dalam hatinya. Kejujuran bisa dilihat dalam tindakannya, ia tidak mungkin mengatakan kebohongan.

Mungkin karena terlihat begitu jelas, mata Emilia terbuka lebar karena terkejut, bibirnya sedikit gemetar.

[Emilia: Aku… Untuk Crusch-sama, aku adalah Kandidat lawanmu. Aliansi ini… Suatu hari akan sekali lagi menjadi kompetisi di antara kita berdua.]

[Crusch: En, itu memang benar. Dengan Emilia-sama sebagai lawanku, aku akan berusaha agar tidak tertinggal, jadi aku akan melakukan yang terbaik.]

[Emilia: Dan bahkan tanpa itu, aku adalah Half-Elf. Dengan rambut berwarna silver… Apakah itu tidak menakutimu?]

[Subaru: Emilia-tan itu…]

Dia tidak perlu menanyakan hal itu, pikir Subaru, berusaha menghentikannya. Melihat tekad dari seseorang yang putus asa di wajah emilia, dia tahu bahwa percakapan ini tidak boleh berlanjut.

Emilia serius, dalam menanyakan pertanyaan itu. Bagian emosional dari dirinya tahu bahwa dia tidak seharusnya mengungkapkan identitas aslinya dengan mudah.

Ditambah lagi, untuk mengatakannya di depan Crusch Karsten. Subaru tahu, kalau hal ini berlanjut…

[Crusch: Jiwalah yang menentukan seberapa berharga keberadaan seseorang. Hal itu berlaku untukku, begitupun orang lain, untuk hidup dengan Jiwa yang bersinar dan tidak malu akan hal itu, begitulah seharusnya kita hidup.]

[Emilia: ...]

[Crusch: Entah kenapa aku merasa aku sudah mengatakan hal itu berkali-kali sebelumnya. Bagaimana caraku menjelaskannya… Sekarang saat aku mendengarkan diriku sendiri mengatakannya, hal itu terdengar cukup indah, iya kan?]

Crusch menutupi mulutnya dan tidak bisa menahan tawanya. Mendengar ini Emilia berdiri terkejut, dan tidak mengatakan sepatah katapun.

[Crusch: Emilia-sama, apakah kau malu dengan caramu menjalani hidupmu?]

[Emilia: … Aku, tidak malu. Bahkan walau orang disekitarku berpikir bahwa aku malu, selama aku tidak membenci diriku sendiri, aku bisa terus maju dan hidup dengan caraku sendiri.]

[Crusch: Kalau begitu, jangan sesali apapun. Teruslah maju, berusaha yang terbaik, dan tetaplah berjalan di jalanmu sendiri.- Karena kau memiliki Jiwa yang indah.]

Crusch memanjangkan tangannya ke depan dada Emilia, sembari tersenyum.

[Crusch: Karena sudah mengenalmu, aku bahagia. Takut? Aku tidak takut sedikitpun.]

Menggigit bibirnya, Emilia mengukir kata-kata itu dalam pikirannya, dadanya sakit karena emosi. Dia melihat ke tangan yang dipanjangkan ke arahnya. Crusch menunggu dengan sabar. Kemudian, jari Emilia menyentuh telapak tangan Crusch, dan mereka berjabat tangan dengan pelan.

[Crusch: Tak peduli apa, aku berharap kita akan bertemu lagi dalam waktu dekat.]

[Emilia: A-aku… Maksudku. Aku juga, kali ini aku akan berdiri tegak di depan Crusch-sama. Sampai saat kita bertemu lagi, aku harap kau terus sehat.]

Kemudian, dua orang Kandidat dari Pemilihan Raja, menyegel janji yang mereka buat, di dalam hati mereka.

Melihat dari samping, hati Subaru dipenuhi perasaan puas. Itu adalah salah satu tujuan Subaru yang selalu ia perjuangkan… Meskipun pada akhirnya tidak mungkin untuk membuat semuanya sempurna…

[Subaru: … Setelah semua yang kita capai… Kenapa kamu masih memasang ekspresi sedih di wajahmu? Aku tidak akan menyalahkanmu… aku tidak akan…]

Melihat ke arah gerobak naga, seorang gadis yang sedang tidur didalamnya terpantul di mata Subaru.

Di saat yang sangat membahagiakan ini, Rem tidak akan memaafkanku bila aku bersikap seperti ini… Rem tidak akan… Aku benar-benar egois, benar kan?

[Crusch: Natsuki Subaru-sama, tetaplah sehat. Aku akan terus melihat tindakan-tindakanmu selanjutnya… Dan kepulihan dirinya.]

[Subaru: Sangat banyak hal yang akan kulakukan… Aku pikir itu bukanlah ide yang bagus… Jujur saja, aku adalah jenis lelaki yang berlarian untuk melakukan segalanya sebagai solusi terakhir dan tetap menjadi tidak berguna. Tentang Rem… Nona Crusch bukanlah orang luar. Tidak peduli apa, dia pasti akan pulih. Aku berjanji dia akan.]

Crusch memanjangkan tangannya ke arah Subaru. Tapi untuk menjabat tangannya saat ini, bukankah itu sangat memalukan? Untuk menutupi rasa malunya, Subaru memilih untuk melakukan tos dengannya.

Suara kecil berbunyi, dan kontak pendek diantara tangan Subaru dan Crusch berakhir. Tangannya sedikit terpental ke belakang., mata Crusch berkedip.

[Crusch: Kita pasti akan bertemu lagi.]

Dengan kata-kata itu, tuan dan pelayannya menunduk, smebari melihat Subaru dan Emilia pergi.

loading...