Sunday, 23 October 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 2 Part 3 Bahasa Indonesia


Translator: Kirz
Editor: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation


Volume 4 Chapter 2 Part 3/3: Batō to Kansha

"...... Biar aku aja yang bawa dia kedalam, jadi kau gak usah repot-repot. Juga punggungmu berteriak nanti kalau kau gendong cewek" (Subaru)

"Kau tau gak, pedagang itu selalu menangani barang yang berat-berat selama Ia bekerja. Kami itu tidak selemah yang kau pikirkan, Natsuki-san" (Otto)

Subaru mencoba untuk menutupi ucapannya yang sebelumnya dengan sebuah lelucon, dan bersyukur Otto membalasnya dengan santai, yang mana sebelumnya dilanda kebimbangan. Dia menghela nafas.
(TL Note: intinya subaru ingin menutupi ucapannya yg agak kasar ke otto sebelumnya, dgn bercanda, dan syukur otto jg ngebalesnya santai, gak emosi, pdhl sblmnya lagi kena momen yg gk enak)

Mau bagaimanapun juga, reaksinya itu memang terlalu berlebihan. Meskipun itu gak sengaja— Atau lebih tepatnya, justru karena itu gak sengaja-lah masalahnya. Urat syarafnya sudah tegang, dan terhadap siapapun yang mencoba mengganggu Rem, mau tidak mau, orang itu akan menjadi musuhnya.

"Gak pantes ini... sialan, Aku merasa diriku ini begitu menyedihkan. Kenapa aku selalu kaya gitu......." (Subaru)

Ia seharusnya bisa mengatasi hal ini, namun ia langsung tersandung kerikil yang ada didepannya. Kenapa ia tidak mampu untuk berdiri tegak?

Jika saja Rem sekarang ada disini, dan jika saja Emilia memerhatikan— Jika saja mereka berdua sekarang disini bersama dirinya, dapat dipastikan Ia akan memiliki kekuatan yang tak tergoyahkan.

"Aku menanggungnya sendiri... Bukan, Aku memaksa Rem untuk menanggung beban itu. Betapa pecundangnya diriku!" (Subaru)

Pasti ada jalan yang terbaik, yang lebih sempurna.

Ia percaya bahwa ia sudah melakukan segalanya, sampai pengulangan waktu terakhirnya beberapa hari yang lalu, Ia benar-benar percaya itu. Tapi seharusnya masih ada jalan yang lebih baik, lebih lancar, lebih sempurna entah itu dimana. Tapi Subaru telah menghilangkan kesempatannya untuk mencari jalan itu, dalam kepuasannya, dalam ketakutannya, Ia membahayakan dirinya, menuntun dirinya menuju masa depan yang kelam. Dan karena itulah Rem harus berkorban.

Jika saja dia lebih pintar, dia akan menyadari ini.

Sebelum mengevakuasi Emilia dan Ram dari Mansion, surat yang Ia kirim ke pembawa pesan-nya Crusch berubah menjadi kosong. Ia telah berfikir kalau para Pemuja Penyihir itu membuntuti si pembawa pesan, dan menukar suratnya, sebagai rencana untuk menebarkan kebingungan, tapi hal itu sangat menggelikan.

Tidak mungkin para Pemuja Penyihir itu sadar betapa bahayanya perbuatan mereka, dan bagaimana bisa Ia percaya kalau para Pemuja Penyihir itu menggunakan cara yang muter-muter dengan menebar bibit ketidakpercayaan diantara kedua fraksi mereka? Terlebih lagi, Kalau mereka ingin membuat kekacauan, dibandingkan dengan mengirim surat yang kosong, bukankah lebih efektif kalau mengubah isinya?

Lantas mengapa, mengapa surat itu kosong? Seandainya ini bukan kerjaan dari Para pemuja penyihir itu, maka hanya ada satu jawabannya.

"Rem menulis surat itu. Aku lah satu-satunya orang yang meminta ini untuk dikirim, dan Crusch lah satu-satunya orang yang memberikan surat itu ke si Pembawa Pesan, Jadi kenyataan kalau surat tersebut diserahkan masih ada, dan hanya isinya-lah yang telah dihapus" (Subaru)

Ini adalah Kuasa dari "Dosa Kerakusan", dan takdir bagi mereka yang 'nama' dan 'ingatan'-nya yang termakan. Keberadaan seseorang yang terhapuskan dari dunia, hanya akan meninggalkan jaring-jaring kejanggalan di belakang. Jika kau tidak menyadari ini, kau tidak akan tenang, kau tidak akan sadar bahwa semuanya telah menghilang.
(TL Note: maksudnya seseorang akan merasa kalau ada keanehan, tapi ia tidak tau keanehan apa yang telah terjadi)

Kalau begitu, untuk siapa, atau untuk apa, hal semacam itu bisa terjadi—-

Melihat lebih dalam lagi terhadap fakta kalau surat itu kosong, menyelidikinya dengan serius, memahami, mencari kebenarannya, mungkin Ia bisa menuntaskan ini.

Apa yang telah Emilia katakan memangnya, Kalau diingat lagi, surat itu tiba di sore hari sebelum hari terakhir itu. Pada saat itu, isi dari surat itu sudah menghilang, kalau begitu Rem pasti telah diserang. Kalau benar begitu, maka sudah tidak ada waktu lagi, selagi Subaru dan Rem telah berpisah. Kesempatan untuk menolongnya sangat kecil, tapi setidaknya masih ada kesempatan.

Hanya saja, Subaru melewatkan kesempatan itu begitu saja. Kenapa bisa terlewatkan, Ia tidak mau mengatakannya. Akankah Ia tidak merasa kalau ada yang aneh dari semua ini?

Ram, dengan siscon-nya, Emilia, yang sadar kalau mereka telah menyerahkan Rem kepada Subaru menemaninya di Ibu kota namun mereka tidak menyebut nama Rem sama sekali, jadi kenapa—

"—Ah" (Subaru)

Akhirnya ia sadar.
(TL Note: sepertinya rem, ingin menemani subaru itu bukan suruhan siapa2, melainkan keinginan dari dirinya sendiri)

Disaat dirinya mulai sadar, Subaru menangis keras dan meletakkan tangannya pada jidatnya. Melangkah dengan pasrahnya, dia menyenderkan badannya ke tembok, dan membentur kepalanya sekeras yang ia bisa.

Terkejut dan merasa sakit. Tapi sekali saja tidak cukup, Ia mengulanginya lagi, lagi, dan lagi.

"Eh-, Subaru?!!!" (Emilia)

Terhadap tingkahnya yang tak terduga itu, ketiga orang yang sedang berada bersamanya menjadi kaget dan tidak bisa berkata apa-apa. Tapi Emilia-lah yang pertama kali merasa kaget, dan memanggilnya dengan bingung. Ia menyentuh bahunya dari belakang, dan memutar balik badannya,

"Kenapa tiba-tiba kamu kaya gini? Memang bukan kali ini saja kamu bertingkah aneh, tapi ini... Oh—, lihat tuh jidatmu merah!" (Emilia)

"Betapa bodohnya diriku, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku heran sama diriku ini, beneran dah" (Subaru)

Merasa tenang karena jarinya Emilia berada di jidatnya, Subaru menggeleng-gelengkan kepalanya sambil membenci dirinya sendiri. Seperti yang Ia bilang, Ia tidak sanggup melihat kebodohannya sendiri.

Lalu, secara tiba-tiba Ia mendekati Emilia, Subaru memutuskan untuk menatapnya.

"Emilia-tan, ada sesuatu yang ingin kutanyakan" (Subaru)

"Ap, Apa—? Tunggu dulu, Subaru, wajahmu terlalu dekat, dan kedua matamu menakutiku......" (Emilia)

"Terhadap ketololanku... Maukah kamu mencaci maki ku sedikit saja?" (Subaru)

"Hah?" (Emilia)

Terkejut, mata Emilia melebar. Melihat penolakan yang nampak dari reaksinya, Subaru memutuskan untuk memegang kedua bahu Emilia, memegangnya dengan erat untuk mencegah dirinya pergi, dan membuat wajahnya semakin dekat dengan wajahnya.

"Kumohon. Jangan kasihani aku, caci maki aja aku ini!" (Subaru)

"I-,Itu, Aku gak bisa melakukan itu. Menurutku kamu gak ngelakuin kesalahan atau apapun......" (Emilia)

"CARI TAU CARANYA BIAR KAMU BISA!" (Subaru)

"Meskipun kamu meminta aku melakukan itu......." (Emilia)

"Kumohon! Kalau kamu ngelakuin itu untukku, Aku akan menyerahkan seluruh jiwaku kepadamu.." (Subaru)

"Mengatakan hal seberat ini cuma akan membuatku merasa gak enak! Ah yaudah, Kayaknya Aku benar-benar gak ada pilihan lain" (Emilia)

Emilia menderita dalam kebingungannya terhadap keputusasaan Subaru, terhadap permintaan putus ada dan menyimpangnya, tapi Akhirnya Ia mengangguk dalam kepasrahan menerima keadaan ini. Ia menelan ludah lalu melihat kearah Subaru.

"Subaru kamu bodoh!" (Emilia)

"Uuu—" (Subaru)

"Kamu bandel, hiperaktif, keras kepala, egois, brandalan, gak tahu kapan harus menyerah, terlalu sok!" (Emilia)

"Gu..gu..gul…" (Subaru)

"Tidak ada yang memintamu, namun kamu selalu khawatir sama semua orang, dan gak tahu batasanmu. Kamu itu orang yang lemah, yang mendukung seorang 'setengah elf yang telah dibenci'. Disaat diriku dicaci maki dan merasa depresi, kamu mengambil tempatku, dan bertingkah gegabah, dicaci maki dan melakukan hal yang nekat" (Emilia)

"gu.…..Eh?" (Subaru)

"Kamu mendengarkan tapi tidak merespon nya dengan benar,seorang pengecut yang melirik kesana-kesini lalu kabur. Orang bodoh yang datang membantu seseorang yang dilanda masalah, walaupun nantinya mereka akan menghadapi pertempuran yang besar. Ketika apa yang dipikirkannya tidak jalan, ketika kamu ingin sesuatu yang kamu katakan itu dianggap gak adil. Lalu, Ketika semuanya telah berakhir, semua orang berlarian menikmati kebebasannya, kamu malah tidur sendirian dan mendengkur. Subaru, Kamu Blo'on!" (Emilia)
(TL Note: Blo'on - Bodoh atau Peak(pendek akal) )

"Blo'on, kata itu jarang terdengar..... 'tau, Emilia-tan" (Subaru)

Ia kira cuma di hina, tapi cacian yang ia terima jauh dari perkiraannya. Kata-kata itu tidak menggores hatinya dan tidak meninggalkan bekas luka, malahan terkesan dalam dan menyentuh hatinya, dan meninggalkan perasaan yang mirip di hatinya dan hati Emilia.

Terhadap panggilannya Subaru, Emilia tetap menatap dirinya, sambil mengerutkan bibirnya.

"Apa?" (Emilia)

"Gimana ya aku bilangnya... Apa seperti itu perasaanmu terhadap diriku ini?' (Subaru)

"Aku tau, Sepertinya semua perasaanku yang tertahan meleduk keluar. Lalu aku mengontrolnya agar tidak terus-terusan begitu dan setelah beberapa saat aku gak ngerti mengapa aku begitu. ...Subaru, apa menurutmu seperti itu yang benar-benar kurasakan?" (Emilia)

"Ntah lah. Ketika kamu diluar kendali beberapa saat, apakah itu perasaanmu yang sebenarnya....... Aku gak tahu" (Subaru)

Setidaknya, Subaru sudah pengalaman dalam menyesali sesuatu yang Ia ucap disaat dirinya lagi memanas.

Apakah itu perasaan yang sudah lama terpendam dihatinya yang pada akhirnya ingin keluar, ataukah cuma emosi yang tak terkendali, yang cuma tiba-tiba keceplosan?

Menurutnya tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu.

"Makasih, Emilia-tan" (Subaru)

"Apa yang kulakukan cuma mengucapkan hal-hal buruk kepadamu. Untuk berterima kasih karena itu........ Subaru, kamu nyadar gak kamu itu aneh?" (Emilia)

"'Aneh', Tapi demi Emilia-tan seorang. Kalau aku mendengarnya darimu, maka tidak masalah kalau itu hinaan, cacian atau ceramahan, itu akan membuatku tambah senang" (Subaru)

"Yang terakhir itu aku tidak ngerti, tapi tampaknya aku tidak ingin tahu tentang hal itu, jadi aku akan melupakannya kalau aku pernah mendengar itu. —Jadi, apa kamu udah enakan sekarang?" (Emilia)

Ia(Emilia) mencoba untuk merespon disaat Ia menahan tawanya, tapi pada akhirnya, kedua matanya terlihat sedih.

Ini gak adil, ekspresi polos yang ditunjukkannya sesekali kepada Subaru, dan karena itulah Subaru tidak bisa membiarkan dirinya terlihat seperti itu.

Membalas sikapnya (Emilia) yang seperti itu, Subaru tersenyum lebar yang menunjukkan gigi-giginya.

"Yah, aku baik-baik saja sekarang. Sebenarnya sih, kayaknya aku masih belum enakan. Tapi, kalau aku mendapat ciuman dari Emilia-tan untuk menghilangkan kutukanku ini(TL Note: maksudnya menghilangkan perasaan gak enak dihatinya), Aku pasti bisa lebih semangat, andaikan saja...." (Subaru)

"Sayang sekali, pelayanan dariku udah tutup hari ini" (Emilia)

"Sialan! Aku mengacaukannya! Kenapa dah aku selalu......Telat......Ah!" (Subaru)

Seakan penuh penyesalan, Subaru merasa hancur berkeping-keping. Melihat ini, Emilia mengeluarkan senyum masam. Setelah menghabiskan banyak waktu untuk terlihat malang, Subaru akhirnya berdiri dan melihat kesekitar ruangan.

"Seperti yang dibilang tadi, Aku itu takut kalau ada sesuatu yang harus ku urus. Aku merasa sedih untuk meninggalkan semuanya dan Emilia-tan, tapi beri aku sedikit waktu. Aku yakin gak bakal lama banget cuma.... Wajahmu itu kenapa sih, Otto?" (Subaru)

"Rasanya aku ingin mendapatkan ganti rugiku setelah menyaksikan adegan geli barusan, tapi kurasa cukup dengan membayarku saja nanti... Kau itu tadi ngapain sih!?" (Otto)

Otto, dilupakan sampai sekarang, menyuarakan ketidakpuasannya, ke Subaru yang menyilangkan lengannya dan memiringkan kepalanya karena bingung. Kalau dipikir lagi, Otto tidak tahu tentang orang terakhir di mansion ini, yang sama sekali belum ia kenal.
(TL Note: maksudnya otto merasa dilupakan, tapi kenyataannya dia sendiri melupakan frederica, dgn tidak memedulikannya)

Jika demikian, untuk memberitahu Otto apa sebenarnya yang ia(Subaru) rencanakan selanjutnya, apa kira-kira kalimat yang cocok untuk menjelaskan ini.

Setelah kebingungan dengan masalah itu untuk beberapa saat, Subaru mengibarkan kedua tangannya dan berkata,

"Yah, aku ingin menemui loli yang rambutnya bergelombang, yang berdiam diri didalam ruangan, yang aroma ruangannya kayak pabrik cetakan didalamnya" (Subaru)

Dengan kalimat itu, Subaru mengabaikan tanggung jawabnya untuk menjelaskan situasi saat ini dan meninggalkan Otto dalam keadaan bingungnya.

loading...