Tuesday, 11 October 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 1 Part 3 Bahasa Indonesia


Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 4 Chapter 1 Part 3/3: Kaeri Tsuita Basho de 

Di perjalanan pulang, aura yang suram nan aneh menyelimuti gerobak naga.

Gerobak itu sendiri adalah pemberian Crusch ke Subaru bersamaan dengan Patrasche, sebagai tanda terima kasihnya. Meskipun tanpa adanya hiasan, sudah jelas kalau gerobak itu adalah hasil dari buah keterampilan yang mahal. Tapi dari keempukan tempat duduknya sampai megahnya bagian interiornya, semuanya terasa sedikit berlebihan.

Interiornya yang luas mampu menampung sepuluh orang dan bahkan itu juga masih ada ruang yang tersisa, jadi tidak heran kalau mereka kebingungan dengan apa yang akan mereka lakukan, dengan hanya tiga penumpang didalamnya.

Di dalam gerobak, Emilia, Subaru, dan Rem tetap terdiam. Tentu saja Rem masih tertidur. Duduk disebelahnya Rem, Subaru menunggu, tanpa adanya pikiran untuk pindah dari tempatnya. Mungkin karena mempertimbangkan Rem yang tidak sadarkan diri, Emilia menahan kembali kata-katanya.

"....m" (Subaru)

Ini buruk, pikir Subaru menyilangkan lengannya. Mungkin akan aneh rasanya untuk memulai percakapan ringan di situasi yang seperti ini, ada banyak hal yang ingin mereka bicarakan. Mereka harus memutuskan sikap mereka terhadap pemilihan, mereka perlu memperbaharui aliansi mereka dengan fraksi Crusch, dan mereka bahkan belum membicarakan mengenai apa yang sudah terjadi beberapa hari ini.

Kemudian Rem. Bagaimana cara untuk memperlakukannya di mansion nanti kalau tidak ada yang mengingatnya selain Subaru itu sendiri? Meskipun tidak terelakan, hanya dengan memikirkan apa yang mungkin akan Ram katakan ketika dia melihat Rem yang tak sadarkan diri sudah membuat sekujur tubuhnya Subaru menggigil.
(TL Note: Maksudnya "Memperlakukan" disini adalah seperti merawat Rem yang tak sadarkan diri itu. Ga usah ngarep dia bakalan sadar ya pas nyampe mansion <(") G usah Ge'er :v )

"Aku tau kamu khawatir, tapi saat ini aku merasa kalau suasana mungkin akan lebih baik kalau anak-anak ikut bersama kita..." (Emilia)

Tentu saja, anak-anak juga berada dalam rombongan yang menuju ke kawasan Roswaal. Tapi mereka bersama orang tuanya masing-masing saat ini. Jika mereka bertanya soal Rem, akan sangat sulit untuk menjelaskannya, dan gimana kalau para penduduk mengira itu adalah sebuah penyakit...? Sangat disayangkan, hasilnya ya keheningan saat ini.

Apa yang harus dilakukan saat ini? - Tidak biasanya Subaru merasa begitu tertahan, dia melihat ke atap dan berpikir.

"Aku tidak tau apa yang terjadi, tapi bisakah kalian memikirkan suatu topik untuk dibicarakan? Aaaah, aku nggak tahan sama keheningan aneh ini lagi!!" (??)

"Apa yang kau bicarakan!? Tiba-tiba nyerocos gitu!? Bentar, kau emang ada disana daritadi?" (Subaru)

"Jahatnya! Tentu saja aku ada! Apa kau tidak ingat kondisi yang membuat ku setuju untuk membantu mu!?" (Otto)

Otto mengatakannya dengan cara yang berlebihan, menjulurkan kepalanya ke dalam gerobak melalui lubang yang ada di depan, dan menyipratkan sedikit air liur bersamaa dengan teriakannya. Otto lah orang yang mengemudikan gerobak ini, duduk di luar, di kursi kusir. Dia menjulurkan kepalanya ke lubang yang menghubungkan interior gerobak hanya untuk mengomentari keheningan di dalam gerobak.

Mendengar ketidaksukaannya Otto, Subaru memiringkan kepalanya dan mengangguk sambil bergumam "Ah, ah"

"Aku ingat, aku ingat. Ya, aku ingat kau meminta ku untuk membantu mu agar bisa bertemu dengan Roswaal, kan? ... Ah, tapi, gimana ya ngomongnya..." (Subaru)

"Apa!?" (Otto)

"Yah, kalau kau seleranya pria itu hal lain, tapi kalau orang itu Roswaal... Ngomong-ngomong aku ini normal, dan aku sudah punya Emilia, jadi tolong jangan nargetin aku." (Subaru)
(TL Note: Remnya kemana? :v )

"Bukan itu yang mau aku bicarain dengannya!! Menurut mu aku ini apa emangnya!?" (Otto)

"Seorang pedagang yang mencari kesenangan?" (Subaru)

"Kenapa kau memperlakukan ku kayak orang mesum!?" (Otto)

Melihat Otto seakan-akan mengasihaninya dari lubuk terdalam hatinya, Subaru menggelengkan kepalanya dengan sedih. Emilia, yang daritadi mengamati percakapan mereka tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar dan berkata dengan ekspresi terkejut.

"Kalian berdua... bener-bener teman baik ya? Aku terkejut!!" (Emilia)

"Oy, oy Emilia-tan. Tolong hentikan canda mu itu. Jangan menyamakan ku dengan pedagang yang serakah uang ini... Satu-satunya keserakahan ku hanyalah cinta mu saja!" (Subaru)

"Kau juga serakah tuh!! Ah, tunggu, aku ini nggak serakah!" (Otto)

"Otto, diam." (Subaru)

Menghela napas menghadapi Otto, Subaru bangun dan memegang penutup yang digunakan untuk menutup jendela yang terhubung ke tempat kusir.

"Ah, tunggu, jangan perlakukan aku seolah-olah aku ini pengganggu!" (Otto)

"Ok, sekarang pergi sana!" (Subaru)

Menarik penutup itu dengan suara "kreek", wajah dari orang yang berusaha ingin mengatakan sesuatu sampai akhir akhirnya menghilang. Menggabungkan jari-jarinya dan meregangkan tangannya kedepan seperti seseorang yang baru saja menyelesaikan tugas berat, Subaru melihat ke arah Emilia yang sedang melihatnya dengan tatapan kosong.
(TL Note: Waduh nutup kain penutupnya, mau ngapain tuh?)
(Some dude note: Ikkeh ikkeh pls :v )

"...Puh" (Subaru)

"Hihahahaha!" (Emilia)

Saling melihat satu sama lain, mereka tiba-tiba tertawa keras.

Untuk sementara mereka terhanyut dalam tawa mereka, tapi setelah beberapa saat, tawa mereka perlahan menghilang, sampai keheningan muncul lagi menyelimuti seluruh gerobaknya.

Kemudian,

"Membiarkan suasana berat seperti ini, memang bukan seperti ku 'ya?" (Subaru)

"Iya benar, sama sekali bukan dirimu. Subaru yang aku tau itu lebih bersemangat, tidak beralasan, dan ceria orangnya. Benar-benar seperti itu sehingga tidak peduli  sesedih apa aku ini, dia bisa menyingkirkan semua perasaan nggak enak ku ini." (Emilia)

"Aku merasa kalau itu bisa diterjemahin menjadi orang bodoh yang nggak bisa baca suasana..." (Subaru)

Juga, omelan Otto tadi benar-benar menghilangkan suasana canggung ini. Berterima kasih ke Otto karena hal ini mungkin akan membuatnya marah, tapi biarpun begitu, Subaru berterima kasih kepadanya di dalam pikirannya sambil bangun dan duduk disebelahnya Emilia seakan hal itu adalah hal yang sangat wajar di dunia ini.

"Kamu selalu saja langsung duduk disebelah ku 'ya, Subaru?" (Emilia)

"Yah, sudah sewajarnya kan untuk seseorang ingin duduk disebelah wanita yang disukainya, jadi aku mau duduk sedekat mungkin dengan mu dan bernapas di udara yang sama dengan mu." (Subaru)

"Mou, setengah bagian awal kalimat mu itu rasanya memalukan, dan juga ntah kenapa di bagian terakhir kalimat mu itu membuat perasaan ku nggak enak." (Emilia)

Mendengar pernyataan cinta yang begitu jelas darinya membuat wajah Emilia memerah, tapi kemesuman yang ada di bagian terakhir kalimatnya itu membuatnya sedikit marah. Sambil mencondongkan kepalanya ke Emilia yang bereaksi seperti itu, Subaru berkata,

"Hmmn, aku cuma berprilaku seperti biasanya 'tau" (Subaru)

"Kalau dipikir-pikir, sepertinya kamu memang selalu seperti ini. Itu karena kamu seperti ini, jadinya aku tidak bisa mengerti apa yang kamu katakan..." (Emilia)

Sambil dia menatap Subaru, suaranya berubah menjadi gumaman, kemudian sepenuhnya menghilang. Subaru menggaruk-garuk kepalanya, mempertimbangkan apakah harus menanggapi percakapannya atau tidak...

"Para cowok tidak secara mental menangani sesuatu yang terang-terangan, dan tidak bisa berpura-pura bercanda ketika menangani hal semacam itu. Aku yang mencintai Emilia-tan, aku yang melihat Emilia-tan dengan tatapan mesum, dan aku yang ingin membantu Emilia-tan semuanya adalah perasaan ku yang sebenarnya. Kamu bisa mempercayainya 'tau?" (Subaru)

"Aku percaya, tapi mempercayainya dan menerimanya merupakan dua hal yang berbeda..." (Emilia)

"Tidak masalah buat ku sih, cukup percaya saja padaku, dan aku akan bekerja keras sampai kamu mau menerima perasaan ku." (Subaru)

Pikir kembali, itu adalah proklamasi yang cukup agresif. Faktanya, mendengar hal itu dari Subaru, wajahnya Emilia nge-blush.

Berusaha keras untuk tidak gugup, pipi dan telinganya sudah sangat merah sehingga ekspresinya tidak bisa dipertahankan lagi. Emilia, tentu saja belum pernah memiliki seseorang yang menyatakan perasaannya dengan serius kepadanya. Tentu saja Subaru, orang yang mencoba menyatakan perasaannya juga tidak memiliki pengalaman apapun, jadi wajahnya juga ikutan merah.

Meskipun begitu,

"Daripada berjalan dengan ekspresi sedih, yang ini lebih seperti diri ku 'kan, Rem?" (Subaru)

"...Tadi itu, apa kamu mengatakan sesuatu?" (Emilia)

"Emilia yang mengangkat rambutnya, aku ingin melihat lehernya dengan mesum." (Subaru)

"Aaah, kamu mencoba mengalihkan ku lagi... Kamu benar-benar peduli kepada Rem-san, kan?" (Emilia)

Subaru masih mencoba melawak untuk mengalihkan Emilia, tapa kata-kata tajamnya Emilia menutup pelariannya. Menerima kekalahan, Subaru tersenyum pahit, dan menoleh ke arah Rem yang masih tertidur di atas kasur.

"Iya benar, aku... sangat amat peduli dengannya. Aku selalu berpikir kalau aku harus melakukan sesuatu, aku berpikir dan dan aku ingin terus berpikir. Meskipun aku ingin Emilia-tan yang pertama di dalam pikiran ku, tapi aku tidak bisa menentukan yang mana yang lebih penting... maaf" (Subaru)

"Aku bukanlah anak nakal yang akan marah dan jengkel dengan itu. Aku tidak akan marah dengan sesuatu yang sepenting itu... Aku bisa tau hanya dengan melihatnya, dia sangat penting bagi Subaru." (Emilia)

Seperti Subaru, Emilia juga menoleh ke arah Rem yang sedang tidur. Bibirnya (Emilia) gemetaran. Kemudian setelah beberapa saat ragu, dia bertanya,

"Kamu... menyukainya 'kan?" (Emilia)

"Aku menyukainya. Aku mencintainya. Aku mencintainya sama besarnya seperti aku mencintai mu." (Subaru)

"Aku tidak tau bagaimana perasaan ku mengenai ini, tapi... Subaru, apa kamu ini tipe orang yang suka main mata?" (Emilia)

"Seharunya aku ini memang tipe orang yang setia, tapi melihat seseorang yang sangat mencintai mu, yang berkorban begitu banyaknya untuk mu... Pria yang hatinya tidak tergerak karena itu, kurasa dia adalah pria yang tidak punya setetespun darah ataupun air mata didalam dirinya." (Subaru)

Mengingat kembali pengulangan-pengulangan yang terjadi beberapa hari yang lalu, dia masih ingat, berapa kali dia menerima cinta tak bersyaratnya Rem. Menerima semua itu, bagaimana bisa hatinya tidak tergerak? Seiring berjalannya waktu, keberadaannya di dalam hatinya Subaru sudah tumbuh terlalu besar untuk bisa diabaikannya.

"Meskipun kamu bilang kamu mencintai ku?" (Emilia)

"Biar kuperjelas, aku sangat mencintai Rem, tapi Rem JAUH lebih mencintai ku. Dia benar-benar berjuang mati-matian untuk ku dan aku benar-benar tidak tau kenapa." (Subaru)

Memeluk pundaknya sendiri, dia benar-benar bingung bagaimana bisa dia bisa jatuh cinta sebegitu hebatnya dengannya. Bisa dicintai sebesar ini oleh wanita seperti Rem, apa dia benar-benar pantas untuk menerimanya?

Dia masih terus bertanya-tanya kenapa. Tapi meskipun begitu... Sebagai seseorang yang Rem cintai, setidaknya yang dapat dia lakukan adalah mencoba hidup seperti apa yang dia lihat pada dirinya.

Melihat Subaru yang tertunduk sedih, bibir Emilia menjadi tenang.

"Sepertinya aku sudah mengerti dia." (Emilia)

"Eh?" (Subaru)

"Alasan kenapa Rem-san begitu mencintai mu. Aku yakin itu karena dia dapat melihat sisi baik Subaru dari dekat, begitu banyaknya. Kamu ini seperti penyakit yang terkadang menjadi sangat luar biasa, dan melakukan hal-hal yang sangat-sangat luar biasa." (Emilia)

"Penyakit? Aku... tidak sepenuhnya bisa menyangkalnya." (Subaru)

Subaru menggaruk-garuk pipinya dan cemberut, menunjukan ketidakpuasannya. Emilia tidak terpengaruh dengan hal itu dan mempertahankan ekspresi tegasnya seakan mengatakan "Itu benar, lho", kemudian memejamkan matanya.

"Aku tidak akan jatuh cinta dengan mu semudah itu 'tau." (Emilia)

"Itu membuat semua usahaku menjadi lebih pantas! Suatu hari nanti, akan kubuat Emilia-tan klepek-klepek dengan ku, membangunkan Rem dari tidurnya, dan menyelesaikan ini dengan baik-baik. Aaaah, aku malah senyum-senyum sendiri hanya dengan memikirkannya saja!" (Subaru)

Membuat Emilia dan Rem saling menarik kedua tangannya dan memperebutkan dia. Itu akan menjadi pemandangan yang begitu menyenangkan dan luar biasa.

Itulah kenapa, suatu hari nanti—

"Aku akan membuat kalian berdua untuk menarik ku sampai aku terbagi menjadi ribuan bagian!" (Subaru)

"Aku tidak mengerti apa yang kamu pikirkan. Tapi aku merasa ingin mengatakan ini: aku tidak akan melakukan hal semacam itu!" (Emilia)

loading...