Thursday, 20 October 2016

Re:Zero kara Hajimeru Isekai Seikatsu Arc 4 Chapter 2 Part 2 Bahasa Indonesia


Translator: Kirz
Editor: Ise-kun

Gabung ke grup FB kami untuk mengetahui perkembangan novel-novel garapan kami dan juga chat-chat ga jelas bersama kami https://www.facebook.com/groups/IsekaiNovelTranslation

Volume 4 Chapter 2 Part 2/3: Batō to Kansha

"Kalau aku pikir lagi, Rasanya aku pernah mendengar tentang dirimu.. seorang maid yang mengundurkan diri beberapa waktu yang lalu sebelum aku tiba disini, kan? Aku tiba di mansion sekitar sebulan yang lalu.. berarti saat itu sudah tiga bulan berlalu setelah dirimu pergi?" (Subaru)

"Keliatannya seperti itu. Aku mengundurkan diri dari posisiku karena alasan pribadi, dan aku masih ingat betapa sakitnya perasaanku waktu itu, saat pergi dari sini. ... Tapi sepertinya aku bisa kembali lagi kesini lebih cepat dari dugaan ku." (Frederica)

Menutupi mulutnya dengan lengan bajunya, Frederica tersenyum. Selama ia menutupi mulutnya, kecantikan rambut emasnya dan sikap dinginnya, tatapan nya yang bisa dibilang lumayan, dikombinasikan menjadi suatu kecantikan yang nampak begitu feminim. Tapi kepribadiannya yang nakal dan mulutnya yang penuh dengan taring, cenderung malah menyangkal kesan feminim yang dibuatnya.

Di ruang tamu mansion-nya Roswaal, Subaru dan Frederica saling bertukar informasi dibalik arti dari 'nama' mereka. Mendengar Frederica memperkenalkan dirinya lagi, Subaru tampaknya ingat kalau ia pernah mendengar Nama itu sebelumnya.


"Tiga bulan yang lalu, jadi kau sudah kenal sama Emilia-tan, kan?" (Subaru)

"Hrmph! iya, bener!" (Emilia)
(TL Note: kurang lbih sperti ini ekspresinya emilia: i.imgur.com/UhrYHrD.jpg)

"Masih ya ada orang yang ngomong 'Hrmph' sekarang? Juga ngambekmu yang ketinggalan jaman itu imut deh, ampun dah" (Subaru)

Terhadap pertanyaan dan tatapan Subaru, Emilia duduk dibangku, mengalihkan pandangannya dengan kedua matanya seolah-olah berusaha untuk tidak ingin ikut dalam percakapan itu, padahal udah keliatan jelas kalau dia itu nyimak dengan serius. Dia udah bertingkah kaya gini sejak dia, telat menyadari, kalau Frederica mempermainkannya. Tapi selain itu,

"Baru aja dua hari atau tiga hari yang lalu kau datang kemari, kan? Kami pergi dari desa tiga hari yang lalu... jadi empat hari kalau kau ngitung lama di perjalanannya. Kayaknya ini cuma kebetulan." (Subaru)
(TL Note: Kebetulan si frederica datangnya disaat mereka 'baru saja' pergi.)

"Aku juga kaget saat Aku kembali melihat tidak ada siapapun di mansion. Untungnya, ada sepucuk surat yang menjelaskan semuanya terletak di ruangan penelitiannya tuan besar, jadi aku tidak kebingungan lagi." (Frederica)

"Sepucuk surat?" (Subaru)

"Iya, dari Ram. Dialah orang yang memanggilku untuk kembali ke Istana, meskipun cara ngomongnya sembrono.. Aku tau sikapnya itu udah memanjakan dirinya banget sampe jadi ciri khas kepribadiannya, ya kurasa begitu" (Frederica)

Melalui senyum setengah canggung-nya Frederica, Subaru melihat betapa lamanya dirinya terikat dengan Ram, dan betapa banyaknya hari-hari indah yang telah mereka lalui bersama. Disaat yang sama, telah dihapus dari ingatan-nya, waktunya yang telah dihabiskan bersama dengan Rem harusnya sama lamanya.

(TL Note: Maksudnya waktu yg telah dihabiskan frederica bersama2dgn rem, sama lamanya dengan waktunya yg telah dihabiskan bersama dgn rem)

"Bisa kau kasih tau aku kenapa Ram memanggil mu kembali lagi?" (Subaru)

"Aku benar-benar tidak mengerti kenapa bisa gitu. Tapi Emilia Ojou-sama sekarang ini kan disini, Aku yakin pasti dia tau." (Frederica)

Seketika saat itu juga, perhatian mereka langsung mengarah ke Emilia, dipenuhi oleh rasa penasaran. Sekarangpun, Emilia melanjutkan menegaskan kepada Frederica dengan sikapnya yang menunjukkan 'Aku masih bener, bener kesel,', sambil mengalihkan pandangannya. Tapi, sebagaimana Ia lama kelamaan gak mampu menahan perhatian yang saat ini terfokus kepadanya, Ia mencoba melirik-lirik dengan cepat dalam posisinya yang masih mengalihkan padangannya. Yang ada malah, keliatan jelas banget kalau dia itu menoleh.

"Emilia-tan, udah dong jangan ngambekan terus... ya, soalnya kan, bukan aku yang bikin kesel kamu sekarang ini. Frederica, mau gak kau minta maaf baik-baik?" (Subaru)

"Maafkanlah diriku ini, Emilia Ojou-sama. Apa yang telah  kuperbuat sebelumnya itu tidak baik jadi maafkan aku. Aku sangat senang kita bisa ketemu lagi setelah sekian lama, sifat buruk ku hanya, sedang keceplosan saja" (Frederica)

"...Kamu gak bakalan ganggu aku kaya gitu lagi?" (Emilia)

"Tidak, Aku akan menjauhi perbuatan itu. Sumpah demi apa pun, aku tidak akan pernah mengganggu Emilia Ojou-sama dengan cara seperti itu lagi" (Frederica) 

Subaru gak bisa ngilangin perasaan tersentuhnya, dari susunan kata yang diucapkan dalam permintaan maaf Frederica, yang meninggalkan banyak arti. Bagaimanapun juga, dewi kita Emilia tampaknya percaya dengan ucapan itu tanpa berpikir lagi, dan ekspresi ngambek nya berubah seperti orang yang lagi berbicara, 'Ya udah deh, mau gimana lagi.'

"Baiklah. Aku gak kesel lagi. udah kan?" (Emilia)

"Ya, aku benar-benar sangat minta maaf untuk yang tadi, Emilia Ojou sama. —— Gampang kali..." (Frederica)

Entah mengapa, cuma Subaru yang denger bagian terakhir dari ucapannya itu. Dia menyentak kepalanya melihat kearah Frederica, tapi dia(frederica) pura-pura gak tau. Emilia, yang tidak tahu kalau Ia dianggap 'Gampang kali', menempatkan jarinya dipipinya dan berkata,   

"Jadi, mari kita lihat. Alasan mengapa Frederica dipanggil kembali ke mansion... Umm" (Emilia)

"iya, iya. Buru-buru memanggil seseorang yang telah kamu pecat itu artinya ada yang genting... sebenarnya, Menurutku kayaknya gitu." (Subaru)

Sebenarnya memang benar ada yang genting, baru saja beberapa hari yang lalu Istana dan Desa Arlam menjadi target para Pemuja Penyihir. Menganggap keahliannya, yang mana bisa membuat Subaru pingsan dalam sekejap, Frederica pasti maid lain dari Mansion Roswaal, dengan kemampuan bertarungnya yang gila. Singkatnya, Ram harus memanggil nya kembali untuk memperkuat pertahanan istana selagi keadaannya yang-

"Itu karena bakatnya Ram itu cuma bisa menimbulkan bencana, dan istana berakhir dalam kondisi kekacauan yang tidak bisa dibayangkan. Itu cuma terjadi beberapa hari, tapi rasanya makin berat dan berat rasanya untuk ditinggali." (Emilia)

"Alasanmu itu maksa banget!! Dia cuma bisa ngomong doang dan tidak... tunggu dulu, Ram tahu dia itu gak bisa diharapkan, bahkan dia bilang sendiri! Emang bener dia kaya gitu, tapi kalau gitu kan harusnya dia berusaha agar menjadi lebih baik!! kan!?" (Subaru) 

Dadanya subaru terasa seperti mau meledak, karena pendapatnya itu terkesan terlalu memaksa berbanding terbalik dengan kenyataan yang ada.

Emilia mengeluarkan senyum masam terhadap Subaru yang lagi membludak, dan mengalihkan pandangannya ke ruang tamu— atau lebih tepatnya, ke seluruh bagian ruangan dari mansion, seolah-olah ia lagi memerhatikan dindingnya dengan serius.

"Tapi, sejak Frederica balik, mansion ini jadi beneran lebih bersih. Menurutku keputusan Ram itu benar untuk menyerahkan semua ini ke orang yang tepat, daripada membuat keadaan makin buruk dengan tidak memedulikan hal ini" (Emilia)

"Emilia-tan, aku tidak berpikir kamu bermaksud seperti itu, tapi pernyataanmu itu kaya lagi nampar wajah orang! Dan, yah, Aku tetap tidak setuju kalau alasan itu cukup untuk membuat dirinya menyerah dengan mudah" (Subaru)

"Kesampingkan dulu penilaian terhadap Ram sebentar, sudah dari dulu aku diberi kesempatan untuk melakukan pekerjaan yang bermanfaat seperti ini. Untungnya, karena waktu itu tidak ada orang di istana ini, aku bisa menghabiskan waktuku fokus membersihkan mansion." (Frederica)

Mendengar Frederica bercerita mengenai ketekunan dia mengerjakan tugas rumah tangga ini, Subaru menahan nafasnya, tidak mampu cuek terhadap rasa sakit yang menggeliat di hatinya.

Hal yang ia rasakan, merupakan takdir yang telah ditentukan oleh dunia sebagai akibat dari menghilangnya Rem karena Perbuatan dari 'Keserakahan'.
(TL Note: maksudny subaru jadi keinget Rem, waktu frederica bercerita begitu, karena rem kan rajin xD, dan ia menerima rasa sakit yg memang sudah menjadi takdirnya ia merasakan sakit itu)

"Menurutku karena Ram tidak mampu mengurus mansion sendirian, sudah sangat jelas satu-satunya solusi yang pas yaitu melibatkan orang lain..." (Subaru)

Jadi Ram menghubungi Frederica, yang sudah mengundurkan diri, memintanya untuk kembali lagi ke mansion. Tanpa Rem, perkebunan Roswaal tidak akan terus berfungsi, dan karena itulah, penggantinya Rem, Frederica, pun datang.

Namun, satu-satunya orang didunia ini yang mengetahui kenyataan yang menyedihkan ini Ialah Subaru. Ram hanya melakukan apa yang seharusnya Ia lakukan, tanpa berfikir mengapa dia tiba-tiba mebutuhkan bantuan Frederica, atau kok bisa dia yang dipilih untuk mengurus perkebunan setelah apa yang terjadi waktu itu. Pasti begitu.

Tapi,

"Maaf sebelumnya kalau tiba-tiba jadi serius gini tapi.. apa memang syaratnya kalau semua maid di Mansion Roswaal itu harus terlihat aneh?" (Subaru)

"... ...? Dilihat dari siapa tuan besar kita, apa perlu menanyakan pertanyaan seperti itu lagi?" (Frederica)

"Ngeselin banget kata-katamu itu!" (Subaru)

Pada intinya, Semua keraguan Subaru telah terjawabkan. Melihat reaksinya, Frederica mengangguk dengan puas, dan melanjutkan bersikap sempurna, dan menatap Subaru dengan teliti. Lalu, secara tak disangka, dalam omongannya yang pelan ia mengatakan,

"Ngomong-ngomong, orang yang mengemudikan gerobak naga itu sudah diluar istana satu jam dari tadi..... Emangnya gak apa itu?" (Frederica)

"Hmmm? Oh, maksudmu si Otto. Oh gitu, jadi udah sejam ya.. Yahh, menurutku itu bukan masalah besar sih. Aku ingin cepat-cepat membiarkan Patrasche beristirahat di kandang, tapi kamu gak perlu terlalu peduli sama orang yang namanya Otto itu.." (Subaru)

"Jika dibandingkan dari siapa yang telah berjuang menantang nyawa bersama-sama, kata-katamu itu kejam banget, Natsuki-san! Aku gak nyangka bisa dinomor dua-kan dari seekor naga darat!" (Otto)

Tepat pada saat itu, Otto membuka pintu ruang tamu secara dramatis. Kedua bahunya membungkuk dengan kesal, Ia menatap dengan marah, kearah Subaru yang dengan tidak setuju, menghembuskan nafas melalui kedua lubang hidungnya. Terhadap dirinya yang berada di pintu masuk itu, Subaru bangun dengan pelan-pelan, menggelengkan kepalanya, dan menghela napas.

"Tidak, Otto, Kau salah paham." (Subaru)

"Gimana bisa aku salah paham? Sekarang sudah telat untuk menarik kembali ucapanmu yang barusan itu..." (Otto)

"Maksudku bukan berarti kau itu dinomor dua-kan dari seekor naga darat. Cuma kau lebih, lebih jauh gak penting dari naga darat itu" (Subaru)

"Makin parah omonganmu itu! Bahkan lebih buruk!" (Otto)

Puas dengan reaksi Otto dan hentakan kakinya, Subaru menoleh kearah jendela. Disitulah, dihalaman depan dimana gerobak naga yang ditarik Patrasche itu diparkirkan.

Otto mengikuti arah pandangannya, dan tampaknya mengerti maksud dari pandangannya itu. Dengan wajahnya yang masih masam, Ia berkata,

"Aku sudah menaruh Patrasche didalam kandang. Dia itu sebenarnya angkuh dan rewel bnget, tapi dia tidak ingin menyusahkan Natsuki-san, jadi dia nurut" (Otto)

"Mendengar itu darimu, membuatku ragu dengan Divine Protection 'Bisikan Binatang'mu itu. Kalau dia itu seorang wanita, Patrasche pasti akan jadi sangat kuudere, meskipun sebenarnya dia itu lembut hati. Kapan perubahan ini terjadi??" (Subaru)

"Gimana bisa aku tau hal semacam itu. Lebih penting lagi.." (Otto)

Ketika Subaru masih berusaha mengerti apa yang membuat Patrasche nurut banget sama dia, Otto mengalihkan pembicaraan ke masalah lain yang ada hubungannya sama naga itu.

"Apa yang harus kita lakukan terhadap gadis yang tidur didalam gerobak itu? Menurutku kasihan banget rasanya meninggalkan dirinya disana. Kalau kau lagi sibuk, aku bisa kok membawanya keruangan.........." (Otto)

"—Jauhkan jarimu itu dari Rem!" (Subaru)

Sama sekali tidak ada niat jahat dari tawarannya Otto. Tapi ucapannya begitu dingin... Subaru, dirinya begitu terkejut terhadap ucapannya yang begitu tajam, Disaat ia melihat Otto kaget.

Ini semua hampir terdengar seperti sebuah bisikan, kata-katanya begitu pelan dan kelam, gambaran dari beratnya beban yang ada di pikirannya. Untungnya sampai tidak terdengar oleh kuping para gadis itu, tapi tetap saja, Subaru benar-benar kesal oleh suara yang tidak diinginkannya malah keluar dari tenggorokannya.

loading...