Monday, 24 October 2016

Mondaijitachi ga Isekai kara Kuru sou desu yo? Chapter 5 part 1 Bahasa Indonesia


Translator: Exicore
Editor: Ise-kun

Chapter 5

Part 1

Gerbang Terluar Little Garden Nomor 2105380. Jalan Peribed, di depan air mancur Plaza.

Asuka, Yo, Jin, Kuro Usagi, Izayoi, dan kucing Belacu sedang dalam perjalanan menuju area permukiman Fores Garo saat seseorang memanggil mereka dari arah kafe yang ada di pinggir jalan dengan lambang Six Scar yang kemarin mereka datangi.

“Ah! Pelanggan yang kemarin! Apa kalian sekarang ini sedang dalam perjalanan menuju lokasi pertarungan!?” (Pelayan)

“Ah, nona dengan ekor yang cantik! Ya, ya, Ojou dan yang lainnya sedang dalam perjalanan menuju pertarungan!”

Pelayan bertelinga kucing itu mendekat ke arah Asuka dan yang lainnya kemudian menyapa mereka sembari menunduk.

“Bos menyuruhku untuk mendukung kalian! Komunitas kami juga cukup membenci mereka! Lagipula, mereka selalu melakukan hal semau mereka di area Bebas, Permukiman, dan Pertarungan di Gerbang Terluar Nomor 2105380. Tolong beri mereka pelajaran sehingga mereka tidak bisa lagi melakukan kejahatan!” (Pelayan)

Gadis bertelinga kucing dengan ekor yang bagus menyemangati mereka, melambaikan tangannya dengan penuh semangat.

Tersenyum pahit, Asuka membalas dengan anggukan yang tegas.

“Nn, itulah tujuan kami.” (Asuka)

“Ooh! Itu adalah balasan yang cukup meyakinkan!”, jawab si pelayan dengan telinga kucing dengan senyum lebar.

Tapi tiba-tiba saja, dia mengecilkan suaruanya dan kemudian membisikkan kepada mereka:

“Sebenarnya, aku punya sesuatu untuk diberi tahu kepada kalian. Aku mendengar bahwa [Fores Garo] tidak akan menggunakan area pertarungan di wilayah mereka untuk Game itu dan memilih menggunakan area permukiman mereka.” (Pelayan)

“Area perumahan?” (Usagi)

Orang yang bertanya dengan nada bingung adalah Kuro Usagi. Asuka memiringkan kepalanya karena bingung saat mendengar hal itu.

“Kuro Usagi. Apa yang ia maksud dengan ‘Area Pertarungan’?” (Asuka)

“Itu adalah area yang digunakan secara eksklusif untuk menyelenggarakan Gift Game.” (Usagi)

Area Pertarungan adalah area di dalam wilayah suatu Komunitas yang mana dikhususkan sebagai tempat pelaksanaan Gift Game. Jumlah orang yang memiliki Game Board di dimensi lain seperti Shiroyasha sangatlah sedikit. Apalagi di Tingkat Bawah.

Area Bebas terdiri atas fasilitas komersial dan rekreasi, dan Area Permukiman yang digunakan sebagai tempat membangun rumah, bertani dan mengembang biakkan hewan ternak. Setiap bagian Gerbang Terluar punya sangat banyak Area seperti itu yang saling berhubungan.

“Dan ada lagi! Mereka mengusir semua rekan mereka dan Komunitas yang ada di bawah komando mereka keluar dari sana!” (Pelayan)

“… Itu memang aneh.” (Asuka)

Asuka dan yang lainnya saling melihat satu sama lain dan memiringkan kepala mereka karena bingung.

“Benar kan!? Aku tidak tahu Game macam apa yang akan mereka selenggarakan, tapi apapun itu, tolong berhati-hatilah!” (Pelayan)

Setelah menerima dukungan bersemangat itu, mereka bergegas menuju ke area permukiman [Fores Garo]

“Ooh, semuanya! Kita bisa melihatnya… Sekarang.” (Usagi)

Untuk beberapa saat Kuro Usagi meragukan matanya sendiri. Yang lainnya juga memiliki pemikiran yang sama. Alasannya adalah karena area permukiman di depan mereka telah berubah menjadi daerah yang mirip dengan hutan. Mendekati pagar yang tertutupi tanaman merambat, Yo mengulurkan tangannya untuk menyentuh tanaman itu, ia kemudian bergumam saat melihat dedaunan rindang yang menutupi daerah itu dari cahaya mentari.

“… Hutan?” (Yo)

“Yah, ini adalah Komunitas dimana Harimau hidup. Jadi kurasa tidak aneh.” (Asuka)

“Tidak, ini sangat aneh. Area Permukiman [Fores Garo] seharusnya mirip seperti area permukiman yang lain… Dan juga pohon ini… Jangan-jangan…” (Jin)

Jin dengan hati-hati mengulurkan tangannya untuk menyentuh pohon itu. Akar pohon itu berdetak seperti makhluk hidup dan detakan itu terasa saat ia menyentuhya.

“Pohon ini sudah… mengalami demonified? Tidak, ini tidak mungkin…” (Jin)

“Jin-kun. Ada Geass Roll ditempel disini.”, Ujar Asuka.

Di gerbang itu ada kertas yang berisikan detail tentang Game kali ini.

<<NAMA GIFT GAME: “Berburu”>>

Daftar Peserta:

*Kudou Asuka

*Kasukabe Yo

*Jin Russel

Kondisi Untuk Menang:

*Membunuh Galdo Gasper, yang mana sedang berada di markas dari Host.

Cara Untuk Menang:

*Pembunuhan hanya boleh dilakukan dengan senjata khusus yang telah ditentukan oleh Host. Selain dari senjata itu, Galdo Gasper akan dilindungi oleh Geass dan tidak bisa dilukai.

Kondisi Kekalahan:

*Apabila Player menyerah, atau apabila Player tidak mampu memenuhi Kondisi Untuk Menang.

Senjata Yang Telah Ditentukan:

*Telah ditaruh dalam area Game

Sumpah: Menghormati peraturan di atas, No Name akan berpartisipasi dalam Gift Game dibawah banner mereka.

Segel “Fores Garo

“Membunuh Galdo adalah kondisi kemenangannya… Dan itu harus dilakukan dengan senjata khusus!?” (Jin)

“In-ini buruk!” (Usagi)

Jin dan Kuro Usagi hampir berteriak.

“Apakah Game ini seberbahaya itu?” Tanya Asuka kepada mereka dengan tampak khawatir.

“Tidak, Game-nya sendiri sederhana. Yang bermasalah adalah peraturannya. Dengan peraturan seperti ini maka ia tidak akan bisa dikontrol dengan Gift Asuka-san dan juga tidak akan bisa dilukai dengan Gift Yo-san…!” (Usagi)

Asuka bertanya kepada Kuro Usaagi dengan wajah bingung:

“… Jadi kenapa?” (Asuka)

“Dia tidaklah dilindungi oleh Gift, tapi oleh Geass. Dengan kondisi seperti ini, bahkan pemegang Divinity sekali pun tidak akan bisa melakukan apapun kepadanya. Dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri, ia berhasil menangani Gift milik kalian berdua!” (Usagi)

(Note: Divinity=Dewa, saya biarkan jadi Divinity aja, soalnya lebih enak dibaca begitu)

“Maafkan aku, itu adalah kesalahanku. Kita seharusnya menentukan peraturannya dari awal, saat kita akan membuat Geass Roll…” (Jin)

Karena yang menentukan peraturannya adalah Host, maka bermain dalam Game ini tidak lebih dari tindakan bunuh diri. Jin, yang belum pernah bermain dalam Gift Game sejauh ini, tidak tahu seberapa besar resiko dari bermain dalam sebuah Gift Game yang peraturannya dibuat secara sepihak.

“Jadi musuh membuat pertarungannya menjadi seimbang dengan cara mempertaruhkan nyawanya? Dari sudut pandang penonton, hal itu benar-benar membuat hal ini menarik.” (Izayoi)

“Kau terdengar sangat tidak perduli tentang ini… Perarturan ini cukup mengerikan. Belum lagi kita hanya bisa menggunakan senjata khusus, bertarung dengan kondisi ini akan menyusahkan.” Gumam Asuka saat melihat Geass Roll itu dengan ekspresi kesusahan.

Dia pasti merasa bertanggung jawab terhadap Game tersebut. Saat Kuro Usagi dan Yo menyadari hal itu, mereka memegang tangan Asuka dan berusaha menyemangatinya.

“T-tidak apa! Di Geass Roll jelas tertulis bahwa itu adalah senjata ‘khusus’! Berarti, akan ada petunjuk mengenai keberadaannya. Jika untuk suatu alasan petunjuknya tidak diberikan, maka itu akan dianggap melanggar peraturan dan kemudian Fores Garo akan kalah karena sudah melanggar peraturan. Selama Kuro Usagi ada disini, tidak akan ada kesempatan untuk bermain curang!” (Usagi)

“Tidak apa. Kuro Usagi mendukung kita dan aku juga akan melakukan yang terbaik.” (Yo)

“… Ya, benar. Dan juga, tindakan curang mereka ini harusnya bisa dengan mudah menghancurkan semangat mereka saat mereka kalah.” (Asuka)

Kuro Usagi dengan antusiasnya menyemangati mereka dan Yo terlihat termotivasi. Asuka juga semakin bersemangat saat mendengar kata-kata penyemangat dari mereka berdua.

Ini adalah pertarungan yang mereka mulai dan diterima oleh musuh mereka. Mereka tidak boleh menyerah selama masih ada kesempatan untuk menang.

Di belakang mereka, Izayoi berbicara dengan Jin mengenai apa yang mereka bicarakan semalam.

“Jika kau tidak memenangkan Game ini, maka strategiku tidak akan bisa digunakan. Jadi bila kau kalah aku akan meninggalkan Komunitas yang kau pimpin. Tidak ada perubahan rencana. Kau mengerti kan, Ochibi?” (Izayoi)

“… Aku mengerti. Kami tidak akan kalah.” (Jin)

Mereka tidak boleh kalah disini. Tiga kontestan itu kemudian membuka gerbang itu dan masuk.

Part 2

Membuka gerbang itu mungkin adalah pertanda dimulainya Game saat pohon-pohon itu mulai tumbuh dengan cepat dan cabangnya menutupi gerbang itu, menghalangi mereka keluar.

Pohon itu sangat kokoh bersama-sama, sehingga mereka bahkan mampu menghalangi sinar matahari. Sangat sulit membayangkan seseorang hidup di tempat seperti ini.

Tumpukan bebatuan yang dulunya merupakan jalanan dari batu bata telah hancur karena akar dari pohon besar yang tumbuh dari tanah, membuat jalanan itu tidak bisa dilewati oleh manusia. Oleh karena itu, mereka tidak bisa mengetahui darimana musuh akan menyerang.

Yo memberitahukan sesuatu kepada Jin dan Asuka yang terlihat gugup.

“Jangan khawatir. Tidak ada orang di dekat sini. Aku bisa mengetahuinya dari penciumanku.” (Yo)

“Oh, kau juga punya teman anjing?” (Asuka)

“Ya. Sekitar 20.” (Yo)

Gift Kasukabe Yo membuatnya mampu bertambah kuat setiap kali dia berteman dengan binatang. Itu juga alasan mengapa ia memiliki kemampuan fisik yang luar biasa. Kelima panca indranya seperti pendengaran dan penciuman lebih hebat daripada Izayoi.

“Apakah kau tahu lokasinya?” (Asuka)

“Aku masih belum tahu. Tapi aku tidak bisa mencium baunya meskipun ia melawan arah angin. Itu artinya ada kemungkinan yang besar bahwa dia berada di dalam sebuah bangunan.” (Yo)

“Kalau begitu, kita harus mulai mencari dari luar.” (Asuka)

Mereka bertiga mulai berjalan melewati hutan. Pohon-pohon aneh itu terlihat seakan menelan rumah-rumah itu karena pertumbuhan mereka, hampir semua rumah dihancurkan oleh batang dan akar. Area Permukiman yang seharusnya masih digunakan hingga kemarin sekarang sudah hancur.

Kuro Usagi berkata bahwa mustahil bagi Fores Garo untuk menyelenggarakan Game skala besar, namun apabila ia mampu membuat hutan misterius seperti ini dalam semalam, maka itu berarti mereka tidak boleh meremehkannya.

“Baginya, ini adalah kontes sekali seumur hidup. Dia mungkin punya satu atau dua trik tersembunyi.” (Asuka)

“Ya. Kenyataannya, sejarah pertarungannya hanya berisi pertarungan yang dimenangkan dengan cara biasa tanpa mengalahkan Host. Tidak aneh bila ia punya Gift yang kuat yang ia sembunyikan hingga sekarang. Yo-san, bahkan bila kau berhasil menemukan Galdo, tolong berhati-hatilah.” (Jin)

Berpisah dari mereka berdua yang berjalan, Yo melompat ke atas pohon tertinggi untuk mencari Galdo.

“… Tidak ada. Aku tidak bisa melihat apapun yang telihat seperti petunjuk, dan aku juga tidak bisa menemukan apapun yang mungkin bisa dijadikan senjata.” (Yo)

“Mungkin saja Galdo sendiri adalah senjatanya.” (Asuka)

Tidak mengorbankan apapun, berarti tidak mendapatkan apapun Itu memang adalah hal yang benar, tapi apabila mereka tidak memiliki senjata, mereka bisa diserang tanpa bisa melawan. Jika mereka berusaha melakukan taktik serang dan lari, maka mereka harus mengandalkan kemampuan Yo.

“Meskipun aku tidak menyukai ini, mari ganti rencana kita. Pertama, Yo-san, tolong cari Galdo dengan kemampuanmu.” (Jin)

“Aku sudah menemukannya.” (Yo)

Jin dan Asuka mengarahkan pandangan mereka ke arah yang Yo lihat dari atas pohon itu.

Dia melompat turun dari pohon itu dan menunjuk ke arah bangunan yang ada di ujung jalan batu bata yang hancur itu.

“Dia berada dalam markasnya. Meskipun aku hanya melihat bayangannya, tapi aku yakin.” (Yo)

Mata Kasukabe Yo berbeda dari mata normalnya dan dia melihat ke arah markas itu dengan mata emas seekor burung pemangsa. Dengan mata itu, jarak pandangannya akan bertambah.

“Kalau diingat-ingat lagi, kau juga punya teman seekor burung elang. Sekarang saat kau tiba-tiba saja di summon ke dunia lain, apakah kau tidak sedih?” (Asuka)

“S-saat kau mengatakannya seperti itu… rasanya agak sakit.” (Yo)

Yo terlihat sedih.

Asuka menepuk pundak Yo dengan senyum pahit saat mereka bertiga mulia bergerak menuju markas itu. Pohon yang menghancurkan jalanan itu sekarang menghalangi mereka, seakan-akan pohon itu diperintahkan oleh seseorang.

(Melakukan tindakan demonified kepada makhluk hidup sebanyak ini… Mungkinkah dia…?)

Jin hanya tahu satu orang yang bisa melakukan hal itu.

Namun, ia dengan cepat menyingkirkan pemikiran itu dari dalam kepalanya. Tidak mungkin ia ada disini.

“Lihat, bahkan bangunan itu pun ditelan oleh pepohonan.”

Mereka tiba di depan markas [Fores Garo]. Pintu itu memiliki lambang belang harimau yang tercoreng dan kaca di jendela hancur. Hiasan yang mahal itu hancur karena tanaman jalar bersama dengan tembok yang mulai berselaput.

“Galdo ada di lantai dua. Tidak masalah untuk masuk.” (Yo)

Seperti yang bisa diduga, bagian dalamnya juga hancur. Barang-barang yang di atur dengan rapi yang pastinya butuh cukup banyak uang agar dapat dibeli hancur dan berhamburan dimana-mana.

“Apakah Area Pertarungan Hutan itu… Benar-benar dibuat olehnya?” (Yo)

“… Aku tidak tahu. Maskipun host-nya hanya Galdo sendiri, dia tetap bisa meminta orang lain menyiapkan area pertarungannya.” (Jin)

“Meskipun dia meminta orang lain menyiapkannya, apakah orang itu tidak akan menaruh jebakan satupun?” (Yo)

Yo mengatakan masalah utamanya.

“Hutan adalah wilayah Harimau. Dia menyiapkan Area Pertarungan yang cocok untuk melakukan serangan kejutan… atau mungkin juga tidak. Jika itu memang alasannya, maka tidak ada artinya bersembunyi didalam markasnya. Ya, dan tidak ada juga alasan untuk menghancurkan markasnya.” (Jin)

Ya, itulah yang paling mencurigakan. Alasan mengapa markasnya terlihat sangat mewah pasti adalah karena Garo ingin memamerkannya. Bisa dibilang kalau itu adalah simbol dari ambisinya. Mengapa ia akan menghancurkan tempat seperti itu tanpa alasan?

Mereka bertiga mulai berjalan lagi, sekarang dengan perasaan yang benar-benar berbeda.

Mereka mengangkat dan memindahkan reruntuhan di sekitar dan juga menginvestigasi setiap sudut dan celah, tapi mereka tidak menemukan petunjuk ataupun objek yang terlihat seperti senjata.

Mungkin saja itu hanyalah sebuah jarum, atau benda dari besi yang tidak mungkin di angkat. Dan itu adalah hal yang tidak menguntungkan yang mungkin terjadi karena mereka membiarkan Host menentukan peraturannya. Tapi bahkan bila itu hanyalah perasaan belaka, yang tidak akan mengubah hasil dari Game itu, mereka lebih memilih untuk berhati-hati.

“Kita akan menuju ke lantai dua, tapi Jin-kun, kau harus menunggu disini.” (Asuka)

“Ke-kenapa? Aku juga punya Gift. Aku tidak akan menjadi beb-“ (Jin)

“Bukan itu alasannya. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi di atas sana. Jadi kita harus berpencar menjadi dua grup, Kasukabe-san dan aku akan mencari petunjuk di atas tentang cara untuk menang, dan aku ingin kau yang bertugas menjaga jalan keluar.” (Jin)

Meskipun itu adalah jawaban yang masuk akal, Jin masih tidak puas. Namun, ia juga tahu seberapa pentingnya tugas untuk menjaga jalan keluar. Jadi Jin dengan berat hati menunggu di bawah. Dihalangi oleh akar, Asuka dan Yo hanya bisa mendekat ke lantai dua dengan pelan dan tanpa suara. Setelah mencapai lantai dua, mereka menempatkan diri mereka sendiri ke masing-masing sisi dari pintu terakhir dan menunggu sebuah kesempatan. Mereka berdua menahan nafasnya, dan saat mereka akan masuk setelah membulatkan hati mereka, mereka mendengar sesuatu dari dalam,

“Gr…”

“…………… GRRRRRRROAAAARRRRR!!!”

Seekor Harimau raksasa yang tidak lagi bisa berbicara berdiri di depan mereka, dengan membelakangi sebuah pedang perak yang terlihat seperti pasak.

Part 3

Raungan binatang buas mencapai telinga Kuro Usagi dan Izayoi, yang mana sedang menunggu di gerbang depan. Semua burung liar yang bersembunyi dalam hutan terbang menjauh, pergi dari hutan itu secepatnya.

“Ra-raungan mengerikan tadi itu apa…?” (Usagi)

“Ah, itu pasti Kasukabe yang lagi menggunakan Gift harimau.” (Izayoi)

“Oh, jadi begitu, -Tunggu, itu nggak mungkin! Jahat banget, tidak peduli dari sisi mana kau melihatnya!”

Telinga Kuro Usagi berdiri karena amarahnya. Izayoi tidak serius saat ia mengatakan hal itu, tapi ia kemudian mengangkat bahunya kemudian mengubah jawabannya.

“Kalau begitu itu pasti Jin Bocchan.” (Izayoi)

“Hentikan tebakan-tebakan bodohmu itu!”, ujarnya sembari memukul Izayoi dengan kipas kertas ekslusifnya. Sepertinya mereka bosan. Izayoi mematahkan sebuah batang dari pohon yang tumbuh di sekitar gerbang dan mematahkannya menjadi dua sembari tersenyum.

“Mendengar raungan itu dan melihat area pertarungan ini, sepertinya Game ini menjadi lebih menarik daripada yang ku duga. Apa kita bisa pergi melihat-lihat kedalam?” (Izayoi)

“Ada Game yang bila ingin ditonton harus membayar terlebih dahulu, tapi itu hanya berlaku bila kedua belah pihak telah menyetujui hal tersebut, selain daripada itu, maka tindakan tersebut dilarang.” (Usagi)

“Apa? Nggak seru ah. Bukannya kita bisa berpura-pura sebagai [Judge Master] dan sebagai penjaganya?” (Izayoi)

“Seperti yang kubilang, kita tidak boleh melakukannya. Telinga kelinci yang luar biasa ini bisa mengetahui situasinya bahkan walau kita berdiri disini. Selama kita tidak terpisah oleh dimensi yang mana membuat tidak bisa mengerti situasinya, mendekat ke mereka adalah hal yang terlarang.” (Usagi)

Tsk…, Izayoi membunyikan lidahnya dan bergumam sambil mematahkan batang pohon secara vertikal.

“… kelinci bangsawan yang tidak berguna.” (Izayoi)

“Setidaknya katakan itu di tempat dimana aku tidak bisa mendengarnya! Perkataan seperti itu benar-benar membuat Kuro Usagi sakit hati!” (Usagi)

Kuro Usagi memukul Izayoi dengan pelan . Namun kenyataannya Kuro Usagi tahu benar seperti apa situasi yang sekarang dan jatnungnya berdegup kencang, berdoa agar mereka bertiga selamat.

(Tanaman yang mengalamai demonified ini… Dia pasti terlibat. Itu artinya Game ini sudah dibuat dengan peraturan yang adil. Semuanya tolong kembalilah dengan selamat!) [Usag]

Part 4

Harimau itu bergerak sangat cepat sehingga mata mereka kesulitan mengikuti gerakannya. Orang pertama yang bereaksi adalah Yo, mendorong Asuka menjauh, melindunginya.

Dia hampir saja terkena serangan Galdo dan kemudian berteriak ke arah Asuka, yang amana didorong ke dekat tangga.

“Lari!” (Yo)

Hanya itu kata-kata yang perlu ia katakan. Galdo tidak lagi terlihat seperti manusia serigala yang mereka lihat kemarin, apa yang mereka lihat adalah monster harimau dengan mata merah menyala. Segera setelah Jin, yang aman sedang menjaga jalan keluar melihat Galdo, dia dengan cepat mengerti situasinya.

“Demonification, dan juga dari Ras Vampir! Seperti yang kuduga, itu adalah ulahnya…” (Jin)

“Jangan bergumam, kita harus segera pergi dari sini.” (Asuka)

Asuka menarik kerah Jin dan kemudian melompat turun dari tangga. Telah memilih Asuka dan Jin sebagai targetnya, Galdo melompat ke depan untuk mengahalangi mereka.

“ROOOOAAAARRRR!!!”

“Tunggu, tolong tungg! Yo-san masih di atas!” (Jin)

“Tak usah terlalu dipikirkan, lari saja!” (Asuka)

Karena perintah Asuka, kesadaran Jin berubah menjadi seperti kapal kecil yang terombang ambing oleh ombak pasang. Perasaan ‘harus melarikan diri’ menyebar hingga ke bagian terdalam pikirannya dan ia merasa bahwa setiap bagian dirinya terlah berkonsentrasi tentang ‘bagaimana caranya kabur dari gedung itu’. Jin mengambil tangan Asuka dan berkata:

“Kita akan segera keluar dari sini.” (Jin)

“Eh?” (Asuka)

Ia kemudian memegang pinggul Asuka, kemudian berlalri keluar. Hasilnya Asuka digendong oleh Jin tanpa persetujuan dirinya sendiri. Meskipun jalan itu cukup sulit dilewati, Jin berlari dengan kecepatan binatang buas.

“Tu-tunggu sebentar.” (Asuka)

Mungkin saja Galdo tidak bisa meninggalkan gedung itu. Karena ia hanya menatap mereka pergi kemudian kembali lagi masuk ke dalam gedung itu. Mereka telah melewati pohon yang sangat besar yang sebelumnya dan Asuka masih berada di gendongan Jin. Itu tidak masalah, tapi bergerak lebih jauh lagi dari gedung itu akan mengacaukan rencana. Asuka segera memberikan perintah:

“Sudah cukup, cukup! Hentikan ini secepatnya!” (Asuka)

“Baiklah. … Huh?” (Jin)

Jin berhenti saat ia akhirnya kembali tersadar. Hanya untuk mendapati dirinnya sendiri di tengah-tengah hutan saat hal yang terakhir yang ia ingat adalah berada dalam markas Fores Garo. Mnambah keterkejutannya, fakta bahwa ia menggendong Asuka di situasi yang seperti ini hanya menambah pertanyaannya.

“Wa-wa!” (Jin)

“Kya-!” (Asuka)

Jin jatuh ke belakang saat ia sudah kehabisan kekuatannya. Sangat jelas bahwa ia terjatuh karena menggendong Asuka. Di sisi lain, Asuka terlihat tidak senang saat ia menekan dirinya ke Jin dan mencubit bibirnya.

“Permisi, bukankah yang tadi itu sedikit kasar? Cara kau terjatuh, itu seakan berusaha mengatakan kalau aku ini sangat berat.” (Asuka)

“T-tidak bukan itu, bukan itu, sama sekali bukan itu! Kekuatanku meningkat begitu banyak sehingga aku sendiri tidak percaya… Apakah itu karena Gift Asuka?” (Jin)

Asuka mulai berpikir dan melepaskan pipi Jin. Itu sebenarnya bukan tujuannya, tapi sepertinya dia tidak berpura-pura. Mengesampingkan hal itu, Asuka mengatakan sesuatu pada Jin tentang apa yang ia lihat di lantai dua.

“Pasak perak yang Galdo lindungi… pasak dan perak. Galdo yang berubah menjadi Vampir. – Tidak salah lagi. Senjata khususnya adalah pedang berbentuk pasak itu.” (Jin)

“Berubah menjadi Vampir?” (Asuka)

“Ya. Sebenarnya Galdo adalah Manusia Harimau yang mendapatkan kekuatan dari Gift Manusia, Harimau dan Iblis. Namun ada kemungkinan besar kalau ia berubah menjadi Jenis Iblis karena vampir.”

Itu juga merupakan alasan mengapa Galdo berubah menjadi harimau. Karena ia sudah menjadi vampir, maka ia tidak bisa lagi berubah menjadi manusia. Itu karena Gift yang mengizinkannya berubah bentuk ke wujud manusia telah diubah menjadi Jenis Iblis.

“Mungkinkah area pertarungan ini juga tidak disiapkan olehnya, tapi oleh vampir itu?” (Asuka)

“A-aku tidak yakin ini adalah pekerjaan vampir. Vampir adalah ras yang sangat langka di Bagian Timur. Namun ada kemungkinan yang sangat tinggi, bahwa ada dalang di balik semua ini. Karena musthail bagi Galdo, yang sudah kehilangan akal sehatnya untuk menciptakan area pertarungan seperti ini.” (Jin)

“Jadi begitu… Aku tidak tahu siapa itu, tapi kurang ajar juga ya ntuh orang.” (Asuka)

Asuka berbalik terlihat tidak senang. Fakta bahwa orang luar ikut campur dalam Game yang ia mulai, sudah cukup untuk membuatnya marah. Kemudian, semak-semak di samping mereka mulai bergerak-gerak.

“Siapa itu?” (Asuka)

“… Aku.” (Yo)

Yang keluar dari balik semak itu adalah Yo yang mana tubuhnya tertutupi dengan darah. Setelah mereka melihat tangan kanan Yo yang berdarah, mereka hampir berteriak.


“Ka-Kasukabe-san! Apakah kau baik-baik saja!?” (Asuka)

“Aku tidak… baik-baik saja. Ini sangat sakit. Aku mungkin akan menangis.” (Yo)

Setelah mengatakan hal itu dia terjatuh ke tanah karena kakinya kelelahan. Dia memegang pedang perak di tangan kanannya.

“Mungkinkah kau berusaha mengambil pedang itu sendiri?” (Asuka)

“Aku ingin mengalahkannya… maaf.” (Yo)

Tidak ada yang tahu mengapa ia meminta maaf. Tanpa menunggu lagi, Yo kehilangan kesadarannya.

“I-ini buruk! Abaikan dulu lukanya, ia sudah kehilangan banyak darah! Kalau begini terus…!” (Jin)

Nyawa Yo berada dalam bahya karena terlalu banyak kehilangan darah. Bahkan walau mereka ingin segera memberinya pertolongan pertama., tidak ada alat yang bisa menghentikan pendarahan itu dalam kondisi mereka saat ini. Asuka berdiri terlihat seakan telah memutuskan sesuatu, ia kemudian mengambil pedang itu dan memberitahu Jin.

“Aku akan pergi dan membunuh harimau itu. Jin-kun, tunggu disini.” (Asuka)

“A-Asuka-san!? Tidak mungkin, itu tidak mungkin dilakukan sendirian! Memang sangat disayangkan, tapi kita harus menyerah! Nyawa Yo-san juga berada dalam bahaya! Kita tidak boleh membahayakan nyawa rekan kita disini!” (Jin)

Itu berarti juga akan membiarkan Izayoi pergi dari Komunitas mereka, tapi itu bukanlah masalah yang penting sekarang. Kalau terus seperti ini, maka mereka akan kehilangan Yo dan Asuka. Namun Asuka membalas Jin yang sedang khawatir dengan suara yang tenang.

“Tidak apa. Tidak perduli seberapa kuat lawannya, aku tidak akan kalah melawan binatang buas tanpa alasan – Dan bukankah menurutmu itu menjengkelkan? Kasukabe-san berpikir bahwa kita tidak bisa menang dan kemudian bertarung sendirian.” (Asuka)

Untuk mengalahkan Galdo, yang mana mendapat kekuatan ras Iblis, dia telah menganggap bahwa mereka berdua hanya akan menjadi beban. Yo berteriak ‘Larilah!’ saat ia melihatnya. Itu karena pada saat itu juga hanya Yo yang bisa menahannya.

Namun Asuka berpikir bahwa Yo akan segera mengikuti mereka. Asuka berniat untuk mengatur kembali rencana dan menyerangnya untuk kedua kalinya, tapi sebaliknya, Yo malah mengambil pedang itu dan memutuskan untuk bertarung sendirian. Berdasarkan penilaian Kasukabe Yo, Asuka tidak dibutuhkan bila ia tidak bisa menggunakan Gift miliknya.

“Pendarahannya, bisakah kau menghentikannya?” (Asuka)

“Eh? …. Ah, bisa.” (Jin)

Asuka melepaskan kedua pita yang melekat di rambutnya. Dia memastikan sekali lagi kemudahan untuk bergerak dalam gaun merah itu sebelum berbalik melihat Jin.

“Aku akan mengakhirinya dalam 10 menit. Bertahanlah untuk sementara.” (Asuka)

“…”

Mungkin untuk merespon suara Asuka, Yo melambaikan tangan kirinya untuk berkata ‘Sampai jumpa!’.

Part 5

Galdo Gasper sedang berbering di ruangan yang terdapat di lantai dua markasnya. Kaki kirinya yang telah terkena serangan dari pertarungan sebelumnya berdarah dengan hebatnya.

(… Apakah ini karena pedang itu?)

Galdo tidaklah mengetahui peraturannya. Tidak, lebih tepatnya, dia sudah kehilangan kemampuan manusiawinya. Sepertinya ada orang yang dikirim oleh Vampir berambut pirang itu untuk memberitahu Galdo peraturannya tapi orang itu sudah berhenti bernafas – Karena ia telah menjadi makanan pertama Galdo yang berubah menjadi Vampir. Galdo merasa bahwa orang itu mungkin masih berada dalam perutnya di dekat hatinya entah dimana, tapi dirinya yang sekarang tidak lagi bisa mengingat hal seperti itu dengan jelas.

Dia yang tidak tahu peraturannya hanya menjaga pedang itu karena instingnya.

Sejak hari dimana ia menjual jiwanya kepada Iblis, Galdo belum pernah bersentuhan dengan benda dari perak. Dan itu karena alasan yang sama dengan alasan yang dimiliki oleh Manusia Harimau – Karena ia takut kepada karakterisitik perak.

(Saat dimana ia hidup sebagai harimau, ia tidak takut akan apapun. Tidak, faktanya, tidak ada didalam hutan yang pantas ia takuti… Kemudian mulai dari kapan ia berubah menjadi pengecut yang punya banyak hal yang ditakuti?)

Itu semuanya dimulai di hari dmana ia berhasil berubah menjadi Manusia dan hidup di Little Garden, Galdo mulai takut akan banyak hal. Karena di dalam dunia Little Garden, jumlah orang yang lebih kuat darinya bisa dibilang lebih banyak daripada jumlah bintang di langit.

Telah berhasil mendapatkan kekuasaan dengan penuh perjuangan, jumlah hal yang ia takuti malah semakin bertambah. Saat ia mengetahui bahwa sebuah Komunitas [No Name] memiliki [Bangsawan Little Garden], ia hampir kehilangan kontrol karena rasa cemburu.

(Kekuasaan dan Komunitas itu sudah hancur… Satu-satunya hal yang ia miliki sekarang adalah gedung itu.)

Bukannya dia tidak bisa meninggalkan gedung itu, tapi dia tidak ingin melakukannya.

Hal terakhir yang ia miliki untuk menjaga akal sehatnya yang ia dengan putus asa terus jaga sembari mengisi pikirannya dengan pikiran untuk menjaga wilayah kekuasaannya sehingga ia tidak lagi memikirkan tentang Game itu karena sudah tidak ada lagi tempat kosong dalam pikirannya yang hampir kehilangan akal. Dan ia tetap tinggal dalam kantornya yang sudah ia hias dengan indahnya yang merupakan lambang harga diri Galdo yang terakhir.

Karena itulah Galdo tidak akan mengampuni siapapun yang berani masuk ke dalam gedung ini yang merupakan wilayah kekuasaannya.

Meskipun itu berarti ia harus menghadapi Vampir pirang itu, Galdo akan melawannya tanpa rasa takut. Manusia Harimau yang mana telah disingkirkan – akal sehatnya, akan kembali seperti semula dimana dia tidak mempercayai siapapun kecuali dirinya sendiri.

Tapi kemudian markasnya itu mulai mengalami perubahan yang aneh.

(…?)

Bau yang masuk ke hidungnya adalah bau yang mengingatkannya pada masa lalu karena mirip dengan bau yang sama dengan bau yang ia cium dalam hutan. Namun entah mengapa, ia tidak bsa mengingat situasi macam apa yang berhubungan dengan bau itu. Tapi itu tidaklah menghentikan perasaan tidak tenangnya.

Selama tidak ada orang yang menyusup masuk, maka ia tidak akan meninggalkan lantai dua. Tapi perasaan tidak tenangnya akhirnya mencapai titik dimana dia memilih mengubah keputusannya dan telah berhasil membuat Galdo ketakutan. Tidak tahan lagi, dia keluar dari ruangan itu dan apa yang ia lihat saat keluar membuatnya terkejut.

(Bangunannya… Terbakar…?)

Dibandingkan dengan amarahnya, insting binatangnya telah berhasil memenuhi hatinya dengan rasa takut saat ia melihat pemandangan di lantai satu. Rasa takut akan api dari binatang buas dan menambah rasa takut itu, adalah fakta bahwa ia trauma dengan api. Saat ia masih kecil, dia pernah menyaksikan hutan dihancurkan oleh api yang ganas.

Dan api yang sama pun telah menghancurkan hal terakhir yang menjaga keberadaan sedikit akal sehatnya sebagai manusia.

“…………… GRRRRROAAARRRRR!!!”

Galdo berlari keluar dari bangunan itu dengan cepat. Hal terakhir yang menjaga keberadaan akal sehatnya telah terbakar and sekarang dia sudah dikendalikan oleh insting binatangnya. Yaitu pemikiran yang membuatnya berlari dalam hutan untuk mencari manusia yang bisa dijadikan mangsa karena rasa laparnya setelah berubah menjadi Vampir. Dan bau darah terdekat juga tidaklah jauh darinya.

Melompat dari pohon ke pohon yang mana terlihat di susun untuk memberinya jalan, Galdo sampai pada tujuannya.

“… Aku sudah menunggumu meskipun kau sebenarnya datang lebih cepat daripada perkiraanku.” (Asuka)

Harimau itu memperlambat langkahnya. Bukan karena waspada. Tapi karena obor menyala yang dibuat dari benda kayu dan juga pedang perak di tangannya.

“Ara? Apakah kau ketakutan setelah sampai kesini? Semua hal yang sudah kau bangun di [Fores Garo] sudah hilang bukan? Kalau begitu kau seharusnya bisa mengeluarkan keberanian milikmu yang pantas disebut sebagai keberanian dari Raja Hutan, benar kan?” (Asuka)

Meskipun ia diejek, harimau itu tidak bisa memahami bahasa manusia. Terlebih lagi bila dia memang masih memiliki bahkan walau itu hanya secuil dari akal sehatnya, maka ia akan menyadari keanehan dari hutan itu. Yaitu pohon yang seharusnya tumbuh sangat lebat dan rapat untuk mengahalangi orang keluar kini sudah bergerak ke samping, seakan akan dibuat seperti itu.

“Mungkinkah kau tidak bisa memahami apa yang aku katakan? Oh benar, kau sudah berubah menjadi binatang sekarang.” (Asuka)

Asuka berdiri di depan Galdo pada jalanan yang terbuka karena pohon yang bergerak ke samping. Galdo yang sudah berubah menjadi Vampir seharusnya mampu bergerak lebih cepat daripada Cheetah dan dengan mudahnya menancapkan gigi-giginya ke tenggorokan Asuka yang tidak dijaga. Tapi obor yang menyala di tangan Asuka telah menghalanginya melakukan hal itu.

“Kondisi Kasukabe-san juga harus dipertimbangkan. Aku tidak boleh membuang waktu lagi, jadi...” (Asuka)

Asuka melempar obor itu kesamping sebagai tanda. Mengangkat pedang pasak perak itu, ia memiringkan ujung dari pedang itu dan bersiap untuk bertarung.

“Ini adalah duel satu lawan satu, jadi majulah.” (Asuka)

“… ROAAAAAAAAR!!!”

Galdo berlari lurus untuk menyerang. Dan jika dia punya sedikit saja kecerdasan, dia seharusnya sudah menyadarinya…

Dalam situasi dimana jalanan tersebut lurus dan sempit yang mana membatasi gerakan seseorang, maka ia tidak akan bisa lari.

“Hmph…!” (Asuka)

Menghadapi Galdo yang menuju ke arahnya dalam garis lurus, Asuka juga mengubah posisinya untuk menyambut Galdo. Namun hanya dengan lengan kurus Asuka, maka ia tidak akan bisa membunuh seekor harimau.

Sesaat setelah pertarungan dimulai, pedang pasak preak itu mulai mengeluarkan cahaya terang. Gift Asuka – [Authority], yang mana awalnya adalah berlian mentah yang belum dipoles, sekarang mengalami perubahan sesuai kekuatan keinginannya.

Sejumlah besar bakat yang belum terasah dan tekad Asuka ditambah dengan pemberian kekuatan terhadap beberapa tanaman menyebabkan suatu fenomena dalam alam bawah sadarnya… Ini adalah sesuatu yang disarankan oleh Kuro Usagi kepada Asuka di malam sebelumnya dalam markas Komunitas.

Menurut Kuro Usagi, bakat Asuka yang belum terasah sudah mengarah ke arah [Subordinasi] karena manipulasinya terhadap Gift yang sering ia lakukan ke arah tersebut.

“Jadi itu berarti bahwa kekuatanku juga bisa digunakan untuk menundukkan mereka yang bukan manusia atau makhluk hidup?” (Asuka)

“YES! Jika Asuka-san memutuskan untuk memiliki kekuatan lebih dari apa yang sudah kau miliki dan bisa mengontrolnya, kau akan belajar tentang [menargetkan sesuatu] dan menghasilkan [sebuah keajaiban]. Namun itu mungkin untuk mengubah arah dari kekuatan itu, meskipun itu akan memakan waktu lama, bahkan mungkin seumur hidupmu. Kuro Usagi menyarankan agar kau terus saja melatih bakatmu yang sudah kau—“ (Usagi)

Namun, Asuka menolak ide untuk membuatnya mampu mengontrol orang lain. Itu karena dia benar-benar ingin berteman dengan Kasukabe Yo dan Sakamaki Izayoi yang mana tidak perlu dia kontrol agar mereka berteman dengannya.

“—Kalau begitu Kuro Usagi akan mengajarimu cara untuk meningkatkan kekuatanmu dengan cepat tanpa perlu bergantung kepada kekuatan orang lain.” (Usagi)

Tidak bisa mengabaikan bakatnya yang sekarang dan fakta bahwa akan memakan waktu lama untuk menciptakan bakat baru, Asuka dengan rela menerima kekuatan yang cocok dengan bakat subordinasi yang selama ini ia benci. Dan mulai mengarahkan Gift miliknya ke arah [Gift yang mampu mengontrol Gift lain]

Sekarang! Tahan dia!” (Asuka)

Dibawah perintah Asuka, cabang-cabang yang sudah mengalami demonified bergerak menuju Galdo.

Tujuan asuka membuat jalanan lurus adalah untuk menutup jalan keluar musuhnya. Bahkan walau ia dilindungi oleh Gess Roll, jalanan yang sempit juga akan membatasi gerak yang bisa ia ambil dan ini adalah rencana yang Asuka buat agar ia menang menggunakan akalnya karena tenaganya tidak akan cukup untuk membunuhnya.

Asuka maju dengan pedang pasak perak yang mengeluarkan kekuatan pemusnahannya hingga maksimun saat Galdo ditahan oleh akar pohon hanya beberapa inci jauhnya dari ujung pedangnya.

“GROAAAAAR!!!”

Harimau yang terlihat seperti monster itu mengeluarkan raungan penuh amarah saat ia berusaha keras untuk melepaskan diri. Tapi sebelum ia mampu membebaskan dirinya sendiri, Asuka mengangkat pedang itu dan menusukkan pedang pasak perak – yang mana kekuatannya pemusnahannya telah mencapai maksimun karena Gift Asuka – ke tempat di antara mata binatang buas itu.

“ROArr…!”

Dengan cahaya yang terang keluar dari pedang itu ditemani oleh erangan kematian yang keluar, menandakan akhir dari Harimau itu berada di wilayah mereka yang hidup.

Asuka yang mana terlempar karena beberapa serangan terakhir harimau itu menghantam pohon dengan keras. Dan karena hal itu, dia terbatuk-batuk sebelum mengisi kembali paru-parunya agar ia mampu berdiri.

Dengan senyum pahit yang bercampur dengan ekspresi sarkastik, dia berkata kepada mayat Galdo:

“Bukan berarti ini akan berarti untukmu sekarang… Tapi kau terlihat lebih baik sebagai Harimau.” (Asuka)

loading...