Thursday, 6 October 2016

Daraku no Ou Chapter 1 Part 4 Bahasa Indonesia


Translator: Ernesta Yuki
Editor: Kirz
Proofreader: Ise-kun

The Lazy King Chapter 1 : Acedia [Kemalasan]

Part 4 : Kemalasan dan Kejahatan

Biarpun aku tidak mengharapkan status Demon Lord ini, selama aku masih Lord, Aku punya orang-orang ku sendiri.. Pengikutku sendiri. Aku musuh alami para umat manusia, dan dibeberapa negara atau sejenisnya, beberapa pengikut suatu dewa melihatku sebagai musuh bebuyutan mereka. Oh iya tambahan, kalau beberapa Demon dan Demon Lord mengincar diriku demi kepentingan diri mereka sendiri. Singkatnya, Aku punya banyak musuh.

Meskipun aku tidak melakukan apa-apa, aku punya banyak musuh. Semua ini akibat kesombongan dari penguasa Kanon itu, orang yang menyatakan 'dominasi dunia' atau dominasi surgawi atau dominasi neraka atau beberapa keinginan hebat lainnya yang tidak ada gunanya sama sekali.
(ED Note: dominasi - penguasaan oleh pihak yang lebih kuat)

Kalau tidak ada orang yang menjadi pengikutku, yah karena aku tidak suka berkelahi, Aku bisa saja mati. Setiap triwulan, seseorang dengan julukan 'Pahlawan' atau 'Savior Class' mencoba melakukan penyerangan, dan sesekali atau dua kali setiap tahunnya, tentara surgawi datang untuk membunuhku. Sesekali atau dua kali dalam sebulan, aku diseret ke dalam beberapa perang yang terjadi di Neraka. Merepotkan sekali. Aku sendiri tidak bertarung, jadi aku dipandang sebagai salah satu Demon Lord yang moderat. Sepertinya dunia sudah ada di penghujung akhir.

Pengikut Great Demon King ini yang tampaknya diberi nama Lize menyilangkan tangannya sambil menatapku dengan ekspresi yang kurang menyenangkan.

"Demon Lord, Leigie of the Slughter Dolls. Untuk pencapaian mu di Penjara Api dalam perang melawan Demon Lord Granzer Esther, di bawah nama besar Great Demon King Kanon, Kau telah dipromosikan ke peringkat ketiga di antara Demon Lord, dan telah dianugerahi kekuatan Demon Blade Celeste."

"Oh."

Ini bukan sesuatu yang menarik perhatianku.
Seakan dengan enggan menyerahkan pedangnya kepada ku, aku melemparkan pedangnya ke samping tanpa melihatnya.

Aku tidak butuh pedang. Tapi itu bukan berarti aku ingin perisai atau apapun, dan tentu saja, aku tidak ingin medali juga. Aku benar-benar tidak ingin status juga. Semua yang aku inginkan adalah waktu yang tenang untuk beristirahat.

"AAAAAAAAH, apa yang kau lakukan pada pedang Kanon-sama yang secara pribadi mengirim mu!?"

Dalam situasi yang panas ini, Lize mengambil pedangnya, dan memeluknya seolah-olah itu adalah artefak yang berharga sambil dia menatapku.
Aku bahkan tidak tahu perbedaan antara Demon Blade dengan yang biasanya, dan aku bahkan tidak pernah turun dari kasur, jadi aku tidak memiliki kesempatan untuk menggunakannya. Bahkan pisau dapur akan menjadi lebih berguna untukku.

Yah, aku tidak akan menggunakan itu juga, tapi...

"...Aku tidak bisa menerima ini. Kenapa kau bisa-bisanya mendapatkan promosi!? Kau bahkan tidak melakukan apa-apa!"

"Ntah lah."

Itu sesuatu yang harus kau tanyakan ke mastermu. Aku berani bertaruh kalau melakukan itu tidak akan menyia-nyiakan waktumu.

Hanya bertatapan dengannya sudah membuatku bosan, jadi aku berbaring dengan posisi tengkurap.
Lize sudah menghancurkan yang satunya lagi dengan sangat indahnya, jadi ini yang baru. Pada awalnya, aku merindukan punyaku yang lama, tapi sekarang hal itu tidak kupedulikan. Semua yang kuperlukan saat ini adalah tidur yang nyenyak.

(TLN: Mungkin yang baru maksudnya kasurnya)

Aku bahkan tidak tahu alasan pengangkatanku, dan aku tidak tahu peringkat ku yang sebelumnya pertama kali kudapatkan. Aku bahkan tidak tahu apakah peringkat tiga itu tinggi atau tidak.

Semua itu tidak terlalu penting.

Tapi mungkin karena dia tidak puas dengan sikapku, Lize mulai menghentakan kakinya. Aku tidak tahu berapa lama telah berlalu sejak dia pertama kali datang ke sini, tapi kesan pertamaku terhadap kecantikannya telah hancur dengan tanpa adanya jejak yang tersisa sama sekali. Menurutku benar adanya kalau kau bisa bosan oleh kecantikan. Satu-satunya yang tersisa adalah sifat mengganggunya itu, dan aku juga mulai terbiasa dengan itu.

"Jangan berpikir aku tidak tahu! Yang memimpin pasukanmu adalah Deije the Usurper! Dia memimpin itu seperti saat dia melakukan penyerangan terhadap tentara Granzer!"

"Oh."

Siapa dah Deije the Usurper itu?
Yaa, aku tidak peduli. Jugan Aku tidak setertarik itu.
Lize menghela napas saat Ia menatap wajahku. Sama sepertiku yang mulai terbiasa dengannya, menurutku dia juga mulai terbiasa denganku. Inilah kekuatan dari adaptasi manusia.

"Itu strategi yang bagus sekali. Kukira rumor kalau pasukan Leigie the Depraved yang terkuat itu benar. Mereka menginjak-injak pasukan Granzer ini seolah-olah mereka itu anak kecil... Aku jadi tahu mengapa Kanon-sama membiarkan perilakumu saat ini."

"Oh."

"...Apa kau mendengarkanku?"

"Oh."

Aku memutar badanku sekali lagi, dan meraih guling itu yang tingginya hampir sepertiku. Aku suka tidur, tapi aku juga suka berguling-guling setelah bangun. Alis Lize terangkat saat dia menarik guling itu dariku. Tidak ada yang bisa aku lakukan, jadi aku memeluk selimut sebagai gantinya.

"...Lagi pula, aku hanya dikirim untuk mengawasi mu oleh Great Demon King, tapi biarkan aku menasehatimu. Sebagai Demon Lord, kau harus menyajikan sesuatu kepada Deije atas pengabdiannya yang begitu terhormat."

"...Oh iya... Deije itu siapa lagi dah?"

"Haaaaaah!? Mungkinkah kau bahkan tidak ingat anggota Pasukanmu sendiri?"

Seperti itulah Sloth itu. [kemalasan]
Dan aku tidak memiliki ketertarikan terhadap Demon yang dikenal sebagai Deije itu. Sedikit merepotkan, tapi.. Aku menunjuk pedang yang Lize pegang dengan eratnya.

"... Aku akan memberinya pedang itu."

"Hah? Apa kau serius? Tidak peduli seberapa terhormatnya dia, kau akan memberikan Demon Blade yang diberikan oleh Great Demon King kepadamu, ke Demon biasa seperti dirinya?"

"Aku tidak membutuhkannya. Kalau hadiahnya beberapa kasur, mungkin aku akan mempertimbangkannya lagi."

Kasur baru, atau mungkin bantal, atau bahkan mungkin pengganti kursi yang telah dihancurkannya secara brutal. Kanon sebenarnya agak murah hati, jadi aku berani bertaruh dia akan menyiapkan sesuatu yang bagus.

"Barang Ilahi... harta para dewa... Bahkan jika kau mungkin Demon Lord, menurutmu Demon seperti kau bisa menggunakannya?"

Ini adalah pertama kalinya aku melihat Lize menatapku dengan mata yang seolah-olah dia sedang melihat monster. Itu, tanpa diragukan lagi, kesalahpahaman, tapi mengkoreksinya akan sangat merepotkan.

"...Ah iya..."

"Begitu ya... jadi kau bukan pemalas yang biasa..."

Pemalas... Wanita ini mengatakan beberapa hal yang menarik.

Yah, dia bisa mengatakan apapun yang dia inginkan. Aku tidak tertarik terhadap ucapannya.

Aku memutar badanku sekali lagi. Selimut ini hangat, dan berat. Selimut ini memberikan rasa aman. Setelah menyelesaikan semua hal yang aku atur sebelumnya untuk dilakukan, aku menguap sedalam aku memejamkan mata.

"Ah, tunggu sebentar Leigie-sama."
( TLN : Jadi selama ini ada sebuah kesalahan. Karena aku baru nyadar kalau Leigie itu namanya si Demon Lord :v )

Berisik banget nih orang. Selalu saja seperti ini. Setiap kali aku mencoba untuk tidur, semua orang menghalangi jalanku.
Aku akan tidur bagaimanapun juga.

"Oy, Demon Lord. Ada Deije tuh."

Seperti yang ku katakan, Siapa sih tuh orang?
Aku memutar bahuku, dan memaksa membuka kelopak mataku yang berat ini.
Di depanku ada satu orang.
Dia adalah seorang pria besar dan berotot. Wajah tanpa janggutnya seperti topeng tak bercorak yang halus, dan di atas itu tumbuh sepasang tanduk besar melengkung.
Tapi bagian yang paling menonjol darinya adalah lengannya, tiga di setiap sisinya dengan total ada enam. Dan di kepalanya, sama totalnya dengan lengannya, yaitu terdapat keenam mata yang berkilauan. Di mulut melengkung menjijikannya, tumbuh taring yang panjang.

"Siapa kau?"

"... Anda masih sama seperti biasanya, Leigie-sama... Saya Deije Breindac. Saya lah yang bertanggung jawab atas penyerangan regu ketiga pasukan anda."

"Oh..."

Iblis laki-laki yang menyatakan dirinya sebagai Deiji itu berbicara begitu sopan tidak seperti penampilannya.

Jadi ini ya Deije yang Lize bicarakan beberapa saat yang lalu itu... Begitu ya...
Yap. Aku tidak peduli.

"Dan apa aku mengenalmu?"

"Tentu saja, Bos. Andalah yang menunjuk saya untuk mengambil alih regu ketiga itu pertama kali."

"... Oh."

Aku sedikit ingin tahu berapa banyak regu yang aku miliki, tapi bagaimanapun, tampaknya dia ini orang yang cukup penting.

Naluriku memberitahuku kalau Demon yang disebut Deije ini agak kuat.

"Orang yang mengabaikan oposisi gadis Medea itu, dan menunjuk saya sebagai pemimpin regu ketiga adalah anda sendiri, Bos. Tapi sepertinya anda tidak akan pernah berubah."

Siapa gadis Medea itu sebenarnya? Aku melihat ke arah Lize, tapi karena dia tampaknya tidak menjadi bingung setelah mendengar hal itu, aku rasa Medea itu adalah salah satu gadis yang cukup dikenal di pasukan ku.
Yah, tidak penting juga lagian.

Nama, eksistensi, kekuatan dan segala sesuatu yang lainnya. Mereka semua tidak ada hubungannya denganku. Lakukan saja sesuka kalian.

Aku menggosok kepalaku ke bantal selagi aku berbicara dengan Deije.

"umu"

"Ya, itu adalah suatu kehormatan bagi saya yang telah memenuhi harapan Bos."

Deije membungkukan dirinya. Atas tindakannya itu, Lize memiringkan kepalanya.

"...Apa sih artinya [umu] itu?"

K[u] Serahkan Kepada[mu].

Ak[u]puas dengan pekerjaan[mu].

(EDN: Kalimat aslinya(ver jepun nya) Yoha, yang mana kombinasi kalimat itu dapat berarti banyak)

Ini adalah kalimat yang berarti jamak dalam waktu yang bersamaan. Berterima kasih atau Memesan kepada orang lain secara spesifik itu merepotkan, jadi ini adalah sesuatu yang sempat aku pikirkan. Kalau kau mengucapkannya kapanpun yang kau mau, Mereka(Kata Jamak itu) akan mengartikannya sebagaimana yang mereka mau, jadi ini lumayan praktis digunakan.
Tapi menjawab pertanyaannya itu merepotkan, jadi aku mengabaikan pertanyaannya itu.

(EDN: Wkwkwk kasian tuh cewe di kacangin sama MCnya :v)

"Dan apa tujuanmu datang kemari?"

"Ya, ini mungkin lancang, tapi saya penasaran apakah Bos telah memutuskan atau belum hadiah yang akan diberikan pada saya. Bagaimana tentang hal itu?"

Tidak ada yang bagaimana tentang hal itu.
Aku tidak peduli dengan hal itu. Semua yang penting bagiku adalah berusaha untuk dapat tidur lebih nyaman daripada kali ini.

Aku memandang rendah Deije dengan tatapan dingin. Tentu saja, itu merepotkan. Jadi aku tidak menyuarakan pendapatku.

"Aku akan memberikanmu pedang itu."

Dalam perkataanku, Deije melirik pedang yang dibawa Lize. Matanya bersinar merah seperti binatang karnivora yang baru saja melihat mangsanya. Dia menjilati bibirnya sebelum membalikan pandangannya kembali ke padaku.

"Ini adalah sebuah kehormatan yang terlalu besar bagi saya, Bos. Tapi ada item lain yang saya harapkan... tidak, saya tidak bilang tidak ingin pedang atau apapun. Seperti yang anda lihat, saya memiliki enam lengan di sini, jadi..."

"Deije, Brengsek! Disaat dirimu sekarang ini hanyalah demon tingkat satu, kau berniat untuk mengatakan kalau Pedang yang dikirim Great Demon King itu tidak cukup untukmu!?"

Aku mengangkat tanganku untuk menghentikan Lize, yang telah terhanyut dalam kemarahan. Bantal guling yang dia pegang membuat suara berderit (Note: suara kaya mau sobek), dan sepertinya bantal itu akan meledak. Aku akan sangat menghargainya jika dia berhenti melakukan itu.

Berisik. Rewel. Tidak bisakah dia menutup mulutnya untuk beberapa detik? Aku cuma ingin tidur disini.

Sepertinya atributnya 'Keserakahan'. Wajar saja baginya menginginkan lebih dari itu. Deije dari 'Keserakahan' dan aku dari 'Kemalasan', tidak akan pernah ada masalah yang memicu konflik antara diriku dengannya.
Aku memperoleh kembali bantalku dari Lize, dan membentangkannya di bawah kepalaku. Aku menatap langit-langit dan aku menjawab.

"Katakan apa yang kau inginkan"

"Baik, jadi apakah mungkin bagi saya untuk memiliki [Dolls] spesialnya Bos yang lainnya?"

Itu sedikit jauh dari dugaanku.

Jika itu sesuatu yang aku punya, tidak masalah, Tapi kalau membuat sebuah doll baru itu, akan membutuhkan sedikit usaha.

"...Kedengarannya merepotkan."

"Aku mohon, jenis yang paling dasar pun tidak masalah, jadi.."

Keserakahan busuk ini. Tampaknya dia tidak akan pergi dari sini kecuali aku melakukan sesuatu untuk menjawab keinginannya, atau kecuali aku membunuhnya. Aku penasaran apakah membunuhnya atau membuat Dolls baru itu akan menguras tenaga.

Itu terjadi beberapa saat yang lalu, tetapi tampaknya benar kalau dia telah menyelesaikan beberapa tugas pengabdiannya yang begitu terhormat. Jika kedua pilihan ini akan memerlukan usaha yang sama, maka sepertinya aku akan memberinya Dolls saja.

Aku melihat sekeliling ruangan, dan mengambil wadah lilin dari meja terdekat.

Wadah itu memiliki desain menyerupai tengkorak.
Merepotkan sekali, yah mau gimana lagi ayo lakukan ini.
Aku melemparkan itu ke Deije.

Deije menerimanya dengan penuh senyuman.
Dia meneliti bentuknya dengan ke enam tangannya.

"Bos, yang ini tidak memiliki jiwa."

Itu karena aku tidak memberikannya.

"Bukannya itu lebih baik?"

"... Anda pasti bercanda kan. Sebuah boneka tanpa jiwa hanyalah item. Yang saya minta adalah salah satu Slaughter Dolls anda."

"Oh."

Sepertinya aku benar-benar harus menguras tenagaku, atau dia tidak akan pergi.

Tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Mari kita selesaikan semua ini.

Aku menguap saat aku menunjukkan jariku ke arah tengkorak tanpa jiwa itu.

Aku menggunakan Skill.

Dan dengan itu, sebuah kehidupan mulai muncul dari Doll itu.

Diantara kekuatan-kekuatanku, sebagai Demon Lord salah satu skillku dapat memberikan kehidupan kepada Doll.
Ini adalah Skill yang dikhususkan untuk ku. Dari situlah aku mendapatkan gelar Slaughter Dolls.

"Apakah itu sudah cukup?"

"Yap, saya dengan senang hati menerimanya. Bisakah anda juga memberikan nama kepadanya?"

Pemberian nama merupakan upacara penting bagi Demon. Nama di ukir ke tubuhnya, Dan ini bukan berarti terlalu lebay tapi karena nama itu memberikan jalan untuk mendapatkan kekuatan baru.

Tapi kenapa aku harus melakukan sesuatu seperti itu?

"...Jika kau mendapatkan beberapa pencapaian yang lebih bagus lagi, aku akan mempertimbangkannya."

"...Ki ki ki, siap bos. Saya akan melakukan yang terbaik untuk tidak mebeberkan ini di luar sana."

Dia tertawa dengan suara berderit, sebelum ia pergi. Aku rasa respon yang seperti itu sangat cocok untuk seorang Pemimpin Demon yang memerintah 'Keserakahan', tapi aku tidak begitu peduli.

Dengan ekspresi suram-nya, dia mengambil pedang dari tangan Lize, yang hanya terdiam melihat pedang ditangannya diambil seperti layaknya orang-orangan sawah, yang terdiam saat padinya diambil oleh sekawanan burung.

"Kalau begitu, Bos. Saya meminta adanya penonton disaat penyerahan penghargaan saya."

Setelah mengucapkan itu, membungkukkan badannya, lalu dia meninggalkan ruangan.

Tidak, kau tidak perlu datang lagi. Aku akan memberikan apa pun yang kau inginkan.
Kau bahkan tidak harus bertanya padaku. Akan kuserahkan itu padamu.
Dan oleh karena itu, tinggalkan aku sendiri.

'Kejahatan' dan 'Kemalasan'. Mereka satu-satunya alasan keberadaanku, dan itu semua murni atas keinginanku sendiri.

Chapter SebelumnyaDaftar Isi – Chapter Berikutnya –
loading...