Sunday, 25 September 2016

Ubau Mono Ubawareru Mono Chapter 21 Bahasa Indonesia


Translator: Ise-kun
Editor: Kirz

Chapter 21: Rahasia Kartu Guild

Pada akhirnya, karena mata memelasnya Nina, aku pun menerima Lena sebagai anggota party kami.

"Keputusan yang bagus..." (Lena)

Jadi, kami memasuki kota Comer. Ada banyak ras yang beraneka ragam yang dapat dilihat disini. Manusia, kurcaci, elf, demihuman yang terlihat seperti demon dan ras binatang. Akan tetapi, menyebut mereka demon adalah sesuatu yang tidak boleh dilakukan karena itu termasuk diskriminasi alam. Ada juga makhluk setengah naga dan raksasa yang lupa aku sebut tadi.

"Sekarang aku butuh kartu guild. Kalian berdua, jangan bilang siapa-siapa tentang status ku." (Yu)

"Uuuu.. Jadi kami nggak boleh bilang siapa-siapa?" (Nina)

"Akan lebih baik jangan." (Yu)

"Yu terlalu berhati-hati ya..." (Lena)

"Kalian, di Adventurer Guild, kalau kalian bicara atau tertawa tanpa seijin ku, aku akan menghukum kalian. Hmmn... apa aku akan jadi miskin lagi ya sehabis bikin kartu guild?" (Yu)

"Besarnya..." Nina terkejut melihat otong ku. Dibandingkan dengan guild di Desa Resser, guild ini 10x lebih besar. Bahkan lebih besar lagi di sisi belakangnya.
(TL note: abaikan kalimat yang dicoret itu, saya cuma iseng, saya khilaf)

"Karena ini adalah salah satu markas yang paling populer untuk para adventurer. Bayangin aja seberapa banyak peredaran uang yang terjadi disini." (Lena)

Kalimat tersebut datang dari Lena, orang tuanya juga seorang adventurer, jadi dia cukup paham mengenai ini.

Didalam, areanya dibagi menjadi area papan reklame untuk quest, area resepsionis quest, dan lain sebagainya. Orang-orang yang ada didalam sini berjumlah lebih dari 100. Bahkan area resepsionisnya punya tiga resepsionis.

"Uang yang luar biasa banyaknya mengalir di tempat ini."

Di konter, seorang wanita berkulit cokelat menyapa kami.

"Selamat datang di adventurer guild. Ada yang bisa saya bantu?" (Resepsionis-san)

"Aku ingin membuat kartu guild." (Yu)

Aku heran kenapa Nina dan Lena jadi kebingungan gitu.

"Baik pak, bisa saya minta identifikasi adventurer anda?" (Resepsionis-san)

"Aku juga ingin membuat itu." (Yu)

Resepsionis tersebut hanya melihatku dengan mata menyipit.

"Bisa anda beritahu saya kampung halaman anda?" (Resepsionis-san)

"Desa Resser." (Yu)

"Bukankah anda harusnya punya kartunya dari cabang guild Resser?" (Resepsionis-san)

Aku mengeluarkan kartu palsu ku.


"Anda sudah punya kartu guildnya..." (Resepsionis-san)

Biarpun begitu, aku bisa mengetahui kalau ini palsu.

Kartu palsu ini dibuat oleh paman gendut yang ingin memeras anak kecil seperti ku. Questnya tidak akan terdaftar, jadi dia bisa mengambil hadiah-hadiahnya.

(Editor Note: quest itu gk kedaftar dalam daftar questnya Yu, sdangkan paman gendut sbalikny, jd si paman gendut yg ngambil hadiah dr quest itu)

"Kalau begitu saya akan mengambil ini... Anda bisa mempercayainya padaku." (Resepsionis-san)

"Jadi bisakah kau membuatkan yang baru untuk ku?" (Yu)

"Bisa, tapi.." (Resepsionis-san)

"Menurutku kartu itu rusak, jadi aku mau yang baru.." (Yu)

"Baiklah, tapi anda harus mengisi beberapa kertas dulu.." (Resepsionis-san)

(TL note english: the level of conversation is out of my mind.. Feel free to correct me if I’m wrong PR note: just bureaucracy talk lol)
(TL Note saya: Tuh translator englishnya aja bingung, apalagi saya yg TL dari translator yang kebingungan wkwkwkwkw)


Wanita itu kemudian menulis sesuatu dalam bahasa yang seperti bahasa hantu.

"Apa seperti itu caranya menulis di dunia ini?" (Yu)

Aku juga melihat Nina keringatan cukup deras sementara Lena malah terlihat cukup tenang. Sepertinya di masa depan nanti kami akan menambahkan ilmu kesusastraan di latihannya Nina.

"Apa kau bisa mengisikannya?" (Yu)

"Bisa, tapi anda harus membaca kontraknya." (Resepsionis-san)

Kami mengisinya dan juga membaca deskripsi di kartu guildnya.

Rangking D-G adventurer dapat menerima quest di lantai satu. Untuk lantai 2, mereka bisa mengambilnya begitu sudah ranking C.

"Saya akan segera kembali. Tunggu sebentar." (Resepsionis-san)

Akan tetapi, seorang pria bertubuh sedang, dengan tinggi sekitar 180cm, datang mendekat sambil tersenyum lebar.


"Hei, apa kalian orang baru disini? Rambut pirang dan hitam cukup tidak biasa."

"Iya, mohon kerjasamanya kedepannya." (Yu)

Tetapi, ia hanya tertawa.

"Udahlah berhenti aja. Seorang pemula akan tetap selamanya menjadi pemula. Kau itu cuma buang-buang kartu guild mu saat kau mati nanti. Dah balik aja sana ke desamu."

Gelak tawanya membuat Nina yang selalu tersenyum jadi tak berekspresi dan Lena terbujur kaku.

Apa boleh buat, aku pun melihat statusnya.


__ __ __ __ _

Senjata yang digunakan

- Damascus Dagger (grade 4): Memiliki kemungkinan untuk memberikan racun pada serangan.

Armor:

– Dark Hood (grade 5) : Ketahanan akan kegelapan meningkat
– Bear Skin Clothes (grade 5) : Agility meningkat
– Thieves Gauntlet (grade 4): Efek dari skill class pencuri meningkat
– Gale Greaves (grade 5): Agility meningkat

Perhiasan:

– Shadow amulet (grade 5) : Mengurangi kemungkinan untuk ditemukan
– Messy bracelet (grade 5) : Ketahanan racun meningkat
– Amulet of pororo (grade 5) : Ketahanan fisik meningkat

_______________
— —-

Pria ini punya dua job, skill-skill dan perlengkapan yang pantas. Tidak heran bicaranya sok sekali.

"Lalit, apa yang kau lakukan?" (Collet)

"Collet-chan, aku nggak ngapa-ngapain kok." (Lalit)

"Apa kau mau mencoba mengusir adventurer-adventurer baru?" (Collet)

Lalit sudah tidak tersenyum lebar lagi. Dia memegang empat silver coin di antara jari-jarinya.

"Apa yang sedang kau coba lakukan?" (Collet)

Nina dan Lena juga sama sekali tidak mengerti.

Meskipun begitu, Lalit memusatkan jari-jarinya dan coin-coin tersebut terlipat setengah.

"Nah, lihat kan, ini yang mungkin akan terjadi pada kalian. Kalian masih terlalu awal untuk menjadi adventurer, silahkan kembali ke desa kalian masing-masing." (Lalit)

Aku mengambil coin-coin yang terlipat tersebut dan menghacurkannya diantara jempol dan jari telunjuk ku.

"Apa?" Mata Lalit terbuka lebar.

"Kau pikir cuma kau yang bisa melakukan itu?" (Yu)

Suara tawa terdengar dari adventurer-adventurer terdekat, tapi itu bukanlah tawa yang mengejek kami.

"Hahaha... Lalit kena counter,"

"Hahaha.. Yang dilakukan pemula itu boleh juga."

"Aaarghh.." Lalit keluar dari ruangan guild dengan wajah yang begitu merah.

"Nah, Collet Ojou-san, bisakah aku mendapat kartu guild ku?" (Yu)

"Aah, Iya.. Tuan Yu tolong tambahkan setetes darah anda untuk menyelesaikan prosesnya." (Collet)

"Sekarang sudah selesai 'kan?" (Yu)

"Iya, dan pajaknya satu silver." (Collet)

"Juga, aku ingin job." (Yu)

"Oh.. Ada ruangan di belakang kalau untuk itu, dan pajaknya satu silver. Bicara soal itu, anda mungkin mau mengecek status?" (Collet)

"Cukup antarkan saja aku ke ruang belakang." (Yu)

"Apa? Anda tidak ingin memeriksa statusnya?" (Collet)

"Iya, aku tidak ingin meninggalkan informasi apapun di kartunya." (Yu)

Ketika aku bilang begitu, wajah Collet menjadi biru.

"Apa maksud anda?" (Collet)

"Ketika kau mengecek status dengan kartu guild, beberapa 'mana' akan mengalir keluar." (Yu)

"Tapi itu hal yang lumrah karena melibatkan sihir juga." (Collet)

"Tentu saja. Tapi beberapa 'mana' disana juga akan memberikan informasi ke guild dari kartu guild-nya." (Yu)

Kalau kau memikirkan tentang itu, memang sudah jelas sekali. Sebagai organisasi yang bebas, guild membutuhkan beberapa kekuatan. Mereka memegang adventurer yang sekiranya akan menguntungkan bagi mereka kedepannya. Mereka akan dipersiapkan untuk menghadapi musuh. Meskipun hadiah questnya menarik, intel yang dikumpulkan dan dipersiapkan oleh guild cukup mencurigakan.

"Apa?" Nina, Lena, dan adventurer lain terkejut.

"To-tolong... Bicaranya jangan keras-keras.." (Callet)

"Ini cuma salah paham atau kau masih tetap ingin melihat statusku?" (Yu)

"Hanya salah paham 'pak.." (Collet)

Collet sepertinya menggunakan semacam sihir di matanya ketika berbicara. Mungkin ingin memastikan status ku dengan 【Analysis】

"Kalau begitu, saya akan mengantar anda ke ruang untuk memilih job." (Collet)

Dia mencoba menyembunyikan kebohongannya, tapi keringatnya perlahan menetes. Kebohongan yang mudah ditebak.

loading...