Thursday, 15 September 2016

Ubau Mono Ubawareru Mono Chapter 17 Bahasa Indonesia


Chapter 17: Orang Yang Mengaku Dirinya Penyihir Jenius ①

Disekitar ibukota Houdon, jalanan kerajaan membentang. Terima kasih kepada jalan tersebut, peluang hidup para pelancong pun meningkat drastis.

Di suatu tempat di jalanan kerajaan Houdon...

"Hei... apa kita cuma jalan kaki? Kenapa nggak naik delman aja?" (Nina)

Biasanya, sudah hal biasa menaiki delman dengan membayar sedikit uang, lebih cepat dan juga aman. Delman memiliki pelindung sihir yang dapat mencegah monster lemah mendekat. Perjalanan ini akan membutuhkan 3 hari dengan menaiki delman dan 10 hari dengan berjalan kaki.

"Buat apa? Kita kan mau melakukan latihan intensif mulai saat ini." (Yu)

"Eh? Latihan intensif?" (Nina)

"Iya, jadwal yang sibuk. Bisa dibilang latihan khusus." (Yu)

Nina sudah menjadi kuat akhir-akhir ini. Aku juga harus meningkatkan level dan status ku lagi. Bagaimanapun, ketika aku menghadapi ogre, aku harus berkutat hanya untuk melawannya.

"Eh... Kamu udah melawan ogre-nya?" (Nina)

"Iya... Mengerikan lho pas lawannya. Tangan ku patah dan kepalaku nyaris dilumat olehnya... Meskipun begitu, aku bisa membunuhnya." (Yu)

"Eeeh?" (Nina)

Sudut Pandang Yu

Nina terkejut setelah mengetahui kalau aku sudah melawan ogre. Aku tidak pernah mendapatkan luka ketika menghadapi monster lemah, tapi hari itu... aku satu langkah lagi menuju kematian.

"Hei.. Apa yang kamu lakukan?" (Yu)

"Aku cuma mau liat apa cegera nya udah pulih atau belum." (Nina)

"Tangan itu udah sembuh sejak lama. Dan kenapa kamu ngelus-ngelus bokong ku?" (Yu)

"Nggak papa. Dielus-elus bokongnya gitu udah membuat mu tenang 'kan?" (Nina)

(TL Note: dat bokong....)

Ketika dia bilang begitu, sudah tidak mungkin membuat tangannya, yang lagi ngelus-ngelus bokong ku berhenti.

"Monster semakin kuat semakin kita mendekati ibu kota. Kita harus membiasakan diri dengan kekuatan mereka agar kita tidak mati konyol ketika menghadapi monster yang kuat." (Yu)

"Iya. Itu karena ibu kota dibangun di dekat dungeon." (Nina)

"Jadi, kenapa itu dibangun di dekat dungeon?" (Yu)

"Karena banyak keuntungannya." (Nina)

Nina menjelaskan padaku alasannya. Dungeon memiliki daerah spawn monster. Tidak seperti sarang monster kebanyakan, spawn monster memiliki kadar kemurnian yang tinggi. Senjata, armor, perhiasan, itu semua dapat dibuat dari material monster. Disana juga ada kotak harta yang selalu muncul di dalam dungeon. Kotak harta yang selalu muncul mungkin terdengar aneh, tapi tujuan adventurer kebanyakan adalah menemukan kotak harta itu. Mulai dari dungeon ber-rangking tinggi, dapat ditemukan harta yang level nasional disana. Dan kalau ada yang bisa menemukan harta tersebut, maka orang itu bisa hidup seumur hidupnya tanpa sama sekali bekerja dengan kemewahan.

"Tapi ada banyak monster yang menyerang." (Yu)

"Tetep aja, banyakan untungnya daripada ruginya." (Nina)

"Meskipun begitu, kita masih belum menemukan satupun monster dari tadi." (Yu)

"Itu karena kita sedang ada di jalanan kerajaan." (Nina)

Hari itu, kami sama sekali tidak menemukan satu pun demon sampai malam menjelang.

"Hari ini kita akan berkemah disini." (Yu)

"Makan makan ~ ♪” (Nina)

Kami menyebutnya berkemah, tapi lebih tepatnya hanya menyalakan api unggun saja. Kami tidak memiliki tenda untuk bisa benar-benar menyebutnya berkemah. Kami memakan roti dan keringan daging yang pernah dibuat oleh nenek Stella. Dia pernah mengajariku sekali cara membuatnya.

"Roti buatan nenek Stella enak..." (Nina)

Karena apa yang dikatakan Nina tadi, mataku jadi berair.

"Ya... Karena roti bisa tahan lama, jangan dimakan semuanya sekaligus. Kita akan melakukan latihan khusus sekarang." (Yu)

"Eh.. Gelap-gelap gini mau latihan?" (Nina)

"Karena gelaplah makanya disebut latihan khusus. Kamu juga boleh menggunakan kekuatan penuh, tak usah sungkan." (Yu)

"Aku tau aku juga harus lebih kuat, tapi kamu kan punya skill 【Swordsmanship】 yang lebih baik dari ku, Yu." (Nina)

"Tidak apa-apa. Aku akan latih tanding dengan mu tanpa menggunakan sihir ataupun senjata." (Yu)

"Apa? Tangan kosong dan tanpa sihir?" (Nina)

Aku menjatuhkan pedang ku di depan Nina.

"Ah... Kenapa bisa rusak gitu?" (Nina)

Ketika dalam pertarungan melawan ogre, pedangnya sudah dalam keadaan sangat buruk.

"Aku bisa dapat yang baru lagi di kota. Jadi aku akan bertarung tanpa pedang sampai aku dapat yang baru." (Yu)

"Tak usah cemas, perlengkapan bagus bisa ditemukan di ibu kota." (Nina)

Alasan kenapa aku ingin membelinya disana adalah karena disana ada dungeon rangking A, B, C, dan D. "Enrio Maze", dungeon rangking B dan "Golgo Labyrinth" dungeon rangking D. Banyak dungeon terdekat yang terkenal akan mudahnya menemukan banyak material didalamnya, yang mana dapat digunakan untuk membuat armor dan senjata.

"Tentu saja aku akan membeli perlengkapan yang terbaik kalau ada." (Yu)

"Beli dulu [Item Bag] pertama-tama. Benda itu yang akan membuat revolusi bagi adventurer." (Nina)

[Item Bag] merupakan sebuah kantong kecil yang memiliki sihir didalamnya. Tas tersebut dapat memuat benda yang lebih besar dari ukurannya dan juga tidak merubah beratnya (masih tetap seberat kantong kecil). Benar-benar benda yang wajib dimiliki.

"Baiklah, cukup bicaranya, ayo latihan." (Yu)

Aku memposisikan diri jauh darinya.

"Kamu bisa menyerang ku kapan pun." (Yu)

Di saat aku bilang begitu, belati nya Nina melewati samping wajah ku dengan bunyi *ziiing*

"Nina, kamu tidak usah menahan diri, aku bisa menyembuhkan diri ku sendiri." (Yu)

"Ok..."

Nina takut untuk menyakiti ku, ini harusnya bisa mengurangi kekhawatirannya.

Oke, aku akan mangaktifkan fireball. (TL Note: Lah katanya nggak mau make sihir?)

"Apa?" (Nina)

Aku menembakan fireball ke arah Nina.

"Apa?" (Nina)

"Nina, kamu harus serius. Kalau nggak, percuma latihan khusus ini." (Yu)

"Aaah... Jadi kamu dah tau ya." (Nina)

Nina akhirnya mulai serius. Dia mengeluarkan belati dan pisau bajanya masing-masing di tangan kanan dan kirinya.

Skill 【Dagger Mastery Lvl 3】 dan 【Dual Dagger Lvl 1】 Nina saling meningkatkan efeknya satu sama lain.

"Oh." (Yu)

Saat itu Nina mengincar dada ku.

Aku mneghindarinya dengan mudah.

"【Dagger Strike】!" (Nina)

"Kamu masih meneriakinya." (Yu)

Nina mengaktifkan skill di tangan kanannya. Ketika aku menghindarinya, tangan kirinya bergerak maju. Dia juga mengaktifkan 【Dagger Strike】 di tangan kirinya, kali ini tanpa merapal mantra. Teriakan tadi itu hanya tipuan.

"Da dah!" (Nina)

Aku menghindar ke belakang dan mengambil jarak menggunakan 【Body Enhancement】.

"Hehehe, kaget ya?" (Nina)

Tadi itu hebat.

"Kamu menggunakan tipuan dengan menyebut nama skill-nya secara sengaja." (Yu)

Aku iri dengan perkembangannya. Aku mengaktifkan fireball yang dimana diameternya melebar hingga beberapa meter.

"Ap... Yu..." (Nina)

Malam itu, latihan khusus diakhiri dengan aku yang ngejar-ngejar Nina menggunakan fireball.

"Selamat Pagi.." (Yu)

"Pagi Yu..." (Nina)

Nina mengusap matanya yang masih mengantuk.

"Kamu nggak tidur?" (Nina)

Kemarin, setelah latihan khusus, aku mencoba meningkatkan skill 【Awareness】 ku. Sebuah monster terdeteksi di area kesadaranku, dan kerena itulah, aku jadi tidak bisa tidur dengan tenang.

"Aku cuma lagi coba-coba nge-scan area ini dengan 【Awareness】 kok. Aku ingin terbiasa dengan ini." (Yu)

"Tapi kamu juga butuh tidur." (Nina)

"Well... Aku ingin membiasakan diri dengannya." (Yu)

Itu karena kita akan segera memasuki kota. Kota Comer yang akan kita kunjungi memiliki populasi di atas 100.000 orang. Kalau aku tidak bisa membiasakan diri dengan 【Awareness】, hal buruk mungkin akan terjadi.

Selama kami jalan kaki, Nina terus menatap ku. Dia ingin memastikan kalau aku baik-baik saja.

Diperjalanan, kami melihat satu gerobak. 5-6 adventurer ada di atasnya. Gerobak tersebut berhenti beberapa meter dari kami.

"Ada apa?" Seorang wanita turun dari gerobak, sementara pria-pria disana mencemoohnya.

"Kami punya rombongan... Oy.. Pot-chan, sini balik~."

"Barusan kau memanggilku apa? Pot-chan?"

"Nggak.. Kau pasti salah denger."

Setelah bilang begitu, mereka pergi meninggalkan dia.

Gadis itu memakai jubah dengan tubuh kecilnya, rambut pirang dan wajah yang memiliki kisaran umur 10-12 tahun. Aku melihat statusnya.
_ _




"Apa-apaan statusnya itu? Dia seorang penyihir tapi fisiknya buruk amat." (Yu)

"Kalian berdua.." (Loli)

"Apa?" (Yu)
"Apa?" (Nina)

Nina dan aku mengatakan itu bersamaan.

"Kalian beruntung.." (Loli)

"Nina, kita pergi..." (Yu)

"Untuk bisa bertemu dengan ku..." (Loli)

"Ayo cepet..." (Yu)

"Si penyihir jenius..." (Loli)

"Aku penyihir..."

"Hey..."

"Yaaa!"
(TL Note: Saya bingung siapa aja yang ngomong di 3 percakapan diatas)

Aku bertemu dengan orang aneh.

loading...