Wednesday, 7 September 2016

Ubau Mono Ubawareru Mono Chapter 13 Bahasa Indonesia


Chapter 13: Di Dalam Goa Pegunungan ①

Sudut Pandang Yu

"Awas! 【Body Enhancement】 mu mau habis." (Yu)

"Aaa..." (Nina)

Mengeluarkan suara menyedihkannya, Nina melepaskan skill nya.

"Gigigig.."

"Shine!" (Nina)
(Note: Shine = Mati)

Dia menghindari serangan Goblin Soldier dan belati di tangan kanannya mendarat di leher goblin tersebut. Dia juga mengirimkan serangan lainnya ke tubuh goblin dengan pisau di tangan kirinya.

"Susahnya mempertahankan 【Body Enhancement】 ketika bertarung." (Nina)

"Itulah kenapa kita melakukan latihan. Kamu juga perlu terbiasa dengan senjata ganda." (Yu)

"Hehehe.. Iya." (Nina)

Nina biasanya hanya menggunakan satu pisau belati. Pakah dia akan mendapatkan skill baru dengan menggunakan dua senjata?

"Lantai 2F musuhnya nggak begitu banyak." (Nina)

"Jangan sampai lengah. Ada boss di lantai 3F." (Yu)

"Boss?" (Nina)

Didalam dungeon atau labirin ada monster kuat yang berbeda dengan monster normal kebanyakan. Meskipun kau bisa membunuhnya, monster itu akan muncul lagi setelah beberapa saat. Meskipun begitu, didalam dungeon, para monster bertarung dengan sebangsanya demi wilayahnya.

"Nina, aku sibuk membuat potion saat ini, jadi kamu yang akan membunuh semua monsternya." (Yu)

"Eh? Semua?" (Nina)

"Aku mengamati pergerakan dan kelemahan lawan. Sementara kamu bahkan nggak menggunakan otak mu dan bertarung dengan reflek. Kamu perlu untuk mengamati kebiasaan lawan mu, Nina." (Yu)

Di saat aku bilang begitu, aku sudah hampir jadi membuat potion ke tujuh.

Setelah kami membunuh para bandit, Nina membeli semua yang aku butuhkan untuk membuat potion. 17 gold dan 2 silver didapat dari peralatan yang dia jual dan aku hanya menghabiskan lima setengah silver.

Hal yang sedikit aneh adalah air bersih. Air bersih bisa ditukar dengan mata air dan kualitas potionnya meningkat. Aku bisa menjualnya di kota yang lebih besar atau ke pedagang. Mungkin aku jadi penjual potion keliling aja ya?
(TL Note: "The thing that’s quite weird is clean water. Clean water can be substituted with spring water and the quality of potions increases." masih gagal paham saya maksudnya apa.)

"Nina, kamu bisa terbunuh kalau nggak hati-hati." (Yu)

"Cuma tiga Goblin Soldier 'kok." (Nina)

Semakin banyak musuh, semakin baik juga pergerakan Nina jadinya. Karena mereka tidak bisa bergerak bebas ketika memperhatikan rekan mereka.

"【Dagger Strike】!" Nina mengaktifkan skillnya. Satu Goblin Soldier tidak bisa menghindarinya dan tewas ditempat.

"Kau seharunya nggak usah meneriakan nama skillnya. Kalau lawan mu manusia, mereka pasti sudah bersiap untuk mem-blocknya." (Yu)

"Hii.. Jangan salahin aku dong! Aku masih belum terbiasa menggunakan skill tanpa mengucapkan nama skillnya." (Nina)

Nina sudah bisa mengucapkan mantra 【Dagger Strike】 di pikirannya, tapi dia selalu meneriakannya setiap mengaktifkannya. Keuntungan dari mengucapkan mantra di pikiran mu adalah tidak ada yang tau skill apa yang akan dilancarkan. Kalau terjadi pertarungan melawan adventurer lainnya, akan jadi keuntungan yang bagus. Meskipun begitu, dia masih meneriakannya ketika mengaktifkannya.

Di saat yang bersamaan, dia sudah membunuh goblin-goblinnya.

"Akhirnya... aku bisa membunuh mereka semua." (Nina)

"Baiklah. Jadi, apa mau kita sudahi aja hari ini?" (Yu)

"Iya. Rangking Guild ku juga bentar lagi mau naik jadi E berkat Yu." (Nina)

Tentu saja karena ketika kamu membunuh monsternya, Nina yang mengambil bukti questnya dan mengirimnya ke guild.

Seperti biasanya, diperjalanan pulang, aku selalu memburu Horned Rabbit. Bak mandi juga sudah jadi. Sudah waktunya buat nenek Stella untuk mencobanya.

"Aku pulang." (Yu)

"Selamat datang Yu, Nina-chan." (Stella)

Aku langsung pergi menghangatkan air.

"Nenek Stella, tolong terima ini." (Yu)

Aku memberikan nenek potion yang aku buat sebelumnya.

Aku merahasiakan kemampuan ku darinya. Nenek tidak mau menerima potionnya, karena nenek pikir itu hanya buang-buang uang saja.

"Tapi, apa kamu yang membelinya?" (Stella)

"Nggak apa-apa. Tanaman herbal yang aku dapat hari ini berkualitas tinggi, jadinya aku dapet bayaran lebih. Itu juga dibeli karena diskon dari pedagang keliling. Tolong diminum, nek." (Yu)

"Makasih, Yu.." (Stella)

Makan malam hari ini roti dan kelinci rebus. Tapi, mau berapa kali pun aku ngeliat Nina makan, dia selalu makan dengan rakusnya.

Sehabis makan malam, aku mengantar nenek Stella ke bak.

"Yu, apa itu bak mandi? Apa ini yang selama ini kamu buat?" (Stella)

"Iya. Hari ini dingin, jadi silahkan masuk selagi masih hangat." (Yu)

"Terima kasih. Nenek sangat senang." (Stella)

Karena ada mata air di dekat sini, jadi kami tidak perlu jauh-jauh untuk mendapatkan air.

"Nenek, temperatur airnya sudah pas. Silahkan masuk." (Yu)

"Nenek yang pertama make?" (Stella)

"Iya, aku membuatnya juga untuk nenek. Jadi nenek yang harusnya pertama masuk." (Yu)

Mata nenek Stella jadi berkaca-kaca. Nggak sia-sia membuat bak ini. Selema menyelesaikan bak, skill 【Blacksmith】 dan 【Alchemy】 naik jadi level 2.

Setelah beberapa saat, nenek Stella selesai mandinya.

"Yu, tadi itu sangat enak. Air hangatnya, nenek merasa kayak seorang ratu." (Stella)

"Aku senang nenek menyukainya. Selanjutnya aku yang akan masuk." (Yu)

"Tunggu! Aku juga mau ikutan." Nina berkata seperti itu tiba-tiba. Akhir-akhir ini, dia ikut makan malam disini, tidur disini, dan sekarang pun mau ikut mandi disini... dengan ku?

"Apa yang kau bicarakan?" (Yu)

"Yu, cewek dan cowok di bawah umur 18 tahun mandi bareng itu nggak masalah." (Nina)

"Apa iya? Kalaupun iya juga nggak akan muat kalau barengan." (Yu)

"Aku punya tugas untuk mengawasimu karena aku lebih tua. Jadi dengarkan aku!" (Nina)

Ketika aku masih tercengang, Nina sudah membawaku ke bak mandi. Aku tidak punya pilihan selain melepas baju.

"Apa? Kamu nggak mau ikutan mandi?" (Yu)

"Ng.. Nggak.." (Nina)

Sudut Pandang Nina

Aku mengamati Yu yang sedang melepas pakaiannya. Aku tidak menyadari sebelumnya kalau tubuhnya dipenuhi oleh bekas luka dan luka bakar. Bekas luka-luka tersebut ada disekujur tubuhnya.

Berapa lama dia sudah menderita? Siksaan macam apa yang sudah dia lalui? Kenapa, meskipun kamu sengat kesakitan, kamu nggak mau memberitau ku?

Air mata ku mulai mengucur. Aku masuk ke dalam bak dengan panik untuk menyembunyikannya.

loading...