Sunday, 25 September 2016

Tilea no Nayamigoto Chapter 8 Bahasa Indonesia


Translator: Liber Koibito Shareturee Dreamorire Syalala Helgeum Doo'ranbolt Xersteriium  Grodserius Schnaider Bailer Stagrium Xreearin Dreafo'or Vrendelis Crekion Bachigone pepepepepe pepepepepe Vrokiore Safiuty Qweolope Sreast Dretrol Rembelton Sadero-o-whisp rururururu
Editor: Kirz
Proofreader: Ise-kun

Chapter 8: Adik ku Memungut Anjing Liar

Pheww, Kenapa malah jadi seperti ini? Memang sih Timu sudah terlihat merenunginya. Tapi bukannya menyembuhkan chuunibyounya, malah kebalikannya... jadi makin parah.

"Evil God-sama, apa ada sesuatu yang terjadi?"

Timu menanyaiku, dengan mendongak keatas.
(Editor Note: Timu lebih pendek dari tilea xD)

Kuu~ lucunya. Adikku imut banget!

Tapi, kenapa, kenapa dia terus memanggil ku "Evil God-sama", "Evil God-sama" daritadi?

Dan kenapa dia memasang Keigo? dia mau menjauh dariku?
(TL NOTE: Keigo mungkin maksudnya embel-embel "-sama",, jadi keliatannya mereka gak akrab lagi)

Tidak, itu bukan perilaku membangkang seperti sebelumnya.

Kenapa? Kenapa? kenapa dia tidak memanggilku "Onee-chan" seperti biasanya?

Hm~mm......

-----------Aah begitu ya!

Itu karena aku terlalu berlebihan dengan melakukan pukulan pantat yang barusan. Tentu saja, pukulan pantat itu diperlukan. Timu mulai menjadi anak nakal. Berkeliaran di malam hari, dan bahkan melakukan kekerasan pada kakaknya. Tentu saja dia harus dihukum bagaimanapun juga.

Tapi bukankah Timu menangis tadi!?

Kata "Kekejaman" mulai mendatangi pikiranku. Aku pernah mendengar kalau ada seorang anak sudah di caci maki, Ia akan menggunakan Keigo kepada keluarganya sendiri. Itulah mengapa sekarang ia menggunakan Keigo.

Dia tidak tahu apakah dia boleh memanggilku 'Onee-chan' seperi biasanya, kan? Timu yang malang.

Tapi gini lho, Timu... Bukan berarti kamu harus memanggil ku "Evil God-sama" juga,'tau.

Yah, apa boleh buat. Timu belum sembuh dari Chuunibyou-nya.

Ah~ tapi tetap saja, aku benar-benar gagal. Aku tidak tahu aku harus sekeras apa untuk memberitahu nya. Aku baru saja memukul pantatnya sedikit, tapi karena ini pertama kalinya seseorang memberinya kekerasan, mungkin Timu agak terkejut dengan itu.

Tak ada yang bisa dilakukan. Tak ada pilihan lain selain perlahan-lahan membangkitkan kepercayaannya padaku. Biarpun aku menyuruhnya berhenti menggunakan Keigo, hal itu akan membawa dampak sebaliknya. Aku tidak punya pilihan selain menunggu Timu untuk mempercayaiku.

Jadi aku akan menghentikan dia mengucapkan "Evil God-sama" lagi. Setiap aku dipanggil "Evil God-sama", rasanya hidupku menjadi sangat hampa bagaimanapun juga.

"Timu, kau bisa memanggilku Onee-chan kamu tahu kan?"

"A-, aku tidak berani."

Tampaknya ia mulai menciut. Tapi aku benar-benar berharap setidaknya Ia menjauhi nama itu. Sejarah kelamku mungkin benar-benar akan terulang lagi bagaimanapun juga.

"Kumohon! Ini permintaan dari Onee-chan mu!"

Aku memutuskan untuk memohon mati-matian. Dalam kasus yang seperti ini aku sangat berharap agar ia mendengarkanku entah bagaimana caranya.

"Aku tahu. jika ini adalah permintaan anda, saya tidak bisa menolak.... baiklah kalau begitu, bagaimana dengan 'Onee-sama'?"

BAKYUUUN! Eh!? apa tadi!? APA tadi?!

'Onee-sama'? Ya ampun kamu ini, Timu..~!

"Mn, kayaknya panggilan itu bagus juga untuk saat ini..."

(Editor Note: BAKYUUN Itu mungkin Tilea kaget :v, denger panggilan onee-sama, mungkin dia latah :v)

Aku memutuskan untuk berkata seperti itu untuk saat ini, akan tetapi????

Aku takut pada diriku sendiri karena sepertinya aku sudah membangkitkan sesuatu.

"Dan mengenai Nielsen, aku pikir, jika anda tidak keberatan, ia bisa bekerja sebagai bawahanmu, Onee-sama?"

"si Nielsen?"

"Ya, dia adalah pria yang luar biasa. Aku yakin dia akan berguna untukmu, Onee-sama"

Siapa lagi itu?

Aku mulai mengingat-ingat...

Ah ~ Orang cabul (Nielsen) yang memukulku itu memiliki nama seperti itu. Omong-omong soal itu, dia adalah alasan mengapa Timu mengidap Chuunibyou 'kan? Si cabul, dan chuunibyou yang tak punya pekerjaan. Ogah banget mau nolongin orang itu.

"Enggak! enggak! Orang itu enggak akan berguna dalam hal apapun"

"Bila dibandingkan dengan anda, Onee-sama, memang benar, tapi..."

Hahh, aku tahu ini. Timu benar-benar sudah dicuci otaknya oleh pria itu.

Sialan, Nielsen, bajingan. Omong kosong apa yang kau ajarkan ketika aku tidak berada di sisinya? Padahal banyak orang yang lebih berbakat dari Nielsen (si Cabul) itu...

"Timu, bukan cuma aku. Ada begitu banyak orang yang bahkan lebih berbakat dari orang seperti dia, 'tau"

"Tidak mungkin! Bakat yang lebih luar biasa dari Nielsen tidak akan begitu mudah bisa ditemukan, tapi---"

Huu~ pencucian otak dari Nielsen (Si cabul) cukup kuat ya, huh. Dalam situasi ini, aku harus menyadarkan Timu bagaimanapun caranya.

Baiklah, dalam hal ini...

"Ibu dan Ayah, dan bahkan Thomas ojii-san lebih baik dari pada orang itu, bagaimanapun juga"

"Itu tidak mungkin!"

Hu hu, Timu juga terlihat terkejut, liat aja tuh dia. Dia pasti berpikir kalau pria itu lebih baik dari orang yang tak punya harapan seperti Thomas ojii-san...

Thomas ojii-san adalah pengrajin boneka yang membuat boneka yang terkenal di Kota Beruga, tapi dia adalah pria tua yang malas, pemabuk berat, dan begitu putus asa dalam berbagai hal. Dan aku sudah bilang kalau Nielsen (si cabul) lebih buruk daripada Thomas ojii-san. Nielsen (si cabul) bahkan tidak memiliki keterampilan atau hal lainnya bagaimanapun juga.

Dan pada kenyataanya, bila dipertimbangkan dari sudut pandang luar, Thomas ojii-san tentunya lebih baik daripada pria yang tidak punya pekerjaan, mesum, dan chuunibyou. Thomas ojii-san masih memiliki pekerjaan yang lebih baik setidaknya.

"Itu benar. Sekarang, mari tinggalkan pria itu sendiri, dan pulang"

"Hahh-- apa seburuk itukah orang itu?"

Desakanku tak berhasil, dan kepercayaan Timu pada Nielsen (si cabul) tidak tergoyahkan. Timu memohon padaku dengan tatapan meminta.

Ta, tatapan ini--

Tatapan ini hampir sama dengan itu!

Ini mirip dengan adegan dimana seorang anak kecil memungut anjing liar dan memohon pada orang tuanya, "Tapi dia sangat menyedihkan. Mari kita pelihara dia."

Untuk beberapa saat, Timu terus memohon padaku, "Mari kita menjaganya ~ Ojiisan ini sangat menyedihkan~" dengan mata nya yang berkaca-kaca.

Kuh ~ Hentikan ~ Jangan menatapku dengan mata seperti itu

Setelah beberapa detik berlalu aku menatap ke Timu...

Hahh ~ yahh mau gimana lagi.

Ketika aku memandang Nielsen (si cabul), aku seperti melihat diriku yang lama, jadi itu membuatku sedih. Tapi, tak peduli dengan motif yang ia miliki, itu tak merubah kenyataan kalau dia bermain dengan Timu saat ia sendirian. Jika kau bertanya padaku apakah aku memiliki hutang padanya, jawabannya adalah iya.

"Baiklah, aku akan menjaganya baik-baik."

"Oneesama, terima kasih banyak!"

Ketika aku memberinya izin, Timu tersenyum bahagia.

Selanjutnya, haruskah aku menjelaskan ini pada ayah? tapi dengan kekuatannya yang kecil, apakah Nielsen (si cabul) akan baik-baik saja? Keluarga kami memiliki restoran, jadi kami bekerja menggunakan fisik, tapi....

loading...