Wednesday, 14 September 2016

Tilea no Nayamigoto Chapter 6 Bahasa Indonesia


Translator: Liber Koibito Shareturee Dreamorire Syalala Helgeum Doo'ranbolt Xersteriium  Grodserius Schnaider Bailer Stagrium Xreearin Dreafo'or Vrendelis Crekion Bachigone pepepepepe pepepepepe Vrokiore Safiuty Qweolope Sreast Dretrol Rembelton Sadero-o-whisp rururururu
Editor: Kirz

Chapter 6: 'Evil God-sama' Itu, Maksudnya Aku?

Sepertinya Jiisan sudah tidak sadarkan diri.

-*colek* *colek*-

Aku mencoba menyoleknya dengan pelan menggunakan kakiku.

........

Mn, tak ada respon, dia udah kayak mayat.

Jadi sekarang, karena semua penghalang sudah hilang, mari kembali ke topik utama. Aku menoleh ke arah Timu.

"Timu, ada sesuatu yang mau kamu katakan?"

"Manusia-, tidak, dengan kekuatanmu yang seperti itu tidak mungkin kau itu manusia. Siapa sebenarnya kau ini?"

"Haah~ sepertinya kamu masih belum ngerti, iya kan?"

Seperti yang kupikirkan, sepertinya Timu belum mengintropeksi dirinya sendiri. Kupikir Timu akan menyesali tindakannya dan meminta maaf kemudian aku akan memaafkannya. Tapi, dia terus mengikuti alur event ini dan bertingkah sebagai Camilla untuk menghindari masalah ini.

Yah, itu bukan berarti aku tidak mengerti perasaan untuk tidak mau meminta maaf.

Rasa bencinya kepadaku karena aku sudah meninggalkan, mengabaikan dan membuatnya merasa kesepian mungkin cukup kuat. Tapi menggunakan Chuunibyou untuk lari dari kenyataan akan membawa hal buruk ke dalam hidup Timu. Aku menderita karena hal itu di kehidupan lamaku.

Apa boleh buat. Ini semua demi kepentingan Timu. Aku mendekat untuk mecari kesempatan untuk mengayunkan cambuk cinta.

(Editor Note: Cambuk cinta… :3 )

"Jadi, berikutnya kau berencana untuk menghabisiku!? Tapi aku dikenal sebagai Camilla the Flash; jadi aku tidak akan segan-segan."

Timu mulai merapalkan sesuatu yang terdengar seperti mantra. Dan kemudian tubuh Timu diselimuti oleh sebuah lingkaran sihir.

"Timu? apa yang kamu lakuka--"

"Hmph, ini adalah teknik rahasiaku yang terhebat. O Magic Bullet, jadilah bintang yang tak terhitung! Star Freya! [Super Demonic Star Magic Bullets]"

"Apa--!? Sihir!?"

Tidak mungkin! Timu sedang menggunakan sihir. Sesuatu yang seperti peluru sihir tercipta dari tangan Timu. Terlebih lagi, jumlahnya tak terhitung.

Luar biasa. Sejak kapan Timu belajar melakukan hal seperti ini?

Memang, itu mungkin untuk menggunakan sihir di dunia ini. Tetapi bukan berarti semua orang bisa menggunakannya. Hanya orang terpilih yang bisa menggunakan sihir seperti itu.

Timu, kamu.....

Kamu juga orang yang sangat berbakat dalam sihir, bukankah begitu!

Hari ini begitu penuh kejutan. Dia berlari dengan kecepatan yang luar biasa, dan kemudian menunjukan kemampuannya menjadi aktris, dan sekarang aku jadi tau kalau dia bisa menggunakan sihir.

Di ibukota ada yang namanya sekolah sihir. Dan jika dia masuk dan berlatih dengan keras, dia mungkin bisa bekerja di istana di kemudian hari. Timu, padahal kamu memiliki begitu banyak bakat...

Timu, aku mohon padamu. Perhatikan dirimu sendir--Huh? Oi oi, sepertinya Timu mengarahkan peluru sihirnya kepadaku?

Bukankah ini gawat-

"Jadilah potongan-potongan daging!"

"Ah, ow, itu sakit-, owowowow! H-heiiii!, Timu, aku bilang ini sakit--"

Seperti yang kuduga, Peluru sihir yang keluar dari tangan Timu mengenaiku. Sebuah tembakan peluru dengan cepat melesat dari tangan Timu dan menyerangku tanpa memberiku kesempatan untuk bernafas.

Uu, setiap saat kulitku selalu terkena serangan yang menyengat.

Bagaimana aku menjelaskan ini? Sekarang ini Timu seperti....

Benar, dia seperti seorang anak kecil yang secara asal-asalan menembakkan peluru BB dari sebuah model pistol.

.....Aku tahu. Jadi inilah alasan mengapa Chuunibyounya lebih parah dari yang kuduga. Mampu menggunakan sihir membuatnya memiliki status tertentu. Dengan keadaan seperti itu akan sangat mudah untuk ia merasa menjadi orang yang spesial. Di Kota Beruga tempat aku tinggal, orang-orang yang menggunakan sihir memang sangatlah terbatas pada mantan petualang Guard Captain Bizef.

Selain itu, tak salah lagi Timu pasti berlatih diam-diam. Dan dia belajar menggunakan sihir bertipe tembakan ini. Meskipun ini mungkin adalah sihir pemula, dia telah belajar sendiri tanpa seorangpun yang mendampinginya.

Sangat menakjubkan! dia pasti menginginkan pujian dari seseorang. Aku yakin dia ingin aku, kakaknya, untuk melihatnya.

Tapi aku benar-benar sibuk terikat dengan urusan memasakku, dan tidak memberinya banyak perhatian. dan sepertinya ketika ia kesepian ia menggunakan sihir sendirian, dan mungkin Jiisan (Nielsen) melihatnya dan berkata "Ada apa dengan anak ini? Dia bisa menggunakan sihir! dan dia sangat lucu! dia pasti tuan yang kucari, Camilla-sama!, Camilla Sama, jilat-jilat”.

Dan apa yang terjadi setelah itu tak perlu kukatakan. Dia merayu Timu dengan kata-kata aneh dan memperparah Chuunibyounya.

Sialan! Si mesum(Nielsen) sialan itu! Kau bukanlah Jiisan lagi. Kau hanyalah orang mesum. Aku jadi tambah marah. Haruskah aku menendangnya sekali lagi untuk berjaga-jaga!?

Tidak, tapi ada yang lebih penting dari itu. Mendisiplinkan Timu.

Sekarang, Timu hanya seperti seorang anak kecil yang baru saja dibelikan sebuah model pistol. Biasanya ketika orang tua membelikan model pistol kepada anak mereka, mereka mengajarkannya agar tidak menembak ke sembarang orang. Mengajari mereka mengenai aturan itu memang wajib. Sebagai kakaknya, aku harus mengajarinya dengan benar.

Kalau kamu tidak boleh menembakkan sihir pada sembarang orang!

"Ya ampun, Timu, cukup sudah!"

Aku berlari melewati rentetan peluru dan menarik tangan Timu ke belakang. Dan seperti itu, aku mengangkat Timu ke atas. Memang. ini adalah teknik pukulan pantat.

"Apa-!? Apa yang mau kau lakukan padaku? L-, lepaskan aku! A-, aku tidak bisa bergerak!?"

"Timu, anak nakal harus dipukul."

Aku melambaikan tanganku bolak-balik dan menunjukan pada Timu apa itu pukulan pantat.

"Hmph, serangan fisik tidak akan mempan kepadaku, kau tahu. tubuhku ini memiliki magical barri--Guhah-!"

Aku memukul pantat Timu, nggak peduli mau dia suka atau nggak. Timu mengeluarkan jeritan rasa sakit. Aku hampir menghentikan tanganku tanpa sadar, tapi kalau aku bersikap terlalu lembut padanya, ini semua akan sia-sia.

"Timu, kumohon renungkan semua yang kamu lakukan!"

"Hahh, Hahh, t-, tidak mungkin! sangat mudah menghancurkan pelindungku-----D-, dan terlebih lagi, serangannya mengandung banyak sekali 'mana'"

Timu, kamu masih saja melanjutkan omongan omong kosong itu? Sepertinya hukuman ini belum cukup, kan?

Aku memukul pantatnya lagi.

Tapi Timu terus mengatakan hal-hal seperti "Mana" dan "Kebanggaan pasukan iblis" dan sama sekali tidak merenungkan tindakannya.

Aku tidak punya pilihan lain. Aku harus memukulnya lagi.

Setiap kali Timu mengatakan kalimat yang aneh, aku memukulnya. Dengan suara tiap pukulanku yang terdengar keras, aku mendengar rintihan Timu. Pantatnya juga sudah memerah.

Uuu, ini sulit sekali. Aku nggak mau ngeliat adik kesayanganku menderita. Tapi disiplin itu penting. Aku berhati-hati agar pukulanku tidak melukainya, tapi masih cukup untuk membuatnya merenung, aku terus memukuli pantatnya saat aku mengatur kekuatan-----

"Guha-, gahah-!, Haa, Haa, A-, Aku akan mati"

(Editor Note: oh iya dia itu berteriak kesakitan, bukan tertawa)

"Haruskah aku memukulmu lagi?"



"Uu, uuuuu ---- a, aku salah. Kumohon hentikan!"

Timu akhirnya menangis. Masih terlihat sedikit Chuunibyou dalam dirinya, tapi tampaknya ia sedikit merenung. Melihat Timu menangis seperti itu membuat hatiku sakit.

Timu, maafkan kakakmu ini.

Meskipun itu perlu, aku tetap saja sudah memukul adikku tercinta. Itu sangat sulit untuk ku. Mn, aku akan berhenti memarahinya. Timu sudah merenunginya, jadi sekarang aku harus menghiburnya, kan?

"Timu"

Aku berbicara padanya selembut yang kubisa.

"Uu-, uuu....B-, bunuh aku! Se-, setelah menerima penghinaan seperti ini, aku tak mau hidup lagi!"

Timu menatapku dengan tatapan panik dan marah.

Timu, penghinaan, katamu?

-----Begitu ya! Aku yakin Timu sangat malu. Tidak hanya Chuunibyou yang membawa keburukan disini, tapi juga karena dia mengacungkan tangannya pada kakaknya. Dia pasti khawatir dengan hal itu. Di kehidupan lamaku ketika orang tuaku menasihatiku dan aku bertindak 'keras', aku juga merasa sangat ingin mati. Karena kelakuanku sangat memalukan, pikiran itu terus terbayang olehku. Timu pasti merasakan hal yang sama sekarang.

----Baik. Sekarang, aku akan memberi tahu Timu mengenai kehidupan lamaku. Aku tidak berniat membicarakan masa lalu ini pada siapapun. Aku tidak ingin mereka berpikir kalau aku itu gila. Tapi aku harus mengatakannya. Kalau aku bercerita mengenai kehidupan lamaku, dimana aku mengidap Chuunibyou dan mengacungkan tangan kepada keluargaku, Timu pasti berempati dan mengerti.

Dibandingkan denganku, Timu tidak punya apapun yang bisa mempermalukannya.

Dan untuk menghiburnya, aku akan menunjukan seberapa besar rasa peduliku padanya.

"Timu, dengerin ya…"

"A-, apa?"

Aku menatap Timu dengan ekpresi serius.

Dan kemudian aku menceritakan bagaimana aku menjadi seorang reinkarnator, bagaimana aku lahir di sebuah negara yang bernama 'Jepang' dalam kehidupan masa laluku, mengenai bagaimana aku mengidap Chuunibyou di masa lalu, ah, tapi karena dia tidak akan mengerti arti kata 'Chuunibyou', aku mengatakannya sebagai 'Evil God Dark Matter' yang mana menurutku sangat mengerikan.

Dan kemudian, aku bahkan menceritakan bagaimana aku lari dan tertabrak truk, dan tewas terlalu cepat.

....Aku menceritakan itu semua padanya. Itu semua pada akhirnya hanya sejarah kelamku, bukan begitu?

Apakah Timu mengerti apa yang coba kujelaskan?

"Se-, Sesuatu seperti itu bisa--- A, apa yang telah kulakukan!?"

Mmn, walaupun ia tampak terkejut, sepertinya dia percaya.

"Timu, mungkin sekarang kamu lemah. Tapi aku yakin kamu pasti akan menjadi kuat. Kamu pasti bisa menjadi kuat! Nasib sepertinya telah menuntunku untuk menjadi kakakmu. Aku akan terus mengawasimu"

"A-, aku--"

"Mari kita terus akrab, oke?"

Untuk menunjukan kalau kami telah berbaikan, aku memeluk Timu.

Dan dalam pelukanku, Timu menatapku.

"Ya. Sesuai perintah Evil God-sama--"

Dan dia mengatakannya dengan tatapan seolah-olah ia terpesona padaku.

Ke-, kenapa?

Tampaknya masalah ku akan terus berlanjut.

loading...