Saturday, 3 September 2016

Tilea no Nayamigoto Chapter 2 Bahasa Indonesia


Translator : Liber Koibito
Editor       : Dody

Chapter 2: Jendral Iblis Camilia? Siapa Itu?

“Timu...”

Adik kesayanganku tiba-tiba menderita chuunibyou. Aku benar-benar terpaku karena shock.

“Hmph!, baiklah, tidak usah dipedulikan, Hari ini adalah hari yang harus dirayakan, untuk kerabatku yang baru saja bangkit, atas belas kasih ku, aku mangampuni hidupmu!”


Setelah berbicara dengan arogan, Timu berjalan keluar dengan wajah yang terlihat sangat menyeramkan.

Ini gawat.

Apa yang baru saja dikatakan Timu?

Raja iblis! Dan enam jendral iblis!

Sepertinya dia bahkan sudah menentukan julukannya dan langsung menuju ke intinya. Dari pengalamanku, Mungkin Timu sedang terobsebsi dengan ‘hal ini’ sekarang. Jika aku tidak segera mengambil tindakan, masa depan Timu dalam bahaya. Untuk mengejarnya turun kebawah, aku melompat keluar dari rumah.

Kemana dia pergi?

Aku melihat sekelilingku untuk mencarinya.

Ketemu! Dia udah lumayan jauh, huh~

Sepertinya Timu terlihat mau pergi keluar jauh dari kota. Aku berpikir untuk langsung meloncat keluar dari rumah, tapi tampaknya hal yang kulakukan ini salah. Mungkin waktu telah banyak terbuang ketika aku sedang shock. Setelah aku sadar, aku memperhatikan Timu. Dan sepertinya Timu akan pergi ke suatu tempat.

Haruskah aku segera mengejar dan memanggilnya?

Bentar-bentar, kalau aku nggak salah dengar, dia bilang ‘kerabat’ ya?

Apakah dia mau menemui seseorang?

Mungkin Timu mempunyai teman dengan beberapa orang yang juga mengidap Chuunibyou. Sepertinya ini pengaruh dari teman barunya...

Mmm, pasti dugaanku ini benar.

Aku memutuskan untuk mengikutinya secara diam-diam. Jika dia benar-benar berteman dengan beberapa orang pengidap Chuunibyou, hanya menceramahinya tidaklah cukup, aku juga harus ‘meluruskan’ teman-temannya juga, atau apapun itu!


Aku mengikuti Timu dari beberapa ratus meter di belakangnya jadi dia tidak akan sadar. Sesekali Timu menoleh ke belakang, dan memastikan dia tidak menyadari ku… Aaah susahnya. Aku terus menerus bersembunyi di balik bangunan ketika aku berjalan mengikutinya.

Tapi waduh, Timu kok makin cepat, ya?

Selagi aku menjaga jarak, tanpa kusadari kita telah menyebrangi gunung. Aku belum pernah menyebrangi gunung 'Beruga' seperti ini sebelumnya ‘tau.

Mau diliat dari manapun, bukankah ini terlalu cepat ya?

Dari segi kecepatan mobil, aku merasa seolah melaju dalam kecepatan 60 kilometer/jam. Jangan-jangan, sebenarnya kita ini sedang melakukan sesuatu yang menak------, nggak, nggak, nggak, nggak mungkin itu. Aku hampir saja kumat.

Mm-n~, Aku tanpa sengaja memiliki suatu pemikiran chuuni seperti di kehidupan lamaku.

Ini salah satunya!

Ketika aku sedang memikirkan hal-hal aneh dari kehidupan lama ku… Nah itu. Di dunia ini apakah semua orang memang secepat ini? Disini sama sekali nggak ada mobil, dan normalnya kami berjalan menggunakan kaki, jadi wajar saja kalau kami semua memiliki kaki yang terlatih. Dan rasanya seperti berjalan dengan kecepatan 60km/jam. Bahkan kecepatan ini terasa berbeda dari 60km/jam biasanya. Mungkin ini kecepatan yang normal. Karena aku terjebak dalam pemikiran duniaku yang lama, ini terasa begitu cepat untukku. Setelah aku paham dengan ini, lalu aku mengikuti Timu.

Meskipun begitu, mungkin Timu termasuk salah satu yang tercepat di dunia ini. Meskipun Timu masih berumur 14 tahun dan sehari-harinya jarang sekali bergerak, tetapi dia berlari secepat diriku; seorang juru masak yang berlatih begitu keras tiap harinya. Jika dia begitu terlatih, dia mungkin bisa hidup sebagai seorang atlit.

Hanya saja, Aku tidak begitu yakin apakah ada yang namanya 'olahraga' di dunia ini. Bagaimanapun juga, gaya hidupku tak mencakup apa-apa selain memasak, jadi aku tak begitu mengerti tentang dunia ini. Kedua orang tuaku sepenuhnya mengabdikan diri pada memasak, dan di kota kecil ini, yang lebih cocok disebut sebagai pedesaan, sangat susah jika mencari informasi disini.
Jika dunia ini mengenal yang namanya olahraga, maka aku akan menyuruh Timu untuk melakukannya. Menurutku dengan berolahraga dia bisa menyembuhkan penyakit Chuunibyounya.

Ketika aku sedang memikirkan tentang semua ini, tampaknya kita sudah sampai di tempat tujuan. Timu berjalan lurus menuju gua yang besar.

Ooh~? Jadi ada gua di tempat seperti ini.....

Dari sekilas, tampaknya itu hanyalah sebuah gua yang normal. Yang membedakan yaitu ada sebuah pintu yang megah di pintu masuk, dan disetiap sisinya terdapat patung yang menyeramkan.

Mm-mm~, dari apa yang bisa kukatakan, ini semua benar-benar berbau chuuni. Tidak salah lagi kalau teman Timu berada disini. Dan terlebih lagi, sepertinya teman-temannya termasuk orang kaya. Hobi dari orang kaya...

Aku yakin mereka adalah orang-orang yang egois. Aku akan mematahkan punggungku untuk meyakinkan mereka.

(TL Note: mungkin maksud dari ‘aku akan mematahkan punggungku’ disini berarti ‘aku akan berusaha keras’)

Tapi, aku tidak boleh takut disini. Demi Timu, aku mengumpulkan keberanianku dan memasuki gua. Bagian dalam gua ini redup dan tampak seperti tempat tinggalnya para monster. Mereka melakukan pekerjaan mereka dengan sangat baik untuk menemukan tempat yang cocok seperti ini. Aku benar-benar memuji para penderita Chuunibyou ini.

Aku mencari lebih jauh ke dalam gua. Ketika aku agak jauh ke dalam, kira-kira ada berapa ratus jumlah orang disana? Kerumunan besar itu berbaris dihadapan satu orang. Perhatian semua orang tertuju padanya, orang itu sepenuhnya mengenakan armor (baju besi), dan itu merupakan penampilan yang biasanya sangat klise. Aku diam-diam menguping pria armor itu.

“Semuanya! Hari yang kita tunggu-tunggu telah tiba!”
“YEEAAH!”

Karena sepatah ucapan pria berbaju armor, orang-orang disekitarnya terteriak penuh semangat secara bersamaan.

Hah? Hah? Mungkinkah sebuah event sedang berlangsung hari ini?

Aku menilai antusiasme gila ini seperti konser di dunia lamaku. Jadi ada beberapa kumpulan cosplay di dunia ini juga, ya?

Ketika aku melihat kebagian dalam gua, aku menemukan 'beastmen', dan 'birdmen' dan semua orang dengan beragam jenis penampilan sedang berkumpul disini. Hanya saja, sejak kapan Timu bisa menemukan informasi mengenai event ini? Akhir-akhir ini aku terlalu menyibukkan diriku dalam memasak...aku merenungkan kenyataan kalau aku tidak menyadari perubahan Timu.

......

...........

..................

Pidato pria itu terus berlanjut.

“Kebangkitan Zorg-sama sudah dekat. Kita harus segera mereformasi pasukan”

“Seperti yang anda katakan, Kumohon beri kami intruksi!”

“Bagus, Kalau begitu pergilah! Berikan korban hidup untuk Zorg-sama! Kita akan menghancurkan para manusia!”

“Siap Tuan! Semua demi Zorg-sama yang agung!, Tuanku!!”

Setelah pidato itu selesai, sebagian besar orang disekitar pria berbaju armor itu mulai pergi. Yang tersisa hanyalah pria berbaju armor, Timu, dan sekitar 10 orang lain.

“Yose, Sekarang bagaimana kondisi dari enam jendral iblis?”

“Tuan, Hingga saat ini, di antara enam jendral iblis hanya Luksemburg-sama dan Poe-sama yang belum terbangun”

“Hmm, setiap orang memiliki waktu yang berbeda mengenai kapan mereka akan bangkit. Itu memang tidak dapat dipungkiri. Kalau begitu penghancuran ibukota kerajaan akan dilaksanakan oleh Camilla”

“Pasukanku sudah cukup!”

Timu mendeklarasikannya, penuh dengan ambisi dan kekuatan. Pernyataan itu, nada itu, dan lebih dari apapun, senyum mempesona saat ia menjentikkan rambutnya ke belakang dia menarik perhatian sekitarnya dan menjadi pusaran pesona.

---- Hah! Tidak .. Tidak!

Mereka berbicara dengan begitu percaya dirinya mengenai tentang apa yang telah kulihat. Tampaknya mereka berencana untuk mengadakan beberapa event menarik, huh. Ada sihir di dunia ini, jadi aku yakin ini akan menjadi lebih menarik daripada event yang ada di dunia lamaku.

Timu tampaknya begitu antusias dengan hal itu, sehingga untuk sesaat aku tidak begitu yakin jika dia itu Timu adikku, tetapi sebagai jendral iblis Camilla. Timu pasti memiliki bakat sebagai seorang aktris.

...Tapi, sekarang sebagai kakaknya, aku jelas-jelas harus memarahinya. Bolos dari membantu di restoran, dan bermain-main pada jam segini itu adalah masalah. Seperti yang sudah kuduga, ketika Chuunibyou sudah menjadi terlalu ekstrim, tak ada satupun yang bisa lepas dari itu.

Aku melangkah maju dari balik batu, dan dengan gagah berani menuju ke tempat dimana grup Timu berkumpul untuk membereskannya.

“Ah~ Hallo, aku kakaknya Timu, Tilea. Tampaknya akhir-akhir ini kalian sudah berbaik hati mau membiarkan Timu bermain dengan kalian”

“...”

Aku memberi anggukan pelan kepada pria berbaju armor, dan menyampaikan rasa terima kasihku. Dan kemudian aku berbalik kepada Timu dan,

“Timu! Bukannya kamu seharusnya membantu di restoran!? Aku nggak bilang kalau kamu nggak boleh main sama sekali. Tapi kamu tetap harus melakukan apa yang menjadi kewajibanmu!”

Kukatakan padanya dengan sangat jelas.

      Chapter SebelumnyaDaftar IsiChapter Berikutnya 
loading...