Monday, 19 September 2016

The Assassin Chapter 3


Penulis : Exicore


Chapter 3 : Neraka


Tubuhnya diselimuti cahaya putih dan dia tiba-tiba saja berpindah tempat.

Membuka matanya, ia bingung, banyak hal yang ia pertanyakan di kepalanya, mengapa Fergus berkata bahwa dirinya bukanlah Dewa?, mengapa pula Fergus mengawasi setiap detail kehidupannya?. Tapi untuk sekarang satu-satunya hal yang penting adalah mengapa ia ada di hutan.

"Ini... Adalah Neraka?"

Tanyanya kebingungan.

Saat ia melihat tubuhnya ia menyadari bahwa ia memakai setelah hitam dengan jubah yang memiliki warna yang sama, tangannya menggunakan sarung tangan yang berwarna cokelat tua. Di punggungnya terdapat dua buah pedang yang saling bersilangan, sarungnya memiliki sebuah lambang pedang yang membentuk tanda salib dan dililit oleh dua ekor ular, pedang yang sama juga terdapat di masing-masing sisi pinggangnya. Ia juga merasakan ada sesuatu dibagian belakang pinggangnya, saat ia mengambil benda yang ada dibelakangnya itu, ia sedikit terkejut melihat bahwa ada dua benda di belakang pinggangnya dan keduanya adalah belati dengan motif dan bentuk yang sama dengan empat pedang tadi, hanya saja lebih pendek.


Setelah berpikir sebentar dan menginspeksi pakaian dan senjata yang ia pakai dengan teliti dia menyadari sesuatu.

"Assassin..."

"Tapi... Kenapa? Bagaimana bisa?"

Cara bertarung Arsalt sangat berbeda dengan seluruh ksatria lain yang ada di seluruh benua Tialtu, ia tidaklah masuk ke dalam kelas [Ksatria] namun masuk ke dalam dua kelas berbeda yaitu [Spellblade] dan [Swordancer]

"Bagaimana bisa?"

Setelah memeriksanya sekali lagi senjata, perlengkapan, bahkan baju itu pun sudah disesuaikan dengan gaya bertarungnya.

Ia semakin bingung, saat ia sedang berpikir, telinganya menangkap sebuah suara. Pendengaran dan kewaspadaannya yang sudah dilatih di medan pertempuran mampu menangkap suara yang tidak bisa didengarkan oleh orang normal. Ia mendengarnya sekali lagi, ia sangat yakin-

"Suara teriakan."

Dengan cepat ia segera berlari ke sumber suara.

------

Seorang wanita jatuh tersungkur ke tanah di tengah hutan belantara, kaki wanita itu sudah tidak sanggup lagi bergerak. Lima orang yang sebelumnya mengejar dirinya sudah ada didepan matanya.

"Bagaimana kalau kita menikmati dirinya dulu?"

Kata salah satu dari mereka, seseorang yang menggunakan penutup mata untuk menutupi mata kirinya yang sepertinya merupakan bos mereka merespon.

"Tentu saja, baru setelah itu, kita akan menjualnya."

Wanita itu sudah pasrah, kakinya tidak mampu lagi bergerak, ia menutup matanya takut melihat hal yang akan terjadi selanjutnya.

Ia menunggu dan terus menunggu.

Tapi hal yang ia takuti itu tidak pernah datang.

Dengan ragu-ragu ia membuka matanya, tapi apa yang ada di depannya adalah warna hitam.

'Apakah aku sudah mati?'

Pikir wanita itu, namun suara orang-orang yang mengejarnya tadi menyadarkannya.

"Siapa kau?"

Tanya salah seorang dari mereka dengan nada mengejek.

Setelah wanita itu mengedipkan mata beberapa kali ia sadar warna hitam itu berasal dari jubah pria yang ada didepannya, hampir seluruh tubuhnya tertutup warna hitam, ia memegang dua buah pedang di tangan kiri dan kanannya yang mana ia ambil dari sarung pedang di bagian belakang punggungnya. Kedua ujung pegangan pedang-pedang di tangannya itu memiliki tali kawat yang terlihat terbuat dari besi tersambung kepadanya, bila diperhatikan baik-baik tali-tali itu mengarah ke dalam lengan bajunya.

"Pengecut."

Kata pria di depannya itu dengan nada yang dingin.

"Apa?"

Kata orang yang mungkin saja bos mereka.

"Kalian adalah pengecut yang mengeroyok seorang wanita."

Ekspresi mereka semua berubah karena amarah, kemudian ekspresi orang yang tadi berbicara tiba-tiba berubah dan menunjukkan senyum jahat.

"Dan kau adalah orang bodoh yang akan mati karena ingin berperan sebagai pahlawan."

Kata pria tadi dengan nada mengejek sembari mengisyaratkan anak buahnya untuk menyerang.

Namun-

"Aggghhhhh!!!!"

Suara teriakan bisa terdengar menggema di hutan yang sunyi itu, wanita itu hanya mengedipkan matanya dan pemandangan di depannya sudah berubah, para lelaki yang mengejarnya itu setiap dari mereka ada yang kehilangan bagian tubuh mereka, entah itu kaki atau lengan mereka, satu-satunya hal yang jelas adalah bahwa mereka semua sedang menderita.

Darah  bisa terlihat mengalir dengan deras dari daerah yang sudah terpotong. Mereka semua merintih dengan kesakitan, ia kemudian dengan spontan melihat kepada pria yang tadi berdiri diantara dirinya dan para pengejarnya. Pria itu tetap memiliki postur dan sikap tenang yang sama seakan-akan tidak ada yang terjadi, tapi hanya dengan melihat kedua pedang ditangannya yang dipenuhi dengan darah semua orang bisa tahu bahwa dia lah yang memotong anggota tubuh mereka.

"Aarrrggghhh!!Aku pasti akan memba-"

Tidak membiarkan orang yang sepertinya ketua kelompok itu menyelesaikan perkataannya, pria itu langsung memenggal kepalanya, ia juga langsung melakukan hal yang sama kepada anak buah orang itu.

Wanita itu masih tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya, belum sempat ia mengolah apa yang terjadi, pria berjubah hitam itu langsung menggendongnya selayaknya ia seorang putri dan membawanya pergi dari sana.


loading...