Wednesday, 14 September 2016

The Assassin Chapter 2

 Penulis : Exicore

Chapter 2 : Keinginan


'Sial..., seandainya saja..., seandainya saja..., Sial! Aku menyia-nyiakan nyawa mereka yang dengan tulus mengorbankan diri mereka agar aku selamat.'

Pikir Arsalt, ia ingin berbicara tapi mulutnya tidak bisa lagi bergerak.

Kesadarannya pelan-pelan menghilang ditelan oleh kegelapan.

'Aku pasti akan membalaskan dendam mereka, bahkan walau aku harus menembus neraka hanya untuk melakukannya.'

Setelah berkata seperti itu, ia pun kehilangan kesadarannya

---

"Selamat datang."

"Apa?"

Mahkluk itu terkejut ia mampu berbicara, ia melihat ke bawah dan melihat tubuhnya ada disana, ia berdiri disebuah tempat yang sangat gelap. Suara yang tadi mahkluk itu dengar berbicara sekali lagi.

"Selamat datang, tempat ini adalah The Void."

"Siapa kau?!"

Teriak mahkluk itu didorong oleh rasa takutnya.

"Tenanglah, aku tidak bermaksud jahat. Tapi sebelum aku menjawab pertanyaanmu aku akan mengatakan satu hal, yaitu aku bukanlah Tuhan, Dewa, Iblis, ataupun Malaikat. Aku adalah mahkluk yang tidak memiliki jenis dan usia, namaku adalah Fergus."

Fergus?, mahkluk itu mengingat sesuatu. Fergus, Dewa yang menguasai kehidupan dan kematian, serta penguasa dari takdir, Fergus juga merupakan satu-satunya Dewa yang bersifat netral diantara tiga Dewa yang disembah di benua Tailtu, yang berarti ia akan memberikan berkahnya kepada setiap pengikutnya tanpa pengecualian.

Di benua Tailtu sendiri, pengikut Dewa ini tidak banyak, dalam sebuah kisah legenda dengan judul "Perang Lammas" yang mana mengisahkan tentang peperangan antara 6 Dewa dari 7 Dewa yang ada untuk memperebutkan sebuah batu yang memegang kekuatan yang setara dengan seorang Dewa.

Fergus sendiri dikatakan tidak ikut dengan perang tersebut, tapi pada akhirnya ikut pada perang terakhir saat hanya ada dua Dewa yang tersisa untuk mendamaikan mereka dan membagi tiga batu itu untuk disimpan masing-masing pihak.

Setelah mendengar dan mengingat semua itu, mahkluk itu akhirnya tenang.

"Jadi? Apa yang kau inginkan dariku?"

"Aku, tidak menginginkan apapun darimu."

"Kalau begitu, kenapa?"

"Kata-kata terakhirmu."

"Apa?"

Mahkluk itu kebingungan, melihat hal itu Fergus berkata;

"Kau berkata 'Aku pasti akan membalaskan dendam mereka, bahkan walau aku harus menembus neraka hanya untuk melakukannya.' dan aku ingin membantumu mewujudkannya impianmu."

"Apa? Tapi kenapa?"

Mahkluk itu bertambah bingung, ia bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Melihat mahkluk itu bertambah bingung, Fergus menjawab.

"Aku sudah melihat kehidupanmu Arsalt Raystron, aku melihat setiap penderitaan yang kau rasakan, setiap perjuanganmu dan juga setiap kemampuanmu."

Sebelum mahkluk itu, Arsalt bisa membalas, Fergus melanjutkan.

"Tapi..., keinginanmu, aku tidak bisa melihatnya, kau menginginkan banyak hal, tapi itu bukanlah sesuatu yang bersifat pribadi. Apa yang kau inginkan hanya perdamaian, dan kebahagiaan bagi orang lain, tidak perduli apa yang orang lain lakukan padamu, perasaanmu tetaplah murni. Namun, untuk pertama kalinya, untuk pertama kalinya dalam 27 tahun usia hidupmu, di saat terakhirmu, kau akhirnya mengatakan keinginan yang kau buat untuk dirimu sendiri. Karena itulah sekarang aku akan mewujudkannya."

"Tapi, aku bukanlah pengikutmu."

Arsalt bingung, ia tidak pernah menyembah Fergus, Dewa yang ia sembah adalah Cabala, Dewa Perang, keberuntungan, dan Kemakmuran, dan juga Dewa dari kebaikan, menghukum setiap pengikutnya yang melakukan dosa. Dewa Cabala sendiri bermusuhan dengan Monaghan, Dewa dari penipuan, kebohongan, dan kesialan, Dewa dari kejahatan.

"Aku tidaklah peduli terhadap hal sekecil itu, dedikasimu sudah menunjukkan bahwa kau pantas mendapatkan keinginan terakhirmu."

Arsalt ragu, tapi ia harus melakukannya, demi orang-orang yang mengorbankan nyawanya untuk dirinya, tekadnya sudah bulat.

"Kalau begitu, aku mohon kabulkan permintaanku itu."

"Sesuai keinginanmu. Tapi aku beritahu padamu, jalan yang kau lalui panjang hanya untuk mencapai duniamu yang sebelumnya, seperti perkataanmu kau akan menghadapi penghuni Neraka, dihalangi oleh manusia, serta dibenci oleh Surga. Itulah takdirmu, itulah masa depanmu, tapi satu hal yang pasti yaitu keinginanmu akan terkabul. Kau akan abadi hingga keinginanmu terkabul, Arsalt Raystron, kau akan memulai perjalananmu dari dasar kerak Neraka, dan mengakhirinya berdiri di atas singgasana Surga."

"Apa maksudmu?"

"Sampai jumpa-"

"Hei, jawab pertanya-"

Sebelum kalimatnya selesai, Arsalt diselimuti cahaya putih dan ia menghilang begitu saja dari tempat yang gelap itu, sesosok mahkluk yang memakai sebuah setelan yang berwarna hitam, sebuah jubah berwarna merah darah menggantung di belakang punggungnya muncul dari balik kegelapan. Kedua tangannya ditutupi oleh sarung tangan dengan warna yang sama dengan jubahnya, rambut mahkluk itu berwarna perak, matanya hitam, wajahnya adalah wajah seorang pria tampan yang sulit untuk ditolak para wanita, tapi wajah itu menunjukkan ekspresi bersalah. Dia adalah Fergus.

"Maafkan aku, dan semoga saja, kau berhasil menghentikannya."

loading...